Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 222



"Keluarga saudara Devan!" ujar dokter itu.


Semua yang mendengar ujaran sang dokter dengan cepat menoleh membuat suasana kini menjadi sangat panik dan tegang.


"Saya dok!" ujar Cia cepat lalu segera berlari ke arah dokter disusul dengan yang lainnya yang ikut berlari menghampiri dokter itu.


Disatu sisi para montir kini terlihat sangat kebingungan ketika Dokter itu menyebut nama Devan dan bukan menyebut nama Ceo seperti apa yang selama ini mereka ketahui. Terlebih lagi saat Cia berlari saat nama itu disebut.


"Devan siapa?" tanya Jojon yang kini seakan bimbang, ia ingin ikut berlari mendekati dokter itu atau hanya diam karena bukan nama Ceo yang dokter itu sebut.


"Sebenarnya nama bos Ceo itu siapa sih?" tanya Mamat yang kini ikut kebingungan.


"Ayah saya kenapa dok?" tanya Cia cepat dengan wajah cemasnya.


"Ayah?" Tatap dokter itu heran menatap Cia yang kini mengangguk pelan sambil terisak.


"Ayah?" ujar para montir kompak sambil saling bertatapan dengan heran setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Cia.


"Maksudnya apa?" bisik Mamat sambil menatap Jojon yang kini kedua matanya membulat sempurna.


"Oe nggak salah dengal kan?" sahut Yuang yang menatap satu persatu para montir yang kini melongo.


"Oh may goad, may may may ekye kaget deh," panik Baby yang menutup mulutnya terbuka karena terkejut.


"Astagfirullah," sahut Adam sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.


"Dam, bukanya Cia itu pacarnya si bos Ceo?" tanya Haikal yang kini berbisik tepat di telinga Adam.


Bukan hanya para montir yang terkejut tapi juga Dokter yang kini mengerutkan alisnya seakan tak percaya jika gadis berseragam SMA ini merupakan pria tampan yang masih berada di dalam sana.


"Saya Anaknya dok. Tolong katakan apa yang terjadi dengan Ayah saya!" harap Cia dengan penuh kekhawatiran.


Dokter itu menggeleng seakan berusaha untuk menyingkirkan pikiranya yang kini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang kebenaran jika gadis ini adalah Anak dari pria tampan itu.   


"Dok, kenapa dokter diam? Ayo Dok jawab! Ayah saya baik-baik saja kan?" tanya Cia dengan kesal. Sedari tadi dokter itu hanya diam tanpa ia tahu mengapa dokter itu hanya terus menatapnya.


"Cia, kamu harus sabar dan tenang!" bisik Adelio sambil mengelus bahu Cia.


"Iya, Cia. Lo harus sabar! Lo harus sabar dan nggak boleh emosi!" bisik Fika.


"Iya gue tahu Fik, tapi dari tadi dia nggak jawab apa-apa!" kesal Cia.


Dokter itu menghela nafas panjang lalu berusaha untuk kembali kepada tujuannya untuk menyampaikan informasi mengenai keadaan Devan.


"Maaf kan saya, saya hanya sedikit bingung karena kamu mengatakan jika pria yang ada di dalam adalah Ayah kamu."


"Yah emang itu Ayah saya dok," jawab Cia cepat .


"Apa Anda serius?" tanya Dokter itu.


"Yah serius lah, Dokter nggak percaya. Saya ini Anaknya, mau tes DNA iya biar dokter percaya," kesal Cia.


Para montir kini kembali terbalalak kaget. Jadi benar jika Cia adalah Anak dari bosnya yang masih muda itu.


"Anjrit, jadi selama ini gue godain Cia di depan Ayahnya sendiri," sahut Jojon dengan wajah polosnya. Yah semua yang ia lakukan dimana ia menggoda Cia bermunculan di pikirannya.


"Dokter mau tes DNA?" tawar Cia.


"Eh tidak usah! Saya percaya."


"Jadi Ayah saya bagaimana Dok?"


"Luka tembakan di bagian perut Ayah kamu sangat mengeluarkan banyak darah dan itu sangat berbahaya bagi Ayah kamu."


"Dokter, di perut bos Ceo eh maksudnya Devan udah di dor dok sama orang jahat," ujar Mamat.


"Dor?" tanya Dokter itu.


"Kami sudah berusaha untuk segera menahan darah yang terus mengalir dan kami telah mengeluarkan peluru yang bersarang di perut saudara Devan."


"Saudara Devan sangat kehilangan banyak darah untuk itu kami membutuhkan pendonor darah yang cocok dengan golongan darah saudara Devan."


"Setelah kami mengecek golongan darah Devan ternyata Golongan darah saudara Devan adalah AB, ini merupakan golongan darah yang langkah dan tidak banyak orang yang memiliki golongan darah seperti itu."


Semuanya nampak terkejut setelah mendengarkan informasi yang baru saja di jelaskan oleh dokter yang telah menangani Devan.


"Ambil darah saya dok! Ambil darah saya! Golongan darah saya dan Ayah saya pasti sama," ujar Cia sembari menepuk pelan dadanya.


"Maaf dek kami tidak bisa mengambil darah kamu, apa lagi umur kamu yang masih muda untuk melakukan donor darah."


"Tidak apa-apa dokter, Saya mohon dok tolong ambil darah saya!"


"Maaf dek kami tetap tidak bisa, ini bisa membuat kesehatan Anda yang terganggu."


Cia meledakkan tangisannya lalu segera melangkah dan lebih mendekat ke arah dokter.


"Saya mohon dok! Tolong ambil darah saya!"


"Saya nggak peduli kalau sesuatu terjadi dengan saya, saya hanya mau Ayah saya selamat dokter."


 


"Maaf Dek kami tetap tidak bisa," tolak dokter itu membuat Cia terisak.


"Apa di rumah sakit tidak punya persediaan darah AB dokter?" Tanya Julia.


"Persediaan darah AB di rumah sakit sekarang sedang kosong dan..." suara Dokter itu memelan membuat Cia menghentikan tangisannya lalu menatap serius ke arah dokter itu.


"Dan apa Dokter?" tanya Cia.


"Waktu kalian tidak banyak, kalian harus cepat mencari pendonor darah untuk Devan jika tidak nyawa Devan tidak tertolong, Saya permisi," jelas Dokter itu.


Dokter itu beranjak pergi meninggalkan para gerombolan orang-orang yang sekarang sudah semakin cemas setelah mendengar kabar buruk ini.


"Sekarang gimana Ka?" tanya Cia sembari kembali memeluk tubuh Fika yang kini juga ikut cemas.


"Kita harus cepat mencari golongan darah AB untuk Devan," ujar Firdha sambil melangkah mendekati Cia.


Para montir yang sedari tadi sibuk mencemaskan Devan kini kembali melirik kasya yang kini terdiam di tempat duduknya.  


"Ini bukan hantu," bisik Adam tepat di telinga Mamat yang mematung menatap Kasya.


 


"Kok ada orang gila di sini?" bisik Jojon sambil menggeliat di bahu mamat, ini pertama kalinya Jojon melihat makhluk yang berpenampilan seperti ini. 


"Lepas kali nih dari sarangnya," jawab Mamat yang sedari tadi juga memperhatikan Kasya.


"Saya akan menelfon beberapa keluarga Tante mungkin, ada salah satu dari mereka yang memiliki golongan darah AB," ujar Julia.


"Makasih yah Tante," ujar Cia setelah melepas pelukannya dari Fika.


Julia tersenyum lalu mengangguk pelan dan melangkah pergi sambil memaingkan jari di layar handphonenya.


"Aku juga Ci, aku bakalan sebar di media sosial dan mungkin setelah kita menyebarkan info ada yang mau mendonorkan darah AB untuk Ayah kamu," ujar Fika.


"Aku setuju, dengan cara seperti ini kita bisa mendapatkan pendonor darah lebih mudah," sahut Deon dengan penuh semangat sambil mengacungkan jarinya.


Para montir kini langsung menatap serius ke arah Deon yang masih tersenyum sambil mengacungkan jari telunjuknya. Sepertinya otak Deon sangat encer di menit ini atau lebih tepatnya karena kalimat Fika yang langsung mudah di cerna oleh Deon.


"Tunggu-tunggu!" ujar Mamat menatap ke arah orang-orang yang kini sedang menatapnya dengan sangat serius.


"Diantara kalian siapa yang golongan darahnya AB?" Tunjuk Mamat dengan tatapannya yang menatap ke arah semua orang-orang yang kini saling bertatapan.