
Loli menoleh disusul Marisa dan Medika yang ikut menoleh menatap Cia yang kini sedang melipat kedua tangannya ke depan dadanya.
"Apa?" tanya Loli berusaha membenarkan apa yang telah ia dengar dari Cia.
"Gue bakalan datang."
"Gue nggak salah denger?"
"Gue bakalan datang keacara ulang tahun lo," Jelas Cia.
"Heh!!! Cia!" geretak Marisa membuat Cia melirik menatap tak suka.
"Lo nggak baca di mading? Di situ udah jelas tertulis kalau-"
"Diwajibkan membawa pacar ke acara ulang tahun, jika tidak punya pacar maka tamu di larang masuk," jelas Cia menyebut salah satu syarat dan ketentuan yang ada di mading.
"Nah tuh lo tau." Tunjuk Marisa.
"Emang gue tau," tanggap Cia sinis.
"Berarti Lo nggak bisa dateng dong? Iyakan?" Tatap Loli dengan senyum sinisnya.
"Yah, iyalah, Cia kan nggak punya pacar." Marisa tertawa.
"Siapa yang bilang?" sanggah Cia cepat.
Loli dan Marisa menghentikan tawanya setelah mendengar sanggahan Cia.
"Maksud lo?" tatap Loli heran.
"Gue punya pacar."
"Hah!" Fika terbelalak kaget tak percaya setelah mendengar ujaran Cia yang sangat mengejutkan.
Fika menganga dengan kedua bibirnya terbuka. Rasanya ini sangatlah tak mungkin, bahkan Fika hampir saja serangan langsung setelah mendengar hal itu. Bukan Fika saja, tetapi semua orang-orang yang berada di dalam kelas malah melongo.
Suara detakan jarum jam berbunyi mengiringi kesunyian setelah Cia mengatakan hal itu. Semuanya kini membisu dan tak ada yang bicara. Ini sepertinya gila.
Seorang gadis pemarah, suka berteriak, tomboi, pembolos jam pelajaran sekolah memiliki seorang pacar. Ini tidak mungkin.
Pria bodoh dan gila mana yang mau berpacaran dengan Cia?
"What? Hahaha," tawa Loli.
"Lo nggak usah bohong, Ci!" tambah Loli.
"Siapa yang bohong?" Tatap sinis Cia berhasil membuat Loli terdiam.
"Lo liat ajah gue bakalan dateng ke acara ulang tahun lo dan apa tadi? Bawa pacar? Oh tenang ajah! Gue bakalan bawa dia ke hadapan lo! Jadi lo tenang ajah!" Jelas Cia percaya diri.
Loli kembali tertawa seperti seorang penjahat pada pemeran utama.
"Ci, Cia. Lo nggak usah bohong deh sama gue, karena gue tau lo bohong dan nggak ada yang mau pacaran sama lo," celotehnya.
"Siapa yang bohong sih?"
"Lo, siapa lagi coba. Gue tau kok lo-"
"Mending lo diem, dari pada mulut lo berdarah terus nggak bisa tiup lilin, iyakan?" ujar Cia membuat semuanya terbelakkan.
Kini Loli terdiam membisu tak tau harus berkata apa kepada Cia yang nampak tersenyum di depannya. Jika kalimat peringatan telah dikatakan oleh Cia maka ia tak mungkin melunjak dan membuat Cia benar-benar memukulnya. Tak lama Loli kemudian melangkah pergi meninggalkan Cia yang masih tersenyum di susul Marisa dan Medika.
"Ci!" Panggil Fika lalu berlari menghampiri Cia.
Cia menghembuskan nafas berat lalu duduk kembali di kursi menatap Fika yang masih terbelalak di sana.
"Lo punya pacar, Ci?"
Cia kini tak tau harus menjawab apa kepada sahabatnya itu sesuai yang Cia katakan tadi kepada Loli dan kedua temannya itu. Cia tak mungkin mengatakan jika yang dia ucapkan tadi adalah kebohongan dan semua itu hanya untuk menutup mulut Loli dan kedua temannya.
"Ci!" panggil Fika lagi dengan nada berbisik.
"Em, apa?" tanya Cia tanpa menoleh menatap Fika yang begitu serius menatapnya.
"Lo bohong, yah?" bisik Fika membuat Cia dengan cepat menoleh menatap Fika. Ternyata benar, seorang Cia tak mungkin memiliki pacar bahkan sahabatnya pun tak percaya dengan ucapannya.
"Lo bohong, yah, Ci?"
"Nggak!!! Si...si...siapa yang bohong?" gertaknya dengan wajah yang begitu gugup.
"Hah? Jadi lo punya pacar?"
Cia tersenyum kaku lalu mengangguk.
"Hah? Sejak kapan Cia, lo punya pacar?" tatapnya tak menyangka.
"Udah lima hari," jawabnya asal-asalan.
"Lima hari?" tanya Fika sangat syok.
Cia mengangguk lagi.
"Kok gue nggak tau, Ci?"
"Emm, yah, lo mana tau lo kan pulang kampung" jelas Cia.
Fika masih tak percaya dengan apa yang baru saja Cia katakan kepadanya, bagaimana bisa cia yang pemarah ini bisa punya pacar. Bahkan Fika sendiri yang hanya menjadi sahabat Cia sering merasa tersakiti dengan ucapan kasar Cia.
"Lo masih nggak percaya sama gue?"
Fika mengeleng cepat membuat Cia tersenyum. Rasanya sangat sulit untuk membuat Fika percaya kepadanya.
"Nggak! Gini loh, Ci. Maksud gue Cia, pacar lo siapa?" Tatapan Fika kini benar-benar serius.
Cia terdiam, tak tau harus berkata apa lagi.
"Emmm," gumam Cia.
"Siapa, Ci?"
"Eh, anu... gue pacaran-"
"Siapa?"
"Gue.... em... gue-"
"Siapa?" bisiknya tak sabaran.
"Gue pacaran...Em-"
Fika mengigit bibir seakan tak sabar untuk mendengar jawaban dari Cia.
"Ah, Cia lama banget sih lo?" kesal Cia.
"Kepo banget sih lo, hahaha." Cia tertawa menatap Fika yang masih menatapnya serius.
"Ah, Cia gitu banget sih. Ayo dong kasih tau gue!"
"Nggak!" tolaknya.
"Resek lo, Ci."
"Biarin."
"Gue tau nih, Ci," tunjuk Fika ke arah Cia membuat Cia terbelalak takut.
"Lo... Lo tau apa?"
"Gue tau pasti lo pukul cowoknya, yah biar dia mau sama lo? Iya kan?"
Cia bernafas lega ketika pertanyaan itu tak membuat Cia jantungan.
"Nggak!" Jawab Cia cepat.
"Terus kalau lo nggak pukul, lo apain, Ci sampai dia mau sama lo?"
Cia kembali terdiam kini ia betul tak tahu harus berkata apa kepada Fika. Jujur Cia memang tak pandai berbohong.
"Nggak! Gue nggak ngapa-ngapain!"
"Kasian banget tuh cowok, pasti dia tekanan batin banget deh pacaran sama lo."
"Heh!!! Enak ajah lo!!!" geretak Cia sembari memukul lengan Fika membuat Fila tersentak kaget lalu meringis kesakitan.
"Tuh kan, lo itu kasar. Gue yakin deh pasti cowoknya lo pukul."
Adelio hanya terdiam sambil memaingkan pita merah di undangan pink itu tanpa pernah berkata sedikit pun walau sedari tadi ia mendengar percakapan mereka dengan jelas.
Apa benar Cia sudah punya pacar?
Adelio seakan risih dengan ucapan Cia yang mengatakan jika dia sudah punya pacar.
Adelio mengeleng cepat berusaha menjauhkan pikiran itu darinya. Mengapa dia tak suka jika Cia punya pacar, padahal Adelio masih punya hubungan dengan Harni, yah walaupun sekarang Harni seakan telah menjauh darinya dan bahkan sampai sekarang Harni tak membalas chat dan mengangkat telfon dari Adelio tanpa ada alasan yang diberikan.
Fika melangkah mundur berusaha menjauhi pukulan Cia diiringi suara tawa Cia yang seakan puas menjahili Fika dengan pukulan ringannya.
"Jadi pacar lo siapa?" Tatap Fika serius.
"Emmm, rahasia!" Bisik Cia.