Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 22



"Aaaaaa !" Teriak pria itu lalu melompat berniat untuk membacok Adam dengan sabitnya yang lumayan panjang.


Adam menyingkir dengan cepat menjauhi sabit itu lalu dengan cepat memutar tubuhnya membelakangi pria itu. Adam memutar pergelangan tangannya dengan keras membuat pria itu merintih kesakitan disusul sabit itu yang terjatuh ke aspal.


"Tangan kosong kalau berani !!!" Teriak Adam.


Deon terhempas ke pagar besi cukup keras setelah dahinya ditinju membuat Deon meringis. Deon membuka matanya pelan namun, semuanya nampak berputar. Kepala Deon pusing.


"Mati Lo sekarang !!!"  Teriak pria itu lalu memegang kerah baju Deon cukup keras lalu mengangkat tinjunya berniat untuk memukul pria itu.


"Aaaaa!!!" Teriaknya.


BRUK!


Pria itu terhempas ke permukaan pagar tak jauh dari tubuh Deon yang masih pusing di sana.  Pria itu terhempas ke pagar membuat dahinya terbentur ke pagar lalu tergulai tak berdaya di permukaan aspal.


"Mamat!" Ujar Deon kegirangan menatap Mamat yang telah berdiri dengan gagahnya di sana. Mamat telah menolong Deon.


"Tenang Deon menurut buku-"


"Mat, itu !" Ujar Deon cepat sambil berusaha menunjuk kearah belakang Mamat.


"Dengar dulu dong, Deon ! menurut buku trisakti perbengkelan pasal tujuh ayat dua tentang persa-"


BRUK!


Mamat terhempas ke aspal. Belum sempat Mamat menyelesaikan ucapannya tentang buku Trisaktinya Mamat sudah terkapar di aspal.


"Nah kan gue udah bilang dari tadi," ujar Deon.


Pria berambut pirang itu tersenyum sinis menatap Mamat yang terkapar di atas permukaan aspal. Pria berambut pirang itu mulai melangkah seakan ingin memberi pelajaran lagi untuk Mamat yang berani memukul sahabatnya itu.


"Aaaa !!!" Teriak Jojon sambil mengendong Baby yang nampaknya masih tertidur.


Jojon menendang pantat pria berambut pirang itu membuatnya sedikit terhempas ke depan namun, tak membuat pria berambut pirang itu jatuh.


"Mampus Lo ,haha." Jojon tertawa terpingkal-pingkal setelah berhasil menendang pria itu.


Pria berpirang itu menoleh memutar tubuhnya menatap Jojon yang kini menghentikan tawanya.


"Brengsek, Lo !!!" Teriak pria itu lalu berlari kearah Jojon yang masih mengendong baby sambil melayangkan tinjunya.


BRUK


Tinju bertubi-tubi itu berhasil menghantam pipi baby membuat kepala Baby dengan keras menghadap ke kanan. Masker putih Baby yang sudah mengering berhamburan dari pipi Baby yang mulus. Sementara Jojon mengigit bibir bawahnya cukup keras ketika ia bersembunyi di balik tubuh baby yang kini mematung.


  


Pria berambut pirang itu nampak menganga seakan tak percaya dengan tatapan tajam Baby yang nampak menoleh menatapnya, rupanya Baby telah terbangun dari tidurnya setelah di pukul oleh pria itu. Baby merambah pipinya yang di pukul tadi membuatnya dapat merasakan masker yang ia beli dengan uang tabungannya selama bekerja menjadi montir di bengkel Ceo telah berhamburan dari pipinya.


"Anjing Lo !!!"


"Ma...ma...maaf, Mas!" Ujar pria itu sambil melangkah mundur ketika Baby melangkah kearahnya.


Mata Baby membulat nyaris keluar menatap penuh amarah yang berkobar.


"Lo kira beli masker murah, hah ?!!!" Teriak baby.


"Ma...ma...ma !!"


"Lo kira beli masker pake daun kelor, hah ?!!" Teriak Baby.


Pria itu melangkah mundur lagi berusaha menjauhi Baby.


"Sini, Lo !" Baby meraih rambut pirang pria itu dengan kasar.


"Lo kira gue oles maskernya nggak pake waktu, hah ? nggak pake cinta dan kasih sayang ? Babi, Lo yah !!!"


TAK!!!


Yuang memukul wajah pria gonrong itu sehingga pria itu nampak mengeliat kesakitan di aspal.


"Hay, Hay, Hay, lu Kila Oe ngga tau blantem, hah?" Yuang tertawa seakan puas dengan apa yang ia lakukan.


BRUK!


Yuang terhempas ke aspal ketika tubuhnya di pukul entah oleh siapa. Belum sempat Yuang melihatnya Yuang di keroyok entah berapa orang, Yuang tak mampu menghitung jumlah orang itu.


Devan nampak ngos-ngosan sambil menatap lawanya itu yang terkapar di aspal setelah dipukulnya. Devan sama sekali tak mengenali pria itu bahkan baru kali ini Devan bertemu dengan mereka semua.


"Ceoooo !!!" Teriak Yuang sambil merenggangkan jari-jarinya berusaha meminta pertolongan oleh Devan. Devan yang melihat Yuang yang terkapar di aspal sambil di keroyok itu dengan cepat berlari.


Baru selangkah Devan berlari 3 orang pria muda menghalangi langkahnya. Devan lagi-lagi harus menghadapi pria-pria itu sambil sesekali melihat Yuang yang masih menjerit di sana.


"Lo ketua gengnya ?" Tanya salah-satu dari ketiga pria itu.


 


Devan terdiam mendengar pertanyaan pria itu, entah mengapa mereka menanyakan hal itu kepadanya.


"Iya, gue."


Pria itu tersenyum sinis lalu menatap sahabatnya yang terkapar diaspal setelah di pukul oleh Devan.


"Hebat juga, Lo."


"Bos, Ketua gengnya ada disini!" Teriak pria itu.


Pria dengan pengikat kepala berlambang tengkorak itu melangkah dengan gagahnya kearah Devan. Devan terdiam menatap wajah pria itu yang lumayan tampan, Devan tak pernah melihat pria ini sebelumnya bahkan baru kali ini Devan melihatnya.


"Hay, gue ketua geng Torak!" Pria itu menjulurkan jari-jarinya lalu tersenyum sinis ke arah Devan.


Devan terdiam tak mengerti dengan pria ini bagaimana bisa dia mengajak Devan bersalaman setelah berusaha merusak bengkelnya.


Pria itu mengangguk sinis menatap jari-jarinya yang tak dijabah oleh Devan.


"Mau Lo apa ?" tanya Devan.


"Gue mau Lo jadi, anggota torak."


"Nggak !" jawab Devan cepat.


Pria itu dengan cepat tertawa lalu kembali tersenyum sinis dan mengangguk pelan.


BRUK


Devan menendang pria itu membuatnya terhempas. ketiga pria yang berada di samping Devan melangkah mundur seakan terkejut dengan gerakan Devan yang bergerak secara tiba-tiba.


"Woy!!!" Teriak seseorang diiringi suara gerombolan motor yang melaju cepat kearah Devan dan yang lainnya.


Devan terdiam menatap gerombolan tersebut yang ternyata adalah anak buahnya. Pria dengan motor paling besar berwarna hitam itu adalah Alex, pria yang cukup diandalkan Devan saat tauran. Pakaian serba hitam serta kaca mata hitam yang terpasang di wajahnya seakan menggambarkan sosok gagah anak geng motor.


Remol pria yang berdiri di atas motor di boncengi oleh Georgi  sambil menunggangi motor besar berwarna biru tua nampak menunjuk ke arah mereka dengan gagahnya serta para anak buah Devan yang berjejer di belakang sana.


"Cabut !!!" Teriak pria dengan pengikat kepala itu yang tak lain adalah ketua geng Togar.


Mendengar teriakan itu dengan cepat mereka semua memacu kendaraannya dan meninggalkan Devan dan yang lainnya.


Devan berlari kearah Yuang yang tergeletak di aspal.


"Lo nggak kenapa-kenapa kan, Yuang ?"


Yuang mengangguk mengiyakan bahwa dia tak apa-apa. Yuang berusaha bangkit dari aspal ketika tubuhnya mulai dibantu oleh Devan untuk bangkit. Yuang menatap wajah Devan yang nampak aman-aman saja tak ada sedikit pun luka memar atau apa pun itu.


"Kok bos nggak luka ?"


Devan tetap melangkah sambil menunutung langkah Yuang pelan tak memperdulikan pertanyaan Yuang yang masih menatapnya dengan serius.