
Cia yang berada di luar pintu semakin terheran dengan perkataan mereka. Sebenarnya ada apa Devan yang berusia 13 tahun yang lalu itu? Sekuat apa Devan sehingga Fatima menyuruh Devan untuk kuat seperti dulu.
Mulut Cia terbuka berusaha fokus untuk mendengar jelas sambil menyandarkan pipinya ke permukaan pintu. Tiba-tiba pintu terbuka membuat Cia tersentak kaget sambil melangkah mundur mendapati Fatima yang kini berdiri tepat di hadapannya setelah membuka pintu kamar.
"Cia!" Tatap Fatima terkejut dengan kehadiran Cia yang kini terlihat gugup.
Devan menoleh menatap ke arah pintu setelah mendengar Fatima menyebut nama Cia. Apakah Cia sudah pulang dari sekolah tapi, siapa yang menjemputnya? Apakah Cia telah diantar lagi oleh pria yang di sebut Adelio itu? Devan tak suka jika, ada pria asing yang mendekati putrinya tanpa meminta izin darinya.
Fatima menghela nafas dengan tatapannya yang bertanya tentang sejak kapan Cia berdiri di sini.
"Kamu-"
"Cia mau ketemu, Ayah," potong Cia penuh keraguan. Cia takut jika, Fatima bertanya tentang kehadirannya di sini.
Fatima mengangguk lalu melangkah ke arah ruang tamu untuk melanjutkan jahitannya yang sempat tertunda.
Langkah pelan Cia mendarat di lantai memasuki kamar Devan. Cia menatap Devan yang duduk di atas kasur dengan wajah yang terlihat pucat jadi, benar Devan sakit.
Devan menoleh memberi senyum yang terlihat lemah membuat wajah Cia cemberut.
"Jangan gitu, Ci!" ujar Devan lemah dan membuang pandangannya menjauhi tatapan Cia yang terlihat dibuat cemberut.
"Lo sakit?" Tanya cia yang kini jongkok di lantai sambil menopang dagunya di pinggir kasur helloKity.
"Emm, dikit."
"Kenapa sakit?"
Devan sedikit tertawa lalu kembali tertunduk menyembunyikan wajah pucatnya itu dengan telapak tangannya.
"Kenapa sakit?" Tanya Cia lagi.
"Emm, nggak tau." Devan tersenyum dan kembali menatap Cia lalu tertunduk.
"Gue nggak suka lo sakit." Cia tertunduk sedih menahan air matanya yang siap tumpah ruah namun, dengan sekuat tenaga Cia menahan. Menangis bukanlah kepribadian Cia.
"Gu...gue-" ujaran Cia terhenti ketika air matanya menetes. Ini ketidak sengajaan.
Devan menatap Cia cepat ketika suara serak itu terdengar. Apa anaknya itu menangis tapi, mengapa?
"Hey, kenapa?" Devan menyentuh pelan bahu Cia membuat Cia menghempas kasar tangan Devan.
Devan tersenyum dan menghela nafas.
"Sini ayo!" Devan kembali menyentuh pelan bahu Cia membuat Cia kembali menghempasnya.
Cia tertunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya berusaha untuk menutupi tangisannya. Rasanya pipinya memanas nyaris meledak serta tubuhnya gemetar berusaha menahan tangisannya.
"Cia," panggil Devan dengan lembut sambil mengelus rambut putrinya.
Cia tiba-tiba menangis lalu bangkit dari lantai dan memeluk erat tubuh Devan yang terasa hangat dan lemas. Cia tak kuat mendengar suara Devan yang lemah. Cia benar-benar sedih jika, melihat Devan terbaring sakit seperti ini. Cia rindu sosok Devan yang lucu, Cia rindu sosok Devan yang selalu mengganggunya disetiap waktu sampai membuat Cia kesal.
"Lo...lo ng...nge...nggak boleh saki...kitt!" ujarnya terisak sambil memeluk tubuh Devan.
Devan tertawa walau sejujurnya ia ingin menangis melihat putrinya menangis.
..._____*****_____ ...
Tatapan benci membara menatap sebuah foto di tangannya yang begitu jelas terpampang. Di foto itu terlihat seorang pria tampan dengan seorang gadis cantik yang tersenyum manis dengan sweater kuning. Pria mesum itu kini sudah dewasa dengan wajah tampannya itu.
Abraham Brahmana, Pria bertumbuh tinggi berisi dengan tatapan tajam, alisnya nampak tebal serta rambut yang nampak agak beruban. Pria berjas hitam itu meremuk sebuah foto degan penuh amarah. Dia tak menyangka jika, ternyata bocah itu sudah besar sekarang.
"Jef!!!" teriak Abraham sembari mengerakkan jari telunjuknya seakan menyuruh anak buahnya yang memakai seragam hitam itu mendekat.
Jef, si pria berjas hitam dengan tubuh tinggi serta berkepala botak itu mendekat lalu berdiri di depan meja Abraham yang kini bangkit dari kursi hitamnya.
"Mendekatlah!" pintanya.
"Ada apa Tuan Ab-"
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi Jef membuat kepala Jef menoleh mengikuti gerakan tamparan. Jef membulatkan kedua matanya dan menoleh menatap Abraham dengan wajah keherangan. Jef tak mengerti mengapa Abraham menamparnya.
Abraham membuang nafas berat dan memutar tubuhnya menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan kota jakarta yang luas dengan bangunan-bangunan tingginya.
"Dua belas tahun yang lalu, Jef, dua belas tahun yang lalu."
Jef terdiam heran tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh bosnya.
"Dua belas tahun yang lalu kamu mengatakan jika, kamu telah menembaknya."
Jef masih terdiam dengan perkataan Abraham. Apakah maksud bosnya itu adalah bocah yang ia tembak di bandara dua belas tahun yang lalu tapi, mengapa Abraham kembali mengungkit tentang hal itu lagi setelah sekian lama kejadian itu berlalu.
"Apa kamu yakin dia benar-benar mati?"
Jef kebingungan hingga tak berselang lama Abraham menoleh membuat Jef gugup.
"I...iya, bos," jawabnya cepat.
Abraham tersenyum sinis lalu kembali duduk di kursi hitam dan meletakkan kedua kakinya di atas meja.
"Lalu mengapa dia masih hidup?" tanya Abraham dengan suaranya yang berat.
Jef terbelalak kaget mendengar hal itu. Bagaimana mungkin bocah itu masih hidup sementara Jef ingat betul jika, bocah itu telah meninggal di hadapannya setelah ia tembak dan Jef sendirilah yang memastikan dan menjadi saksi pada saat bocah itu di kubur.
"Tapi bos, itu tidak mungkin, karena sa-"
Abraham melempar remukan foto itu tepat di wajah Jef yang kini menghentikan ucapannya.
"Lalu siapa orang yang ada di dalam foto itu hah?!!!" teriak Abraham dengan sangat keras membuat para karyawan yang berada di luar tersentak kaget.
Jef meraih foto yang sudah remuk itu dari lantai lalu dengan pelan Jef membukanya. Mata Jef terbelalak kaget dan tak menyangka. Bagaimana bisa bocah itu masih hidup sementara Jef telah membunuhnya.
"Jika bocah itu masih hidup lalu siapa yang kamu tembak?" tanya Abraham dengan wajah datarnya yang menyeramkan.
Jef masih terdiam seakan masih tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Apakah ini nyata?
"Tidak mungkin." Tatapnya tak percaya.
"Mungkin dia hanya mirip dengan bocah itu, bos."
Abraham tersenyum sinis lalu mengeluarkan rokok dari laci meja dan membakarnya.
"Jika, dia mirip lalu kenapa harus semirip itu? Matanya, hidungnya-" Abraham menghembuskan asap rokok dari mulutnya lalu berujar, "Dan semuanya."
"Tapi bos."
"Hussst !" Abraham memajukan bibirnya membuat Jef terdiam cepat .
"Apa kamu melihat wajah bocah yang kamu tembak itu?"
Jef mendadak terdiam. Jujur dia tak melihat wajah bocah yang dia tembak di bandara dua belas tahun yang lalu. Setelah Jef menembaknya ia segera pergi dari kerumunan bersama anak buah yang lain dan melihat pemakaman itu hanya dari kejauhan .
"Tidak."
"Bodoh!!!" Teriak Abraham melempar rokok itu ke lantai dengan penuh amarah.
Jef kini hanya dapat tertunduk setelah sekian lama ia tak mendapat bentakan tetapi kali ini ia kembali mendapat bentakan itu dari Abraham karena kemunculan bocah sialan itu.
"Bagaimana bisa pria di foto ini terpampang di mall Brahmana?!!!" teriak Abraham.