Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 31



Cia menatap bangunan-bangunan yang berjejer dan menjulang tinggi ke langit putih yang membentang luas. Jalan beraspal masih ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang melintasi jalan raya. Orang-orang dengan pakaian kantoran nampak memenuhi halte bus. Gerobak-gerobak dengan berbagai jenis jualan nampak berteger di siring jalan menanti pembeli.


Angin sejuk itu terasa membelai lembut wajah Cia yang duduk di jok belakang Devan yang nampak serius mengendalikan laju motornya


"Ada kelinci!" Tunjuk Cia ketika motor melintasi penjual kelinci pinggir jalan.


Devan masih terdiam tak memperdulikan ucapan Cia yang masih menoleh menatap kelinci itu yang kini berlalu semakin jauh. Cia menoleh menatap wajah Devan di kaca spion motor. Ayahnya tak menoleh atau bahkan merespon ujarannya.


"Beli kelinci, yuk!"


"Aa?"


"Kelinci," ulang Cia.


"Rawat ayam warna-warni ajah mati, apa lagi mau rawat kelinci."


Cia memonyongkan bibirnya ketika mendengar perkataan Devan yang mengigatkannya dengan ayam warna-warni yang Fatima beli untuknya tiga Minggu yang lalu. Baru sehari Cia menjaga ayam warna-warni itu dan sudah dibuatkan kandang oleh Devan atas keterpaksaan karena cia yang memaksa tapi, ayamnya sudah mati satu persatu.


"Nanti kalau beli tas yang warna hitam, yah!!!" Teriak cia lagi.


Devan terdiam tak ada jawaban dari belakang sana mungkin, Devan tak dapat mendengar suara Cia karena, jalanan yang saat ini cukup berisik oleh suara kendaraan.


"Yah, Devan?!!!" Teriak Cia lagi sambil mendekatkan mulutnya ke helm Devan.


"Yah, Van?!!!"


"Iya!!!" jawab Devan dengan teriakannya.


Devan menghentikan laju motornya ketika lampu rambu lalu lintas berwarna merah yang menandakan semua kendaraan harus berhenti untuk beberapa saat. Cia menoleh ke kiri menatap seorang gadis yang dibonceng oleh seorang pria. Gadis dengan celana sepaha itu nampak memeluk erat pria yang ada di hadapannya sambil menatap serius wajah Devan yang nampak jelas tanpa menutup wajahnya dengan visor. Gadis ini pasti melihat wajah Devan yah, siapapun pasti akan terpana jika, melihat wajah Devan yang masih belum menyadari jika, gadis ini memerhatikan wajahnya tampannya dari tadi.


Cia mendesis kesal lalu mengerakkan tangannya mendekati wajah Devan dan menutup wajah tampan itu dengan visor helm. Gadis itu langsung menatap wajah Cia yang menatapnya tajam. Cia tak ingin jika, gadis itu menatap wajah Ayahnya. Masih dengan tatapan tajam itu Cia memeluk tubuh Devan, melingkarkan tangannya ke perut Devan dengan erat.


Devan mengkerutkan alisnya ketika Cia menurungkan visor ke wajahnya ditambah lagi pelukan yang melingkar di perutnya itu. Devan menoleh menatap Cia yang masih menatap gadis di samping motornya itu hingga Senyum tipis terukir di bibir Devan. Sekarang Devan tau mengapa pelukan itu Cia lakukan kepadanya. Devan pengusap pelan punggung tangan Cia lalu kembali memegang handle motor.


Kini giliran lampu hijau yang menyala membuat para pengendara menancapkan gas. Cia melepas pelukannya ketika gadis dengan pria itu kini berlalu meninggalkan Devan, Cia dan juga motor butut dengan asap hitam yang membumbung. Ini agak memalukan.


"Sebelah situ!" Teriak Cia menunjuk mall dengan bangunan tinggi itu.


Mall dengan tulisan besar Brahmana di atas pintu utama. Mobil-mobil pengunjung nampak terparkir dengan rapi di depan mall, motor dengan berbagai merek nampak terparkir di area parkiran khusus motor yang dijaga oleh satpam berseragam putih. Orang-orang dari berbagai kalangan nampak berlalu-lalang keluar masuk pintu mall secara bergantian.


Devan memarkir motornya di area parkiran khusus motor lalu melepas helm dari kepalannya. Helm itu mulai diletakkan di atas jok motor lalu merapikan rambutnya di hadapan kaca spion.


"Yuk, Van!" Ajak Cia semangat.


Devan menoleh menatap Cia yang sudah keluar dari area parkiran motor agak jauh darinya. Tawa Devan meledak menertawakan Cia yang masih memakai helm di kepalnya.


Cia terheran, entah apa yang terjadi dengan pria bodoh ini yang tertawa tanpa ada alasan. Semua orang menatap ke arah Devan yang masih tertawa sambil memukul jok motor beberapa kali.


"Eh, bego sini lo!" panggil Devan masih tertawa.


Cia yang masih kebingungan itu mulai melangkah mendekati Devan yang semakin tertawa keras melihatnya.


"Kenapa, sih?" Bisik Cia menaikkan ke dua alisnya.


Devan tertawa lagi membuat Cia sedikit tertawa terpancing oleh tawa Devan tanpa mengetahui apa penyebab Devan tertawa.


"Kenapa, sih?"


Devan memukul keras helm yang masih terpasang di kepala Cia membuat kedua mata Cia terbelalak.


"Helm lo, bego."


Cia terbelalak, jujur saja Cia baru menyadari jika, helm itu masih terpasang di kepalanya.


"Ahahahaha," tawa Cia mengelegar di parkiran membuat Devan ikut tertawa lebih keras lagi.


Semua orang-orang menatap heran kearah Cia dan Devan yang kini saling tertawa terpingkal-pingkal di area parkiran tanpa memperdulikan tatapan pengunjung mall.


****


Cia melangkah menyusuri lorong sweater yang berjejer rapi. Sweater dengan berbagai merek, ukuran serta warna itu nampak terpajang rapi. Beberapa kali Cia menyentuh permukaan kain sweater yang ia lewati sementara Devan nampak mengikut di belakang dengan wajah malas seperti ekor.


"Hust, diem!" Ujarnya tak menoleh.


Devan terdiam di belakang Cia sambil sesekali memerhatikan sweater yang ia lewati sepanjang langkahnya.


Langkah Cia terhenti cepat lalu meraih sweater yang tergantung di besi. Dengan senyuman Cia Meletakkan sweater berwarna kuning itu tepat di depan tubuhnya.


"Mau ini!" Cia tersenyum.


"Gue nggak mau!"


Senyum Cia menghilang dari bibirnya setelah mendengar perkataan Devan mungkin, Devan mengira jika, sweater yang Cia tunjukkan kepadanya itu untuk dirinya padahal Cia bermaksud untuk menawarkan sweater itu untuk Devan beli khusus untuk Cia bukan untuk Devan.


"Bukan buat lo tapi, buat gue!" Jelas Cia lalu kembali tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.


"Hay kak, itu sweater terbaru loh." Suara wanita terdengar dari belakang Cia.


Cia memutar tubuhnya menatap wanita dengan seragam hitam mungkin, wanita ini adalah karyawan di mall brahmana ini.


"Oh, yah?" menatap sweater kuning itu lebih serius.


Wanita itu nampak terdiam menatap Devan yang berdiri di belakang Cia. Baru pertama kalinya wanita itu melihat pengunjung yang datang ke mall setampan Devan. Devan menatap wanita berseragam itu yang kini tersenyum malu sambil mengalihkan pandangannya lalu merapikan rambutnya yang sudah terlihat rapi.


"Kita beli ini, yah?" Cia kembali membalikan tubuhnya menatap Devan sambil tersenyum penuh harap


"Nggak!" jawab Devan cepat


"Kok gitu sih? ayolah!"


"Kita punya harga diskon khusus sweater untuk cowok dan cewek. Cocok buat kalian yang pacaran," jelas karyawan mall itu.


Devan menghela nafas. Entah sudah puluhan bahkan ribuan kali orang-orang mengira mereka pacaran padahal yang sebenarnya terjadi adalah Cia merupakan anak kandung Devan. Mungkin mereka tidak akan percaya jika, Devan mengatakan hal itu, jujur Devan tak pernah melakukannya tetapi dari pandangan mereka Devan tau isi otak mereka.


"Kami akan memberi diskon lagi jika, Mas dan Mbaknya langsung menggunakannya di mall ini."


"Diskon!" Mata Cia membulat menengadahkan kepalanya menatap Devan.


Devan menunduk menatap Cia yang nampak memohon kepadanya. Cia memang sangat menyusahkan jika, tak mengiyakan kemauannya pasti dia akan guling-guling di lantai seperti yang Cia lakukan di pasar ketika meminta dibelikan kelinci oleh Fatima. Devan masih terdiam menatap Cia dengan wajah berfikirnya.


"Saya beli!" Ujar Cia menatap karyawan itu.


"Ci, perjanjian kitakan ke sini cuman mau beli tas, nggak ada sweater!" Bisik Devan mengingatkan.


"Udahlah jadi, Ayah jangan pelit!" Bisik Cia lagi.


"Emm, Mbak dan Masnya cocok banget, apalagi Masnya yang ganteng kalau, Mbak dan Masnya mau, saya bisa ajukan Mas dan Mbaknya jadi, model sebagai pelanggan pertama yang mendapat diskon dari mall brahmana," jelasnya.


"Oh, yah?" Tatap Cia tak percaya.


"Iya, Mba kalau, misalnya Mbak mau sweaternya bisa kami jadikan free."


"Free!" Cia kembali berbinar menatap Devan dengan senyuman.


"Nggak!" Jawab Devan cepat.


"Van, sweaternya gratis loh kalau, kita mau jadi, modelnya!" Bujuk cia berbisik dengan nada penuh hasut.


"Ci, nggak usah macem-macem deh, kita ke sini cuman mau beli tas, bukan mau jadi model!"


"Bagaimana?" Tanya karyawan itu lagi membuat Cia dan Devan menoleh.


"Ayolah, Van!" mata itu nampak berbinar lagi.


Devan menghembuskan nafas berat lalu menggeleng pelan, niatnya yang hanya untuk membeli tas bagaimana bisa dijadikan model untuk mall sebesar ini.


"Yah, Van?" Cia memohon.


"Nggak! sekali gue ngomong enggak yah, enggak!"