
Cia terus tersenyum saat ia melangkah sementara Adelio kini masih menggandengnya begitu sangat romantis. Pria dingin nya ternyata juga bisa bersikap romantis yah walau harus Cia yang menyuruhnya.
Semua orang yang melihat kejadian langka dan yang tak pernah mereka menduga dimana pria dingin dan gadis galak seperti Cia saling bergandengan di koridor sekolah menuju kelas.
Zandi yang selalu duduk di jalan pintu masuk kelas kini membulatkan matanya menatap Cia dan Adelio yang bergandengan tangan dari kejauhan. Zandi berlari masuk ke kelas membuat semua murid menoleh.
"Heh!!! Gue bawa berita bagus dan hot!!!" teriak Zandi.
"Apa?" tanya siswa yang kini tengah memainkan game di Handphonenya.
"Uang iuran kelas naik lagi?" sahut yang lain membuat Faririn terbelalak.
"Lu naikin Rin?" tanya Yena.
"Ah, nggak!" bantah Faririn sambil menggeleng cepat.
"Heh!!! Saipul!!! Lo jangan asal nuduh yah!!!" teriak Faririn sambil menunjuk ke arah pria yang duduk paling belakang.
"Gue kan cuman tebak, mana kali benar," belanya.
"Ih, Pul!!! Lo nggak boleh dong asal nuduh gitu, kalau mau nembak yah boleh aja tapi jangan langsung ngomong kan bisa salah paham," bela Loli.
"Nah bener tuh," tambah Marisa sementara Medika mengangguk.
"Cieee, tumben baik," sahut Fika menatap Loli dan Marisa yang sedari Fika tadi hanya terdiam mendengar mereka semua bicara.
"Iya dong, kita kan udah kelas 3 udah mau lulus kan nggak seru kalau saling benci melulu," jelas Loli.
"Alhamdulillah," sahut Yena sambil tersenyum lebar.
"Akhirnya setan di kelas bawah pimpinan gue udah tobat," sambung Yena.
"Woy dengerin gue!!!" teriak Zandi membuat semua orang kini menoleh.
"Gue bawa berita menghebohkan!!!" teriak Zandi.
"Apa?"
"Iya apa?"
"Pak Yanto datang?"
"Hah?!!"
"Oh yah?"
"Emang iya?"
"Bawa gunting nggak?"
"Anjrit, rambut gue masih gonrong," sahut pria yang duduk di pojok sambil memakai topinya sementara yang lain kini berlarian duduk ke kursi mereka masing-masing dan bahkan beberapa dari mereka segera meletakkan handphonenya di bawa tempat sampah. Yah ini demi keselamatan mereka sendiri.
"Bukan!!! Wei bukan!!!" teriak Zandi.
"Lah terus apa kampret?"
"Huuuuu!!!!" seru mereka semua lalu kembali ke posisi semula.
Semuanya kini terdiam lalu kembali pada kegiatan sebelumnya. Ada yang tengah asyik bergosip, bermain game dan masih banyak lagi.
"Heh!!! Lo semua nggak tertarik sama info yang mau gue kasitahu?" tanya Zandi.
"Nggak," sahut salah satu dari mereka.
"Ini berita penting!!! Cia sama Adelio gandengan tangan!!!" teriak Zandi membuat semuanya menoleh dengan kedua mata yang terbelalak kaget.
Cia menelan salivanya dengan paksa seakan begitu sangat gugup ketika ia dan Adelio menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam kelas ini. Semuanya terdiam dengan tatapan mereka yang kini berpusat pada tangan Cia dan Adelio yang masih saling bergandengan tangan.
Cia menunduk menatap ke arah mana mereka semua menatap hingga Cia sadar jika mereka melihatnya bergandengan tangan dengan Adelio. Dengan cepat Cia melonggarkan sela-sela jarinya berusaha untuk melepas genggaman tangan Adelio namun Adelio tak melepas bahkan menggenggamnya semakin erat.
Cia menoleh menatap Adelio yang kini tak menatapnya. Fika yang tak berkedip itu kini bangkit dari kursinya lalu melangkah ke arah Adelio dan Cia.
"Kalian udah pacaran?" tanya Fika sambil menunjuk Cia dan Adelio secara bergantian.
Cia terdiam sejenak, rasanya ia malu untuk mengatakan yang sebarnya.
"Ngg-"
"Iya," potong Adelio membuat Cia menghentikan ujarannya lalu menoleh menatap Adelio.
"Yang bener?" tanya Loli.
Cia dan Adelio kini mengangguk perlahan dengan wajah mereka yang begitu sangat gugup.
10 Menit kemudian...
"Selamat yah."
"Selamat."
"Cieee."
"Selamat yah," ujar mereka secara bergantian sambil menyalami Cia dan Adelio yang dengan sengaja disiruh duduk di kursi yang dibuat berdekatan persis seperti orang nikahan.
Cia dan Adelio hanya mampu melongo dengan apa yang mereka semua lakukan. Cia menoleh lalu tertawa menatap Loli yang sedang berdiri di atas meja sambil menyanyi dengan ganggang sapi di tangannya yang diibaratkan sebagai microfom sementara Marisa sibuk bergoyang dan beberapa siswa tengah asik bergoyang sambil menjulurkan uang ke arah Loli. Yah mereka terlihat seperti seorang biduan semetara Medika Kini hanya terdiam sambil memegang handphonenya yang sedang merekam aksi gila Loli dan yang lainnya.
"Ok tahan!" ujar Zandi lalu berlari menghampiri Cia dan Adelio serta Fika, Yena dan Faririn yang berperan sebagai keluarga penganting. Zandi berlari setelah merampas handphone milik Saipul yang sejak tadi sibuk bermain game.
"Ok waktunya foto bersama!!!" teriak Zandi lalu mengarahkan kamera ke arah gerombolan yang kini nampak berkumpul dan mengambil gaya.
Cia tak henti-hentinya tertawa. Entah mengapa tingkah konyol teman sekelasnya membuatnya begitu sangat bahagia.
Cekrek
Hasil foto yang sangat indah dan damai. Tak ada sebuah foto yang lebih baik dari ini, sebuah kebersamaan di akhir masa-masa sekolah mereka.
...____****____...
Cia tersenyum menatap hasil foto itu di layar handphonenya. Yah Saipul sebagai sponsor pemotretan kini telah mengirim hasil foto di grup kelas dan hal itu membuat Cia tak henti-hentinya tersenyum.
Cia melangkah keluar dari kamar dan ia melangkah menuju dapur. Rasanya ia sangat lapar dan semoga saja ada makanan. Cia terdiam dengan wajah sedih menatap meja yang terlihat kosong, tak ada makanan di sini.
Cia kini menarik kursi dan segera duduk. Kini telah pukul sembilan malam tapi Devan tak kunjung pulang. Entah dimana Devan sekarang.
Cia meraba perutnya yang kini benar-benar lapar karena sejak pagi ia belum makan apa-apa. Cia juga tak mau meminta makan kepada Devan. Cia tahu Ayahnya kini tak punya uang untuk membeli beras.
Cia menghela nafas panjang lalu segera meraih gelas dan mengisinya dengan air. Mungkin dengan minum rasa laparnya akan sedikit berkurang.
Derrrrr
Suara petir yang bunyi terdengar dengan tiba-tiba membuat Cia menjerit ketakutan ditambah lagi ketika cahaya kilat masuk melewati jendela yang terbuka. Jantung Cia berdetak sangat cepat diiringi tiupan angin kencang yang menggoyangkan atap rumah.
Cia berlari menutup jendela hingga tak berselang lama hujan turun dengan sangat deras membuat Cia semakin gelisah. Cia kembali menatap jam dinding, Devan belum juga pulang.
"Ayah, Ayah di mana?" tanya Cia dengan kedua matanya yang sudah memerah karena sedih.
Cia tak mau jika Devan sampai pergi meninggalkannya karena tak punya uang lagi untuk menghidupinya. Apa mungkin disaat Devan pergi dengan terburu-biru di waktu yang pagi-pagi sekali, Devan pergi jauh dan meninggalkannya begitu saja. Oh Tuhan Cia tak mau itu sampai terjadi. Devan juga pergi tanpa memberitahu Cia kemana Devan akan pergi.
"Ayaaaah!!!" teriak Cia lalu menangis.