
Cia akui kini dunianya telah hancur berkeping-keping dan tak mampu lagi untuk dibenahi. Cia tak tahu bagaimana kisah lanjut kehidupannya jika tak ada sosok Fatima di hidupnya yang dulu memang tak baik-baik saja.
Cia akui jika ia selalu marah kepada Fatima karena tak mau menceritakan atau memberitahu siapa Ibu kandung Cia yang sebenarnya. Cia kini sadar jika sosok Ibu tak begitulah penting, yang penting adalah siapa yang membuat kita nyaman dengan setiap belaiannya.
Cia harus sadar dan ia tak mungkin juga larut dalam kesedihan untuk melepas kepergian Fatima. Cia harus ingat jika Deon juga telah melewati ini. Deon anak yatim piatu dan ia juga kehilangan kedua orang tuanya. Kini Deon hanya tinggal bersama dengan Neneknya yang sudah tua. Cia masih beruntung, dia masih punya Devan, Ayah yang selalu ada untuknya.
Cia mengusap pipinya yang basah itu dengan selimut yang ia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya.
"Tuhan, dimana Ibu kandung Cia?" tanya Cia sambil menatap langit-langit kamar.
"Tuhan, sekarang Cia tidak punya Mama lagi dan Cia mau punya keluarga yang utuh. Tuhan, tolong Cia! Tolong pertemukan Ibu kandung Cia!"
"Cia mohon Tuhan!"
Cia menghela nafas lalu segera memiringkan tidurnya dan memejamkan kedua matanya dan tertidur lelap.
Di waktu yang sama, Devan terlihat terpatung di depan pintu kamar Cia yang terbuka sedikit. Tatapan Devan kosong setelah mendengar ujaran Cia.
"Maaf Cia tapi mungkin Tuhan tak akan pernah mengabulkan keinginan itu, karena Ibu kamu sudah ada bersamanya," ujar Devan lalu melangkah pergi.
...___***___...
Suasana sekolah nampak seperti biasanya dimana kini semua murid-murid tengah duduk di kursi masing-masing sambil menatap Pak Yanto yang tengah duduk di meja guru. Pak Yanto terdengar menyebut satu persatu nama siswa dan siswi berurutan sesuatu dengan daftar nama di absen kelas.
"Ashia Akankasha," sebut Pak Yanto.
Semua siswa dan siswi kini menoleh menatap kursi yang berada paling belakang itu terlihat kosong.
"Ashia Akankasha," panggil Pak Yanto lagi.
"Ashia tidak ada Pak," sahut Yuna sembari mengangkat tangan kanannya.
"Tumben Cia tidak ada," ujar Pak Yanto sambil menatap bangku Cia yang memang terlihat kosong.
"Palingan nanti juga Cia datang, Pak. Toh kan biasanya Cia emang gitu selalu datsng kalau jam pelajaran pertama udah mau habis," jelas Loli memberitahu.
"Namanya juga murid berandal," tambah Marisa membuat siswa dan siswi tertawa.
Adelio yang sedari tadi hanya terdiam kini menoleh menatap kursi Cia yang nampak kosong, tak seperti biasanya. Mungkinkah Cia marah dengannya hingga tak datang ke sekolah hari ini. Entah mengapa Adelio merasa bersalah.
Adelio kembali membalikkan tubuhnya, kini tatapannya menatap bangku Fika yang juga terlihat kosong. Apakah Fika juga marah karena telah ia tolak dua hari yang lalu hingga tak datang ke sekolah. Entah mengapa semakin hari semakin rumit.
...___***___...
Malam ini begitu sangat sunyi diiringi suasana yang terasa dingin setelah hujan deras yang kembali turung membasahi bumi.
Suara handphone Cia kini berdering membuat cia yang terdiam karena lamunannya mulai tersadar dan meraih handphone yang berada di bawa bantalnya.
Ogi
Nama itu yang tertera di sana membuat Cia bangkit dari kasurnya dan segera mendekatkan handphone ke telinganya.
"Halo."
"Hay Cia," sapa Ogi.
Cia tak menjawab.
"Oh iya lo dimana" tanya Ogi tanpa basa-basi.
"Halo, Cia. Kamu dimana?"
"Di rumah," jawab Cia Singkat.
"Oh iya lo jadikan nonton bareng gue di bioskop?" tanya Ogi
Cia menghela nafas, Cia benar-benar lupa dengan hal itu jika ia dan Ogi akan pergi ke bioskop. Tapi apakah pantas jika Cia pergi ke bioskop sementara disaat ini ia tengah berduka atas meninggalnya Fatima.
"Gimana Ci? Lo mau kan?" tanya Ogi.
"Ayo lah Ci! Gue udah ada di depan rumah lo nih."
"Hah?" kaget Cia begitu sangat terkejut.
"Lo beneran ada di luar?"
"Iya," jawab Ogi.
"Lo tahu dari mana rumah gue?" tanya Cia begitu sangat panik.
"Gue tau dari si Andi," jawab Ogi.
Cia mengeluh dengan hal itu. Bisa-bisanya Ogi mencari tahu rumahnya dari salah satu sahabatnya itu dan bodohnya Andi memberitahu hal itu.
"Jadi gimana? Lo mau kan?" tanya Ogi.
Cia kini diam dan tak menjawab pertanyaan Ogi.
"Ayolah Ci! Masa gue udah beli tiket nonton terus kita nggak nonton, ayo lah Ci!" bujuk Ogi.
"Maaf Gi, gue nggak bisa. Mama gue baru meninggal tadi."
"Yah kok gitu sih, Ci?"
"Nih yah, Cia, kalau mama lo meninggal berarti lo butuh hiburan dan salah satu caranya adalah nonton bareng sama gue."
"*Gue janji dan bakalan jamin deh kalau lo bakalan bahagia dan nggak ngerasa sedih lagi, em apalagi Mama lo baru meninggal yah?"
"Em Cia, gue turut berdukacita atas meninggalnya Mama lo dan gue mau ngajak nonton biar lo nggak sedih lagi*."
"Gimana lo mau kan?" tanya Ogi lagi.
Cia kini terdiam tak menjawab apa-apa.
...___***___...
Suara tv terdengar diiringi tubuh Devan yang lelah itu kini duduk di sofanya sambil menatap layar tv. Sorot mata Devan mengarah ke layar tv tapi tidak dengan pikirannya, pikirannya kini hanya mengarah ke Fatima.
Kini rasanya dunia ini sudah tak semenarik lagi. Rumah yang awalnya nyaman karena kehadiran seorang Ibu kini kenyamanan itu menghilang setelah kepergian Fatima yang pergi dengan tiba-tiba.
Suara pintu yang dibanting tidak terlalu keras membuat Devan menoleh menatap Cia yang kini melangkah. Baju lengan panjang berwarna hitam lengkap dengan celana hitam bergaris putih serta tas kecil melekat di tubuh Cia.
"Lo mau kemana, Ci?" tanya Devan cepat lalu bangkit dari sofa.
Cia tak menjawab dengan langkahnya yang terburu-buru ia mengarah ke pintu utama tanpa memperdulikan Devan.
Devan mengkerutkan alisnya menatap heran pada Cia. Entah mau kemana Cia akan pergi. Devan berlari berusaha mencegah langkah Cia yang cepat itu lalu segera menggenggam pergelangan tangan Cia membuat langkah Cia terhenti.
"Cia, lo mau kemana?" tanya Devan sambil menggenggam pergelangan tangan Cia.
Cia menarik tangannya kuat berusaha untuk melepas genggaman Devan yang memegang pergelangan tangannya dengan erat. Semakin kuat Cia melepasnya semakin kuat pula Devan menahan
"Lepasin!" jerit Cia degan sorot mata tajam.
Jeritan itu berhasil membuat Devan tersentak kaget hingga tanpa sadar Devan melepaskan pegangannya dari pergelangan tangan Cia.
Cia menarik nafas panjang lalu membalikkan badannya dan melangkah ke arah pintu dan berniat untuk membuka pintu.
"Cia," panggil Devan lalu kembali memegang tangan Cia.
"Lepasin!" suruh Cia lalu menghempas tangan Devan.
Devan terbelalak dengan hempasan itu.
"Lo mau kemana?" tanya Devan.