Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 12



Cia menghela nafas dan segera duduk tepat di samping Baby yang masih terbaring. Cus kembali pada satu titik yakni soal matematika.


Cia menoleh menatap Baby yang nampak damai dengan posisi terbaring tanpa ada beban pada hidupnya.


"Baby !"


Baby tak menjawab.


"Bantu gue dong !"


"Emm Hem emmm hemm" jawab baby entah apa yang ia katakan.


Baby berusaha tak mengerakkan mulutnya agar masker yang telah mengering itu tidak pecah di wajahnya.


Cia menghembuskan nafas berat tak menanggapi ucapan baby yang kini membuatnya tambah pusing. Tatapan cia kini mengarah pada Mamat yang duduk di karpet dengan menatap serius ke arah tv yang nampaknya tak lama lagi pertandingannya di mulai. Sepertinya Mamat bisa membantu tugas matematika dari pak Yanto. Spalagi Mamat terkenal cerdas yah walaupun agak menjengkelkan.


"Mat !" Teriak cia membuat Mamat menoleh.


"Kenapa ci ?"


"Bantu gue dong !"


"Bantu apa, Ci ?"


"Tugas matematika."


"Yah, gue nggak tau soalnya di buku trisakti perbengkelan nggak ada matematika. Tanya yang lain Sono ci !"


Ucapan Mamat memang ada benarnya mungkin montir-montir bisa membantu untuk menyelesaikan tugas dari pak Yanto.


"Ei, semua dengerin gue !!!" Teriak cia bangkit dari lantai menatap serius kerah mereka yang kini menatapnya dengan penuh keseriusan.


"Gue mau lo jawab tinggal pilih ajah jawabanya apa !"


"Soal apa, Ci?"


"Iya, Cia kakak siap bantu dek Cia, kok" Jojon mengedipkan matanya lalu tersenyum manis membuat Cia menatap sinis sambil mengangkat sedikit ujung bibirnya.


"Soal nomor satu."


"Lebar sebuah persegi panjang adalah 7 cm sedangkan panjangnya adalah 6 cm dan lebarnya..."


"keliling persegi panjang tersebut adalah ...."


"A 36, B 38, C 40, D 43 DAN D 44."


Cia kini terdiam menatap mereka yang nampak terdiam.


"Ayo jawab !"


"A," jawab Tara.


"B," jawab Jojon sambil mengacungkan tangannya bagaikan anak kecil yang sedang di absen.


"C," teriak Yuang yang sedari tadi terdiam seakan memikirkan soal yang di ucapkan oleh Cia.


"D," teriak Haikal semangat.


"Jawabannya yang betul tuh E!" Jawab Devan percaya diri.


"Tau dari mana ?"


"Enggak tau," jawab Devan polos menatap cia yang kini menghembuskan nafas berat.


"Jadi, yang bener yang mana ?"


"A, B, C, D, E," jawab mereka kompak membuat Cia menghempaskan tubuhnya di kursi.


Niatnya menanyakan tugas tersebut agar cepat selesai kini harus dibuat pusing dengan jawaban mereka yang asal asalan.


'Yah, bola melaju dengan cepat di bawa iringan kaki sang penakluk pemimpin sepak bola Jakarta. kira-kira mampu kah iya mencetak gol dan mengharumkan nama jakarta pada malam hari ini...'


"Berapa kosong buat Jakarta ?" Devan menatap  para montir-montirnya yang menatap fokus layar tv.


"Lima kosong." Yuang mengangkat kelima jarinya seakan yakin bahwa tim Jakarta bisa mengalahkan tim sepak bola Makassar.


"Sepuluh kosong menurut gue," tambah Mamat.


"Satu dua kalau gue," ujar tara.


"Maksud loh. Jakarta satu Makassar dua ?"


"Nih !" Devan meletakkan uang lima puluh ribu di atas karpet membuat montir-montir lain saling bertatapan.


"Kita taruhan ! kalau Jakarta menang duitnya buat gue tapi, kalau Jakarta kalah yah, nggak mungkin !" Devan tertawa lagi.


"Bukannya itu emang duit Lo yah?"


"Enggak gitu goblok !" Devan memukul kepala Jojon keras.  Jojon yang mendapat pukulan itu kini hanya tersenyum bodoh seakan masih tak mengerti dengan ucapan bosnya.


"Kita taruhan ! masing-masing kumpul duit lima puluh ribu kalau menang yah duitnya buat dia tapi kalau kalah yah nggak dapat apa-apa !" Jelas Devan membuat montir-montir lain mengangguk.


Mamat merogoh saku celananya berusaha mencari uang yang ia selipkan tadi di saku celananya.


"Nih!" Ujar Jojon semangat.


"Lima puluh ribu !" Haikal menghempas uang tersebut dengan tangannya di karpet cukup keras. Mamat yang melihat uang-uang telah terkumpul di atas karpet kini mempercepat rogohannya berusaha mendapat uang lima puluh ribu itu.


"Lama banget sih lu mat ?"


"Sabar dong, Tar ! baru di cari juga jadi, orang tu harus sabar. Adam !"


"Apa mat ?" Jawab Adam yang dari tadi mengipas secangkir kopi hitam buatan Deon.


"Kasi tau sabar itu apa !"


"Sabar itu adal-"


"Ya, ok ok nggak usah dilanjut bosan gue denger ceramah sih Adam. ngalahin pak aji sulaiman tau nggak !" Ujar tara


Mengenai dengan nama pak aji Sulaiman, dia adalah salah satu marbot  mesjid di dekat bengkel yang selalu jadi  penceramah saat sholat Jumat.


Adam menghembuskan nafas berat dengan ucapan Tara bukan karena, Tara yang berhasil memotong pembicaraannya tetapi karena nama yang Tara sebut adalah ayahnya. yah pak aji Sulaiman adalah ayah kandung dari Adam yang selalu mengajarkan tentang nilai-nilai Islam.


"Eh, Dam lu juga !" Ujar Yuang.


"Nggak ah. ini namanya dosa dalam Al Qur'an surah-"


"Ya, ya, ya, ok, ok, nggak usah," jawab Yuang cepat sebelum Adam kembali ceramah.


"Lu, Ci?" Mata sipit Yuang kini menatap cia yang nampak menopang kepalanya dengan tangan.


"Nggak," jawabnya lemas.


"Terus bos kalau kita semua pilih Jakarta nggak seru dong terus yang pilih Makassar siapa ?"


Devan terdiam. ucapan Haikal ada benarnya jika, tak ada yang memilih Makassar pasti tak akan seru dan rasanya taruhan ini tak ada apa-apanya.


"Ci, Lo pilih makassar yah !"


"Emm," sahut cia tak bersemangat.


Sebenarnya ia sangat suka nonton bola bersama dengan mereka bahkan biasanya cia yang paling bersemangat tapi, karena pak Yanto yang memberi tugas matematika yang harus di kerjakan malam ini dan dikumpul besok pagi membuat cia kehilangan semangat.


Cia pun tak peduli dengan pemenang sepak bola nanti atau uang taruhan yang dikumpulkan oleh mereka Namun, jika dipikir-pikir pasti Makassar kalah oleh jakarta.


"Nah pas jadi, kan seru kalau kayak gini," ujar Devan bersemangat sambil meletakkan uang lima puluh ribu di atas lembaran uang yang sudah dikumpulkan.


"Mat, lu punya uang mana ?" Tagih Yuang yang nampaknya dari tadi menunggu Mamat yang masih sibuk merogoh saku celananya.


"Kalau nggak punya uang bilang, Mat nggak usah buat kita jadi nunggu !" Tambah Jojon lagi sambil memperbaiki sarungnya berusaha menutupi tubuhnya dan menyisakan kepalanya sambil jongkok di hadapan tv.


"Enak aja, nih!" Mamat nampak mengeluarkan uang lima ribu dari saku celananya.


"Eh, kampret gue minta lima puluh bukan lima ribu !"


"Loh kok lima ribu ?"


"Ah, alesan lu, sini !" Haikal merampas kasar uang yang berada di jari-jari tangan Mamat yang nampak membulatkan matanya seakan terkejut dengan uang yang baru saja dia keluarkan dari sakunya.


"Kok, lima ribu ?"


"Ceh, dia yang punya duit, dia yang nanya."


"Eh, monyet gue emang tad-"


'yah, bola semakin mendekat ke gawang makkassar diiring pemain nomor 5 ....'


Suara komentator sepak bola itu kini menyita perhatian mereka. wajah seriusnya kini betul-betul terpampang di wajah mereka. Mereka pasti yakin jika, Makkasar akan kalah dengan Jakarta.