Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 65



"Loli, heft." Cia menarik ingus yang nyaris menetes membuat Devan mengkerutkan alisnya menatap Cia dengan tatapan sedikit jijik.


"Dia bilang apa?" tanya Devan.


"Loli bilang ke Cia, kalau Cia nggak bakalan punya pacar karena nggak ada cowok yang mau sama Cia."


"Emang Cia kasar banget, yah sama orang?" tanya Cia menatap Devan dengan penuh sedih membuat Devan terdiam.


"Cia kasar banget yah?" tanya Cia lalu tertunduk sedih membuat Devan menghela nafas.


"Van, bantuin Cia, yah?"


"Cia udah janji sama Loli, kalau Cia bakalan dateng ke acara ulang tahun Loli sama pacar Cia."


"Ci...Ci...Cia mau buktiin sama Loli, kalau Cia juga bisa punya pacar dan Cia nggak sekasar itu sama orang." Cia menangis lagi bahkan ini tangisan yang murni bukan tangisan yang Cia buat-buat untuk menyentuh hati Devan agar ia luluh. Ini benar nyata.


Kini suasana diantara mereka menjadi sunyi menyisakan Cia kini terisak.


"Cia, gue-"


"Van!" panggil Cia sembari mengenggam tangan Devan.


"Cariin pacar buat Cia, Van!"


"Cariin pacar buat Cia! Ya, Van? Cia mohon!"


Devan masih terdiam memikirkan sesuatu. Devan tak mungkin membiarkan anaknya itu tertekan dengan perkataan Loli atau pun yang lainnya. Devan sayang sama dengan putrinya, Cia.


"Van, gue...eh-"


"Cia nggak boleh nangis!" bisik Devan sembari tersenyum.


Perlahan Devan mengangkat tangannya dengan perlahan sambil memegang kedua pipi Cia yang masih basah dengan kedua tangannya.


"Tapi lo mau kan bantuin gue?"


Devan kembali tersenyum lalu mengangguk.


"Devan bakalan bantuin Cia kok," ujar Devan sambil membuat Cia tersenyum kegirangan dengan kedua matanya yang berbinar lalu tak menuggu waktu lama ia memeluk tubuh Devan dengan erat.


"Ye ye ye ye ye berhasil!!! Berhasil!!! Berhasil!!!" Nyanyi Cia dengan sangat gembira.


Rasanya Cia ingin melompat dan menari mengelilingi gurun pasir Zahara, menguras sumur rumah, memindahkan laut dengan sendok, ahhhhhhh Cia benar-benar sangat bahagia.


"Beneran?" tanya Cia lagi.


"Iya," jawab Devan.


Devan melepas pelukannya lalu menatap wajah bahagia Cia yang kini sangat bahagia. Berbeda jauh dengan wajah Cia tadi yang benar-benar sangat sedih.


"Yah udah sekarang lo pakai baju yang cantik dan-"


"Siap!!!" sorak Cia semangat sembari memberi hormat.


"Belum selesai ngomong juga!"


"Ya maaf, Cia kan seneng, hehehe."


"Hem, terus lo dandang yang cantik!"


"Siap!!!" jawab Cia lagi dengan sangat semangat.


"Dan jangan lupa!"


"Apa?" tanya Cia serius.


"Maaaaaa!!!"


"Ma?"


"Mandi!!!" tunjuk Devan.


"Aaaaah!!! Nggak mau ah!" Kesal Cia sambil mengeliat di lantai membuat Devan menggeleng.


"Ci astaga!!! Cuman mandi doang. Apa susahnya sih?"


"Ya susah."


"Ya susahnya apa Cia? Cuman mandi kok?"


"Ya susah, Van!" jawab Cia yang masih terbaring di lantai setelah menggeliat seperti cacing kepanasan.


"Yah susahnya apa?" tanya Devan sembari menatap Cia yang terdiam setelah sejak tadi terbaring di lantai.


"Yah susah."


"Apa? Susahnya apa?" tanya Devan.


Cia bangkit dari lantai lalu menatap Devan dengan tatapan tajam seakan siap untuk menikam Devan dengan bertbi-tubi.


"Lo dengerin gue!" tunjuk Cia.


"Hem."


"Yang pertama gue nggak mau basah!"


"Aa?" Tatap Devan tak percaya.


"Astaga Cia-"


"Eits! Cia belum selesai ngomong! Yang ketiga Cia udah cantik jadi nggak perlu mandi," Jelas Cia lagi.


"Cia, bau nggak mandang fisik!" ujar Devan.


"Terserah pokoknya Cia nggak mau mandi!"


Devan terdiam menatap Cia yang kini menopang pinggang. Devan memijat dahinya yang terasa pening setelah mendengar ujaran Cia.


"Ci, lo dengerin gue!"


"Nggak!"


"Lo bilang lo nggak mau capek cuci pakaian kotor tapi selama ini gue yang cuci baju lo, bukan lo!" tunjuk Devan.


"Yah terserah, pokonya Cia nggak mau mandi!" putus Cia.


"Ya udah nggak usah mandi!" ujar Devan pasrah.


Cia berbinar menatap Devan dengan tatapan sangat bahagia setelah mendengar hal tersebut.


"Hah?!!! Yang bener?" tanya Cia sambil melompat bahagia.


"Em," sahut Devan malas.


"Yeeeees!!!" teriak Cia.


"Tapi kita batal cari pacarnya," ujar Devan lalu bangkit dari lantai dan melangkah pergi membuat Cia melongo dan ikut bangkit dari lantai.


"Batal?" tanyanya sendiri.


"Loh kok gitu?" tanya Cia tak terima sembari melangkah mengikuti langkah Devan.


"Nggak ada protes!!!" tegas Devan singkat sembari terus melangkah.


"Kok gitu sih?"


"Yah lo juga nggak mau mandi, yah udah nggak usah."


"Ya udah, Cia mandi !" teriak Cia.


Devan menghentikan langkahnya lalu tersenyum setelah mendengar perkataan Cia yang kini mengalah. Memangnya apa susahnya sih mandi? Apa ini sangat susah?


Devan menoleh menatap Cia yang kini terlihat cemberut setelah mengucapkan hal itu.


Devan mengangguk lalu berujar dengan singkat, "Ok," lalu kembali membelakangi Cia.


"Ok. Gue tunggu lo di bengkel!" ujar Devan.


"Siaaaaap!!!" teriak Cia.


..._____****_____...


"Yah selanjutnya!!!" Teriak Yuang


Yuang yang duduk di kursi sambil menatap ke arah antrian yang nampak berbaris begitu panjang dan rapih.


Hari ini bengkel nampak begitu sangat ramai dengan ratusan pria dari bebagai kalangan, bukan karena menanti motor atau mobilnya yang rusak melainkan untuk mendaftarkan diri menjadi calon pacar Cia walau hanya sehari.


Devan terdiam menatap kerumunan itu, Devan tak berniat melakukan ini semua dengan mengumpulkan orang-orang di bengkel, tetapi ini semua adalah ide dari si Mamat sehingga mengumpulkan ratusan pria. Sebagian besar pria yang berjejer rapi ini adalah anggota geng Exoplanet dan pria-pria dekat rumah yang telah mendengar pengumuman yang Mamat ucapkan di pinggir jalan raya dan di masjid.


Yuang menatap pria bertubuh gendut dengan helm hitam yang menutup wajahnya.


"Heh!!! buka helm! Lu mau ngedaftal atau mau balapan?" cerocos Yuang.


"Ngedaftar, Koh," ujar pria itu.


"Buka elem lu!"


Pria itu mengangguk lalu melepas helm dari kepalanya. Yuang terbelalak menatap pria gemuk itu yang memiliki kumis cukup tebal sampai-sampai menutup semua bibirnya.


"Lah tuh apa tuh?" Tunjuk Yuang ke arah kumis pria itu.


"Bulu kucing kali!!!" teriak Jojon yang sedang duduk di sebelah Yuang.


"Loh kok bulu kucing? Ini kumis, Mas!" jelas pria itu sambil mengusap kumisnya.


"Lu udah belapa abad nggak potong kumis? Hah?" Tanya Yuang.


"Lo bonding yah?" Tambah Jojon lagi .


"Iya, Mas," jawab pria itu sambil cengengesan.


"Punya apa Lo ngedaftar jadi pacar Cia?"


Pria itu tertawa seakan tak menyangka mendengar pertanyaan bodoh Jojon kepadanya.


"Ih ketawa!" Tatap Jojon dengan tatapan memandang aneh pada pria itu.


"Punya apa lu?" tanya Yuang.


"Ini!" Pria itu mengusap kumisnya dengan percaya diri membuat Yuang dan Jojon melongo.