Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 184



Adelio tertunduk, rasanya ia tak berani untuk menatap kedua mata Cia, ini sungguh berat dan tak mampu ia lakukan.


Cia memoyongkan bibirnya lalu ikut tertunduk, rasanya pria irit ngomong ini sedang mengutak-atik perasaanya. Cia heran bagaimana bisa pria pendiam ini bisa mengakui perasaan sukanya kepada Cia ke orang lain, Fika tapi setelah duduk seperti ini, Adelio malah jadi pendiam dan tak berani berkata-kata sedikit pun kepada Cia. Adelio memang beda dari pria yang lain.


"Ka-"


"Apa?" tanya Cia lagi dengan cepat sambil menatap Adelio yang kini kembali menghentikan ucapannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Adelio dengan malu lalu ia tertunduk.


Cia tersenyum, tanpa sadar ia melipat bibir nya ke dalam lalu tertawa pelan. Cia sangat-sangat bahagia kali ini. Cia tak menyangka jika Adelio akan seperhatian itu kepadanya.


"Aku...aku baik-baik aja kok," ujar Cia dengan kedua pipinya yang memerah karena malu.


"Uaaaaaa gue udah bisa ngomong aku cieeeee ahh gue kok goblok banget yah!" pikir Cia seakan ingin berguling di lantai dengan perasaanya yang berbunga-bunga.


"Syukurlah," ujar Adelio lalu kembali fokus pada Bu Lia yang kini tengah menjelaskan pelajaran di papan tulis.


Cia terdiam, tanpa sadar ia meremas jari-jarinya yang sudah berkeringat sedari tadi. Kini kesunyian di antara keduanya kembali membuat suasana terasa kaku.


Suara bel berbunyi dimana jam pelajaran telah berakhir dan kini beberapa siswa dan siswi nampak keluar dari kelas.


Cia menghela nafas lalu membuka tas hitam sekolahnya dan mengintip bekal berwarna pink pemberian Devan. Cia mendecapkan bibirnya, ia tak tahu bagaimana tanggapan orang-orang jika tahu Cia si gadis pemarah membawa bekal ke sekolah.


"Kamu tidak ke kantin?" tanya Adelio yang rupanya menanti Cia bangkit dari kursinya.


"Tidak," jawab Cia sambil menggeleng.


Adelio mengangguk lalu dengan perlahan ia mengeluarkan bekal berwarna biru dari laci mejanya membuat Cia kini melebarkan kedua matanya.


"Lo bawa bekal juga?" tanya Cia dengan rasa bersemangat, ia tak sendiri kali ini.


"Iya, aku memang sering bawa bekal," jawab Adelio.


"Cieee, berduaan," goda Faririn yang kini melanglah masuk ke dalam kelas sembari membawa mangkuk berisi bakso.


Adelio dan Cia kini dengan kompak menoleh dan menatap Faririn yang kini melangkah mendekatinya.


"Eh bawa bekal yah?" tanya Faririn membuat Adelio mengangguk.


"Yah udah makan sama-sama aja," ujar Faririn lalu menarik kursi dan ikut bergabung bersama.


"Si Faririn, kok gue ditinggalin?" kesal Yena yang kini melangkah mendekati ketiganya sambil membawa mangkuk berisi bakso.


"Yah sorry, lagian lo lama banget sih," sahut Yuna yang kini sibuk mengaduk kuah baksonya.


Cia menghela nafas menatap Yena dan Faririn yang kini masih sibuk mengoceh. Bagaimana bisa Cia memakan isi bekalnya jika Yena dan Faririn ada di meja ini ditambah lagi Yena ikut bergabung dengan ikut menarik kursi yang ada di dekatnya.


"Emmm, kalian berdua duduk disini?" tanya Cia membuat Yena dan Faririn menoleh.


"Nggak boleh?" tanya Faririn.


"Yah boleh sih tapi kok kalian nggak makan di kantin," jelas Cia dengan wajah gugupnya.


"Penuh, Cia. Jadi kita makannya di kelas aja, iya kan Yen?"


"Em," sahut Yena yang kini masih mengunyah baksonya.


Cia kini menghela nafas membuat Cia kini kembali mengintip bekal yang masih ada di dalam tasnya. Rasanya ia malu menunjukkan bekal itu kepada teman-temannya apalagi yang memasak adalah Devan, sudah pasti makanan itu tak enak.


"Cie bawa bekal," ujar Faririn membuat Cia tersentak kaget lalu menatap Faririn yang kini tersenyum menatap bekal milik Adelio yang saat ini Adelio letakkan di atas meja.


Cia menghela nafas, hampir saja Cia jantungan karena mengira Faririn melihat bekalnya.


"Em, bawa apa Adelio?" tanya Yena yang masih sibuk mengunyah.


"Tidak tahu," ujar Adelio sambil tersenyum.


Adelio kini membuka bekal miliknya hingga bau nasi goreng kecap itu tercium baunya.


"Wih enak nih," ujar Faririn kegirangan.


"Cia, lo nggak makan?" tanya Yena membuat Cia menoleh.


"Em, sebenarnya gue bawa bekal juga tapi-"


"Yah udah buka biar kita bisa makan sama-sama, iya kan Rin?"


"Betul," sahut Faririn yang kini sibuk menyendok nasi goreng milik Adelio.


Cia menarik nafas panjang lalu dengan hati-hati ia mengeluarkan bekal pink dari tasnya.


"Nggak tahu, Ayah gue yang siapin," ujar Cia.


"Si Ceo? Jadi bener Ceo itu Ayah lo jadi gue panggilan Om dong? Tapi masa sih cowok seganteng itu gue panggil Om?"


"Hust!" tegur Yena sambil menyikut perut Faririn membuat Faririn menghentikan ocehannya.


Faririn menoleh menatap Yena yang kini membulatkan kedua matanya.


"Yah sorry," ujarnya menyesal.


"Udah Cia makan aja!" suruh Yena.


"Eh buka dong Cia! Gue mau lihat nih!" ujar Faririn yang kini kembali bersemangat.


Cia kini tersenyum dengan berat hati. Cia belum siap untuk membuka dan mengetahui isi bekal itu.


"Yah lama banget sih. Sini biar gue yang buka," ujar Faririn lalu meraih bekal milik Cia dan membukanya dengan cepat membuat kedua mata Cia terbelalak.


"Widih, Mi goreng," ujar Faririn lalu mengendus bau wangi dari mi goreng itu bahkan Cia mampu mencium bau wangi itu.


"Nggak hangus kan?" tanya Cia.


"Nggak," jawab Faririn.


"Eh ada suaratnya," ujar Yena lalu meraih sebuah kertas yang di tempel di balik penutup bekal.


Kedua mata Cia terbelalak setelah mendengarnya. Entah drama apalagi yang Devan lakukan kali ini.


"Sini biar gue baca!" ujar Faririn lalu bangkit dari kursi setelah kertas itu sudah ada di tangannya.


Kedua bibir Cia terbuka. Belum sempat ia menegur Faririn untuk tidak membacakan isi kertas itu namun kertas itu dengan mudahnya Faririn buka dan membaca isi tulisannya.


"Dengar yah, Cia!" suruh Faririn bersiap untuk membaca membuat Cia memejamkan kedua matanya seakan tak siap untuk mendegarnya.


"Dari Ayah tersayang untuk Cia, Anak kesayangan Ayah," baca Faririn.


"Yuhuuuu," sahut Yena yang gemas sendiri.


"Selama menikmati isi bekal yang Ayah buat dengan penuh cinta dan kasih sayang dari Ayah." Faririn menghentikan bacanya lalu tertawa sejenak dan kembali membaca isi tulisan itu.


"Ini adalah mi goreng spesial untuk Anakku yang paling Ayah sayang di dunia ini," baca Faririn lagi.


"Cieee," goda Yena.


"Udah! Udah! Sini!" ujar Cia lalu bangkit dari kursi dan menarik kertas itu dari tangan Faririn.


"Ih belum selesai," ujar Faririn yang kini berusaha menarik kembali kertas itu.


"Nggak ada!" tolak Cia lalu melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tasnya dan menutupnya dengan rapat.


Faririn mendecapkan bibirnya lalu kembali duduk dan menyendok mi goreng milik Cia sambil tertawa geli.


"Lumayan kan makan masakan Ayah Cia yang tampan, keren dan masih muda," ujar Faririn lalu memasukkan sendok berisi mi goreng itu dengan kedua matanya yang tertutup.


Cia terbelalak kaget. Sudah jelas jika rasa masakan Devan sangat tak enak. Sama halnya dengan masakan Devan yang selalu Cia makan setiap hari, hangus dan tak ada rasa.


"Eeeeeemmmmm enak banget sama kayak mukanya si Ceo, eh maksudnya Om Ceo, Hahahaha," tawa Faririn.


"Oh yah?" Tatap Yena penasaran.


"Coba aja!"


Yena yang penasaran itu kini ikut menyendok mi goreng milik Cia dan melahapnya dengan penuh hati-hati.


"Gimana?" tanya Faririn.


"Waaaah enak banget," kagum Yena.


Cia mengkerutkan alisnya setelah mendengar apa yang Yena dan Faririn katakan. Apakah masakan Devan seenak itu?


Cia kini meraih sendok dan menyendok mi goreng itu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya dengan hati-hati. Cia tersenyum, ia tak menyangka jika masakan Devan lumayan enak.


"Minta lagi dong Ci," ujar Faririn sambil mengarahkan sendok ke bekal Cia.


"Em enak aja!" ujar Cia cepat sambil menjauhkan bekal itu dari Faririn.


Cia kini tersenyum, rasanya ia sangat bahagia kali ini. Ia kini telah mempunya sosok Ayah yang peduli dengannya.