
Loli mengibaskan jari-jarinya ketika paparan sinar matahari itu menghantam wajahnya yang mulus.
Marisa yang sedari tadi sibuk meletakkan jari-jari di wajahnya berusaha menghindari paparan sinar matahari itu lalu mulai melirik Fika yang nampak sedang menatap Adelio.
"Ka!" panggil Marisa menyikut Loli cepat.
"Emm," sahutnya malas.
"Tuh lo liat sih Fika! Masa dia ngeliatin si Adelio." Tunjuk Fika memajukan bibirnya.
Loli menoleh. Benar saja Fika nampak begitu serius menatap wajah Adelio di belakang sana. Loli terseyum lalu menggerakkan kepalanya membelakangi mereka.
"Mulai sekarang gue mutusin, kalau gue nggak akan ngejar-ngejar si Adelio lagi."
"What?!!!" Tatap Marisa tak percaya.
"Yes, gue nggak akan ngejer-ngejer sih Adelio lagi," jelas Loli.
"Terus? Tapi kenapa, Lol?"
Loli menghembuskan nafas lalu, tersenyum kembali menoleh menatap Adelio di belangkang sana lalu, kembali menatap Marisa sambil terseyum.
"Huh, si Adelio terlalu dingin dan susah banget buat di dapet."
"Hah?" Tatapnya tak menyangka jika Loli akan menyerah secepat ini.
"Lagian gue rasa ada yang lebih ganteng dari para di Adelio."
"Hah? Siapa?" tanya Marisa membuat Loli terseyum.
"Siapa, Lol?"
"Pacarnya si Cia."
"Hah?" Tatap Marisa tak percaya lagi.
"Gue nggak nyangka pacarnya si Cia ganteng banget." Mata Loli berbinar.
"Namanya siapa sih gue lupa?"
"Ceooooo!!!" teriak Medika sambil melompat kegirangan.
Loli dan Marisa terdiam menatap sahabat pendiamnya itu yang kini melompat. Baru kali ini medika melompat sepeti itu.
"Gue bakalan usahain buat dapatin pacar si Cia, Apa pun caranya."
"Ahh, gue nggak setuju." Tegas Medika cepat sambil menatap Loli tajam.
Loli dan Marisa terbelalak setelah mendengar ucapan Medika yang tiba-tiba. Baru kali ini Medika bicara dengan wajah sekesal itu dan itu semua hanya karena pacar Cia yang baru saja Loli ucapakan.
"Gue nggak setuju kalau lo mau ngerebut pacar Cia," ujar Medika.
"Lo ini berpihak sama siapa sih?" tanya Loli.
"Iya ni si Medika, lo berpihak sama si Loli atau sama si Cia?" tanya Marisa.
"Gue nggak berpihak sama siapa pun kali ini," ujar Medika melipat kedua tangan di depan perutnya tanpa menoleh menatap Loli dan Marisa yang kini tengah menatapnya dengan serius.
"Terus?"
"Gue yang bakalan ngerebut Ceo dari si Cia," ujar Medika yakin.
"Maksud lo apa Medika? Lo kok ngomong gitu?!!!" teriak Loli.
"Loh, emangnya kenapa?!!!" teriak Medika tak kalah besar.
"Yah gue nggak suka!!!"
"Yah itu urusan lo!!!"
"Sekarang lo udah berani ngelawan gue?!!!" Tatap Loli melangkah maju Semua para siswa dan siswi kini menatap ke arah Loli dan Medika yang kini mengadu mulut entah kerena apa.
"Ah, lo sih Lol, tuh kan Pak Yanto ke sini," Kesal Zandi memasukkan ujung baju putihnya ke dalam celananya dengan cepat, ini akan menjadi bencana baginya jika Pak Yanto melihat ini.
Sejujurnya Zandi takut jika Pak Yanto menanyakan tentang orang yang melempar kepalanya itu di acara ulang tahun Loli.
"Diem lo!" bentak Loli masih tertunduk.
"Ngapain kalian?" tanya Pak Yanto sesampainya di depan Loli, Medika serta para siswa dan siswi lainnya.
"Maaf Pakm" Suara pelan Loli dan Medika terdengar, masih tertunduk.
"Awas kalian kalau ngomong lagi!" Tunjuk Pak Yanto mengancam.
Pak Yanto melangkah setelah keduanya mengangguk mengiyakan ucapan Pak Yanto. Pak Yanto kini memutar tubuhnya menatap satu persatu siswa dan siswi yang nampak berbaris rapi sambil memegang Gunting di belakang tubuhnya.
Semua siswa dan siswi kini tertunduk berharap Pak Yanto tak menghentikan langkahnya. Jika Pak Yanto menghentikan langkah maka masalah besar pasti terjadi. Jika tak memotong rambut atau gelang-gelang pasti Pak Yanto akan menegur cara berpakaian para siswa dan siswi.
"Ini gelang apa ini?" Henti langkah Pak Yanto tepat di samping Revan.
"Kamu ini mau belajar atau mau gaya-gayaan kamu di sekolah?"
Kreak
Suara guntingan dari gelang-gelang warna-warni kini berhambur dari pergelangan tangan Revan berakhir mengenaskan di tanah.
Revan hanya terdiam sambil tertunduk. Revan lupa menyembunyikan gelangnya di saku celananya itu. Namun, semuanya sudah terjadi kini gelangnya sudah rusak.
Pak Yanto kembali melangkah menatap wajah-wajah siswa dan siswi yang nampak tertunduk dengan tatapan serius.
"Cia mana?" tanya Pak Yanto menatap keseluruh siswa dan siswi yang kini masih tertunduk.
Bruuk.
Suara akhir yang terdengar dari lompatan Cia ketika berhasil melompat dari tembok belakang sekolah.
Cia melirik degan serius ke arah kiri dan kanannya berusaha memastikan tak ada orang yang melihatnya terlebih lagi kepada Pak Yanto yang sering muncul tanpa diduga.
Cia berlari menuju jendela kelasnya lalu melompat masuk kedalam kelas dengan hati-hati. Cia menatap ke arah sekeliling ruangan kelas yang nampak sunyi tak ada orang di sana.
Cia meletakkan tasnya di atas meja lalu terdiam setelah mendengar suara gadis yang membaca UUD dari speaker yang terpasang di sudut ruangan kelas.
Cia mendecapkan bibirnya. Jujur saya Cia lupa jika hari ini hari senin ditambah lagi hari ini Cia bangung terlambat karena tubuhnya terasa pegal setelah kemarin Cia membersihkan rumah seharian.
Cia berlari keluar dari kelas menuju barisannya. Lari Cia terhenti ketika Cia melihat Pak Yanto yang berada di tengah-tengah teman sekelasnya.
"Kok Pak Yanto di situ sih?" bisik Cia sambil bersembunyi di balik pohon.
"Mana Cia?" tanya Pak Yanto lagi sambil menatap Fika yang kini tertunduk.
Adelio meghembuskan nafas lalu membuang muka berusaha menghindari tatapan Pak Yanto. Adelio terdiam ketika ia tanpa sengaja menatap Cia yang mengintip di balik pohon.
"Husst!" bisik Cia meletakkan jari telunjuk di depan hidungnya.
Adelio mengangguk, masih menatap Cia yang kini mengerakkan jarinya berusaha menyuruh Adelio untuk tidak menatapnya. Cia takut jika Adelio yang terus melihatnya membuat Pak Yanto ikut menatapnya dan Cia tak mau itu terjadi.
Adelio tertunduk lalu mengangkat pandangannya menatap ke arah depan tak jauh dari Pak Yanto yang masih berdiri di samping Fika yang kini menunggu jawaban.
"Mana Cia?" tanya Pak Yanto lagi.
"Bendera siap!!!" teriak pengibar bendera itu memecah keheningan.
Semuanya terbelalak menatap bendera yang akan dikibarkan itu terbalik membuat warna yang terlihat menjadi putih merah.
"Lihat Pak!" Tunjuk Adelio cepat mungkin, ini kesempatan bagi Cia untuk masuk ke barisan upacara dengan selamat.
Pak Yanto menoleh menatap kaget bendera yang terbentang di tangan seorang pria.
"Heh!!! Itu benderanya kenapa?!!!" Tunjuk Pak Yanto menatap ke arah pengibar.