
Cia tak menjawab namun Cia kembali melangkah dan menggenggam ganggang pintu berniat untuk membuka pintu.
"Ciaa," halang Devan menahan pergerakan tangan Cia.
"Lo tuh kenapa sih?" Tatap Cia tajam.
"Lo tuh yang kenapa? Lo mau kemana sih sebenernya?"
"Emang kenapa?" tanya Cia.
"Yah gue nanya," jawab Devan.
"Cia mau keluar nonton sama Ogi."
Devan terbelalak setelah mendengar nama Ogi. Devan ingat betul dengan nama Ogi. Dia adalah pria yang telah merusak bengkel dan pria yang telah ia pukul di pesta ulang tahun Loli.
"Nggak!" tolak Devan cepat.
"Cia bakalan pergi walau pun lo ngelarang gue," ujar Cia bersikeras.
Cia kini menghempas tangan Devan lagi yang telah berhasil mencegahnya. Lagi dan lagi Devan terbelalak menatap penuh kejut ke arah Cia.
"Lo kenapa kayak gini sih?"
Cia tak menjawab lalu dengan cepat ia menggenggam ganggang pintu namun Devan kembali mencegahnya.
"Lo nggak usah pergi!"
"Gue udah bilang kan kalau gue tetap bakalan pergi!" hempas Cia lagi.
Dengan tangannya yang masih menggenggam Cia kini dengan cepat Devan mengerakkan kain gorden dan menatap seorang pria dengan motor hitam itu tengah berada di siring jalan.
"Itu siapa?" tanya Devan menatap Cia yang kini berusaha melepas genggaman tangan Devan.
"Ogi," jawab Cia singkat.
"Jadi lo mau nonton sama orang yang udah ngerusak pagar bengkel?"
Cia tak menjawab namun tangannya masih sibuk berusaha melepas genggaman Devan.
"Kenapa harus sama si Ogi sih Cia?"
"Kenapa lo berhubungan sama dia, dia cowok yang kurang ajar kayak dia?"
Lagi dan lagi Cia tak menjawab.
"Kenapa Cia?" tanya Devan.
"Kenapa apa sih?"
"Sekarang gue tanya sama lo, gue udah selalu dengerin apa yang lo bilang ke gue, ok gue terima!!!"
"Lo ngelarang gue buat nggak ngakuin lo sebagai Ayah di luar sana, ok gue terima!!!"
"Lo nyuruh gue manggil Nenek Fatima dengan sebutan Mama, ok gue terima dan lo juga ngelarang gue buat masuk ke rumah orang atau bahkan sekedar jalan-jalan sama teman-teman Cia, ok gue terima!!!"
"Lo juga ngelarang gue buat tanya dan cari tahu tentang Ibu kandung Cia, ok gue terima!!!"
"Dan...dan lo bahkan ngehajar Adelio sampai babak belur karena udah buat gue nangis, ok gue terima walau di sini bukan Adelio yang salah!!!" teriak Cia.
"Iya gue lakuin itu demi kebaikan lo sendiri dan sekarang gue mau lo jangan pergi sama Ogi!" ujar Devan.
"Itu urusan gue dan itu bukan urusan lo," ujar Cia lalu menghempas tangan Devan.
Devan mengangguk lalu paham dengan apa yang dimaksud oleh Cia.
"Ok," Ujar Devan singkat lalu segera mengerakkan ganggang pintu dan membuat pintu itu terbuka dengan lebar.
Devan kini bersandar di dinding berusaha tak menampakkan dirinya kepada pria yang kini tengah menunggu di luar sana.
Cia kini terdiam dengan wajah yang mempias.
"Lo bukan lagi urusan gue, ok pergi sekarang!" Tunjuk Devan.
Cia dengan langkah berat itu kini melangkah meniggalkan Devan yang masih bersandar di dinding. Baru selangkah Cia menginjakkan kakinya di teras rumah, kini pintu itu dihempas oleh Devan sangat keras membuat Cia tersentak kaget. Pintu itu kini telah tertutup.
"Maafin Cia, Cia butuh ketenangan."
Langkah cepat Cia kini melangkah mendekati Ogi yang kini tersenyum menyambut kedatangan Cia.
"Hay Cia," sapa Ogi
"Nggak usah basa-basi deh! Kalau mau nonton yah udah ayo!" ajak Cia cepat lalu segera naik ke atas motor Ogi.
"Wuits, buru-buru amat sih," ujar Ogi sedikit tertawa lalu segera menyalakan motornya.
Kini motor yang ditunggangi oleh Ogi dan Cia kini melaju dengan kecepatan sedang menembus keramaian kota. Kini suasana cukup ramai karena malam ini adalah malam Minggu. Rambut Cia berayun-ayun indah tanpa mengunakan pelindung kepala. Yah Ogi lupa untuk membawa helm.
Lebih dari 30 menit Ogi melajukan motornya kini motor itu berhenti tepat di depan sebuah rumah tua yang begitu sangat gelap seakan tak ada penerangan sama sekali. Bahkan di sisi rumah tersebut tak ada satu pun rumah warga yang dihuni. Hanya ada gudang besar bekas pabrik gula.
"Yuk Cia!" ajak Ogi yang kini sudah turung dari motor dan melepas helm dari kepalanya.
Cia yang mendengar ucapan Ogi langsung tersadar dari lamunannya dan kini menatap ke sekelilingya. Tempat yang cukup asing bagi Cia, baru kali ini Cia melihat tempat ini.
"Kita dimana Gi?" tanya Cia kebigungan.
"Emm, kita masuk dulu yuk sambil nunggu bioskopnya buka," ujar Ogi sambil tersenyum.
"Emangnya bioskopnya belum buka?" tanya Cia.
"Belum," jawab Ogi cepat.
Cia yang masih kebigungan itu kini meraih tiket dari tas kecilnya lalu segera menatap tiket berwarna biru itu.
"Tuh kan Gi, di sini katanya filmnya mulai jam setengah sembilan dan sekarang udah jam sembilan, berarti filmnya udah mulai dong Gi," jelas Cia memberitahu.
"Udah Ci! Ikut gue aja yah!" paksa Ogi menarik Cia dan membuat Cia turung dari jok motor.
"Ogi, tapi tujuan kita cuman mau nonton di bioskop bukan datang ke sini, terus kita ini dimana?" tanya Cia.
"Udahlah ayo! Cia!" Paksa Ogi menarik tangan Cia cukup kuat.
Wajah Cia kini menjadi panik dengan sikap Ogi yang seakan memaksanya.
"Lepasin Gi!" suruh Cia.
Dengan sekuat tenaga Cia berusaha melepas genggaman tangan Ogi yang masih memegang erat tangannya namun, semakin Cia berusaha untuk melepas gengaman tangan Ogi semakin kuat pula Ogi menahan tangan Cia.
Mata Cia terbelalak merasakan cengkraman tangan Ogi yang kini menjerat tangannya. Entah apa yang terjadi dengan Ogi ditambah lagi Ogi yang menariknya cukup kuat berusaha masuk ke arah rumah yang gelap itu.
Cia sama sekali tak mengerti dengan tujuan Ogi yang kini semakin kuat menariknya ke arah pintu masuk yang gelap itu. Dengan sekuat tenaga Cia menahan pergerakan kakinya yang sesekali melangkah setelah ditarik paksa oleh Ogi.
"Lepasin gue nggak!" ancam Cia yang masih berusaha menghentikan tarikan itu.
"Gi, lo itu kenapa sih?" tanya Cia kebigungan sambil berusaha melepas pegangan Ogi yang kini begitu sangat kuat menariknya.
"Lepasin gue!!!" teriak Cia.
"Lepesin gue, Gi!" harap Cia.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Cia.
Rasanya ada yang berbeda dari Ogi. Jantung Cia kini berdetak cepat membuat tubuhnya gemetar hebat, apakah tujuan Ogi membawanya ke tempat yang sunyi ini untuk melakukan sesuatu kepadanya? Kini pikiran itu menjalar di pikiran Cia dan memenuhinya begitu saja.
Cia lupa dengan siapa ia bersama sekarang. Ogi adalah pria fuckboy yang telah merusak bengkel Devan dan yang Ogi tahu adalah Cia merupakan pacar Devan. Apakah Ogi akan membalaskan dendamnya karena telah dipukul oleh Devan di malam pesta ulang tahun Loli.
"Lepasin Gue!!!" teriak Cia.