Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 118



Yuna, Faririn, Fika dan Adelio kini hanya mampu terdiam dengan raut wajah syoknya setelah mendengar jika tugas yang mereka kerjakan kemarin masih berada di rumah Cia.


"Kok lo bisa lupa sih, Cia?" tanya Fika dengan raut kesalnya.


"Yah gue lupa tadi gue... Hah." Cia menghembuskan nafas berat sembari terus duduk di ujung kursi barunya itu.


"Gue minta maaf," ujar Cia lagi.


Plak plak plak


Suara pukulan di meja berhasil membuat semuanya terdiam lalu menatap ke arah Bu Lia yang memasang wajah sangar di sana.


"Berisik banget sih? Ini kelas atau pasar?"


Semuanya terdiam penuh kesunyian membiarkan Bu Lia meluapkan kemarahannya di sana.


"Loli," panggil Bu Lia.


"Iya Bu," jawab Loli cepat.


"Ambil daftar nilai di meja saya!"


Loli menghembuskan nafas berat, entah mengapa harus ia yang di suruh untuk mengambil daftar nilai Bu Lia sedangkan jelas-jelas Yuna adakah ketua kelasnya dan bukan Yuna yang disuruh melainkan ia.


Bagaimana bisa anak kepala sekolah harus bersusah payah ke ruangan guru dan mengambil daftar nilai itu. Ini menyebalkan.


"Kok bengong?" tanya Bu Lia membuat Loli tersentak kaget setelah tersadar dari lamunannya.


"Cepetan!"


"Baik, Bu," Jawabnya.


Loli kini bangkit dari kursinya setelah mencolek kedua temannya itu, marisa dan Medika lalu melangkah keluar dari ruangan kelas.


"Em, Loli!!!" teriak Bu Lia membuat langkah Loli terhenti.


"Iya, Bu?" tanya Loli yang muncul di pintu sembari memperlihatkan separuh tubuhnya dengan senyum membias.


"Jangan lama, yah!" ujarnya.


Tanpa sepatah kata dan dengan senyuman Loli mengangguk dan segera melangkah pergi dengan wajahnya yang begitu sangat marah.


"Kelompok satu mana?"


"Saya Bu!" sahut pria dengan kulit gelap itu.


"Maju!" pintah Bu Lia.


...____****_____...


Devan yang gugup itu kini melangkah masuk melewati kantor yang nampak sunyi, tak ada suara orang mengobrol di sana melaingkan hanya suara ketikan komputer yang berada di ruang guru.


"Bos!!!" teriak Tara yang kini mengekor di belakang Devan seperti anak gajah.


Devan tersentak lalu memukul kepala Tara cukup keras setelah mendengar teriakan dari Tara yang lagi-lagi berhasil mengagetkannya yang sedang ketakutan, cemas dan khawatir.


"Hust!" Jari telunjuk Devan kini berada di depan hidungnya sambil membulatkan matanya menatap Tara yang kini mengangguk.


Devan kini menarik kerah baju hitam tara seperti seekor induk kucing yang membawa lari anaknya. Lari Devan cukup kencang membawa Tara keluar dari ruangan kantor.


"Bos kenapa?!!!" tanya Tara dengan tatapannya yang tak berdosa itu ketika lari keduanya terhenti.


"Eh, lo bisa nggak sih nggak teriak sekali aja!"


"Teriak bagaimana bos?!!!" teriak Tara lagi.


Devan menjambak topinya itu, kesal. Seharusnya Devan tak membawa pria bodoh ini ke sekolah. Pria ini sangat tak berguna untuknya. Percuma ia menyuruh Tara untuk diam, karena sekeras apa pun ia menyuruh Tara diam tetap saja dia akan berteriak.


"Bos, lagian kita ini mau ngasih kertas ini ke Cia atau mau mencuri sih?!!! Kok jalanya harus pelan-pelan kayak tadi?!!!" teriak Tara.


"Diem! Diem! Diem!" teriak Devan kesal dengan jari-jari tangannya yang nyaris mencekik leher Tara.


"Tapi-"


"Diem!" Tunjuk Devan.


"Kalau lo ngomong lagi, gue potong gaji lo!" ancam Devan masih menunjuk.


"Maaf bos!!!" teriak Tara lagi.


"Kurang ajar banget sih tuh, Bu Lia," ujar Loli kesal.


"Sabar!"


"Sabar! Sabar! Mulut lo tuh sabar!" Kesal Loli.


Langkah Loli perlahan pelan dengan raut wajahnya yang kini terlihat nampak memperhatikan dua pria yang tengah saling berbicara.


Langkah Loli kini terhenti dengan seketika ketika dua pria itu kini melewati ia dan kedua sahabatnya itu terlihat tak asing baginya.


"Lol, lo kenapa?" tanya Marisa keherangan.


"Itu." Tunjuk Loli ke arah dua pria itu.


Devan kini menoleh menatap sekilas tiga gadis yang nampak menganga menatapnya. Mati!!!


Dengan cepat Devan memutar tubuhnya membelakangi ketiga gadis itu. Devan ingat betul dengan ketiga gadis yang berdiri di belakang sana. Gadis yang berada di pesta ulang tahun itu dan yang ikut mengejarnya di hari itu, hari yang sangat menyeramkan baginya, bagai mimpi di siang bolong.


"Itu bukannya Ceo kan?" Tunjuk Loli dengan tatapan serius sambil sesekali berusaha menatap wajah Devan yang masih membelakangi ketiganya.


"Itu pasti Ceo, soalnya gue ingat banget sama mukanya," tambah Marisa.


"Aaaaa!!! Gue pengen pingsang!!!" teriak Medika penuh drama.


Devan menelan ludah, semoga saja mereka tak ingat dengan Devan. Tapi dengan tatapannya itu seakan mengatakan jika mereka masih mengingat dengan wajah tampannya.


"Tolong! Tolong! Tolong! Jauhkankan aku dari setan perempuan itu!"


Di dalam hatinya kini berdoa sambil memejamkan kedua matanya, berharap doa-doa itu terkambulkan. Apa mereka sudah pergi? Devan yang masih memejamkan matanya itu dengan penuh hati-hati membuka sebelah matanya.


"Bwa!!!" teriak Loli, Marisa dan Medika dengan kompak sambil berdiri di hadapan Devan.


"Aaaah!!!" teriak Devan terkejut.


Tubuh Devan yang gemetar itu kini terhempas di lantai, topi yang berada di kepalanya kini tehempas membuat wajahnya sedari tadi di sembunyikan kini terlihat jelas oleh mereka bahkan belasan siswi-siswi kini menoleh menatap Devan dengan tatapan terkejut. Mereka ingat betul dengan wajah tampan pria itu.


"Bos Ceo!!!" teriak Tara khawatir lalu segera mendekati Devan.


Semua orang yang berada di sekitar mereka langsung menoleh menatap keributan itu. Mereka semua tampak kegirangan ditambah lagi pria yang mereka kejar-kejar ada di hadapan matanya.


Devan terdiam masih terkapar di lantai dengan wajah pucatnya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya kepada dirinya dan...


...___***___...


"Kalian sengaja?" Tatap Bu Lia kejam.


Cia, Adelio, Fika, Yuna dan Faririn kini hanya mampu tertunduk sedih sambil berdiri di hadapan semua siswa dan siswi yang kini terdiam. Bu Lia sedari tadi mengoceh sambil mondar-mandir di hadapan mereka.


"Kalian ini niat nggak sih ngikutin mata pelajaran saya?"


"Saya ini heran sama kalian, dikasih tugas bilangnya lupa! giliran dikasih nilai rendah protes. Mau kalian apa?"


Cia menarik nafas panjang. Ini semua karena kecerobohannya yang lupa membawa kertas itu dan kini teman-temannya juga mendapat ibasnya.


"Aaaaaaaaaa!!!" teriak Devan.


Lari Devan begitu kencang ketika gerombolan gadis-gadis itu mengejar Devan tanpa henti sambil menjerit, tak ada bedanya dengan teriakan di hari itu.


"Bos Ceo!!!" Teriak Tara sambil ikut berlari mengejar kepergian Devan.


Rambut gondrong Tara kini terhempas-hempas ketika Tara berlari dengan cucuran keringat yang membasahi wajahnya. Sejak tadi Tara telah menggeretak gadis-gadis itu agar berhenti untuk mengejar namun, itu semua tak menghasilkan apa-apa. Mereka semakin mengejar tanpa henti.


"Aaaaaaaaa!!!" teriak Devan lagi.


Cia yang sedari tadi tertunduk kini mengangkat pandangannya ketika suara yang amat sangat Cia kenal terdengar dari luar sana.


Semua siswa dan siswi kini saling bertatapan setelah suara teriakan itu terdengar. Bahkan Bu Lia yang sedari tadi mengoceh pun ikut terdiam.


Dengan cepat Cia berlari keluar dari kelas mencari asal suara itu. Untuk yang kesekian kalinya Cia berharap itu bukan Devan.


Wajah Devan yang masih berlari itu nampak  memerah berusaha menjauh dari gerombolan gadis-gadis yang masih mengejar. Semakin jauh Devan berlari maka semakin banyak pula gadis-gadis yang mengejarnya bahkan ribuan gadis terlihat berlarian dari lantai tiga dan dua sambil menjerit mengejar Devan.


Cia menghentikan larinya dan siswa, siswi lainya yang kini hanya mampu terbelalak menatap Devan dari pintu masuk kelas.


Kedua mulut Cia terbuka lebar dengan kedua matanya yang terbelalak kaget menatap Devan yang kini berlari ketakutan seperti orang yang tengah dikejar oleh ribuan zombi yang menakutkan.


"Van!!!" teriak Cia sambil melambai-lambaikan tangannya.