
Mata Kasya terbelalak menatap hasil test pack yang kini sudah ada di tangannya.
"Garis dua!"
Test pack itu jatuh ke lantai membuat nafas Kasya tertahan dengan matanya yang membulat. Tubuh Kasya kini terperosok ke arah dinding kamar mandi hingga berakhir membuatnya bertelunkup di samping wastafel.
Matanya kini melirik test pack yang tergeletak di lantai yang bersih tetap dengan garis dua itu. Kini kehidupan Kasya, benar-benar akan hancur. Sesuatu yang tak pernah Kasya harapkan kini menghampirinya. Ada janin di perutnya itu.
Seluruh tubuhnya terasa mendingin hingga ia merasakan tubuhnya menggigil karena takut. Wajahnya kini terasa panas dengan sorot matanya yang kini memburam terhalang oleh air mata yang kini tengah mengantung.
Dengan tangisan Kasya menyentuh perutnya itu dengan jari-jari tangannya yang gemetar. Ada janin pada rahimnya yang masih terlalu muda ini.
Kasya menoleh mendongak menatap langit-langit kamar mandi yang terasa berputar membuatnya pening hingga tak mampu untuk berpikiran jernih m. Wajah Ayah dan Ibunya seakan terbayang begitu sangat jelas.
Kasya menyentuh rambutnya dan menjambaknya kasar. Semakin ia berusaha untuk menghilangkan bayangan kedua orang tuanya semakin jelas pula wajah mereka.
"Aaaaaaa!!!" teriak Kasya lalu menarik rambutnya dan memukul-mukul perutnya sendiri dengan keras.
"Aaaaaa!!!" teriak Kasya.
Kasya bangkit dari lantai lalu melempar semua peralatan mandi yang ada di atas sebuah meja besi. Bahkan sebuah guci bunga mawar terhempas ke lantai lalu pecah berhamburan tak utuh lagi.
"Aaaaaaaaa!!!" teriak Kasya lalu menangis tersedu-sedu.
"Dasar bodoooooh!!!" teriak Kasya lalu membenturkan kepalanya ke dinding.
Kasya terhempas ke lantai dengan pandangannya yang kini memburam, tak jelas lagi.
Kini sebuah rasa penyesalan telah merasuki pikirannya. Andai saja ia tak melakukan hal bodoh ini bersama dengan Devan, mungkin janin yang ada di rahimnya tak akan pernah ada. Kasya kini merasa benci dengan dirinya sendiri, sangat benci.
Apa yang akan orang tuanya katakan jika mengetahui hal ini. Seorang CEO terkenal memiliki seorang anak yang hamil di luar nikah dan masih muda. Apa yang akan teman-temannya katakan nanti jika tahu Kasya hamil karena Devan? Sudah jelas mereka semua akan menertawainya dan mengatakan jika dia adalah gadis murahan dan kotor.
Harus bagaimana lagi sekarang? Semuanya sudah terlanjur. Tunggu! tunggu sampai Devan tahu.
...___***___...
Devan terdiam menatap Kasya yang kini berdiri di hadapannya. Sudah lebih dari sepuluh menit kasya berdiri tanpa bicara sedikit pun kepadanya.
"Kenapa Kak Kasya?" tanya Devan yang kini benar-benar sangat bingung.
"Aku-" Ucapan Kasya terhenti lalu ia tertunduk.
"Kenapa tidak duduk? Kak Kasya sudah berdiri dari tadi, apakah Kakak tidak pegal?" tanya Devan sementara Kasya masih terdiam dengan wajah pucat serta dahi Kasya yang terlihat membiru.
"Kak-" Devan terbelalak saat ia berniat untuk menarik Kasya agar duduk di bangku tepat di sampingnya dengan cepat pula Kasya melangkah mundur seakan tak mau jika ia disentuh oleh Devan.
"Kenapa Kak Kasya?" tanya Devan lagi.
Rasanya Kasya tak mampu menjelaskan tentang hal ini, rasanya ini berat untuk mengatakannya tapi ini semua harus ia katakan bagaimana pun caranya. Kasya tanpa sepatah kata kini menjulurkan test pack itu dengan jari-jarinya yang gemetar yang ia keluarkan dari tas kecilnya.
"Pegang!" pintah Kasya sambil menggerakkan sedikit test pack itu agar Devan melihatnya.
"Ini apa?" tanya Devan tak mengerti. Jujur saja Devan tak pernah melihat benda seperti ini.
Kasya tak menjawab namun ia semakin menggerakkan test pack itu mendekat ke arah Devan yang kini kebigungan. Devan yang masih bingung itu mulai meraih test pack yang Kasya julurkan kepadanya.
Devan yang masih kebigungan itu kini menatap test pack berwarna biru itu dengan dua garis di sana. Devan tak tahu benda apa yang telah ada di tangannya itu, Devan tak pernah melihat benda ini sebelumnya.
"Ini apa?" tanya Devan menatap kebigungan ke arah Kasya yang kini telah menampung air matanya yang nyaris jatuh membasahi pipi.
"Kamu tidak mengerti?" tanya Kasya sembari berusaha untuk tidak menangis.
Devan menggeleng cepat.
"Aku-"
Ucapan Kasya terhenti membiarkan air matanya tumpah membasahi pipinya, ini amat sangat memalukan.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Aku hamil, Van," lanjut Kasya dengan nada berbisik lalu ia meledakkan tangisannya.
Devan terbelalak membuat test pack itu jatuh begitu saja dari tangannya. Devan kini melangkahkan kakinya mundur satu langkah menjauhkan dirinya dari Kasya yang kini masih menangis. Tatapan Devan yang mulai buram itu kini menatap ke arah perut Kasya.
"Aku takut, Van."
"Aku takut sama Ayah," sambungnya lagi semetara Devan masih terdiam.
"A...a...aku takut sama Ibu ka...ka...kalau mereka sampai tahu," ujar Kasya terisak lalu segera bertelunkup memeluk lututnya di atas tanah yang kotor.
Devan kini melangkah maju mendekati Kasya yang masih terisak. Dengan jari-jari yang gemetar kini Devan menyentuh bahu Kasya.
"Kak Kasya," panggil Devan sambil menyentuh bahu Kasya.
Kasya kini menggerakkan bahunya berusaha agar Devan tak menyentuh bahunya. Devan terbelalak ia benar-benar sangat kaget dengan sorot mata Kasya yang begitu sangat tajam.
"Kak Kasya," panggil Devan lagi namun kini tak menyentuh tubuh Kasya, Devan takut jika Kasya menolaknya lagi.
Jujur saja Devan tak tahu jika setelah melakukan hal itu bisa membuat Kasya hamil. Lalu apa di perut Kasya akan besar seperti Bibinya yang juga memiliki perut yang besar? Ditambah lagi Devan belum siap untuk mengatakan hal ini kepada Bapak dan Mamanya, Devan takut.
"Kasya!" panggil Devan lagi lalu tertunduk membuat Kasya menoleh.
"Emmm, Bayi yang ada di perut kamu boleh di keluarkan?" tanya Devan ragu.
Kasya kini menghentikan tangisannya lalu menatap wajah Devan yang ternyata juga ikut menangis.
"Keluarkan?" Tatap Kasya tak percaya jika Devan akan mengatakan hal itu.
Devan mengangguk walau ia sendiri ragu untuk melakukan hal itu.
"Tidak," ujar Kasya sambil menggeleng cepat.
"Aku...aku-" Devan menghela nafas seakan tak mampu berfikir jernih kali ini.
"Sampai kapan Bayi itu ada di perut kamu?"
Kasya menghapus air matanya dengan cepat lalu ia terdiam memikirkan sesuatu.
"Aku pernah baca buku kalau wanita hamil bisa sampai 9 bulan," jawab Kasya.
"Kak Kasya," panggil Devan lagi.
"Apakah Bayi itu bisa menunggu sampai aku besar dan bisa menikah sama kamu baru dia keluar?" tanya Devan membuat Kasya menggeleng.
"Sekarang bagaimana Kak Kasya?"
Kasya kini terdiam.
"Devan."
Devan menoleh menatap Kasya penuh takut.
"Aku takut, a...a...aku takut kalau Ayah aku tahu," sambung Kasya.
Mengigat tentang Ayah kini Devan terdiam ikut mengigat tentang Bapaknya. Entah apa yang akan dikatakan Bapaknya jika sampai dia tahu jika Anak satu-satunya ini telah menghamili seorang gadis.
"Tunggu waktu yang tepat Kak Kasya! Aku akan beri tahu Bapak dan Mama ku."
Devan terdiam sejenak sementara Kasya ikut terdiam.
"Kalau aku sudah memberitahu Bapak dan Mamaku baru Kak Kasya memberi tahu Ayah dan Ibu Kak Kasya," jelas Devan.
"Kapan?" tanya kasya memelangkan suaranya.
Devan menggeleng jujur saja ia pun tak tahu kapan ia akan mengatakan hal ini kepada Bapak dan Mamanya.