
Cia dengan cepat menoleh menatap Naini yang menatapnya dengan tatapan heran, yah pasti Naini bertanya-tanya mengapa Cia bisa sampai ke tempat ini.
"Cia ngapain di situ?"
"Sa...saya...saya dengar suara teriakan di bawah."
"Hah?" Tatap Naini tak percaya.
"Aaaaaaaaaa!!!" Suara teriakan itu kembali terdengar membuat Naini dan Cia menoleh menatap ke arah bawah tangga yang gelap.
Lari Naini begitu cepat menuruni anakan tangga dengan wajah yang sangat khawatir. Entah apa yang terjadi dengan Kasya sehingga ia berteriak seperti orang yang sangat kesakitan.
Cia ikut berlari dengan cepat menuruni anakan tangga yang terlihat gelap mengikuti Naini yang masih berlari.
Naini berlari di lorong panjang yang nampak di terangi jejeran-jejeran lampu yang menyinari lorong gelap itu. Lari Naini terhenti tepat di depan pintu besi yang nampak terbuka.
Cia terbelalak menatap wanita berseragam hitam yang ia lihat di WC nampak mencambuk kasar tubuh gadis dengan pakaian putih bertelungkup di pojok sambil meringis kesakitan.
"Rina!!!" teriak Naini.
Naini betul-betul tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Naini tak tahu mengapa Rina, si perawat baru itu dengan tega mencambuk Kasya.
Rina terbelalak menatap kehadiran Naini beserta seorang gadis yang kini telah menyaksikan tindakan kasarnya dengan begitu brutal.
"Sa...sa...saya-" ujarnya gugup.
Plak
Tendangan kaki Cia menghantam keras perut Rina membuatnya terhempas ke dinding lalu berhasil membuat Rina meringis merasakan sakit di bagian kepalanya, karena kepalanya terbentur keras di dinding kamar membuatnya sangat pusing.
"Non nggak apa-apa kan?" Tangis Naini pecah memeluk tubuh Kasya yang kini memerah dan bahkan ada darah di sana.
"Aaaaaaaa!!!" Kasya berteriak mendorong tubuh Naini dengan sangat keras ke lantai membuat Naini terhempas.
Naini meringis kesakitan lalu berlari keluar kamar ruang bawah tanah berniat mengadukan hal ini kepada tuan Abraham.
Cia terdiam menatap sikap aneh wanita itu. Wanita itu bertelungkup lagi di sudut ruangan sambil menggaruk kepalanya dengan rambut hitam yang panjang menyentuh lantai. Wajahnya nampak begitu cantik walau terdapat banyak bekas luka di sana, hidungnya mancung, bibir yang tipis, kulit yang putih,
dan mata yang indah.
"Apakah dia bidadari?" Pikir Cia.
Cia dengan pelan duduk di lantai menatap wanita berparas bidadari itu yang kini ikut menatapnya. Wanita itu tak menangis lagi akan tetapi, kedua matanya seakan sedang mengintrogasi kehadiran Cia.
Cia begitu terpukau menatap ke dua mata wanita berpakaian putih yang nampak begitu indah.
"Dia terlalu sempurna menjadi seorang manusia! Apakah dia bidadari?" Pikir Cia lagi.
Wanita itu terdiam, dengan pelan gadis itu menjulurkan jari-jari dengan kuku-kuku kotor dan panjang ke arah Cia.
Cia kini hanya mampu terdiam. Apa yang harus ia lakukan? Jujur Cia takut dengan wanita itu namun, Cia berusaha untuk mengumpulkan segala keberaniannya. Dengan pelan Cia menjulurkan jari-jari lentiknya menyentuh pelan jari-jari wanita itu.
Kedua mata Cia berkedip beberapa kali berusaha menyadarkan dirinya ketika wanita ini menyentuh kulit jari-jari tangannya. Rasanya begitu hangat, seperti ada aliran listrik yang menggelitik tubuh Cia.
Jari-jari Cia mengenggam erat sela-sela jari tangan wanita itu. Cia tak tau rasanya tapi Cia bisa merasakan sesuatu yang aneh di sini.
"Kasya!!!" teriak Abraham.
Cia dengan melepas genggaman yang erat itu ketika Abraham berlari masuk ke dalam ruangan kamar.
"Aaaaaaa!" teriak wanita itu lagi.
Cia begitu tak mengerti mengapa wanita itu kembali berteriak ketika melihat pemilik mall Brahmana.
"Kamu tidak apa-apa kan, Nak?" Abraham memeluk tubuh wanita itu yang sedang memberontak.
"Pembunuh kau, Ab-"
Abraham menutup mulut Kasya cepat dengan wajah syoknya membuat Kasya memberontak dan mendorong kuat tangan Abraham seakan tak suka berada di pelukan Abraham.
"Ini, Tuan," ujar Naini menjulurkan suntik yang telah di isi dengan obat bius.
Dengan cepat Abraham meraih suntik tersebut dan menusuknya ke lengan Kasya dan mendorong cairan bius itu masuk ke dalam tubuh Kasya yang masih memberontak.
Sementara di sisi lain, Jef kini mengangkat tubuh Rina yang masih pusing itu dari lantai yang kotor.
"Kenapa kamu tega mencambuknya?!!!" Bentak Jef.
"Sa...saya," jawab Rina gugup.
"Kenapa?!!!" Bentak Jef lagi.
"Dia ingin membunuh saya."./
"Bohong!!!" teriak Cia lalu bangkit dari lantai.
"Dia bohong, Pak Jef, dia memukul wanita itu, karena dia tidak terima wanita itu meludah di wajahnya," jelas Cia.
"Rina!!!"
Rina menoleh menatap Jef yang kini menatapnya dengan begitu tajam.
"Sayakan sudah kasi tahu sama kamu, apapun yang dia lakukan jangan diambil hati, lagiankan saya sudah kasih tahu, kalau dia gangguan jiwa!!!" bentakJef.
Cia terbelalak dan tak menyangka jika, wanita itu ternyata mengalami gangguan kejiwaan tapi, apakah dia benar-benar gila? Kini hanya ada satu yang terlintas dipikiran Cia, yakni bidadari yang gila.
"Jemboloskan dia ke penjara!!!" teriak Abraham sambil menunjuk Rina dengan gemetar.
"Baik, Pak."
"Jangan pak! Saya minta maaf!" ujar Rina sembari menangis sambil berlutut di kaki Jef.
Jef tak peduli dengan keras ia menarik paksa tangan Rina membawanya keluar dari kamar yang tercium bau Pesing yang menyengat.
Abraham kini menangis memeluk tubuh Kasya yang nampaknya sudah pingsang setelah disuntikan cairan bius itu.
"Terima kasih, yah, Cia." Naini tersenyum.
Cia yang sedari tadi menatap wanita itu kini menoleh menatap Naini sambil membalas senyumnya.
"Karena berkat kamu, kita semua bisa tahu bagaimana sikap jahat Rina."
Cia mengangguk diiringi senyum yang membias di bibirnya.
"Ci!" Adelio yang dari tadi berdiri sambil menggenggam foto copy di pintu masuk kini mulai melangkah masuk.
"Oh, iya, yuk! Nanti kita dihukum.".l
"Pak, Bu, saya pamit, yah."
Cia meraih tangan Adelio lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Abraham serta Naini yang terdiam menatap kepergian Cia dan Adelio.
...____****____...
Cia terdiam di atas jok motor yang di kendalikan oleh Adelio dengan kecepatan sedang melintasi kota Jakarta. Cia masih mengingat wajah cantik itu, Apakah dia benar seorang bidadari? Cia menghembuskan nafas berat memikirkan hal itu.
Adelio kini menghentikan motornya tepat di parkiran motor yang nampak begitu ramai, Cia baru sadar jika, sekarang adalah jam pulang sekolah.
"Liat tuh! si Cia dibonceng sama si Adelio tahu nggak," bisik Marisa.
Dari kejauhan Loli yang nampak begitu kesal nampak menghentak-hentakan kakinya seakan tak terima jika, Adelio berboncengan dengan Cia.
"Kurang ajar banget sih tuh si Cia."
"Udah Lol! Tenang ajah! Nggak usah di pikirin!"
"Nggak bisa, Sa! harus samperin!"
Loli melangkah maju berniat untuk menghampiri Cia yang nampak masih ada di atas motor Adelio namun, dengan cepat Marisa meraih pergelangan tangan Loli membuatnya menghentikan langkah.
"Apa sih, Sa?" Hempas loli degan kesal.
"Nggak gini caranya, Lol! Kalau lo ke sana terus marah sama si cia, lo nggak mikirin Adelio akan gimana sama lo?" jelas dan tanya Marisa membuat loli terdiam.
"Yah udah kita cabut!"
Loli kini membuka pintu mobil lalu melangkah masuk di iringi Marisa dan Medika yang ikut masuk ke dalam mobil hitam mewah milik Loli.
Cia melangkah turun dari motor lalu meletakkan helm hitam di atas jok motor yang selama perjalanan Cia pangku.
Adelio terdiam menatap serius dagu cia yang nampak membiru, entah karena apa tapi, seingat Adelio di waktu pagi dagu Cia baik-baik saja.
"Cia!" Lari Fika menghampiri.
Cia dan Adelio dengan kompak menoleh menatap Fika yang nampak berlari ke arahnya sambil menjinjing tas Cia dan Adelio.
"Lo dari mana ajah sih?" Ujarnya ngos-ngosan.
"Sini tas gue!" Tarik Cia membuat Fika tersentak kuat mendapati tarikan dari Cia.
Adelio menjulurkan tangannya membuat Fika meletakkan tas hitam Adelio dengan senyum malu-malu.
"Lo berdua dari mana sih?"
"Dari foto copylah, dari mana lagi?" jawab Cia sinis.
"Kok lama banget?"
"Tau ah, eh pak Yanto di mana?"
Belum sempat Fika menjawab pertanyaan Cia, Adelio kini menstarter motornya lalu menancapkan gas meninggalkan Cia dan Fika yang menatapnya bingung, karena Adelio pergi tanpa berpamitan.
"Ci, si Adelio kok malah pergi gitu ajah? Kok nggak minta izin dulu sama kita?"
"Tau ah gue, dikira taik kita ditinggal gitu ajah, eh si pak Yanto mana?"
"Udah balik."
Cia melongo.
"Hah!!!" teriaknya membuat Fika tersentak kaget.
"Gila, yah, pak Yanto!!! Gue udah setengah mati pergi foto copy dan dia udah balik gitu ajah?!!?"
"Yah, lo juga sih lama banget!" ujar Fika sembari menutup kedua telinganya.
"Dasar guru kampret, botak, jelek!!!"
Fika kini terdiam lalu matanya terbelalak menatap dagu Cia yang nampak membiru.
"Astaga, Cia!!!"
"Apa?"
"Itu dagu lo kenapa?" Tunjuk Fika.
"Aa?"
"Itu dagu lo kok biru gitu sih, Ci?"
Cia menyentuh pelan dagunya yang memang terasa sangat sakit.
"Lo jatuh dari motor?" Tebak fika.
"Nggak!" jawab Cia cepat.
"Terus kenapa?"
"Gue jatuh di rumah pak Brahmana."
"Hah!" Fika terbelalak.
"Ci, lo open Bo?"
"Ih, gila lo, yah?"
"Terus, Brahmana siapa?"
Cia menghembuskan nafas berat seakan tak sanggup berhadapan dengan sahabatnya itu.
"Nanti deh gue ceritain di motor!"
"Ya, udah yuk, Ci pulang ajah!"
Cia mengangguk lalu melangkah beriringan dengan Fika menuju motor metik.