Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 186



Beberapa menit kemudian motor yang Devan lajukan berhenti tepat di siring jalan setelah Cia menepuk cepat bahu Devan.


"Kenapa?" tanya Devan setelah melepas helm dari kepalanya.


Cia melangkah turun dan ikut melepas helmnya hingga rambut kepang dua itu terlihat. Beberapa usapan dilakukan Cia untuk merapikan rambutnya yang agak berantakan itu. Untung saja Yuna dan Faririn tak menegur model rambutnya yang jelek itu jika tidak ia akan semakin malu, sudah cukup surat Devan yang membuatnya malu tak perlu ada yang lain.


"Kita udah sampe," ujar Cia memberitahu.


Devan memandangi ke sekelilingnya hingga ia terdiam menatap sebuah bangunan megah yang nampak seperti istana.


"Ini rumahnya?" Tunjuk Devan membuat Cia mengangguk.


"Yuk masuk!" ajak Cia yang kini dengan santainya melangkah.


Devan mengangguk lalu segera meraih sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kumis palsu yang masih terbalut di dalam sebuah plastik membuat Cia terbelalak.


"Loh Itu apa?" tanya Cia begitu syok setelah ia mengetahui jika Devan tak ikut di belakangnya.


"Ini kumis Ciaaaaa," jawab Devan dengan nada kesalnya yang dibuat tertekan.


Devan yang tak mendapat ocehan lagi dari Cia langsung mendekatkan kumis palsu itu ke arah bawa hidungnya.


"Eits!" Tahan Cia memegang pergelangan tangan Devan.


"Apa sih?" Tatap Devan kesal.


"Yah buat apaan coba pakai kumis palsu segala? Hah buat apa?" tanya Cia.


Devan mendecapkan bibirnya lalu melirik Cia yang masih mengoceh tak jelas dengan apa yang akan ia lakukan dengan kumis palsu ini.


"Heh, kira-kira Bapak si bidadari kamu itu mau percaya gitu aja kalau Ayah ini Ayah kandung kamu?"


Cia kini terdiam dan memikirkan hal tersebut.


"Cia denger yah! Dari umur aja, Bokap bidadari kamu yang tersayang itu nggak akan percaya kalau Ayah kamu yang ganteng dan super seksi ini adalah Ayah kamu."


"Jadi Ci, jalan satu-satunya yah pake kumis palsu biar Ayah kelihatan lebih tua dan dewasa," jelas Devan lalu tanpa menunggu tanggapan dari Cia, Devan mulai melekatkan Kumis palsu itu ke arah bawah hidungnya.


Devan mengelus kumis palsu itu dengan pelan untuk merekatkan lem yang kini melekat cukup kuat di bawah hidungnya. Devan kini tersenyum sambil menatap wajahnya di pantulan cermin. Devan menghembuskan nafas berat, wajahnya tetap saja tampan tapi kumis ini cukup membantunya dan membuatnya jauh terlihat lebih tua.


"Bagaimana?" tanya Devan sambil tersenyum ke arah Cia yang nampak memasang wajah geli.


"Bagus," ujar Cia.


"Ah beneran Ci?" tanya Devan kegirangan dengan tatapan Devan yang seakan tak percaya lalu kembali menatap wajahnya di cermin sambil mengelus-elus kumis palsunya sambil tersenyum.


"Bagus dipukul," ujar Cia lalu segera melangkah pergi ke arah gerbang rumah meninggalkan Devan yang kini terdiam di depan kaca spion motornya.


Cia tak mengerti mengapa wajah Devan nampak terlihat sangat lucu dengan kumis itu. Wajah Devan bahkan tak ada sosok dewasa atau pun tua sedikitpun.


"Ciaa!!! Tunggu dong!" teriak Devan.


...___***___...


Devan terdiam sambil memandangi seisi rumah yang dipenuhi dengan barang-barang mewah. Rumah ini benar-benar sungguh sangat megah. Devan beberapa kali sempat meringkuk ke bawah ketika tubuhnya kedinginan karena hawa dingin dari AC sementara Cia kini menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil sesekali menoleh ke kiri dan kanan berusaha mencari sosok Tuan Brahmana.


Cia menatap Devan sebentar lalu kembali menatap ke arah ruangan rumah tetap mencari sosok Tuan Brahmana.


"Eh Cia, percuma rumah gede tapi tamunya nggak dikasih minum," bisik Devan lagi.


"Bisa diam nggak sih?" Tatap Cia sinis.


Devan memonyongkan bibirnya lalu segera menatap ke sekeliling rumah. Devan menghembuskan nafas berat lalu segera menutup kedua matanya dengan kepalanya yang disandarkan di sandaran sofa.


Cia kini menoleh menatap ke arah belakang lalu tersenyum ketika dari kejauhan ia mampu melihat Tuan Abraham dan Jef yang kini melangkah semakin dekat.


"Tuh Tuan Brahmana udah datang," bisik Cia ke arah telinga Devan lalu segera bangkit dari sofa.


Tuan Abraham kini tersenyum seakan menyambut ke datangan Cia dan pria yang kini bangkit dari sofa namun, pria di samping Cia itu belum menoleh menatapnya. Pria itu tentu saja Ayah Cia. Kali ini Abraham harus berbicara yang baik kepada Ayah Cia agar Ayah Cia mau mengisinkan Cia untuk tinggal di rumah ini.


"Selamat siang Pak," ujar Abraham sembari menjulurkan jari-jarinya ke arah pria yang masih membelakanginya.


Devan terdiam, rasanya suara itu tak asing lagi di telinganya. Suara itu terasa pernah menghampiri gendang telinganya, namun entah lah Devan lupa dengan orang itu.


Devan kini menoleh menatap ke sumber suara. Mata Devan terbelalak cukup lebar, pria yang kini tengah menjulurkan jari-jarinya itu adalah Ayah Kasya, yakni Tuan Abraham Brahmana. Devan ingat bentul dengan pria itu, dia adalah pria jahat.


Tak lama Devan kini beralih menatap Jef, pria bertubuh bugar itu bahkan tetap sama dengan yang dulu. Pria itu yang telah menembak Bapaknya dan dokter Yusuf hingga keduanya meninggal.


Devan sangat-sangat tak menyangka jika kini ia harus bertemu lagi dengan mereka di Jakarta. Tubuh Devan lumayan gemetar, masih ada rasa takut yang menyelimuti dirinya serta rasa trauma yang mendalam.


Abraham mengkerutkan alisnya menatap heran dengan pria berkumis ini yang tak membalas uluran tangannya. Bahkan yang membuat Abraham semakin bingung adalah sorot mata pria itu yang seakan begitu tajam dengan genangan air yang nyaris menetes.


"Ayah." Sikut Cia ke arah perut Devan yang masih terdiam.


Devan tersentak lalu segera menoleh menatap Cia yang kini menatapnya dengan tatapan serius.


"Itu orang mau jabat tangan," bisik Cia mengingatkan.


Devan terdiam, tak sadar ia mengusap matanya yang berair dan langsung menggerakkan jari-jarinya hingga keduanya kini berjabat tangan cukup lama.


"Tak usah lama-lama!" Hempas Devan cukup kuat ke tangan Abraham.


Abraham terbelalak, ia cukup terkejut dengan tindakan pria yang memiliki tubuh lebih tinggi dari pada dia. Cia terbelalak lalu segera meremas pelan baju Devan.


Devan kembali menatap Cia membuat Cia mengkerutkan alisnya. Devan tahu jika Cia tak tahu kalau pria bernama Brahmana ini adalah Tuan Abraham yang telah Devan ceritakan kepadanya.


"Silahkan duduk Pak!" pintah Abraham sambil mengerakkan tangannya, ia masih berusaha tenang.


Devan tersenyum sinis lalu segera duduk di sofa namun kali ini, dengan sengaja Devan mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas meja. Semuanya terbelalak bahkan Cia yang melihat itu langsung menatap Tuan Abraham dan Jef secara bergantian, Cia takut jika mereka marah atas apa yang Devan lakukan.


"Anda jangan-"


"Jef!" tegur Abraham membuat Jef menghentikkan langkahnya yang berniat untuk mendekati Devan.


"Kenapa?" tanya Devan sembari memasang wajah sinisnya ke arah Jef dan Abraham secara bergantian.


"Anda mau marah?" tanya Devan lagi dengan nada tertekan.