
Tetap tak ada jawaban dari Fatima walaupun kini nada suara Cia mulai meninggi. Rasanya tubuh dan sekujur wajah Cia memanas, mata Cia yang tadi putih bersih itu kini memerah menahan tangis berusaha menyingkirkan pikiran bodohnya mengenai Fatima.
Cia yang masih ragu itu mulai mendekatkan telunjuknya ke arah lubang hidung Fatima. Cia tak mengharapkan semua itu tapi Cia hanya ingin memastikan jika Fatima baik-baik saja. Kedua mata Cia terbelalak kaget saat ia merasakan jika tak ada hembusan dari hidung Fatima.
Cia kembali menjauhkan jari telunjuknya dengan jari yang gemetar. Ini pasti salah, ini semua salah. Dengan penuh keberanian yang telah Cia kumpulkan, Cia kembali mendekatkan jari telunjuknya di arah lubang pernafasan Fatima. Tetap tak ada hembusan nafas di sana.
"Hah!!!" kaget Cia.
Cia yang terbelalak itu mulai menjauhkan jarinya lagi lalu mendekap jari-jarinya itu, memeluknya begitu sangat erat . Sorot matanya yang memerah itu seakan nyaris mengeluarkan air matanya.
"Ma," panggil Cia.
Tak ada jawaban dari Fatima.
Cia menarik nafas pajang dan menghembuskannya pelan.
"Mama!!!" panggil Cia lagi dengan nada suara yang ditinggikan.
Tetap tak ada jawaban dari Fatima diiringi kekuatan cia yang berusaha untuk tak meneteskan air matanya yang kini telah menggantung di pelupuk matanya.
"Ma...M...Mama," langgil Cia lalu bangkit dan duduk di tempat tidurnya.
"Ma...Ma...Mama," panggil Cia lalu menyentuh tubuh Fatima yang terasa dingin.
Cia kembali menjauhkan tangannya dari tubuh dingin Fatima. Kedua mata Cia yang terbelalak itu menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Fatima yang masih terbaring di atas kasur.
Dengan nafas yang sesak mengiringi keberanian Cia untuk menguncang tubuh Fatima dengan pelan.
Cia terbelalak hebat ketika tubuh yang Cia guncang itu terasa kaku. Cia kini sadar jika ada sesuatu yang terjadi di sini.
"Mama!" panggil Cia bergerak cepat ke sisi tubuh Fatima lebih dekat.
Tubuh Cia kini seakan lenyap dari tempat ini membuat suasana yang sejuk itu terasa hangat. Apa yang terjadi pada orang yang memiliki tubuh dingin, kaku, perut yang tak lagi bergerak dan hidung yang tak lagi berhembus dengan seperti biasanya. Apakah?
Kedua mata Cia yang terbelalak itu menatap wajah pucat Fatima.
"Ma...Ma...Mamaaaaaaa!!!" jerit Cia sambil menguncang tubuh Fatima yang kaku serta dingin itu.
Cia terbelalak, mulutnya terbuka sempurna kini air mata yang sejak tadi ia tahan itu kini tumpah ruah membasahi pipinya.
"Mamaaaaaaa!!!" teriak Cia begitu histris.
"Ma...Ma....Mama...Ma...Maaaaaa!!!" jerit Cia seakan memecah ruangan yang hening itu.
"Cia?" Tatap Devan heran setelah suara dan jeritan dari Cia yang berhasil membuatnya terbangun dari tidurnya.
"Van! Mama,Van!!! Van, Mamaaaaaa!!!" teriak Cia lagi di akhir kalimatnya sambil mengguncang tubuh kaku Fatima.
Devan yang terbelalak itu dengan cepat bergerak menyentuh tubuh kaku dan dingin di sekujur tubuh Fatima. Sementara Cia masih berteriak histeris di sana berusaha untuk membangunkan Fatima.
Tangan Devan yang gemetar hebat itu mulai mencari nadi di pergelangan tangan Fatima, menyandarkan telinganya di dada Fatima berharap ia bisa mendengar suara detak jantung di sana.
"Aaaaa!!! Mama!!!" teriak Cia.
"Diam!!!" teriak Devan sambil menatap Cia yang kini dengan cepat terdiam.
"Tapi-"
"Diam! Kalau lo berisik, gue nggak bisa dengar suara jantung Mama!!!" teriak Devan.
Cia kini terdiam, tak lagi berteriak namun air matanya masih mengalir membasahi pipinya membiarkan Devan berusaha memastikan jika Mamanya itu masih hidup.
Devan yang terbelalak itu kini mengangkat kepalanya menatap Cia yang ikut terdiam menanti Devan bicara.
"Kenapa Van?" tanya Cia.
Devan terdiam dengan tubuhnya yang tiba-tiba kaku.
"Kenapa Van?" tanya Cia lagi namun, Devan tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Van, kenapa?"
"Kenapa lo diam?"
"Ayo jawab!"
Devan tak menjawab lalu kepalanya menunduk menatap wajah pucat Fatima.
"Van, Mama masih hidup kan?" tanya Cia lagi.
"Van, ayo jawab!!!" jerit Cia, memaksa.
"Kenapa lo nggak jawab? Ayo jawab!"
"Ayo bilang kalau...kalau masih hidup!!!" teriak Cia sambil memukul Devan.
Devan kini menggerekkan kepalanya menatap Cia. Tatapan sorot mata Devan kini telah di banjiri air mata membuat Cia menelan ludah. Air mata itu, dari air mata itu membuat Cia mendapat jawaban dari peryataannya.
"Cia!" ujar Devan dengan suara yang samar-samar namun, masih jelas terdengar di telinga Cia.
"Kenapa?" tanya Cia dengan nada berbisik.
"Ma...Mama u...u.. udah meninggal," jawab Devan seakan tak sanggup untuk mengatakan hal itu.
Rasanya dunia Cia kini hancur ketika mendengar apa yang baru saja telah Devan katakan mengenai Mamanya itu. Bagaimana bisa ini semua terjadi kepadanya?
Jantung Cia seakan terasa sangat sakit seakan ditikam begitu sadisnya hingga menembus kebelakang tubuhnya. Nafasnya seakan tertahan di tengorokanya membuat dadanya sesak tak terkira. Sorot mata yang telah kabur itu menunduk menatap wajah Fatima yang kini sudah tak bernyawa.
"Nggak mungkin, Mama nggak mungkin meningal Van. Ma...Ma ...Mamaaaa!!!" teriak Cia histeris sambil menghempas-hempas tubuhnya ke kasur, tak terima dengan kenyataan ini.
"Mamaaaaaa!!!" teriak a.
Devan kini hanya mampu terdiam sembari matanya juga ikut meneteskan air mata, Rasanya Devan tak mampu menghadapi hal ini. Wanita tersayangnya yang telah rela mengorbankan nyawanya untuk melahirkannya ke dunia kini telah tiada dengan tubuh kakunya yang kini terbaring di atas kasur.
"Mamaaa!!!" panggil Cia mengusap pipi Fatima yang dingin itu.
"Ma bangun, Maaaa!!!" Harap Cia dengan suara seraknya.
"Maa!!!" panggil Cia menggerakkan kepalanya yang bersandar di dada Fatima itu menatap wajah Fatima yang pucat.
"Mama nggak meniggalkan?"
"Mama cuman pura-pura kan? Iya kan Ma?" tanya Cia berusaha tersenyum.
"Mama ngga meninggalkan?" tanya Cia.
Senyum Cia kini berubah menjadi sebuah tangisan yang pecah dengan suara yang semakin kencang sambil menekan kelopak matanya mengeluarkan semua kepedihan di hatinya itu. Cia masih tak terima dengan hal ini.
"Mamaaaaaaa!!!" teriak Cia lagi.
"Udah Cia! Udah!" ujar Devan mengusap rambut panjang Cia.
"Mama nggak boleh meninggal!!!Vaaaan!!" teriak Cia.
"Mama banguuuuuun!!!"
"Mama nggak boleh ninggalin Cia!!! Maaaaaaa!!!"
"Mamaaaaaa!!!"
"Mama jangan ninggalin Ciaaaa!!!"
"Mama, nanti siapa yang masakin Cia? Maaaaa!!!"
"Kalau Ma...Mama ninggalin Cia, siapa yang ikat ra...rambut Ci...Ci..Ciaaaaa Maaaaaa."
"Maaaaa!!!" jerit Cia sambil mengguncang Cia lagi.
"Aaaaaaaa!!!" tangis Cia yang diiringi tangisan itu membuat Devan yang sedari tadi berusaha menahan suara tangisannya pun pecah begitu saja membuatnya ikut memeluk tubuh dingin Fatima.
"Ma...Ma...Mam...aa!!!" teriak Devan dengan suara yang serak.
"Van, Mama nggak meniggalkan?" tanya Cia.
Devan tak menjawab namun tangis itu seakan menjawab semua pertanyaan Cia jika wanita tersayangnya itu telah tiada. Pergi, pergi untuk selamanya dan tak akan datang kembali.
Tak ada sosok wanita tua yang akan selalu memboceng Cia ke sekolah dengan motor metik dengan waktu yang begitu sangat lambat, Tak ada lagi wanita tua yang selalu memasak untuk dibawa ke bengkel Mobepan dan tak ada lagi wanita yang selalu memenuhi ruangan tamu dengan suara mesin jahitnya.
Dia pergi untuk selamanya.