Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 50



"Selamat siang, Pak. Mobilnya kenapa?" tanya Adelio.


Abraham dan Jef dengan serentak menoleh menatap pria yang kini berdiri tak jauh dari keduanya.


"Ini, Dek ban-nya kempes," jawab Jef.


Adelio menatap ban tersebut yang memang nampak kempes.


"Adek tau bengkel yang ada dekat sini?"


"Oh, saya tidak tau, Pak. Soalnya saya orang baru juga di Jakarta," jawab Adelio tersenyum dan bernada begitu lembut.


Adelio kini terdiam jika, ia tidak bisa membantu pria ini, karena ia tak tau area di sini mungkin Cia bisa membantunya, karena Cia asli orang Jakarta dan pasti dia tau area sini.


Adelio menoleh menatap Cia yang nampak masih berkerumun di tempat foto copy itu sembari berteriak di sana dan menopang pinggang. Adelio sudah yakin jika, gadis itu kembali memarahi pelanggan yang tengah berdiri di sampingnya.


Adelio tak mengerti mengapa gadis itu selalu marah-marah. Jika di luar rumah saja dia selalu marah-marah lalu bagaimana dengan keluarganya, mungkin keluarganya sudah pikun memiliki keluarga yang suka marah dan berteriak seperti Cia.


"Bagaimana, Dek?"


"Tunggu teman saya, yah, Pak? Mungkin dia bisa bantu, soalnya dia asli orang Jakarta jadi, dia pasti tau bengkel yang dekat dari sini."


"Lama tidak teman kamu?"


"Oh, tidak kok, Pak! Itu sana teman saya." Tunjuk Adelio ke arah Cia yang kini menjambak kerah baju seorang pria bertubuh gemuk dengan wajah sangar yang menghiasi wajah Cia.


Abraham menatap ke arah mana pria muda ini menunjuk, dari kejauhan yang nampak begitu banyak orang di sana.


"Hah, kasar sekali gadis itu!"Tunjuk Abraham ke arah Cia yang kini menampar-nampar wajah pria gemuk itu dengan kertas.


Adelio menelan ludah dan menggaruk tak gatal setelah mendengar komentar Jef yang belum tau jika gadis yang ia maksud adalah Cia yang ia tunjuk.


"Yang mana teman kamu?" tanya Abraham.


"Yang itu, Pak!" Tunjuknya lagi.


"Yang gendut itu?" Tanya Jef.


Adelio menggeleng cepat dan menghembuskan nafas berusaha mengumpulkan rasa keberaniannya untuk mengakui Cia sebagai temannya.


"Oh, bukan, Pak. Teman saya yang perempuan itu, yang bapak maksud kasar itu, Pak," jawab Adelio.


"Gadis itu? Teman mu?" tatap Jef tak menyangka.


Cia menoleh menatap ke arahnya membuat Jef terbelalak menatap wajah gadis yang pria ini tunjuk. Jef hapal betul dengan gadis itu, gadis yang berada di foto itu bersama bocah bernama Devan.


"Bos!" Jef melangkah mendekatkan mulutnya ke telinga Abraham lalu berbisik, "Itu pacar yang karyawan mall bernama Ratna maksud, Bos," bisik Jef.


"Yang bener kamu?" Tatap Abraham tak percaya.


"Benar, Bos." Jef yang meyakinkan.


"Yang mana?" bisik Abraham.


"Yang pria ini tunjuk tadi, Bos."


Abraham yang masih ragu itu kini menatap gadis yang mulai melangkah ke arah motor sambil menatap pria muda itu.


"Ngapain tuh si Adelio di situ?" Tanya Cia bingung dengan wajah kesalnya.


Abraham betul-betul tak percaya bisa bertemu langsung dengan pacar si bocah bajingan itu.


"Cia!" Panggil Adelio.


Cia yang heran itu mulai melangkah ke arah Adelio yang bersama dengan dua pria berjas, dari penampilannya saja sudah pasti mereka orang kaya.


"Kenapa?" bisik Cia.


"Pak ini teman saya," ujar Adelio.


Abraham dan Jef terdiam seakan tak percaya dapat berhadapan langsung dengan gadis yang ada di foto tersebut.


Cia terdiam tak mengerti mengapa mereka berdua menatapnya seperti itu.


"Pak!" tegur Adelio lagi.


"Oh, iya." Jef tersenyum tersadar dari lamunannya.


"Kenapa lo ngeliatin gue?!!!" Tanya Cia dengan nada menggertak membuat Abraham dan Jef tersentak kaget.


Adelio terbelalak kaget lalu segera berlari menghampiri Cia.


"Maafkan teman saya, yah, Pak."


"Em, eh, iya anu...Dek, em ini kamu tau bengkel yang dekat area sini?" Tanya Jef gugup.


"Oh, bengkel yang dari area sini?"


"Iya, Dek." Jef tersenyum lagi.


Cia terdiam berusaha mengingat tempat bengkel yang dekat dengan area sekolah, yang Cia tau ada bengkel di depan sana, yah walaupun Cia tak pernah ke sana.


"Kalau tidak salah ada kok bengkel di depan sana." Tunjuk Cia.


"Oh jauh nggak, Dek?"


"Nggak kok, Pak, deket kok dari sini atau gini ajah deh, Pak, kalau Bapak mau, Bapak tunggu di sini! Biar saya yang panggil montirnya."


"Oh, iya, Dek boleh-boleh."


"Em, biar gue ajah yang pergi, lo berdua tunggu di sini ajah!"


Adelio tersenyum menatap Cia yang kini melangkah. Ternyata di balik sikap amarahnya ada sikap baik di hati Cia. Cia menoleh menatap Adelio yang terdiam tanpa ikut melangkah mengikutinya.


"Heh!!! sini Lo!!!" teriak Cia membuat senyum Adelio sirna begitu saja.


"Em, biar saya saja yang pergi," ujar Adelio lalu melangkah pergi meninggalkan Cia dan dua pria berjas itu.


"Adelio!!!" teriak Cia membuat Abraham dan Jef tersentak kaget.


Jujur Cia tak nyaman berada di sini apa lagi di saat menatap Adelio yang kini memutar motornya lalu menancapkan gas meninggalkan Cia,  yah walaupun Adelio pergi untuk mencari montir di bengkel depan sana.


"Em, nama kamu siapa, Dek?" tanya Jef.


Cia menoleh menatap pria berkepala botak itu lalu menatap pria yang nampak menatapnya dari tadi yang berdiri di samping pria botak itu.


"Em, nama gue Cia, " Cia tersenyum membuat Abraham dan Jef dengan serentak tersenyum. Gadis ini begitu indah jika tersenyum seperti ini.


"Em, kamu orang asli di sini, yah?"


Cia mengangguk.


"Em, saya kayaknya pernah liat kamu deh di mall Brahmana, em lebih tepatnya foto kamu."


"Foto saya?"


"Iya, foto kamu yang jadi model sweater itukan sama pacar kamu."


"Pacar?"


Tatap cia heran tak mengerti dengan maksud mereka, mungkin maksud pria ini mengenai pacar Cia adalah Devan, tapi mengapa dia mengatakan jika Devan adalah pacarnya dan mengapa mereka tau jika ia dan Devan pernah foto memakai sweater di mall Brahmana.


"Dia pacar kamukan ?" tanya Jef lagi.


"Iya," jawab Cia berbohong.


Jef yang mendengar perkataan Cia langsung menatap Abraham yang kini mengangguk pelan.


"Em, nama pacar kamu siapa?"


"Namanya-" ujaran Cia terhenti, hampir saja Cia keceplosan dan lupa dengan perkataan Devan yang menyuruh memanggilnya dengan nama Ceo di hadapan orang-orang.


"Siapa, Dek?" tanya Jef.


"Namanya, Ceo."


"Ceo?" Tatap Jef tak mengerti.


"Iya, namanya Ceo, siapa lagi?" ujarnya sinis.


Cia menatap ke arah depan berharap agar Adelio segera datang dan membawa montir. Mengenai dengan pertanyaan pria ini mengapa mereka bisa tau jika Cia pernah foto di mall?


"Em, oh, iya, kok Pak bisa tau kalau Cia pernah foto di mall sama pacar saya?"


Jef tersenyum.


"Begini, Dek, saya Jef yang merupakan  sekretaris dari mall brahmana."


"Hah?" Tatap Cia tak percaya.


"Iya, Dek dan ini tuan Ab-"


"Hust!" Tegur Abraham cepat.


Jef terdiam lalu menatap Abraham yang nampak tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Jef mengangguk, mengerti dengan apa yang Abraham maksud.