
Fika terdiam di parkiran bersama dengan Adelio yang kini menatap Cia yang kini berdiri di pinggir jalan beraspal, tak lama kemudian angkot berwarna kuning menepi di pinggir jalan setelah Cia melambai menghentikan angkot itu.
Fika masih menatapnya sampai angkot itu benar-benar pergi dari pandangan Cia.
"Adelio kamu beneran ma...u-" ucapan Fika terhenti menatap Adelio yang kini sudah melangkah pergi ke arah motornya.
Adelio meninggalkannya.
Fika menghembuskan nafas berat. Huh, Fika seharusnya sadar jika ini hanya bohongan! Adelio hanya terpaksa mau jadi pacar bohongan kamu, Fika!
...____***____...
Cia melangkah turung dari angkot setelah memberi uang dua ribu ke supir angkot itu.
Cia menengadahkan wajahnya menatap rumah Abraham yang begitu sangat megah, ini sudah yang ketiga kalinya Cia pergi ke rumah megah ini. Sebuah istana dengan bidadari di dalamnya.
Cia melangkah mendekati gerbang besi berwarna emas itu sambil membawa kantong kresek hitam berisi cat warna serta kuas khusus melukis yang Cia beli di toko. Cia kembali terpukau menarap rumah yang terlihat berkilau dan berukuran lumayan besar itu.
"Dek Cia, yah?" tanya pria berseragam hitam itu yang tak lain adalah Madi, si penjaga keamanan.
"gila, kok bisa sih dia tau nama gue?" Gumam Cia tak habis pikir.
"I...i...iya, Pak," jawab Cia gugup di iringi anggukan.
Madi membuka gerbang rumah dengan lebar membuat Cia sedikit menganga, karena Kagum.
"Kata tuan Abra...eh maksudnya tuan Brahmana, Dek Cia disuruh langsung masuk ke rumah!" jelas Madi yang hampir saja ia keceplosan mengucapkan nama asli tuannya itu.
"Saya langsung masuk, pak?" tanya Cia yang masih berada di luar pagar.
Madi mengangguk.
Cia melangkahkan kaki sambil terus menatap ke arah pintu utama berwarna kuning emas sambil sesekali menatap air mancur yang menyembur ke atas berhadapan langsung ke arah pintu utama.
"Assalamualaikum," ujar Cia mendorong pintu besar itu dengan pelan lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Cia menoleh ke arah kiri dan kanan Cia sembari menatap suasana rumah mewah yang nampak sunyi, tak ada satupun orang di sani.
Cia menatap bagian bawah telapak kakinya memastikan tak ada kotoran yang mengikut di sepatunya. Cia takut jika lantai rumah mewah ini jadi kotor dan bau karenanya.
Cia melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Cia masih ingat dengan ruangan bawa tanah itu, kamar bidadari.
"Siapa kamu?" Suara wanita terdengar menggema.
Cia terhenti ketika suara yang cukup keras itu terdengar. Dengan cepat Cia menoleh menatap ke sekeliling rumah, Tak ada orang di sana. Cia membulatkan matanya, apakah suara yang baru saja Cia dengar itu adalah suara hantu si penjaga istana.
"Heh!!!" suara itu kembali terdengar membuat Cia menatap ke sekeliling rumah itu, tak ada orang di sana.
Tak tak tak tak tak
Suara langkah high heels terdengar membuat Cia menoleh menatap ke sumber suara. Wanita dengan pakaian bermerek berwarna merah sebatas lutut itu melangkah menuruni tangga.
Dari penampilannya saja sudah terlihat bahwa dia adalah pemilik rumah istana ini, tapi Cia tak pernah melihat wanita ini sebelumnya.
Firdha menghentikan langkahnya di hadapan gadis yang berani masuk ke dalam rumahnya itu tanpa permisi. Siapa gadis ini?
Cia menelan ludah menatap gugup wanita itu.
"Siapa kamu?" tanya Firdha.
"Sa... Saya Cia, Tante," jawab Cia gugup.
"Hust!!! Jangan panggil saya tante! Saya bukan tante kamu!"
"Enak ajah, Emangnya gue mau apa punya Tante kayak lo! Idih amit-amit," gumam Cia kesal.
"Maaf, Bu!" Cia tertunduk.
"Huust!!! panggil saya Ibu! Saya bukan Ibu kamu!" Tegas Firdha.
Cia menunduk, jika Cia bisa menghentikan waktu rasanya Cia ingin mencekik leher wanita ini sampai mati.
"Maaf!" ujar a.
"Panggil saya nyonya firdha!"
Cia menarik nafas panjang lalu mengangkat pandangannya menatap Firdha.
Firdha terbelalak mendengar perkataan gadis ini yang berani mengatakan itu kepadanya.
Firdha melangkah maju dengan sorot mata tajam.
"Berani kamu sama saya?"
"Loh, saya nggak ngajak berantem loh Tante, tapi kalau Tante mau, yah, ayo!" ujar Cia.
Firdha menghembuskan nafas berat, lagi-lagi gadis berseragam pramuka ini memanggilnya dengan sebutan Tante ditambah lagi gadis ini berani mengajaknya berkelahi.
"Diem kamu!!!" bentak Firdha.
"Loh, Tante yang kebanyakan ngomong tadi bukannya Cia!"
"Jangan panggil saya tante!!!" Bentak Firdha.
"Nggak usah ngebentak dong Tante!!! Cia nggak suka!!!" teriak Cia ikut membentak.
Firdha benar-benar tak menyangka jika gadis asing ini berani membentaknya seperti itu.
"Oh, berani kamu sana saya!!!"
"Keluar kamu dari rumah saya!!!" tunjuk Firdha ke arah pintu.
"Firdha!!!" teriak Abraham yang kini berdiri di pintu masuk.
Cia tersenyum menatap kedatangan Abraham yang kini melangkah ke arahnya.
"Apa-apaan kamu, Firdha? Kamu nggak boleh ngebentak Cia!" ujar Abraham dengan nada tinggi.
Firdha sama sekali tak mengerti dengan suaminya itu yang kini telah marah ke padanya hanya karena telah membentak gadis ini.
"Tuh dengar tuh!" tambah Cia menunjuk membuat Firdha semakin kesal.
"Cia," panggil Abraham.
"Iya, Pak," jawab Cia cepat ketika Abraham menyebut namanya.
"Silahkan kamu ke kamar Putri saya!"
"Iya, Pak." Cia mengangguk lalu melirik Firdha dengan tatapan mengejek.
"By...by...by Tante," ujar Cia sembari melambatkan tangannya dan melangkah pergi dengan senyum mengembang.
Kedua rahang Firdha mengeras dan bergetar begitu sangat kesal.
Siapa gadis ini?
"Mas!" Tatap Firdha tak percaya menatap suaminya.
Firdha begitu terkejut. Bagaimana bisa Abraham menyuruh gadis ini untuk masuk ke dalam kamar Putrinya itu. Firdha takut jika gadis ini memberi tau orang-orang jika Putri dari tuan abraham dan nyonya Firdha itu gila.
Abraham mengangkat telapak tangannya kearah Firdha seakan tak mau mendengar perkataan dari Firdha yang kini menyapanya dengan ribuan pertanyaan.
"Tante!" panggil Cia yang ternyata menghentikan langkahnya.
"Apa lagi?" tanya Firdha.
"Dah Tante!" Lambai Cia dengan tatapan mengejek lalu melangkah.
"Jangan panggl saya tante!!!" bentak Firdha lagi.
Cia tersenyum sambil terus melangkahkan kakinya ke arah tangga ruang bawa tanah.
"Mas kamu nggak bisa dong biarin orang asing masuk ke dalam rumah kita begitu ajah."
"Apalagi dia, si gadis kurang ajar itu bertemu dengan Putri kita yang bertahun-tahun kita sembunyikan," sambung Firdha.
Abraham terdiam.
Cia menghentikan langkahnya ketika telah berdiri di depan pintu masuk kamar bidadari itu yang nampak terbuka. Dari kejauhan Cia mampu melihat bidadari itu yang masih bertelungkup di sudut kamar bersama dengan Naini yang kini memangku semangkuk bubur.
Cia menatap lantai putih itu yang berserakan bubur berwarna putih, Cia yakin jika bidadari itu menolak untuk makan.