Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 223



"Di antar kalian siapa yang golongan darahnya AB?" Tunjuk Mamat dengan tatapannya yang menatap ke arah orang-orang yang kini saling bertatapan.


"Mending kita tes darah kita dulu satu persatu sambil nunggu pendonor dari yang lain gimana?" usul Mamat membuat semuanya mengangguk.


"Lo kal?" Tunjuk Mamat membuat Haikal menoleh.


"Apa?"


"Golongan darah lo apa?"


"Gue mah golongan darah gue B," jawab Haikal cepat.


"Wah kok lo tahu?" tanya Jojon.


"Iya gue dulu tes darah pas mau daftar tentara-"


"Terus nggak lulus, hahaha ," ledek Jojon membuat Haikal mendecapkan bibirnya. Hal itu kembali teringat lagi dimana ia tidak lulus masuk tentara.


Mamat menghembuskan nafas berat lalu menatap serius ke arah para montir lainnya yang kini hanya saling terdiam.


"Jadi gimana dong sekarang? Kita harus cepat," ujar Cia sambil meremas tangannya yang berkeringat karena terlalu khawatir.


"Lo Deon?" tanya Mamat.


"Umur Deon belum cukup buat donor darah," ujar Cia.


"Nggak apa-apa kok, ambil darah saya aja!" ujar Deon dengan semangat lalu tak berselang lama ia bangkit dan berdiri di atas kursi.


"Saya rela mengorbankan darah saya demi keselamatan hidup Bos Ceo, bukan begitu Kak Fika?" ujar Deon lalu tersenyum menatap Fika yang kini hanya tersenyum lalu menggeleng.


"Oalah bocah genddeng, ada mau nya nih bocah. Heh turung lo!" Tarik Jojon membuat Deon segera turun dari kursi panjang.


"Beneran kok Kak Cia, saya mau donor darah," ujar Deon lagi.


"Nggak bisa Deon, umur lo nggak cukup. Kalau bisa mungkin gue udah donorin darah gue buat Ayah gue," jelas Cia lalu kini menghembuskan nafas panjang.


"Lo Tara ?" Tunjuk Mamat.


"Gue nggak tau!!!" teriak Tara.


"Hah yang bener?" tanya Mamat begitu antusias lalu segera berlari dan mendekati Tara yang kini terbalalak kaget.


"Lo nggak tahu golongan darah lo apa?" tanya Mamat.


"Iya!!!" teriak Tara.


"Ini berita luar biasa, dahsyat and fantastic wow hahahaha," ujar Mamat.


"Emang ngapa sih?" tanya Jojon yang kini melongo sejak tadi ia kebingungan menatap Mamat yang heboh sendiri.


"Nah kalau seperti ini berarti kita tes darah lo," putus Mamat semangat.


"Hah darah siapa?" tanya Jojon.


"Darah si Tara," jawab Mamat.


"Hah?!!" kaget Tara membuat semua orang menoleh yah teriakan Tara mengejutkan semua orang.


"Ngapain teriak lo?" tanya Jojon sambil memukul lengan berotot Tara. Jojon menoleh menatap orang-orang yang masih terdiam menatap Tara dengan sangat serius.


"Em maaf semuanya hehehe ini emang teman saya agak rada gila, baru lepas dari kandangnya. Mohon dimengerti yah!" jelas Jojon membuat semua orang kini kembali pada kesibukannya.


"Nah Tara lo mau kan?" tanya Mamat.


"Mau tu pasti, iya kan Tar?" tanya Jojon sambil merangkul bahu Tara.


"Donor ajha lah," sahut Baby yang sedari tadi hanya sibuk dengan bedak dan cermin nya.


"Nah, lo juga By!" Tunjuk Mamat ke arah Baby.


"Hah apa? E kye?!!" teriak Baby dengan tatap yang begitu sangat syok.


"Yah iya lah lu juga hahahaha, lu punya dala kudu di tes juga," sahut Yuang.


"Lo jangan asal ngomong juga lo, Lo darah lo apa?" tanya Jojon.


"Dalah oe o," jawab Yuang.


"Bahaya apanya?" tanya Mamat.


"Kadang yang golongan darahnya o biasanya kepalanya ada yang botak," jelas Jojon membuat Yuang kini merabah kepalanya.


"Coba liat!" tarik Haikal sambil menjambak pelan rambut Yuang dan menatap nya dengan serius.


"Botak nggak?" tanya Jojon.


"Nggak sih cuma-"


"Cuma apa?" tanya Jojon.


"Tercium bau."


"Bau apa?"


"Bau cina, hahaha," ledek Haikal membuat para montir kini tertawa.


"Kalian semua bisa nggak sih nggak ada yang bercanda? Ayah Cia ada di dalam dan butuh darah jadi tolong untuk sementara jangan ada yang bercanda," jelas Cia membuat semua para mantan montir Devan itu kini terdiam.


"Em ok. Baby, Tar, Dam, Ayo kita tes darah lo semua barangkali ada diantara kalian yang golongan darahnya AB," ujar Mamat lalu melangkah pergi dengan perasaan tak nyaman.


Baby, Tara dan Adam kini melangkah pergi membuat Jojon kini terdiam dengan perasaan tak nyaman. Yah sejujurnya yang sedari tadi sibuk bercanda adalah dia.


"Mat! Tunggu!!!" teriak Adam lalu berlari.


...____****____...


Baby, Tara dan Adam kini hanya mampu terdiam di hadapan para dua wanita yang bertugas untuk mengambil darah dari para pendonor yang ingin mendonorkan darahnya.


"Semangat bro!" ujar Jojon dengan semangat 45 yang membara sambil tersenyum.


Baby, Tara dan Adam kini menoleh menatap Jojon yang kini mengepalkan tangannya seakan memberikan semangat sambil memegang ganggang pintu ruangan yang siap untuk ia tutup.


"Heh!" Tegur Mamat sembari mendorong tubuh kurus Jojon hingga terhempas masuk ke dalam ruangan. 


"Lo juga! Darah lo mau di tes," ujar Mamat.


"Kok gue?"


"Emang darah lo apa?" Tanya Mamat sambil menunjuk membuat Jojon kini hanya terdiam lalu tak lama ia menggeleng pelan.


"Yah udah sana!" Dorong Mamat membuat Jojon sedikit bergerak lagi mendekati montir yang kini terdiam kaku persis seperti patung.


...____***____...


"Baik siapa yang duluan mau tes ?" tanya wanita berpakaian putih itu.  


"Dia!!!" ujar mereka semua dengan kompak sambil menunjuk satu dengan yang lainnya.


Wanita itu mengkerutkan alisnya menatap heran ke arah mereka yang nampak saling menunjuk.


"Yang bener dong Pak yang mau duluan darahnya di tes siapa?" tanya wanita itu lagi.  


"Dia!!!" Tunjuk mereka lagi ke arah montir yang lain dengan sangat kompak.


Wanita itu menghembuskan nafas berat seakan lelah menghadapi pria-pria ini yang kini sedari tadi sibuk saling menunjuk.


"Em begini saja, daripada kalian semua saling menunjuk mending angkat tangan! Yang mau darahnya di tes duluan siapa?" tanya wanita itu membuat semuanya kini hanya terdiam kaku dengan wajah pucat.


"Yah udah kalau seperti itu saya yang tunjuk yah! Dimulai dari sini yah!" Tunjuk wanita itu ke arah Adam yang kini terbelalak kaget.


"Saya?" Tunjuk Adam ke arah hidungnya.


"Dam!" Panggil Baby sambil menyentuh pelan bahu Adam. Adam menoleh menatap syok ke arah Baby serta para montir lain yang kini menatapnya.


"E kye percaya kamyu pasti bisa," ujar Baby penuh semangat walau sudah sejak tadi tubuhnya gemetar.


"Semangat Dam!" bisik Jojon.


Adam kini mengangguk lalu bangkit dari kursi panjang  dan mendekat  ke arah wanita itu.


"Silahkan duduk!" Pintah wanita itu sambil mengerakkan tangannya ke arah kursi yang berada di hadapannya.  


"Pak nya jangan takut, rileks aja! Sebelumnya kita periksa tekanan darahnya dulu yah Pak," ujar wanita itu dengan lembut membuat Adam mengangguk dengan tubuh gemetar.