
Devan menelan ludah dengan tatapan tajam serta tunjuk Jef ke arahnya. Devan kenal dengan pria ini, Devan selalu melihat pria ini mengantar Kasya ke sekolah.
Fatima kini menoleh ke belakang menatap Devan yang kini mengigit bibirnya sambil berusaha menahan tangis. Fatima mampu merasakan getaran di tubuh Devan yang kini masih bersembunyi di balik tubuhnya.
"Dia Devan?" Tunjuk Jef lagi.
"Ada apa yah Pak?" tanya Fatima dengan takut.
"Kasya mau melahirkan, Abraham memerintahkan saya untuk menjemput Devan. Saya yakin Anda tahu siapa itu Non Kasya," jelas Jef.
Devan terbelalak setelah mendengar kabar itu dan dengan cepat melangkah lebih dekat dengan Jef.
"Sa...saya Devan, Pak," ujar Devan cepat sambil memukul pelan dadanya.
"Mari ikut saya!" ajak Jef lalu segera melangkah ke arah mobil membuat Devan ikut melangkah
"Van!" panggil Fatima memegang pergelangan tangan Devan yang kini menghentikan langkahnya.
"Van." Tatap Fatima seakan tak rela jika putranya itu pergi.
"Ma, bayi Kasya mau keluar. Devan harus pergi," ujar Devan dengan nada lembut.
"Tapi-"
"Ma, Devan mohon." Tatap Devan penuh harap.
Fatima menggeleng, ia merasa ada firasat buruk yang akan terjadi.
"Mama, Devan mohon!"
Fatima kini melepaskan tangisannya lalu segera melepas genggaman tangannya dari pergelangan tangan Devan. Devan kini tersenyum tipis lalu segera memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan Fatima.
"Tunggu!!!" teriak Farhan barhasil membuat Devan menghentikan langkahnya.
"Saya ikut," ujar Farhan singkat.
...____***____...
Mobil hitam dan mewah itu kini terhenti ketika sudah memasuki pekarangan sebuah rumah yang begitu sangat megah, membuat mereka segera melangkah turun dari mobil.
Farhan menengadahkan wajahnya melongo menatap rumah yang begitu sangat megah. Sebuah rumah bercat kuning emas yang nampak begitu mewah dan megah dengan tiga lantai serta jejeran mobil-mobil mewah berbagai jenis warnah yang terparkir di sisi kanan dan kiri rumah.
"Entah Dengan siapa kamu berhadapan Van?" gumam Farhan setelah melihat rumah yang ia datangi terlihat sangat mewah.
Devan dan Farhan kini melangkah masuk ke dalam rumah sambil terus mengikuti langkah Jef yang kini semakin menjauh.
Farhan kini mengengam jari-jari Devan dan meremasnya dengan kuat. Devan yang gemetar itu kini menggerakkan kepalanya menatap Bapaknya yang kini melontarkan sebuah senyuman seakan memberitahu Devan jika ini akan baik-baik saja. Farhan tahu jika Devan saat ini sedang ketakutan hingga tak membalas senyuman Farhan.
"Mereka sudah datang Bos," ujar Jef memberitahu lalu segera melangkah pergi. Tugasnya kali ini sudah selesai.
Farhan dan Devan kini menghentikan langkahnya dan terdiam menatap Abraham yang kini sedang mengoyang-goyangkan kakinya yang berada di atas meja.
"Selamat datang," sambut Abraham sambil merentangkan kedua tangannya.
Devan kini bersembunyi di balik tubuh Farhan berusaha bersembunyi dari sorot mata Abraham yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Selamat datang wahai orang-orang miskin," ujar Abraham penuh tekanan lalu tertawa.
Farhan menghembuskan nafas lelah. Penghinaan ini cukup membuat Farhan terkejut. Bagaimana bisa Devan bergaul dengan gadis kaya raya, ini sebuah kesalahan yang paling bodoh dan terbesar yang pernah Devan lakukan.
"Aaaaaaa!!!" jerit Kasya.
Devan terbelalak lalu menatap ke arah sumber suara yang berasal dari sebuah pintu kamar. Tak lama pintu itu dibuka oleh Firdha dengan wajah paniknya.
"Mas, tolong bawa Devan kemari!" pintah Firdha kepada Abraham tanpa mengetahui jika Devan sudah berada di dalam rumah ini.
Abraham mengangguk menatap Firdha lalu dengan perlahan Abraham menoleh menatap Devan dengan tatapan tajam.
"Masuk kamu!" pintah Abraham menatap tajam ke arah Devan.
Devan terdiam kaku dengan tubuhnya yang gemetar hebat. Farhan menghembuskan nafas panjang dan menepuk bahu Devan membuat Devan menoleh.
Devan mengangguk lalu segera berlari masuk ke dalam kamar. Sementara Farhan kini melangkah mundur, rasanya ia tak nyaman berada di dalam ruangan megah ini dan tatapan tajam dari Abraham yang seakan mengintainya.
"Mau kemana?" tanya Abraham.
Langkah Farhan terhenti lalu ia menoleh.
"Silahkan duduk! Jangan terlalu terburu-buru!" ujar Abraham dengan senyum liciknya.
...___***___...
Devan melangkah masuk dan mendekati Kasya yang kini mengerang kesakitan. Naini menoleh menatap Devan yang kini semakin mendekat.
"Kamu Devan?" tanya Naini membuat Devan mengangguk.
"Pegang tangannya!" suruh Naini membuat Devan dengan cepat berlari mendekati Kasya.
"Aaaaaa!!!" teriak Kasya membuat Devan tersentak kaget.
"Ka...Kasya," panggil Devan dengan cepat membuat Kasya membuka mata.
"De....Devan," ujar Kasya yang dengan cepat merentangkan tangannya ke arah Devan.
Devan yang melihat hal itu tanpa pikir panjang segera menyentuh tangan Kasya dan menggenggamnya erat.
Sudah lebih dari setengah jam Devan berlutut di samping ranjang Kasya sambil menggenggam jari-jari Kasya yang gemetar hebat.
"Aaaaaaa!!!" teriak Kasya sambil berusaha mengedang.
Kasya kembali menghempaskan kepalanya ke bantal lalu menarik nafasnya yang ngos-ngosan. Ini menyakitkan membuat Kasya mengerang kesakitan.
Jari-jarinya kini meremas sprei yang kini sudah berantakan dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Ini benar-benar sangat sakit.
Bayi itu kini terasa memaksakan diri untuk keluar di lubang yang sangat sempit itu. Kasya mampu merasakan bagian bawahnya sobek hingga rasa perih dan sakit berbaur menjadi satu.
Devan hanya mampu menangis di samping kasya, Devan benar-benar sangat ketakutan. Mentalnya tak kuat untuk melihat hal ini.
"Aaaaaaa huh huh aaaaaaaa hah!!!" jerit kasya lagi.
"Lagi Non!" suruh Naini yang kini sudah memegang kepala bayi itu.
Untuk pertama kalinya Naini membantu orang melahirkan, ia bahkan tak tahu tata cara membantu persalinan ditambah lagi umur Kasya masih muda, ini sulit.
"Lagi Non!" pintah Naini lagi.
Kasya kini menarik nafas, mengumpulkan segala kekuatannya dan kembali mengedang ketika terasa dorongan dari dalam.
OEEEEEEE
Suara tangisan dari bayi yang kulitnya terlihat memerah sudah berada di dalam pelukan Naini.
Devan terbelalak menatap bayi yang kini menangis tanpa henti. Dipikirannya hanyalah sebuah pertanyaan, apakah betul itu bayinya ?.
Naini kini mengikat tali pusat itu dengan sebuah karet, tak ada penjepit yang khusus untuk bayi, ini semua dilakukan dengan mendadak. Bayi itu kini terdiam seakan membiarkan Naini untuk menggunting tali pusatnya.
"Perempuan," ujar Naini tersenyum sambil menatap kasya dan Devan yang kini tubuhnya gemetar karena takut.
Oeeeeeee
Bayi itu kembali menangis namun kali ini tangisan itu cukup keras ketika Naini membalut tubuh bayi itu dengan sebuah sarung batik.
DOR
Suara tembakkan terdengar dari luar berhasil membuat mereka yang berada di dalam kamar terbelalak kaget. Devan kini bangkit dari lantai lalu segera berlari ke arah pintu dan membukanya pelan. Entah mengapa kali ini perasaanya dan pikirannya mengarah kepada Bapaknya, ia takut jika terjadi sesuatu kepada Bapaknya.
Mata Devan kini terbelalak menatap tubuh lemas Bapaknya yang kini tergeletak di lantai dengan darah yang bersimpa mengotori lantai rumah yang mewah itu. Tubuh Devan langsung gemetar hebat dikala ia menatap Jef memegang sebuah pistol, Jef baru saja menembak Bapaknya hingga bapaknya sudah terkulai tak bernyawa.
"Bapaaaaaaak!!!" teriak Devan.