Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 192



Devan terdiam menatap foto gadis yang nampak terlihat tersenyum, senyum yang begitu sangat indah bahkan Devan yang masih menangis itu kini mampu tersenyum sambil ujung jari telunjuknya menyentuh lembut permukaan foto itu.


Devan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Rasanya kali ini dadanya sesak setelah mengingat kejadian tadi dimana ia bicara panjang lebar kepada dua orang yang sangat ia takuti, Tuan Abraham dan Jef.


"Kasya, aku.... aku minta maaf, aku sangat minta maaf karena telah berbicara yang tak sopan kepada Ayah kamu tapi jujur aku tak bermaksud untuk melakukan itu."


"Kasya, aku minta maaf karena saat itu aku tak bisa membawa kamu pergi dari rumah itu, rumah yang penuh penderitaan bagi kamu. Aku minta maaf."


"Kasya."


Devan menghela nafas berat lalu mengusap pipinya yang basah itu dengan telapak tangannya dan kembali menyentuh permukaan foto itu dengan jari telunjuknya.


"Aku tahu sekarang kamu sudah jadi bintang di atas langit. Yah seperti apa yang selalu kamu bilang jika ada yang meninggal maka dia akan menjadi bintang."


18 Tahun yang lalu....


Devan berlari di siring jalan beraspal yang terlihat ramai dilintasi oleh kendaraan yang berlalu lalang. Devan menghentikan langkahnya lalu segera memanjat tembok belakang rumah dan melompat hingga ia berhasil berada di taman dengan selamat.


Devan menoleh ke kiri dan kanan berusaha memastikan jika tak ada yang melihatnya saat ini.


Devan mengendap-ngendap seperti pencuri mendekati sebuah jendela yang dibiarkan terbuka begitu saja. Devan tahu jika itu ulah Kasya yang sengaja membukanya.


"Kak Kasya!" panggil Devan dengan nada berbisik tepat saat ia berada di depan jendela. Devan harus berhati-hati kali ini, ia tak mau jika Ayah Kasya dan juga Anak buahnya mendengar suaranya, ini akan menjadi masalah besar baginya.


"Kak Kasya!" panggil Devan lagi namun tak ada suara yang menyahutinya.


Devan menghela nafas lalu tak sengaja ia melirik sebuah kertas yang melekat di permukaan kaca.


Temui aku di atas!


Itu yang ada di kertas itu.


Devan meraihnya dengan hati-hati lalu dengan pelan-pelan ia memanjat ke jendela dan masuk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Devan menoleh ke kiri dan ke kanan lagi, ia harus memastikan jika tak ada orang di dalam ruangan kamar Kasya yang begitu gelap dan sunyi. Dengan penuh hati-hati Devan melangkah menaiki tangga rumah dan berlari saat ia telah berada di lantai dua.


Devan kembali menaiki tangga yang terakhir dan langkahnya terhenti saat ia berhasil menatap Kasya yang kini sedang duduk di pinggir balkon dengan rambut yang terurai.


Devan tersenyum walau sejujurnya ia merasa takut untuk melangkah mendekati Kasya yang kini terlihat seperti sosok hantu perempuan yang bergentayangan dengan rambut panjang terurai. Untung saja Kasya tak memakai baju putih jika tidak maka takutlah kaki Devan untuk mendekati Kasya yang masih duduk di sana.


Devan duduk di samping Kasya yang kini terlihat mengada menatap langit yang dihiasi dengan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip indah.


"Kak Kasya," panggil Devan dengan nada berbisik membuat Kasya menoleh dan ia tersenyum sesaat lalu ia kembali menatap langit.


Devan terdiam lalu dengan pelan ia ikut menatap langit diiringi hembusan angin malam.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Devan sambil menatap Kasya.


"Bintang," jawabnya.


Devan mengkerutkan alisnya heran lalu ikut menatap langit.


"Untuk apa melihat bintang?"


Kasya tersenyum lalu menoleh menatap Devan yang kini ikut menatapnya.


"Kata Bibi Naini, orang yang telah meninggal akan menjadi bintang."


"Bintang?" tanya Devan dengan wajah bingungnya.


"Iya, itu yang Bibi Naini katakan."


Devan mendongak menatap langit sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia cukup bingung dengan hal ini. Devan menyipitkan kedua matanya berusaha menatap bintang dengan sangat jelas, ia ingin melihat apakah ada orang di bintang itu.


"Tidak ada orang di bintang," jawab Devan dengan wajah lugunya.


Kasya tertawa sambil menutup mulutnya membuat Devan tersenyum dengan wajahnya yang masih bingung.


"Kenapa tertawa?" tanya Devan.


"Itu hanya mitos, lagipula kita tidak bisa melihatnya secara langsung. Ini menurut Bibi Naini saja."


"Aku tahu semua orang yang telah tiada akan kembali ke Tuhan dan tak akan jadi bintang tapi entah mengapa melihat bintang membuat aku bisa melihat Omah."


"Omah?" tanya Devan.


"Iya Omah."


"Omah itu siapa?"


"Kamu tidak tahu Omah?" tanya Kasya membuat Devan menggeleng.


"Omah itu panggilan untuk Nenek. Masa kamu tidak tahu."


"Yah mana aku tahu, aku biasanya memanggil Nenek aku dengan sebutan Nenek bukan Omah. Biasanya kalau dipanggil Omah hanya untuk orang kaya, aku sering mendengarnya di TV," jelas Devan lalu terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu.


"Oh iya aku lupa, Kak Kasya kan orang kaya."


"Devan," panggil Kasya dengan kedua sorot matanya yang masih serius menatap langit.


"Apa?"


"Kenapa kamu sering memanggilku dengan sebutan Kakak?"


"Yah karena Kakak Kasya lebih tua dari aku," jawabnya.


Kasya tersenyum lalu menggeleng.


"Lalu bagaimana jika nanti aku telah menikah dengan kamu?"


"Kenapa tertawa?" tanya Devan sambil mengusap lengan yang telah dipukul oleh Kasya.


"Itu lucu."


"Seperti bintang," ujar Devan.


Kasya mengangguk lalu menengadah menatap bintang.


"Itu Omah ku." Tunjuk Kasya ke arah salah satu bintang membuat Devan terbelalak dan ikut mendongak.


"Apa dia melihat kita?"


"Tidak, Devan."


"Lalu bagaimana Kak Kasya tahu itu Omah?"


"Kata Bibi Naini, bintang yang paling terang adalah sosok orang yang kita rindukan," jelas Kasya.


Devan menyipitkan kedua matanya menatap langit. Devan mendecapkan bibirnya dan menoleh menatap Kasya yang masih tersenyum.


"Sama saja, semuanya terlihat bersinar."


"Bukan seperti itu."


"Lalu?"


Kasya menghela nafas lalu memejamkan kedua matanya sambil merentangkan kedua tangannya lalu beberapa ia terdiam sementara Devan melongo, ia tak mengerti dengan apa yang Kasya lakukan.


"Kak Kasya, Kak Kasya! Apa Kak Kasya tidur?" panggil Devan yang tak kunjung melihat Kasya membuka kedua matanya.


"Kak Kasya! Aaaa!!!" teriak Devan yang kini tersentak kaget setelah melihat Kasya membuka matanya secara tiba-tiba.


Devan menyentuh dadanya yang berdebar-debar itu dengan wajah yang begitu kaget.


"Ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Kasya.


"Kakak Kasya membuatku terkejut," jawabnya sambil mengusap dada.


Kasya tertawa lalu kembali memukul lengan Devan membuat Devan ikut tersenyum.


"Devan," panggil Kasya.


"Ada apa?"


"Sekarang tutup mata kamu!"


"Untuk apa?" tanya Devan.


"Tutup saja! Kamu ingin melihat orang yang paling kamu rindukan kan?"


Devan menghela nafas lalu dengan ragu ia menutup kedua matanya sesuai dengan apa yang Kasya perintahkan.


"Sudah?" tanya Kasya yang kini ikut memejamkan kedua matanya.


"Sudah," bisik Devan.


"Dan rentangkan kedua tangan!"


Devan hanya menurut walau sesekali ia membuka sebelah matanya untuk menatap Kasya yang sedang merentangkan kedua tangannya dengan kedua mata yang tertutup.


"Jangan mengintip!"


"Ah bagaimana Kak Kasya tahu?" kesal Devan yang kini membuka kedua matanya.


"Aku tahu semuanya. Sekarang lakukan dengan benar!" suruh Kasya membuat Devan menghembuskan nafas panjang dan kembali menutup kedua matanya sambil merentangkan kedua tangan.


"Kak Kasya!" panggil Devan dengan nada berbisik namun tak kunjung mendapat balasan dari Kasya.


"Kak Kasya!"


"Kak Kasya, apa Kakak mendengar aku? Kak Kasya!" panggil Devan lagi.


Devan menarik nafas panjang lalu ia terdiam cukup lama.


"Kak Kasya, Apa kita akan terbang?"


"Hust! Diam!" bisik Kasya membuat Devan dengan cepat melipat bibirnya.


"Setelah itu tarik nafas dalam-dalam!" pintah Kasya membuat Devan menarik nafas dalam-dalam.


"Saat tarikan nafas yang paling dalam maka sebut nama orang yang ingin kamu lihat sebanyak tiga kali!"


Devan yang mendengar hal tersebut segera melakukan apa yang Kasya perintahkan. Kesejukan angin malam begitu sangat segar sampai ke paru-parunya.


"Lalu buka mata mu! Jika kamu melihat bintang yang paling terang maka itu adalah orang yang kamu rindukan!"


Devan membuka kedua matanya perlahan dan cahaya dari bulan terlihat menyilaukan matanya hingga Devan tersenyum melihat satu bintang yang paling terang.


"Iya Kak Kasya, aku melihat bintang yang paling terang," ujar Devan dengan sangat gembira lalu ia menoleh.


Senyum Devan sirna dari bibirnya saat menoleh menatap foto kecil Kasya yang berada di jari tangan kananya yang masih ia rentangkan.


Devan menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan perasaan sedihnya. Ini hanya ingatan Devan yang kembali mengingat kejadian itu.


"Apa kamu sudah jadi bintang?" tanya Devan.