Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 206



Cia melangkah turun dari motor setelah motor itu berhenti tepat di area parkiran sekolah. Semua siswa dan siswi nampak terdiam menatap kedua makhluk penyabar dan pemarah ini berboncengan dan berangkat ke sekolah bersama.


Cia kini melangkah turun dari jok motor Adelio yang kini sudah terhenti di area parkiran.


Cia mulai meraba tali pengikat helm yang masih terpasang, ia kini berniat untuk melepasnya dan pergi dengan cepat dari area parkiran ini dan menjauhi tatapan semua orang yang masih menatapnya. Tiba-tiba Cia terdiam lalu tersenyum sesaat, sepertinya ia mendapat ide yang bagus kali ini. Entah mengapa ide ini muncul tetapi Cia hanya ingin mencobanya.


Cia menoleh menatap Adelio yang kini sedang melepas helm dari kepalanya. Cia berlari pelan dan berdiri tepat di samping Adelio. Sekarang yang Cia hanya ingin tahu apakah Adelio bisa bersikap romantis kepadanya atau malah mengabaikannya. Cia ingin jika Adelio melepas helm yang berada di kepalanya. Yah Cia pernah melihat adegan romantis ini di TV dan Cia juga mau seperti itu, dimana seorang pria membatu seorang gadis untuk membantunya melepas helm dari kepalanya. Hah itu sangat indah jika memang terjadi di dunia nyata Cia.


Cia tersenyum malu sambil menggoyang-goyangkan bahunya ke kiri dan kanan persis seperti Anak kecil yang sedang menunggu kembalian uang di warung.


Adelio melirik Cia yang nampak tersenyum begitu manis sambil menatapnya dengan tatapan harap. Adelio ikut tersenyum lalu setelah ia melepas tali pengaman yang berada di kepalanya dan meletakkan helm itu di atas jok motor.


Adelio bangkit dan segera melangkah meniggalkan Cia yang kini menganga. Cia tak berkedip sedikit pun, pria pendiam itu benar-benar ingin Cia pukul sekarang juga. Bagaimana bisa dia tak melepas helm dari kepalanya dan pergi begitu saja seakan tak mengerti jika Cia ingin diperlakukan romantis oleh Adelio.


"Loh? Em Adelio!!!" panggil Cia sambil berteriak membuat Adelio menoleh.


Cia tersenyum lebar tanpa memperlihatkan gigi putihnya lalu membiarkan tangan kanannya berpegangan pada jok motor dan bersandar di sana.


"Ada apa?" tanya Adelio.


"Ah? Hahaha tidak ada hanya memanggil," jawab Cia sambil mengusap helm hitam yang berada di kepalanya.


Cia sangat berharap jika Adelio mengerti dengan maksudnya apalagi kini Cia mengusap helm itu agar Adelio lebih mengerti.


"Em, Baiklah," jawab Adelio dengan santai lalu melangkah pergi.


Cia kembali melongo menatap kepergian Adelio yang sama sekali tak menoleh menatapnya sedikit pun. Pria itu cukup bodoh bahkan benar-benar bodoh. 


"Iiiiih!!! Kesel!!! Dasar pria bodoh!!! Nggak peka!!!" teriak Cia sembari menghentak-hentakkan kakinya ke tanah kakinya secara bergantian dengan wajahnya yang begitu sangat marah.


"Ini itu helm bego!!!" teriak Cia sambil cukup keras ke permukaan helm yang ia gunakan.


"Harusnya itu lo buka kayak gini!!! Eeeeeh kesel banget gue!!!" oceh Cia lalu segera melepas helm dari kepalanya dan meletakkanya di atas jok motor dengan keras menghasilkan suara hempasan yang membuat orang-orang yang berada di dekat Cia langsung tersentak karena kaget.


"Ngapain lo ngeliatin gue?!!" bentak Cia membuat orang-orang yang dibentak itu kini berlari menjauhi Cia yang masih marah.


"Tuh liat! Aaah!!! Masa gue nggak ditunggu sih?" Tatap Cia kesal sambil memoyongkan bibirnya dan segera berlari mengejar kepergian Adelio.


Lari Cia kini terhenti tepat di samping Adelio yang melangkah dengan santai. Cia melirik pelan ke arah Adelio yang diam tanpa ekspresi. Cia akui memang susah jika menyukai pria dingin yang tak memiliki sikap romantis sedikit pun. Cia yang masih kesal itu dengan penuh kekuatan menghempas-hempas kakinya tepat di samping Adelio.


Adelio tak melirik, ia tetap saja melangkah dengan santai membuat Cia menghentikan langkah lalu terdiam menatap kepergian Adelio yang seakan tak peduli jika Cia kini tak lagi berada di samping Adelio. Tatapan Adelio hanya fokus ke depan tanpa pernah menatap Cia atau bahkan meliriknya.


Cia tertinggal jauh di belakang sana dengan wajah datar tanpa ekspresi. Oh Tuhan terbuat dari apa Adelio hingga sangat pendiam seperti itu kepadanya.


"Ini sebenarnya gue keliatan nggak sih?" tanya Cia para dirinya sendiri.


"Ini orang nggak punya hati yah?"


"Atau... atau malah dia nggak bisa ngeliat gue," tebak Cia sambil menunjuk wajahnya.


"Ini Adelio kenapa sih sebenarnya?"


"Adelio, gue ini perempuan!"


"Gue ini manusia bukan hantu yang mau dicuekin, hantu aja juga kalau ada bakalan dilirik terus lari. Masa gue yang manusia di liriknya nggak terus ditinggalin."


"Gila banget sih nih orang. Gue kayak nggak keliatan loh di sini."


Cia menghembuskan nafas lelah lalu segara melangkah menuju kelasnya. Langkah Cia terhenti tepat di pintu masuk menatap sahabatnya yang kini sedang duduk di kursinya. Itu Fika membuat Cia tersenyum.


"Fikaaaa!!!" Jerit Cia begitu bahagia disusul Fika yang kini tertawa dan berlari memeluk Cia.


Kini keduanya saling berpelukan cukup lama dan saling tertawa berusaha untuk meluapkan rasa rindunya. Yah mereka memang sangat rindu setelah sekian hari mereka tak bertemu karena sebuah masalah.


"Lo nggak marah lagi kan sama gue?" tanya Cia.


Fika menggeleng lalu segera melepas kan pelukannya.


"Maafin gue karna gue udah marah sama lo, Cia," ujar Fika tersenyum.


"Loh? Emang kalian pernah marahan?" tanya Yuna dengan tatapan herannya.


"Cieee main peluk-peluk segala kayaknya rindu banget nih," ujar Faririn yang kini menopang pinggangnya dan menatap Cia dan Fika bergantian.


"Eh iya yah tapi kan emang si Fika nggak pernah masuk sekolah. Lo dari mana aja sih?" tanya Yuna.


"Em betul tuh, lu dari mana aja sih? Kalau lo nggak masuk sekolah yah bilang kek alasannya apa biar di absen lo itu nggak alfa semua," jelas Faririn.


"Nih lo liat!" pintah Yuna sambil menjulurkan sebuah buku absen membuat Fika meraihnya.


"Ya Ampun banyak banget," kaget Fika yang kini menatap huruf a pada garis namanya.


"Yah itu lo sih nggak ada kabar em oh iya ngomong-ngomong lo dari mana aja sih?" tanya Faririn.


"Bertapa!!!" teriak Cia membuat Fika tertawa.


"Yeh kita mah nanyanya ke Fika bukan sama-"


"Apa? Sama apa?!!" teriak Cia membuat Faririn melipat bibirnya ke dalam.


"Makanya jangan ladenin si Cia," bisik Yuna.


Cia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, entah mengapa Faririn begitu takut kepadanya.


"Ih gue becanda kali Rin," ujar Cia sembari mencubit gemas pipi Cia membuat Faririn melongo.


"Oh Tuhan, hari ini hari apa? Kok bisa sih Cia jadi bisa bercanda?" ujar Faririn.


Cia dan Fika kini saling bertatapan dan tertawa, entah mengapa rasanya masalah itu telah lenyap dengan sendirinya.