Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 175



Takdir terdiam lalu ia menoleh menatap Jef yang kini berhenti tepat di hadapannya dan menatapnya dari ujung kaki sampai ujung rambut Taksur.


"Selamat siang," ujar Jef dengan nada suaranya yang terdengar sangat tegas.


Mata Devan terbelalak setelah mendengar suara itu, Devan sangat ingat dengan suara ini, ini adalah suara Jef. Dengan penuh hati-hati Devan mengintip di balik celah gerobak itu, membuat Devan mampu melihat Jef dan Takdir yang kini sedang saling bertatapan dengan mimik wajah mereka yang terlihat sangat serius.


"Maaf mengganggu waktu Anda," ujar Jef membuat Takdir tersenyum lalu mengangguk.


"Apakah Anda pernah melihat seorang Anak laki-laki yang berumur sekitar 12 tahun dan Anak itu laki-laki itu membawa bayi?" tanya Jef.


Takdir terdiam. Ini seperti hal yang berkaitan dengan Ceo dan Cia. Anak itu juga membawa seorang bayi dan sepertinya umur Anak laki-laki itu juga masih 12 tahun. kini matanya menatap sekilas ke arah dalam gerobak itu lalu menatap Jef yang masih terdiam menanti jawaban darinya.


Jantung Devan berdetak sangat cepat di dalam gerobak yang kini menjadi tempat persembunyiannya. kini Devan berharap jika Takdir tak memberitahu Jef jika dia ada di dalam gerobak ini.


"Apa Bapak tahu atau pernah melihat Anak itu?" tanya Jef.


"Saya tidak tahu," jawab Takdir membuat Devan bernafas legah.


"Apa Anda serius?" tanya Jef.


Takdir tersenyum lalu ia tertawa.


"Apakah aku terlihat seperti pembohong?" tanya Takdir.


"Kalau begitu pergilah!" suruh Jef sambil menggerakkan tangannya persis seperti orang yang mengusir.


Tak lama gerobak itu ditarik oleh Takdir hingga Jef nampak tertinggal jauh tanpa merasa curiga dengan isi gerobak itu. Sepertinya bayi itu seakan ikut berkerja sama dengan Devan, ia cukup tenang di dalam pelukan Devan, tanpa pernah menangis.


...___***___...


Devan terdiam di samping Takdir yang nampak menanti jawaban Devan mengenai pertanyaan yang baru saja Takdir tanyakan kepadanya.


"Ceo, aku bertanya kepadamu. Kamu mengenal orang tadi?" tanya Takdir yang sudah kedua kalinya.


Devan kini terdiam seakan bingung harus berkata apa.


Takdir mengeluh dengan nafas panjang lalu memberikan sepotong roti yang baru saja ia belah menjadi dua bagian dan menjulurkannya kepada Devan tanpa menatap Devan yang kini tengah memberikan susu kepada bayinya itu.


Jari-jari Devan yang gemetar kini meraih potongan roti itu dan segera melahapnya, ini sudah yang kedua kalinya Devan kelaparan.


"Aku telah membantumu tadi lalu apakah kamu tidak akan memberitahu semuanya kepadaku?" tanya Takdir.


Devan terdiam dengan mulutnya yang bergoyang berusaha menghaluskan roti yang kini berada di dalam mulutnya. Mungkin hal ini memang harus ia beritahu kepada Takdir lagipula dia yang telah menolongnya tadi. Jika tidak mungkin Devan dan bayi ini sudah mati di tangan Jef.


"Namaku Devan," ujar Devan dengan tatapan kosong.


Takdir menoleh menatap Devan dengan penuh keseriusan.


"Bayi ini bukan adik ku tapi-" Devan terhenti, ia takut mengatakan ini.


"Tapi?" tanya Takdir.


"Bayi Kak Kasya," jawab Devan.


"Kasya?"


"Dia gadis yang mengandung bayi ini, kami telah-"


"Haaah." Takdir mengeluh nafas panjang dan terdengar berat berhasil membuat Devan menghentikan ucapannya.


"Bocah kecil yang sangat menyedihkan."


Takdir menoleh menatap Devan dan bayi itu secara bergantian.


"Aku tahu kamu tak tahu jika melakukan hal itu bisa membuatnya hamil kan?"


"Terkadang orang tua selalu memberikan pelajaran mengenai ilmu yang umum dan pelajaran terkenal tapi kebanyakan orang tua tidak mau memberikan pemahaman mengenai hal berhubungan sesama jenis, padahal  ini pengetahuan yang penting di usia muda agar para Anak-anak tau jika hal seperti itu adalah salah jika diperbuat bukan pada waktu yang tepat."


"Mereka menolak untuk menjelaskan hal itu dengan alasan usia Anak yang masih kecil padahal ini penting dan menjadi bekal agar mereka tidak berbuat kesalahan yang fatal di usia muda mereka sampai diusia besar."


"Orang tua mungkin bisa saja mengajarkan tentang nilai pendidikan di rumah tapi kita tidak akan tahu apa yang Anak mereka peroleh dari pergaulan mereka. Apalagi sekarang banyak orang tua yang telah memberikan Anak-anak mereka handphone padahal seumuran mereka seharusnya masih sibuk bermain."


"Kita tidak tahu apa yang Anak lihat melalu handphone itu."


Devan hanya mampu terdiam mendengar penjelasan Takdir. Semua yang dikatakan Takdir memang benar. Pengaruh buruk ini berasal dari Vidio yang ia lihat di handphone milik Dava.


"Kamu tidak aman di sini."


Devan menoleh menatap Takdir dengan serius.


"Mungkin kamu dan bayi kamu untuk sementara diasuh di panti asuhan saja."


"Tapi Pak-"


"Ini demi kebaikan kamu dan bayi kamu," potong Takdir membuat Devan terdiam.


    


...___***___...


Devan berdiri sambil menggendong Cia dengan tatapannya yang menatap Takdir yang nampak duduk di sebuah kursi kayu sambil berhadapan dengan seorang wanita bertubuh gemuk.


Panti asuhan srikaya, itu yang terpampang di sebuah papan yang terpasang di bagian atas rumah. Puluhan anak-anak kecil dari berbagai umur nampak berlari di sebuah pekarangan rumah. Mereka nampak bahagia.


Tatapan Devan yang menyusuri setiap suasana pantai kini terhenti dengan menatap segerombolan gadis-gadis yang nampak sebaya dengannya tengah berbisik sambil menatap ke arah Devan. Devan tertunduk dengan pelan ia menatap pakaiannya yang nampak kotor. Itu adalah alasan mereka berbisik.


"Ceo!" panggil Takdir membuat Devan melangkah menghampiri Takdir bersama dengan wanita gemuk itu.


"Oh jadi ini yang namanya Ceo," ujar wanita gemuk itu sambil menatap Devan.


"Ganteng yah," tambah wanita itu lagi.


"Ini bayi Bapak?" tanya wanita itu sambil menunjuk Cia yang masih berada dalam pelukan Devan.


"Iya," jawab Takdir singkat.


Wanita itu melangkah lalu meraih bayi itu berniat untuk mengambilnya dari pelukan Devan namun, dengan cepat Devan memeluknya erat. Ia tak mau memberikannya.


"Loh?" Tatap wanita itu keherangan.


Takdir kini tersenyum lalu menyentuh pelan bahu Devan, membuat Devan menoleh menatap Takdir.


Devan kini mengerti, bayinya itu akan aman dengan wanita gemuk ini. Dengan pelan ia membiarkan wanita itu mengendong bayinya yang kini sedang menangis.


Wanita itu melangkah pergi membawa bayinya masuk entah kemana. Devan mengigit bibir dengan perasaan yang sangat khawatir.


"Dia akan baik-baik saja," ujar Takdir membuat Devan dengan cepat menoleh menatap Takdir yang kini tersenyum hangat lalu ia menepuk bahu Devan dan melangkah pergi ke arah gerobaknya.


"Sampai jumpa, Nak," ujar Takdir.


Devan tersenyum lalu segera berlari dan memeluk tubuh Takdir sambil menangis. Takdir tertawa dan mengelus rambut Devan dengan lembut.


"Tak usah bersedih, Nak! Jaga bayi itu baik-baik. Ok?" ujar Takdir sambil memegang kedua bahu Devan.


Devan mengangguk sambil menangis.


Takdir tersenyum sebelum ia mendorong gerobaknya, seakan ini sebuah senyuman perpisahan yang terakhir kalinya.


Jika Tuhan mengizinkan mungkin mereka akan bertemu lagi.