
"Ingat Nyonya! Aku tidak akan diam jika Ayah ku benar-benar pergi dari dunia ini," ujar Cia yang kini melangkah mundur lalu segera berlari meninggalkan Firdha yang kini terdiam.
Firdha tahu apa yang Cia rasa kan saat ini, kesal, benci, marah yah semuanya ada pada diri Cia kepadanya, Abraham dan Jef.
Cia berlari melewati koridor yang sedang ramai yak kini jam delapan malam yang berarti jam besuk sedang berlangsung. Cia berlari cukup kencang dengan perasaan marahnya dan rasa sedih yang mendalam. Bayangan Devan yang akan pergi meninggalkannya dari dunia ini seakan terus terbayang dan menghantui setiap langkah lari Cia. Jika boleh rasanya ia ingin memukul Firdha untuk melampiaskan rasa kekesalannya namun itu semua tak mungkin ia lakukan.
Bruk
Tubuh Cia goyah saat tubuh nya berhasil menabrak satu orang yang berjalan bersama seorang wanita.
Cia mengusap pipinya yang basah itu tanpa menoleh lalu ia kembali berlari.
"Heh!!! Nggak sopan kamu!!!" teriak kan itu terdengar sambil menunjuk Cia yang tak kunjung menghentikan larinya.
Semua orang yang melihat hal tersebut langsung menoleh menatap ke arah Cia setelah mendengar suara teriakan.
Cia berlari keluar dari rumah sakit dan melintasi jalan beraspal yang kini terlihat ramai. Suara klakson motor terdengar saat Cia melintas tanpa menoleh ke kiri dan kanan.
"Woy!!! Cari mati lo?!!" teriak salah satu pengendara bermotor yang kini menghentikan motornya.
Cia berlari tanpa henti melewati pinggir jalan sambil menangis tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan heran. Yah Cia tak peduli dengan ini semua.
Di satu sisi lain Adelio yang tengah melajukan motornya kini segera menghentikan laju motornya di tepian jalan dan menoleh menatap Cia yang kini masih berlari. Sebenarnya Adelio berniat untuk datang ke rumah sakit untuk menemani Cia namun kini Adelio malah terdiam heran di atas motornya menatap Cia berlari di pinggir jalan.
"Itu Cia atau bukan yah?" tanya Adelio lada dirinya sendiri.
Adelio terdiam sejenak, mungkin saja itu bukan Cia yang berlari. Bagaimana mungkin gadis yang berwajah mirip dengan Cia yang berlari di pinggir jalan adalah Cia sementara Devan sedang terbaring kritis.
"Mungkin aja gue salah liat," ujar Adelio lalu segera menancapkan gas motornya meninggalkan tepian jalan dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit.
Cia berlari tanpa henti melewati tempat ramai, gelap, sunyi tanpa peduli siapa pun yang melihatnya hingga larinya itu terhenti saat ia menatap sebuah makam yang bertuliskan Fatima, yah Cia kini telah berada di tempat perkuburan umum yang agak jauh dari rumah sakit.
Cia terpatung menatap makam Fatima yang tetap sama saat ia terakhir kali melihatnya dulu bersama Devan.
Cia melangkah perlahan mendekati makam yang terlihat basah itu yang hanya di terangi dengan sebuah lampu jalan dan sebuah lampu yang terpasang di sebuah rumah kecil yang tak jauh dari gerbang perkuburan umum. Kedua mata Cia memburam menatap pedih pada makam itu hingga langkah Cia kini terhenti saat tubuh Cia langsung terjatuh ke makam Fatima dan melebarkan kedua tangannya seakan ingin memeluk Fatima.
"Mamaaaa!!!" teriak Cia yang kini telah menangis.
Cia menyandarkan pipinya yang basah itu di permukaan tanah yang kotor tanpa ia peduli dengan hewan atau pun yang lainnnya yang bisa saja saja mengigit wajah Cia yang masih merapatkan pipinya di permukaan tahan yang kotor dan bunga-bunga makam yang tercium di Indra penciuman Cia.
"Maaaa!!! Mama!!!"
"Maaa!!!"
"Tolongin Cia!!!"
"Mama harus liat Ayah! Mama harus liat!"
"Maaaa!!!"
"Liat Cia! Cia di sini, Cia datang Ma!!!"
Cia mengangkat tubuhnya bangkit dari makam Fatima lalu menatap sebuah kayu nisan dengan kedua matanya yang telah memerah karena tangisan. Rasanya ada yang menikam dadanya dengan belati yang membuat dadanya terasa sakit. Oh Tuhan apakah seperti ini rasanya di tinggalkan oleh orang yang tersayang. Ia tak bisa lagi memeluk, melihat dan semuanya, semua yang selalu ia lakukan kepada Fatima kini hanya bisa menjadi kenangan yang tak bisa ia ulang lagi dan hanya mampu mengenang nya.
Cia mengangkat jari-jari tangan nya dan mendekatkan jari-jari tangan nya itu ke arah kayu nisan Fatima. Air mata Cia menetes dengan tangisan nya yang langsung lepas begitu saja ketika ia menyentuh dan merasakan ukiran nama Fatima yang terukir di sana. Cia memejamkan kedua matanya dan kembali merebahkan kepalanya ke permukaan tanah makam Fatima.
"Mamaaa!!!" teriak Cia.
"Mama, Cia butuh Mama sekarang!"
"Maaaa!!! Mama!!!"
"Mama dengar Cia kan? Iya kan?"
Cia menoleh menatap nama Fatima di suasana yang sunyi dengan suara jengkrijk yang menamai suasana sunyi Cia tanpa peduli jika ia berada di tengah-tengah perkuburan umum yang di penuhi dengan ratusan makam.
"Iya kan Ma?" tanya Cia.
Cia kembali meledakkan tangisannya lalu kembali menyandarkan kepalanya ke permukaan makan Fatima.
"Maaa!!!"
"Tolongin Cia!!!"
"Mama harus ikut sama Cia!"
"Mama harus liat Ayah! Mama harus liat!"
"Maaaa!!!"
"Liat Cia! Cia di sini, Cia datang untuk Mama!!!"
"Mama, Ayah sekarang kritis, Ma!"
"Mama, Cia butuh Mama sekarang!"
Cia mengangkat kepalanya menatap kayu nisan Fatima dan memeluknya.
"Mama, Cia sayang sama Mama, Cia sayang."
"Mama, sekarang Ayah kritis."
"Mama, Cia nggak mau kalau Ayah pergi dari dunia ini dan ninggalin Cia seperti Mama yang ninggalin Cia."
...____***____...
Adelio melangkah mendekati ruangan ICU di mana Devan ada di sana. Di luar ruangan terlihat Firdha yang kini sedang duduk sambil tertunduk dengan meremas jari-jari tangannya. Adelio menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Cia.
Adelio mendekat lalu kembali menoleh menatap sekujur tempat berusaha untuk memastikan jika ada Cia namun yang hanya Adelio lihat adalah Firdha seorang diri.
"Em permisi Tante," ujar Adelio yang berhasil membuat Firdha kini mendongak menatap Adelio.
"Kamu Adelio yah? Temannya Cia?" tebak Firdha yang kini bangkit dari kursi.
"Em lebih dari teman, Tante," jawab Adelio.
"Hah? Maksudnya pa...pacar?" tebak Firdha.
Adelio tersenyum ragu lalu mengangguk sementara Firdha kini menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Adelio. Pria sederhana dengan paras tampan.
"Kamu orang kaya?" tanya Firdha.
Adelio hanya tersenyum lalu menggeleng membuat Firdha mengembuskan nafas panjang.
"Hanya pria sederhana, Tante," jawab Adelio.
"Oh, em kamu tahu kan kalau Cia itu cucu saya, cucu dari keluarga Brahmana sebuah keluarga yang terpandang?"
Adelio mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu tahu kan?"
"Iya Tante."
"Jadi sebelum hubungan kamu semakin jauh bersama Cia maka kamu harus pikir kedepannya, mengerti?"
Adelio mengangguk lalu kembali menoleh ke kiri dan kanan berusaha mencari sosok Cia.
"Em, Cia di mana, Tante?" tanya Adelio.
Firdha menghela nafas lalu duduk kembali ke kursi.
"Di mana?" tanya Adelio.
"Dia keluar."
"Keluar? Dia kemana?" tanya Adelio.
"Saya nggak tahu," jawab Firdha.