
Burung-burung kecil dengan warna yang seragam itu berterbangan dan hinggap dari satu pohon ke pohon lain dengan kibasan sayap-sayap kecilnya yang terlihat begitu indah.
Sebuah angkot biru terhenti di tepi jalan beraspal tepat di depan bengkel Mobepan yang masih ramai. Cia melangkah turung dari angkot beru dengan langkah yang lumayan cepat setelah memberikan uang kepada supir pria bertopi itu.
"Makasih, Pak," ujar Cia.
Cia melangkah menyebrangi jalan yang dilalui kendaraan yang berlalu-lalang. Cia mulai membuka pagar dan segera melepas sepatunya di teras rumah.
Pandangan Cia kosong sembari terus melangkah menjinjing kedua sepatunya yang di pegang di tangan kirinya yang ia bawa melangkah masuk ke dalam rumah.
Devan yang tengah asik duduk di sofa sambil menikmati sinetron yang tengah tayang itu menoleh ke belakang setelah mendengar suara langkah kaki yang terdengar.
"Udah pulang lo?" tanya Devan.
Cia tak menjawab, jujur ia tak mendengar suara Devan. Cia hanya diam lalu segera masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa membanting pintu cukup keras.
Devan tersentak kaget dengan hempasan itu, entah masalah apa lagi yang Cia dapatkan setelah pulang sekolah, yang Devan tahu orang yang pulang dari sekolah itu dapat ilmu bukan dapat masalah.
Devan mendecapkan bibirnya lalu kembali menatap layar tv. Hidup ini seperti sinetron, yah telah di atur semenarik mungkin hingga para pemainnya menjadi beban dalam kisahnya sendiri.
Cia menyadarkan tubuhnya ke pintu dengan nafas sesaknya. Mata Cia membulat sempurna mengingat apa yang dikatakan Fika tadi.
"Adelio suka sama gue?" tanya Cia dengan tatapan panik.
Cia kini terdiam lalu memegang dadanya, jantungnya berdetak cepat.
"Gila jantung gue," ujar cia sambil mengatur nafasnya.
"Berarti Adelio sama Fika nggak pacaran dan berarti gue sama Adelio bisa-" ujarannya terhenti, is kembali mengigat hal itu.
"Aaaaaaaa!!!" jerit Cia lalu melompat-lompat kegirangan.
Devan menoleh cepat menatap ke arah pintu kamar Cia. Alis Devan mengkerut keherangan, entah apa yang terjadi di dalam sana sehingga Cia berteriak.
"Aaaaaaaa!!!" teriak Cia lalu melepas tas hitamnya dan memutarnya ke atas seperti seorang Koboy.
Cia kini berlari dan melompat ke atas kasurnya yang empuk sembari terus memutar-mutar tasnya itu dengan sangat bahagia.
"Yes yes yes!!!" teriak Cia lagi.
"Adelio suka sama Cia!!! Adelio suka sama Cia!!! Aaaaaaaaa!!!" Suara nyanyian Cia terdengar di akhiri suara jeritan.
"Aaaaaaa!!!" teriak Cia lagi.
Devan yang masih fokus ke layar tv itu kini menoleh lagi menatap ke arah pintu kamar Cia.
"Ciaa!!! Lo bisa diem nggak sih?" teriak Devan yang masih duduk manis di atas sofa.
"Aaaaaaaaa!!!" teriak Cia lagi.
Devan mendecapkan bibirnya setelah mendengar Cia kembali menjerit. Devan kini bangkit dari sofa dan segera melangkah mendekati pintu kamar. Entah apa yang terjadi dengan otak Cia yang sudah miring itu hingga ia menjerit tanpa henti.
Devan kini mengerakkan gangan pintu kamar Cia lalu membuat pintu itu terbuka lebar.
PLAK
Mata Devan terbelalak lebar, rasanya tubuhnya itu terasa terkunci dengan spontan hingga bernafas pun tak bisa ketika lemparan yang cukup keras itu menghantam ke dinding dan nyaris mengenai wajah Devan.
Cia terhenti dari lompatannya lalu menutup mulutnya itu dengan ujung jari-jarinya yang ia gigit.
Devan menghembuskan nafas berat lalu tersenyum, lebih tepatnya senyum menahan kejengkelan sambil menatap wajah panik Cia. Cia kini dengan cepat melompat dari kasur dan segera berlari ke arah devan.
"Stop!" pintah Devan mengarahkan tangannya.
Lari Cia terhenti cepat.
"Gue minta maaf," ujar Cia dengan nada khawatir.
"Nggak!" bantah Cia cepat .
"Emang sengaja lo tadi."
"Nggak! Cia beneran nggak sengaja."
"Jelas-jelas lo lempar tasnya pas gue buka pintu, sengaja lo emang." Tunjuknya yakin.
"Apaan sih? Lo aja tuh yang main buka-buka pintu sembarangan terus nggak ngetuk pintu dulu atau ucap apa kek baru masuk ke kamar gue. Gue juga nggak tahu tuh lo ada di situ terus mau buka pintu," oceh Cia.
Devan kini mendecapkan bibirnya. Devan tak tahu mengapa Cia lebih mengoceh dibandingkan dengannya padahal yang salah di sini adalah Cia.
"Kok malah lo yang nyolot sih?" tanya Devan menurungkan nada bicaranya, nyalinya seakan ciut.
"Yah lo yang duluan, cari masalah melulu deh ah sama gue," kesal Cia lalu duduk di pinggir kasurnya.
Devan kini terdiam lalu segera melirik tas hitam yang Cia lempar tadi.
"Ya ampun Cia." Kaget Devan sambil meraih tas hitam itu yang tergeletak di lantai.
Devan masih ingat dengan tas yang ia beli di mall Brahmana itu. Devan masih ingat dengan tas yang sangat keren dan mahal, tas yang ia beli untuk Cia. Entah mengapa tas yang keren itu berubah menjadi sangat mengenaskan.
"Cia, lo dapat bom dari mana sampai tas lo kayak gini?" tanya Devan sambil menggerak-gerakkan tas hitam itu ke arah Cia.
Cia kini tersenyum paksa dengan raut wajahnya yang kebigungan. Tas hitam dengan banyak robekan itu bahkan resleting di bagian depan itu rusak parah, tak layak guna.
Cia sangat tak berniat untuk merusak tas hitam itu, namun jari jahil-nya seakan gatal untuk memaingkan resleting tas dan menarik-narik benang yang ia dapat di tasnya. Ini tidak Cia harapkan.
"Kok rusak?" tanya Devan.
"Tas lo, lu apain sampai kayak gini?"
Cia hanya mampu mencengirkan giginya sambil menggaruk kepalanya setelah pertanyaan itu terdengar.
Devan berdecapkan bibirnya lalu segera menopang pinggang menatap wajah anaknya itu. Rasanya Devan ingin tersenyum setelah melihat paras cantik Anaknya, yah hasil produk darinya juga tak kalah cantik dengan artis-artis papan atas.
"Cia, lo itu kenapa sih nggak bisa jaga tas?"
"Perasaan tas ini waktu gue liat tadi pagi masih bagus, kok bonyok kayak gini?"
"Hah?"
"Kena bom lo tadi di sekolah?"
"Kena bencana alam lo?"
"Gila." Tatap Devan mengarah ke tas hitam milik Cia.
Devan menatap tas itu dengan serius.
"Resleting rusak, sobek kiri, kanan lagi," oceh Devan terus.
"Kan nanti bisa beli lagi," ujar Cia dengan santainya.
Mata Devan membulat menatap wajah Cia yang nampak terkejut menatap tatapannya yang seakan menikam begitu saja tanpa aba-aba.
"Beli? Lo bilang beli?" tanya Devan penuh tekanan.
Cia mengangguk walau ia sendiri ragu.
"Cia, lo masih ingat nggak harga tasnya berapa?" tanya Devan membuat Cia menggeleng pelan.
"Empat ratus tiga puluh ribu, Ciaaaa!!!" teriak Devan walau jujur teriakan Devan terlihat sangat lucu bagi Cia.
Cia mendecapkan bibirnya, Bagaimana bisa Devan ingat dengan harga tasnya itu. Cia yang lelah mendengar ocehan Devan kini membaringkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya itu, menatap langit-langit kamar lalu tersenyum. Penjelasan Fika megenai Adelio menyukainya itu masih terngiang di pikirannya.