Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 145



Kemarin...


Suara bel yang menunjukkan jam pelajaran yang sedang berlangsung itu akhirnya diakhiri dengan pamitan dari Bu Lia. Semua murid-murid kini melangkah keluar dari kelas setelah merapikan peralatan belajarnya ke dalam tas.


Satu persatu semuanya melangkah keluar dari ruangan kelas menyisakan Fika dan Yuna di dalam kelas.


Fika masih terpatung di tempat duduknya dengan tatapan kosong. Fika benar-benar sangat merasakan sakit di hatinya setelah mengigat Adelio yang lebih memilih untuk menarik tangan Cia dan memilih untuk menghempas tangannya begitu saja tanpa menoleh menatapnya ketika ia pergi.


"Fika!" panggil Yuna meninggikan nada suaranya ketika sejak tadi ia berusaha memanggil Fika.


Fika menoleh menatap Yuna tak, ia berucap sedikit pun.


"Lo kenapa?" tanya Yuna.


Fika tersenyum lalu menggeleng.


"Lo nggak pulang?" tanya Yuna sambil menaikkan kursi ke meja.


"Nggak! Gue tunggu si Cia dulu, gue kan pulangnya sama si Cia," jelas Fika memberi tahu.


Yuna mengangguk mengerti lalu mempercepat langkahnya, menggapai kursi yang tersisa satu yang belum di naikkan ke atas permukaan meja.


Fika kini kembali tertunduk, ia kembali mengingat hal itu.


"Ka," panggil Yuna lagi.


Fika melirik pelan Yuna yang kini sudah berdiri di pintu masuk kelas.


"Gue pulang duluan yah," ujar Yuna memberitahu.


Fika mengangguk, tanpa diiringi senyuman dari bibirnya. Kini bibir Fika seakan terkunci untuk memberikan senyum. Rasanya Fika ingin menangis sekarang dan tinggal menunggu Yuna untuk pergi. Fika kini kembali tertunduk setelah Yuna melangkah pergi sambil melambaikan tangannya ke arah Fika.


Sekarang jam telah menunjukkan pukul 2 siang. kini suasana kelas dan sekolah begitu sangat sunyi, tak ada orang lagi di sekolah selain Fika dan...


"Loh?" Tatap Pak Martin heran.


Fika kini bangkit dari kursinya menatap Pak Martin yang nyaris menutup pintu kelas.


"Loh kok kamu nggak pulang?" Tunjuk pak Martin.


"Saya lagi nungguin teman saya, Pak, si Cia," ujar Fika memberitahu.


"Oh si berandal itu."


Fika mengangguk mengiyakan.


"Yah sudah, kalau nanti kamu mau pulang pintunya di tutup saja yah!"


"Iya Pak Martin"


Pak Martin kini mengangguk lalu melangkah ke kelas-kelas lain yang belum di kunci meninggalkan Fika yang kini mematung.


Fika kini duduk di atas meja. Sebenarnya niatnya di sini bukan untuk menunggu Cia tetapi untuk mengungkapkan perasaanya kepada Adelio. Fika telah memikirkan ini matang-matang dan ini sudah bulat. Fika tak mau jika Cia merebut Adelio darinya, yah walaupun Fika sadar jika sebenarnya Adelio punya rasa dengan Cia dan sebelum rasa itu lebih besar maka ia harus bisa memutuskan rasa itu.


Di setiap malam Fika selalu terbayang perilaku Adelio kepada Cia yang memperlakukannya dengan cara yang nampak istimewa. Tatapan Adelio kepada Cia berbeda saat Adelio menatap Fika.


Hal yang selalu terbayang adalah disaat Adelio menolong Cia yang rela mengorbankan jasnya yang putih bersih itu terkena kotoran cup cake di pesta ulang tahun Loli, Adelio rela memberikan topinya kepada Cia disaat upacara penaikan bendera merah putih di hari senin itu dan membiarkannya dihukum oleh pak Yanto dan Adelio juga telah menolong Cia disaat Cia di ganggu oleh Ogi di kantin.


Kini Fika sadar jika Adelio punya rasa kepada Cia. Hal yang membuat Fika yakin adalah disaat tangannya dihempas begitu saja oleh Adelio. Fika akui ini sangat sakit menyakitkan dan membuat luka di hatinya. Jujur saja, Fika tak pernah mengharapkan ini.


"Aaaaaaaaaa!!!" teriak Fika penuh kepedihan membuang tubuhnya ke lantai kelas begitu saja.


Fika sadar untuk semua itu. Fika tahu jika wajah Cia memang sangat cantik sedangkan wajahnya tak secantik dengan wajah Cia, tapi mengapa seperti ini? Pria mana yang tak suka dengan Cia, bahkan sekarang Ogi juga mulai mendekati Cia.


"Aaaaaaa!!!" teriak Fika lagi.


Fika menangis sejadi-jadinya diiringi suara teriakan yang menggema di dalam ruangan kelas. Kini sekolah benar-benar kosong jadi tak ada lagi yang dapat mendengar suara tangisan Fika.


"Kenapa seperti ini?!!" teriak Fika menengadahkan wajahnya ke langit-langit ruangan kelas sambil menjambak rambutnya sendiri.


Suara kepedihan itu masih menggema di dalam ruangan kelas yang hanya disaksikan oleh benda-benda mati yang ada di dalam ruangan sunyi ini


Suara detak jarum jam yang menunjukkan pukul tiga di dinding ruangan terdengar ketika tubuh lemas Fika yang sedari tadi mencurahkan isi hatinya itu terduduk di atas meja dengan suasana yang hening. Tak lagi berteriak dengan tangisannya.


Kaca mata bulat yang Fika gunakan  kini nampak kabur setelah dihalang oleh tetesan air mata yang meleset menghantam permukaan kacanya. Kini kelopak mata Fika benar-benar bengkak di tambah suaranya yang serak setelah berteriak tadi.


Fika melirik tas Adelio dan Fika yang berada di belakangnya membuatnya tersenyum sinis, senyum yang begitu sinis dan menakutkan.


Suara langkah terdengar mendekati ruangan kelas yang perlahan suara langkah itu semakin terdengar jelas.


Air mata itu tak jatuh lagi ketika Fika menatap Adelio yang kini menghentikan langkahnya menatap Fika yang duduk di atas meja. Fika tahu jika Adelio terdiam karena keadaan Fika yang tak seperti biasanya, mata yang sembab serta kelopak mata yang bengkak ditambah lagi dengan rambutnya yang acak-acakan. 


Fika kini bangkit dari meja lalu menatap Adelio dengan wajah sedihnya itu.


"Fika?" Suara kecil Adelio terdengar samar-samar.


Fika kini melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Adelio. Adelio juga ikut melangkah mendekati Fika, masih dengan tatapan herannya. Langkah keduanya kini terhenti ketika jaraknya sudah dekat. Mereka bertatapan begitu sangat lama.


"Gue mau ngomong sama lo," ujar Fika.


Wajah Fika kini benar-benar serius mengucapakan kalimat itu. Kini Fika telah mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaan suka dan cintanya sekarang juga kepada Adelio. Fika tak peduli jika ia adalah seorang wanita dan tugas seorang wanita bukan untuk mengungkapkan perasaanya terlebih dahulu kepada orang yang disukai. Yang Fika tahu, Fika cinta dengan Adelio.


Fika menarik nafas dalam-dalam dari hidungnya itu tetap degan pandangannya menatap Adelio.


"Gue suka sama lo," ujar Fika.


Kalimat itu kini terlontar dari mulut Fika, membuatnya sedikit tersedak dengan air liurnya sendiri. Rasanya ini belum melegakan hatinya menatap Adelio yang nampak terbelalak kaget, yah siapa pun akan terkejut mendengar hal yang tidak diduga.


Fika kini masih terdiam menanti Adelio angkat bicara. Bibirnya kini bergerak, entah apa yang akan Adelio katakan kepada Fika.


"Aku nggak suka sama kamu," ujar Adelio.


Seakan sesuatu yang berat menghantam dada Fika begitu kasar dan membuatnya begitu merasakan sakit di hatinya. Ini lebih menyakitkan di banding diiris dengan belati yang tajam. Seketika air mata Fika menetes lagi membasah pipinya.


"Kenapa? Kenapa lo nggak suka sama gue?" tanya Fika dengan nada gemetar.


Adelio menggeleng lalu tertunduk .


"Apa kerena Cia?" tanya Fika lagi.


Adelio yang tertunduk itu kini mengangkat pandanganya menatap Fika. Fika tau jika Adelio akan terkejut dengan ucapannya itu yang telah menyebut nama Cia.


"Lo nggak suka sama gue, karena lo suka sama Cia, iya kan?"


Fika kini terdiam menanti Adelio angkat bicara.


"Iya, aku suka sama Cia," ujar Adelio.


Ini sangat sakit, Fika merasakan rasa sakit itu sekarang bahkan begitu sangat sakit setelah kalimat itu terdengar jelas.


Fika melipat bibirnya ke dalam berusaha tak berteriak, dengan sekuat tenaga Fika mencengkram jari-jarinya berusaha menguatkan diri. Tubuhnya gemetar hebat. Fika menganggukkan kepalannya, mengerti.


"Gue tahu Cia cantik itu sebabnya lo suka sama dia, iya kan?"


"Bukan!" bantah Adelio cepat.


Fika tersenyum sinis.


"Mungkin aku bisa suka sama kamu jika saja disaat pertama kali aku datang ke sekolah ini dan aku bertemu dengan kamu, tapi aku tidak lihat kamu dan Cia, Cia adalah orang yang pertama kali ada dekat aku di sekolah ini dan membuat aku di hukum bersama."


"Cia adalah orang yang dekat denganku saat pertama kali masuk sekolah."


"Kamu cantik, Ka, tapi terkadang hati tidak melihat muka, tapi hati melihat dengan siapa ia terbiasa."


"Aku terbiasa bersama dengan Cia dan itu yang membuat aku suka dan cinta dengan Cia," ujar Adelio lagi.


Fika kini menangis bahkan nyaris bersuara. Dengan cepat Adelio memeluk tubuh lemas Fika dan membiarkannya menangis di pelukannya.


"Aku minta maaf," bisik Adelio sambil mengelus rambut Fika dengan lembut.


...___***____...


"Itu yang Adelio bilang sama gue," ujar Fika menyudahi.


Mulut Cia terbuka setelah mengetahui ini semua. Ini semua tak seperti apa yang Cia pikirkan di saat ia mengintip di luar pintu. Cia menyangka jika mereka berdua telah berpacaran dengan pelukan itu.


Adelio mencintai Cia.


Tanpa sepatah kata Cia membalikkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Fika yang kini hanya terdiam.


"Adelio suka sama gue?"