
Jojon dan Yuang menatap heran kepada baby yang nampak bergantung di tepi pagar dengan wajah pucat.
Yuang mulai mengendus mencium bau yang cukup aneh dari belakang. Belum sempat ia menoleh Jojon sudah berlari entah kemana karena, tak tahan dengan bau busuk yang berasal dari pantat Tara.
Musik black pink yang terus berbunyi kini berubah menjadi nada dering panggilan. lagi-lagi mamanya menelfon dan menghancurkan suasana yang kini sudah hancur dari tadi gara-gara Tara yang kentut.
Cia tertawa cekikikan melihat pemandangan yang bisa membuat orang tertawa. Satu hal yang membuat Cia betah berada lama-lama di bengkel adalah kelucuan montir-montir Ayahnya yang selalu membuatnya tertawa.
"Lo kentut yah, Tar ? Sumpah bau banget bikin ekye jadi, mual tau nggak !" Bentak baby melangkah mendekati Tara sambil menutup hidungnya.
"Dikit Babi !"
"Gue udah bilang tar nama gue baby bukan babi !!!" Bentaknya sambil menopang pinggang. Kini suara manjanya berubah menjadi suara yang cukup lantang.
"Terus mau lu apa, hah?"
"Lo berani ngelawan gue ?"
Tara ikut menopang pinggangnya menatap sinis pria bencong di depannya.
"Lo kira ekye takut sama lu ? Sini Lo maju !"
Tantang baby lalu melangkah maju namun, tak berani mendekati Tara ditambah lagi Tara terkenal galak dan punya tubuh yang tinggi dan lumayan kekar.
"Sini Lo!!" Tara menarik Baju pink baby membuat baby memberontak. Montir-montir yang melihat pertengkaran antara Tara dan baby membuatnya berlari untuk memisahkan keduanya.
"Istighfar wahai calon penghuni surga ingat dalam Al Qur'an yang berbunyi ......." Ujar Adam yang darah di hidungnya nampak sudah mengering.
Adam nampak berdiri di tengah-tengah sambil menatap baby yang kedua tangannya di pegang Deon dan Haikal.
"Kok lu celamah sih dam?" Tatap Yuang yang berusaha menahan tangan Tara.
Cia menggeleng pelan lalu tersenyum lebar ia mulai melangkah mendekati montir-montir yang kini sedang ricuh.
"Udah-udah nggak usah ribut mending kita foto bareng," ujar Cia sembari melambaikan handphonenya kearah mereka.
Para montir yang kini berada disituasi menegang karena, perkelahian Tara dan Baby kini saling bertatapan dan segera berlarian ke arah depan kamera.
"Siap !!!" ujarnya kompak.
"Sini biar gue yang foto !" Devan merampas handphone dari tangan Cia membuat montir-montir lain bersorak.
Cia berlari kecil menghampiri para montir untuk bergabung dalam sesi foto kali ini.
"Satu !"
Devan yang mulai menghitung membuat baby bersolek bagaikan model di samping Yuang yang mengangkat sedikit roknya.
"Dua !"
Adam yang menatap paha Yuang mulai menutupnya dengan baju kokohnya yang panjang yah, jiwa Islamnya memberontak menutup aurat Yuang.
"Tiga !"
Ujar Devan lalu tanpa disangka-sangka lagi dan lagi Tara kentut dan membuat barisan rapih yang siap untuk difoto itu berhamburan.
cekrek
Huh sungguh foto yang amburadul.
Cia menatap layar ponselnya lebih tepatnya pada chat Fika yang masih centang satu kini, Cia berfikir apakah Fika baik-baik saja. cia tak tau mengapa Fika tak membalas chat-nya bahkan sampai menjelang malam.
Ting
Pesan masuk membuat dahi Cia mengkerut berusaha menatap jelas apa yang ia lihat.
"What ?!!"
Cia bangkit dari kasurnya dengan tatapan histeris dengan apa yang ia lihat sekarang. apakah ini semua mimpi atau..
Cia menatap lagi ke layar ponselnya memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah salah.
"Aaaaaaaaaa!!!!" Teriak cia.
Entah apa yang merasuki pak Yanto sehingga memberi tugas di malam seperti ini.
"Dasar botak kampret !!! Gue doain lu biar cepetan mati, dasar jelek nggak ngerti banget perasaan muridnya ngasih tugas malem-malem !" Gerutu cia kesal.
"Aaaa, kalau gini gimana coba? Siapa yang mau kerjain tugas gue ?"
"Mana si Fika nggak pernah on lagi jadikan nggak ada yang ngerjain tugas gue."
Cia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan mengerang pusing.
"Guru kampret !!!! Masih mending kalau tugasnya bahasa indonesia nah ini matematika gimana coba ngerjain-nya ?"
Cia bangkit dari kasur lalu, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. ia harus bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak Yanto.
Dengan percaya diri cia melangkah ke meja belajarnya lalu duduk dengan tatapan sang pemberani yang seakan siap melawan musuh yang sudah ada di depan mata.
Cia menarik buku bimbingan belajar matematika kelas XII IPA itu lalu meletakkannya di meja tepat di hadapannya. Cia mengangguk yakin ia harus bisa menjawab tugas matematika itu. Apalagi pak Yanto bilang hanya 5 nomor pilihan ganda dan disertai cara penyelesaiannya di halaman 26.
Cia tersenyum penuh keyakinan dan segera membuka buku paket matematika mencari sial yang tertera di halaman 26.
Mata Cia terbelalak dengan apa yang sekarang ia lihat. Rasa bencinya kepada guru botak itu kini kian bertambah.
Memang pak Yanto mengatakan hanya 5 nomor tapi, ketika melihat soalnya kepala cia seakan pusing tak kuasa menatap soal yang terpampang di bukunya.
"Sabar cia kamu pasti bisa. ok sabar cia !" Cia berusaha tersenyum dan menenangkan dirinya.
Cia menatap serius soal tersebut sambil menopang bibirnya dengan pulpen hitam yang ia ambil di laci bangku milik Reno.
Yap, ini hasil curian.
"Udah beli kacang belum ?"
"Si Deon tu!"
"Minggir dong, Mat !"
"Lo jangan kentut disini, Tar nanti Mak Fatima marah !"
"Nginap nggak disini ?"
Suara berisik dari luar membuat Cia kehilangan konsentrasinya. Suara yang sudah tak asing lagi di telinga Cia di tambah lagi suara manja di luar sana yang sudah pasti itu suara Baby.
Cia menghempaskan pulpen itu ke meja lalu bangkit dari meja belajarnya. Para montir-montir dengan kepribadian yang aneh itu harus segera diatasi jika, dibiarkan tugas dari pak Yanto tidak akan selesai.
"Eh, berisik banget !!!" Teriak cia sambil berdiri di depan pintu kamarnya.
Dengan serentak mereka semua dengan kompak menatap cia, mereka Nampak berkumpul di depan TV sambil duduk di atas karpet merah. Cia terdiam dengan apa yang ia lihat sekarang.
Jojon yang baring di karpet dengan sarung kotak-kotak tak lupa juga ponsel di jari-jarinya langsung terdiam menatap ke arah cia.
Mamat pun yang baring di sebelah Jojon lengkap dengan sarung batik ikut menoleh menatap ke sumber suara.
Tatapan cia kini terfokus menatap Devan yang menatapnya dengan tatapan serius menghentikan permainan dominonya bersama dengan Tara dan Yuang yang kini ikut menatap cia.
"Ya ampyung ekye cantik bwanget sih!" Ujar baby centil sambil menatap wajahnya yang telah diolesi dengan masker pemutih wajah di cermin yang berwarna pink. Jujur saja baby tak menyadari kehadiran Cia yang memasang wajah sangar di sana.
Cia menoleh menatap Haikal yang tengah asik menghisap rokok dengan gitar ditangannya.
"Siapa yang nyuruh lo ngerokok di sini ?" ujar cia menatap sadis Haikal dengan rokok di sela jarinya yang nampak berasap. Haikal terdiam sambil memasang wajah polos tak tau harus berbuat apa.