
"Gila si Cia, tenyata dia suka sama lo." Tawa Bastian meledak sambil memukul lutut Ogi.
"Cieee, si Ogi," tambah Dirga meledakkan tawanya.
Ogi hanya terdiam dengan gitar di pangkuannya. Ogi sering mendengar guru-guru menyebut nama Cia di kantor karena kenakalannya. Seingat Ogi gadis bernama Cia ini yang pernah berteriak dan memukul meja di kantin dengan sangat kasar.
"Sekarang gue mau tanya sama lo!" ujar Loli.
"Kira-kira lo suka nggak sama si Cia?" tanya Loli.
Ogi terdiam, ia sama sekali tak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Loli kepadanya.
"Jawab tuh, Gi!" pintah Bastian dengan tatapan meledek.
Cia terdiam memikirkan apa yang akan di katakan Ogi nantinya.
"Gue nggak suka," ujar Ogi singkat lalu kembali memetik tali gitarnya membuat semua orang tertawa.
"Wow. Hahaha, kenapa?" Tawa Loli pecah.
"Dia bukan tipe gue, yah, kecuali kalau dia buka baju," ujar Ogi lagi, tak menatap ke arah Loli yang menatapnya.
Semua orang yang mendengar jawaban dari Ogi langsung tertawa. Cia yang tertunduk itu kini hanya mampu menahan malu, rasanya Cia betul-betul ingin menghilang dari tempat ini.
"Devan, lo di mana?"
"Gue butuh lo sekarang!"
"Devan!"
Cia meremas jari-jarinya menatap lantai dengan tatapan yang memburam, pipinya kini sudah basah setelah dibanjiri air mata. Jadi ini jawaban dari Ogi, si idolanya itu. Harusnya Cia tidak pernah mengidolakan pria seperti itu yang mengatakan hal menjijikan dan sangat membuatnya malu.
"Tuh, lo denger kan?" ujar Loli meledek.
"Emmm, Mana pacar lo? mana?!!!"
"Gue mau liat pacar lo!" teriak Loli yang kini benar-benar terdengar jelas di speaker. Cia mengangkat pandangannya menatap ke seluruh tempat mencari sosok Devan.
"Lo di mana Devan?"
"Lempar ajah tuh, Li!" ujar Marisa mengompori Loli yang kini tersenyum mengangkat sudut bibirnya, sinis.
"Lempar?"
Loli tertawa. Langkahnya yang pelan itu kini melangkah menuruni panggung lalu berhenti tepat di samping meja berisi cake yang berjejer rapi. Loli tersenyum sinis dengan niat liciknya itu.
"Lo ke sini karena mau makan gratis kan?"
Cia Masih terdiam. Rasanya Cia ingin berteriak 'tidak' tapi rasanya sulit untuk mengatakan itu.
Loli meraih cake coklat berbentuk segi empat degan tulisan namanya itu degan jari-jari tangannya.
"Lo mau makan gratis kan?" tanya Loli lagi sambil menganggukkan kepalanya, senyum jahat itu kian terlihat.
Cia terbelalak menatap cake coklat yang kini berada di jari-jari Loli. Apakah Loli akan benar-benar melemparnya dengan cake itu.
Cia terbelalak menatap cake itu yang kini bergerak ke arahnya, cake itu kini melesat sangat cepat ke arah wajah Cia. Dengan cepat Cia menutup kedua matanya cepat ketika cake itu semakin dekat ke arah wajahnya.
Tubuh Cia bergerak ketika lengannya disentuh oleh seseorang dengan erat. Entah siapa itu, Cia tak tahu. Matanya masih tertutup rapat dan tak mampu melihat apa-apa.
Prak
Suara terakhir yang terdengar di telinga Cia membuat Semua orang terkejut melihat kejadian itu diiringi suara terkejut terlebih lagi dengan Loli yang benar-benar tak menyangka dengan apa yang baru saja ia lihat.
Jas putih yang bersih itu kini kotor dipenuhi cake coklat yang menghantam keras punggungnya. Cia menarik nafas, ia mampu merasakan bau wangi parfum seseorang. Cia yang masih menutup mata kini mengkerutkan alisnya, tak ada lemparan cake itu ke wajahnya.
Cia membuka matanya cepat lalu menengadahkan wajahnya menatap seseorang yang masih memegang erat kedua lengannya.
Kedua bibir Cia terbuka lebar seakan ia begitu tak menyangka dengan apa yang ada di hadapannya. Kedua mata Cia terbelalak tak menyangka menatap wajah yang telah menolongnya, Adelio.
Wajah tampan Adelio nampak terlihat jelas di mata Cia yang masih basah setelah di genangi air mata. Cia tak mengerti mengapa Adelio, si pria irit ngomong, dingin sedingin es balok dan pendiam itu ternyata baru saja mengorbankan jas putihnya hanya untuk menolong Cia. Jika saja Adelio tak melakukan hal ini, mungkin wajah Cia telah kotor terkena lemparan cake.
Kedua sorot mata Cia masih terus menatap kaget wajah tampan Adelio. Apakah ini sebuah mimpi atau ini hanya sebuah khayalan bodohnya. Tapi Cia mampu merasakan kehangatan pegangan tangan Adelio di lengannya.
"Jangan sentuh pacar gue!!!" teriak seseorang.
Semua para tamu nampak terheran setelah mendengar teriakan yang terucap entah oleh siapa. Cia yang mendengar suara yang menurutnya tak lazim itu kini menoleh menatap ke sumber suara. Suara itu sepertinya sangat ia kenal.
"Aaaaaaaaaw!!!" teriak gerombolan gadis-gadis yang nampak histeris ketika mereka melihat seseorang yang berada di belakangnya.
Dari kejauhan Cia mampu melihat seseorang melangkah membelah kerumunan gadis-gadis yang kini masih berteriak histeris.
Sepatu hitam itu melangkah mendarat di permukaan lantai menghasilkan suara ketukan di sana. Celana hitam dengan sobekan di lutut melangkah bergantian ditambah rantai besi dibagian pinggang yang berayun ketika ia melangkah dengan sangat gagahnya.
Baju kaos hitam dengan gambar tengkorak berwarna putih diserta jaket hitam yang berhasil membuat semua orang terpukau saat melihatnya. Seketika suasana pesta ini menjadi sunyi menyisakan satu arah perhatian, yakni sosok pria itu.
Pelayan wanita yang membawa nampan berisi gelas-gelas yang telah diisi berbagai macam jenis minuman dingin langsung menghentikan langkahnya sambil menganga menatap wajah tampan pria itu.
Prak!!!
Nampan itu terhempas ke lantai membuat gelas-gelas itu pecah berantakan menumpahkan isi minuman gelas itu ke lantai dan memecahkan gelas-gelas hingga berkeping-keping di lantai. Gadis itu masih menganga tanpa memperdulikan kekacauan yang telah ia buat.
Pria itu melintas melewati gadis berkaca mata yang nampak menganga menatap kagum wajah pria tampan itu.
Bruk
Gadis itu tumbang ke lantai dengan darah yang mengalir di hidungnya, mimisan setelah melihat wajah tampan itu. Ini benar-benar membuatnya serangan jantung.
"Aaaaaaa!!!" Gadis-gadis itu menjerit begitu sangat histeris.
Beberapa gadis-gadis nampak mengigit bibirnya dengan kedua matanya yang terlihat berbinar menatap wajah tampan pria itu yang masih melangkah dengan gagahnya.
Bukan hanya gadis-gadis yang terpukau tapi beberapa pria juga nampak terpatung dengan mata yang terbelalak. Selain itu nampaknya wajah tampan pria itu juga membuat para guru-guru melongo.
Tak ada senyuman di bibir pria itu. Mata indah pria itu nampak menyorot tajam Adelio. Rambut hitam pria itu nampak bergerak ketika ia melangkah menghasilkan tetesan air dari rambut basahnya tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap kagum kepadanya dengan begitu sangat serius.
Cia terbelalak menatap pria itu yang kini melangkah mendekatinya. Pria itu adalah...