
"Heran anak muda jaman sekarang pacaran kok lari-larian?"
PIIIIIIIIIIP
Suara klakson yang nyaring membuat penjual bakso itu terbelalak menatap gerombolan gadis-gadis bermotor yang kini bergerak ke arahnya.
BRUK
Gerobak pria itu terhempas ke jalanan menghamburkan mangkuk-mangkuk, gelas-gelas, botol perasa dan sebagainya yang nampak pecah berhamburan. Kuah bakso yang di panci itu pun tumpah ruah diiringi bulatan bakso yang mengelinding ke segala arah.
Motor yang menabrak gerobak itu nampak terhempas dengan pemiliknya ke tanah membuat motor-motor di belakang sana menghentikan laju motornya ketika melihat salah satu motor dari mereka terhempas ke tanah.
"Astagfirullah." Tatap penjual bakso itu sambil memegang kepalanya dengan syok.
Lari Devan dan Cia cukup kencang melewati rumah-rumah warga yang kini sudah ramai dengan kumpulan geng emak-emak tukang gosip. Kepala emak-emak itu nampak bergerak kompak menatap Devan dan cia yang berlari di susul gerombolan gadis-gadis yang kini ikut berlari tanpa mengunakan motor mereka lagi.
"Ceo!!!"
"Berhenti lo!!!"
"Ceo!!!"
"Kita cuman mau minta foto!!!"
"Ceo!!!" teriak gadis-gadis berseragam sekolah itu yang terus tanpa putus asa mengejar Devan dan Cia.
"Van, mereka ngejar kita lagi!!!" teriak Cia memberi tahu Devan ketika beberapa kali ia menoleh.
Devan menoleh dengan wajah pucatnya menatap ke arah belakang. Entah mengapa gadis-gadis itu terlalu agresif, apakah pipinya yang sudah penuh bekas ciuman itu belum bisa membuat mereka pergi dan tak mengejar Devan lagi.
Devan dan Cia kini telah keluar dari ujung gang menatap sebuah pasar yang begitu ramai.
"Sini Ci!" Tarik Devan memasuki sebuah pasar dengan lari yang cepat.
"Tunggu!!!"
"Ceo!!!"
"Tunggu!!!"
"Jangan lari!!!" teriak mereka penuh dengan kelelahan tetapi tak berhasil membuat Devan dan Cia menyerah untuk menghindar dari mereka semua.
Sepatu Devan dan Cia nampak menginjak sebuah genangan air ketika melewati beberapa penjual ikan yang sedang melayani beberapa pembeli.
"Aaaaaaa!!!" nerit Ibu-ibu yang melihat Devan dan Cia yang berlari.
Ibu-ibu menjerit sambil berlarian menutup telinganya dan entahlah mereka berhamburan lalu berlari berusaha menghindari Devan dan cia disusul gerombolan gadis-gadis yang berteriak sambil berlari.
Para penjual yang ada di pasar kini melongo menatap keributan yang terjadi bahkan proses jual beli terhenti dalam waktu beberapa menit .
Devan yang masih memegang pergelangan Cia mulai menariknya di sebuah meja yang kayu yang kosong. tak ada penjual di sana mungkin, penjualnya sudah pulang karena waktu sekarang sudah lumayan sore.
Kini mereka bertelungkup di bawah meja yang di halangi oleh karung-karung besar berisi sayur-sayuran. Nafas keduanya ngos-ngosan sambil menelan ludah di tenggorokannya yang kering. Keduanya saling bertatapan sambil berusaha mendegar di sekelilingnya memastikan gadis-gadis itu tak mengejar lagi.
"Kok dia nggak ada?"
"Ceo!!!"
"Cari mereka!!!"
"Ceo!!!"
Kini Cia begitu sangat gelisah jika gadis-gadis itu menemukanya di bawah meja di tambah lagi teriakan itu yang mampu membuat jantung Cia berdetak hebat.
Devan meghembuskan nafas berat dengan kesunyian yang terjadi, perlahan Devan menunduk, matanya terbelalak menatap kecoa yang kini berada di atas sepatu hitam Cia. Jika Cia melihat kecoa itu mungkin Cia akan berteriak dan membuat gadis-gadis itu menemukannya. Sekarang Devan hanya berusaha untuk diam dan tenang agar Cia tak melihat kecoa itu.
Cia mengkerutkan alisnya ketika suatu bergerak di betisnya, entah apa yang bergerak di kakinya itu. perlahan Cia merabah betisnya meraih sesuatu yang menurutnya tak pernah ia sentuh.
Mata Cia terbelalak menatap hewan coklat menjijikan dan sangat Cia benci, seekor kecoak berukuran besar itu kini berada di genggaman Cia. Cia mulai membuka mulut berniat untuk berteriak namun, dengan cepat Devan menutup rapat mulut Cia yang teriakannya tertahan.
"Hust!" bisik Devan sambil meletakkan jari telunjuknya didepan hidungnya mengingatkan Cia jika gerombolan gadis-gadis itu masih ada.
Devan yang masih menutup mulut Cia mulai memeluknya pelan berusaha menenangkan Cia yang masih syok dengan hewan yang sangat ia takuti.
Rasanya Cia ingin menangis dan berteriak sekeras-kerasnya ketika kecoak itu mengeliat di dalam gengamannya.
Kecoak itu kini mengeliat bergerak keluar dari genggaman Cia lalu bergerak ke pergelangan tangan menuju bahunya membuat Cia semakin ingin berteriak.
"Cari mereka!!!"
"Mungkin sebelah sana!!!"
Suara itu terdengar diiringi suara hentakan sepatu yang kini semakin menjauh. Mereka telah pergi, yah, mungkin saja itu benar.
"Aaaaaaa!!!" Jerit cia berlari keluar dari persembunyian sambil melompat-lompat berusaha menjauhkan kecoak itu dari bahunya.
...____***____...
Gerombolan gadis-gadis itu nampak berkumpul di sekitar motor butut merah Devan dan semuanya berharap Devan kembali untuk mengambil motornya dan saat itu mereka bisa mengerumuni Devan lagi.
Devan mengintip memperlihatkan separuh tubuhnya di balik pohon yang berada cukup jauh dari motornya. Devan mendecapkan bibirnya, bagaimana bisa mereka menunggu Devan di sana bahkan hari semakin gelap dan mungkin tak lama lagi bunyi masjid akan berbunyi menandakan jam sholat semakin dekat.
Devan menoleh menatap Cia degan wajah pucatnya, yah, putrinya itu pasti sangat lelah, bukan lelah kerena berlari tadi tapi lelah setelah berkelahi dengan kecoa itu, yah, kecoa yang sangat mengerikan itu.
Langkah kaki Devan bergantian menyentuh jalan trotoar khusus pejalan kaki sambil menutupi bajunya yang sobek di bagian bahu degan telapak tangannya. Rasanya Devan lebih memilih berkelahi dengan puluhan pria dari pada harus menghadapi gadis-gadis dengan sikap agresifnya itu. Mereka seperti orang kesurupan.
Devan yang masih ngos-ngosan itu kini menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Cia yang begitu pucat dengan sekujur tubuhnya yang nampak basah karena keringat. Boneka beruang yang sejak tadi ia jepit di ketiaknya kini di seret di setiap langkah lelah Cia. Sesekali Cia menghentikan langkahnya lalu mengangkat pelan kresek hitam yang masih bergantung disikutnya . Rasanya siku Cia ingin patah karena keresek hitam, serta pundaknya yang rasanya ingin lepas begitu saja menahan beban berat dari tas hitamnya.
"Cia!!!" panggil Devan sambil berdiri tak jauh dari Cia yang masih melangkah.
Cia menatap wajah Devan dengan memasang wajah datar, rasanya kehidupan Cia selalu di penuhi dengan kelelahan. Mengepel rumah, lari-larian seperti orang bodoh dan kini harus jalan untuk pulang ke rumah di tambah lagi Devan tak bawa handphone bahkan uang sepeser pun untuk naik angkot.
"Van!" panggil Cia sesampainya di samping Devan.
Devan terdiam menatap wajah pucat Cia. Putrinya itu cukup menyedihkan.