Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 97



"Cia!!!" teriak mereka lagi.


Gerombolan gadis-gadis itu nampak berlari menuju Cia yang kini mematung dengan wajah kagetnya menatap gerombolan gadis-gadis yang berteriak begitu sangat bersemangat. Mereka terlihat memegang sebuah coklat, bunga makanan ringan dan entahlah ada begitu banyak yang mereka pegang di sana.


Cia tak mengerti entah mengapa siswi-siswi dari berbagai tingkatan kelas itu berlari ke arahnya. Cia melangkah mundur berusaha menjauhi gerombolan itu yang seakan ingin mengeroyok Cia bersama-sama. Langkah Cia terhenti ketika salah satu dari mereka memegang pergelangan tangan Cia berusaha menahan Cia agak tak pergi.


Cia terkejut bukan kelapa menatap mereka dengan senyuman yang nampak membias indah di wajah mereka begitu jelas. Apa yang terjadi dengan mereka semua?


"Ciaa!!!"


"Jangan pergi!!!"


"Kak Ciaaa!!!"


"Ciaaaa!!!" teriak mereka lagi penuh agresif.


Adelio yang tidak peduli dengan teriakan yang meneriakkan nama Cia kini menghentikan langkah lalu menoleh menatap Cia yang kini sudah berada di tengah-tengah kerumunan para gadis-gadis.


Ini adalah hal aneh yang pernah Adelio lihat selama ia sekolah di SMA Garuda Bangsa. Selama ini tak ada yang berani dekat-dekat dengan Cia, si gadis pemarah itu bahkan menyentuhnya saja atau menyapanya pun tak ada yang berani yang mau melakukannya tetapi, kali ini entah mengapa nyali gadis-gadis ini seakan muncul hingga mau mengerumuni Cia.


Cia yang kini telah berada di tengah-tengah kerumunan gadis-gadis ini nampak terbelalak kaget, matanya membulat menatap syok ke arah gerombolan gadis-gadis itu.


"Ciaaaa!!!" Jerit mereka lagi begitu bersemangat.


"Ke...ke...kenapa?" tanya Cia terbata-bata, Cia sangat takut.


Belum sempat Cia mendapatkan jawaban dari mereka, tiba-tiba saja gadis-gadis itu menyerahkan coklat, bunga dan masih banyak lagi ke pelukan Cia. Cia terkejut bukan kepala ketika pelukannya kini dipenuhi dengan barang-berang dari berbagai jenis hingga menggapai dagu Cia.


"I...ini apa?" Tatap Cia bingung dengan berusaha menahan berat pada barang-barang itu.


"Ciaaa!!! Ini bunga buat pacar kamu, yah!" ujar seorang gadis yang meletakkan bingkisan coklat mahal ke tumpukan barang-barang yang berusaha Cia tahan.


"Apa?" Tatap Cia tak mengerti.


"Cia, aku titip salam, yah, sama pacar kamu yang super duper super ganteng itu," tambah gadis yang kini meletakkan setangkai bunga mawar indah dan bermekaran ke tumpukan itu juga.


Cia tambah melongo dengan ujaran gadis itu.


"Cia, aku juga, yah!"


"Ci, kamu kapan putus sama pacar kamu?"


"Cia, kalau misalnya lo putus sama pacar lo itu, kabarin gue, yah!"


"Kak Cia, aku suka banget sama pacar kakak!"


"Iya, aku juga," tambah gadis yang lainnya.


Ucapan ini terdengar di telinga Cia cukup jelas. Cia seketika membulatkan matanya dengan sempurna mendengar ucapan mereka yang begitu berisik. Cia kini sadar dengan maksud mereka. Mereka semua menyebut tentang pacar dan apakah berarti orang yang dimaksud adalah...


"Pa...pa...pacar yang ma...ma...mana?" tanya Cia gugup, pura-pura tak tahu dan berharap mereka semua tak menyebut nama Devan.


"Itu yang semalam," jawab salah satu dari mereka.


"Iya, Cia. Itu loh yang semalam datang ke pesta ulang tahun Loli," tambah mereka.


Seketika tubuh Cia lemah dan merasakan jantungnya tak berdetak lagi. Apa yang baru saja ia dengar dari mulut gadis-gadis ini. Apa mereka jatuh cinta dengan Devan, Ayahnya itu?


Cia tak mengerti mengapa semua siswi-Siswi ini sangat mengagumi Ayahnya itu. Yang lebih parah lagi adalah mereka menanyakan tentang kapang Cia putus dengan pacarnya itu.


"Cia pacar kamu tinggal di mana?"


"Iya Cia, kita mau tahu."


"Iya Kak Cia."


"Umurnya berapa?"


"Dia suka bunga nggak?"


"Dia hobinya apa?"


"Kenalin ke kita dong!"


"Kok lo bisa sih dapatin cowok seganteng dia?"


Pertanyaan itu semakin banyak terlontar dari mulut mereka sambil menatap Cia yang kini nampak mematung tanpa ekspresi ditatap dengan dangat serius oleh mereka semua menanti Cia menjawab pertanyaan mereka.


"I...i...ini buat si...si...siapa?" tanya Cia.


"Yah ini buat pacar lo, eh maksudnya calon pacar gue."


"Enak aja, calon pacar saya itu!!!" teriak salah satu dari mereka yang tidak terima.


"Kak Cia itu tolong dikasih, yah!"


"Tunggu dulu? Ini lo serius mau ngasih ini sama pacar gue?" Tatap Cia yang masih tak menyangka.


"Iya," jawab mereka kompak.


"Tapi kenapa?" tanya Cia yang masih sangat syok.


"Yah gue suka sama pacar lo, Ciaaa!!!"


"Iya, Ci."


"Gue juga, disaat dia lewat di depan gue rasanya gue bahagia banget." Gadis itu tersenyum sambil memegang kedua pipinya menatap ke langit biru seakan melihat wajah Devan di sana.


Cia melirik geli gadis itu yang nampak memegang kedua pipinya dengan tatapan yang berbinar.


"Dasar bodoh!!! Kok mereka semua suka sama si Devan sih? Ah Devan kan Ayah gue."


"Mereka semua itu kenapa sih? Matanya rusak kali, yah?"


"Mereka nggak tau kalau si Devan itu orangnya bego."


"Devan itu orangnya suka emosian."


"Kekanak-kanakan."


"Suka becanda tapi nggak lucu, garing parah."


"Tapi kalau masalah muka sih, yah, emang Devan ganteng, yah, pasti mereka suka lah."


"Gue aja yang jadi anaknya suka, apa lagi mereka!"


"Caaa!!!" langgil mereka kompak.


Cia tersentak dari lamunannya ketika namanya disebut. Beberapa coklat dan bunga nampak berjatuhan di lantai ketika tak muat di pelukan Cia.


"Lo... lo bisa nggak? Nggak suka sama pacar gue?" Senyum Cia hambar.


"Yah nggak bisa lah."


"Iya nggak bisa!"


"Kita ini idola pacar lo," ujar mereka lagi. Ucapan itu seakan menghakimi Cia yang kini memeluk erat bunga, coklat dan sebagainya di dalam pelukannya. Cia masih tak menyangka jika mereka akan menjawab ucapan Cia seperti itu.


"Kenapa? Kenapa lo suka banget?"


"Kenapa nggak yang lain?"


"Kenapa harus pacar gue? Lo bisa kan ca...ca..cari yang lain misalnya..."


"Ogi," sebutnya.


"Emm atau itu si Adelio." Tunjuk Cia dengan bibirnya menatap Adelio yang nampak berdiri tak jauh dari Cia.


"Yah nggak bisa, kita maunya pacar lo!"


"Iya, kita semua suka banget sama pacar lo itu."


"Iya Cia."


"Gue juga suka banget."


Bantahan itu kini terlontar dari mulut mereka dengan tatapan yang nampak bersemangat.


Cia memejamkan kedua matanya dengan rapat lalu mengigit bibirnya kesal dengan jawaban mereka semua.


"Kenapa harus Ayah gue sih?"


"Kalau di mata mereka pacar gue bisa di jadiin idola, gimana kalau mereka semua tahu, kalau cowok yang mereka jadiin idola itu Ayah gue?"


"Mereka pasti bakalan ngincar Devan dan nasib gue kayak gimana?"


"Gue nggak mau punya Mama yang seumuran sama gue!"


"Lagian gue nggak mau Devan itu nikah sama perempuan mana pun."


"Gue nggak mau Devan nikah!"


"Gue nggak mau!"


"Pokoknya gue nggak bakalan biarin mereka ngedapetin Ayah gue."


"Apa pun caranya."


"Ciaaa!!!" panggil mereka lagi kembali menyadarkan Cia dari lamunannya