Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 141



Adelio tertunduk diiringi helaan nafas panjang, rasanya Adelio telah lelah untuk terus berusaha menjauhi Cia dan mengabaikannya tapi ini semua harus Adelio lakukan atas permintaan pacar Cia yang menyuruhnya untuk menjauhi Cia.


"Maafin aku Cia," gumam Adelio.


Kini Cia terdiam lalu segera duduk di kursinya tepat di belakang Adelio, Yap kini ia menyerah. Kini yang mencuri perhatian Cia adalah kursi Fika yang nampak kosong, tak ada Fika di sana. Entah kemana Fika hingga ia tak datang ke sekolah, ini sudah yang kedua kalinya Fika tak ke sekolah. Mungkinkah dia sakit?


Jam pelajaran dimulai ketika Bu Nani telah memasuki ruangan kelas mengisi jam pelajaran hari ini dengan materinya. Sesekali Cia menggerakkan kepalanya menatap Adelio yang sejak tadi tak menoleh atau bahkan bicara dengannya.


Sebenarnya Cia ingin sekali meminta maaf tapi sejak tadi Adelio tak menoleh. Cia tahu jika gara-gara dia sehingga wajah Adelio sampai lupa seperti itu. Rasanya sangat menyebalkan.


Jam pelajaran istirahat di mulai, semua siswa dan siswi nampak bergegas keluar dari ruangan kelas setelah Bu Nani mengakhiri pelajarannya dan berpamitan pergi.


Cia terdiam di kursinya sambil menopang dagunya di meja. Hari ini cukup membosankan bagi Cia, walaupun Adelio telah datang ke sekolah tapi rasanya Adelio seperti sebuah bintang di siang hari, ada tapi tak terlihat.


Di ruangan kelas kini hanya ada Cia dan Adelio sementara yang lain sudah keluar kelas menuju kantin dan di tempat biasa mereka menghabiskan waktu istirahatnya. Kini suasana sangat sunyi yang terdengar hanyalah suara detakkan suara jarum jam.


Cia menghela nafas beratnya lalu segera meraih tas hitamnya dan menenggelamkan wajahnya. Bersikap dingin itu lumayan melelahkan, entah mengapa Adelio bisa bertahan dengan sikap dinginnya ini.


"Dor!!!" Suara teriakan seorang pria terdengar diiringi sentuhan yang tiba-tiba di kedua bahu Cia membuat Cia tersentak kaget.


Cia yang terbelalak itu kini membangkitkan kepalanya dari tas hitamnya itu lalu mengkerutkan alisnya menatap Ogi di sana.


"Ogi?" Tatap Cia kebigungan.


Cia begitu bingung entah dari mana datanya pria fuckboy ini hingga tiba-tiba datang dan mengagetkannya seperti sebuah bom yang di lempar tanpa aba-aba.


Adelio menoleh menatap Ogi dan Cia yang kini nampak bertatapan muka lalu beberapa saat Adelio kembali menggerakkan kepalanya membelakangi mereka.


"Hay Cia," sapa Ogi kegirangan lalu menopang dagunya menatap Cia sambil tersenyum manis.


"Lo ngapain di sini?" Tatap Cia sinis.


"Yah gue mau ketemu sama lo," jawabnya.


"Pergi! Pergi! Gue nggak mau ketemu sama lo," ujar Cia sambil mendorong tubuh Ogi pelan.


"Loh? Lo kan sahabat gue, iya kan?" tanya Ogi menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum paling manis.


"Sahabat?" Tatap Cia heran.


"Ya iya lah," jawabnya percaya diri.


"Sana! Gue nggak mau jadi sahabat lo!" Dorong Cia lagi.


"Kok gitu sih?" Tatap Ogi sedih.


"Malah nanya lagi loh, gue nggak mau jadi sahabat lo," ujar Cia lalu segera bangkit dari kursinya dan melangkah keluar dari kelas meninggalkan Ogi yang kini terdiam.


...___***___...


Cia kini sibuk menguyah baksonya yang masih panas itu setelah ia memesannya oleh mang Adang yang kini sibuk melayani para siswa dan siswi. Baru kali ini Cia datang dan makan di kantin sendirian. Biasanya Cia selalu bersama oleh Fika dan Adelio.


Cia sempat ingin bergabung dengan Faririn dan Yuna namun, rasanya Cia malu jika harus bergabung dan duduk tanpa diajak oleh mereka.


"Hay Cia," sapa Ogi lagi lalu duduk di samping Cia.


Cia terbelalak menatap Ogi yang kini berada di sampingnya lalu dengan cepat menelan paksa bakso yang berada di dalam mulutnya itu.


Para pengunjung kantin ini nampak menatap serius ke arah Ogi dan Cia yang kini duduk berdekatan. Mereka semua nampak kebigungan melihat kedekatan mereka.


"Lo lagi." Tunjuk Cia kejam seakan tak pernah menyangka jika Ogi akan datang ke kantin dan menghampirinya.


"Yah iya dong gue lagi, masa pacar lo yang penyakitan itu yang duduk di sini sama lo," ujar Ogi lalu tertawa.


Cia mengkerutkan alisnya setelah mendengar ucapan Ogi. Jadi penyakit yang Cia ucapkan untuk Devan di hari itu sudah tersebar bahkan Ogi pun sudah tahu.


"Pergi lo!" suruh Cia kesal.


"Ini baksonya," ujar mang Adang lalu segera meletakan semangkuk bakso kuah wangi dan segelas air dingin di atas meja.


"Wah, enak nih. Makasih yang Mang Adang," sambut Ogi senang.


"Lo ngapain duduk di sini sih?" tanya Cia, geram.


"Yah mau makan lah masa gue duduk di sini mau tidur?" jelas Ogi sedikit tertawa.


Cia menghela berat, pria ini sangat menyebalkan.


"Yah lo kenapa harus duduk di sini sini sih? Bisa nggak sih lo duduk di kursi lain aja, nggak usah si dini? Kan banyak tuh kursi yang kosong dan lo nggak usah duduk duduk di sini!" oceh Cia.


"Yah gue kan cuman mau duduk di sini, mana tau kan lo berubah pikiran terus mau nerima gue jadi sahabat lo, iya kan?"


"Gue nggak mau jadi sahabat lo," Jawab Cia penuh tekanan sambil menatap tajam Ogi.


"Hah terserah! Pokoknya lo harus nerima gue jadi sahabat lo."


"Nggak!" tolak Cia singkat.


"Yah terserah," ujar Ogi lalu segera mengaduk kuah baksonya.


"Lo kenapa sih harus duduk si sini?" tanya Cia lagi


"Yah karena gue mau duduk di sini," jawab Ogi.


"Yah udah lo aja yang duduk di sini! Gue mau pindah," ujar Cia sambil mengangkat mangkuknya.


"Lo pindah,gue juga pindah," ujar Ogi sambil ikut mengangkat mangkuknya.


Cia terbelalak dengan wajahnya yang merah karena marah. Cia tak mengerti mengapa Ogi sangat menyebalkan.


Cia kembali menghela nafas lelah, yah lelah menghadapi sikap Ogi yang keras kepala. Cia kembali duduk di kursi dan meletakkan mangkuknya di atas meja begitu juga dengan Ogi.


"Emmmmm lezat banget," ujar Ogi dengan wajahnya yang nampak takjub sambil mengunyah bakso di mulutnya.


Semua penghuni kantin kini menoleh menatap Ogi, suara Ogi yang sengaja di keraskan itu berhasil mencuri perhatian semuanya, membuat semua orang menoleh.


"Ini, ini bakso yang paling enak yang pernah gue makan," ujar Ogi sambil menggeleng.


"Gila beh rasanya enak banget, apa lagi kuahnya beh mantap!!!"


Cia terdiam di samping Ogi dengan wajah datarnya.


"Kok bisa enak gini yah?" Tatap Ogi melirik Cia.


"Waduh ini pasti karena gue makan di samping lo deh jadi rasanya enak banget."


"Sruup ahhh, enak banget," ujar Ogi setelah menyeruput kuah bakso itu.


"Lebay banget sih," ujar Cia sinis yang akhirnya tak tahan menahan kalimat itu.


Ogi terdiam dengan wajah datarnya.


"Nggak pernah makan bakso lo sampai harus seeeeelebay itu?"


"Em, emang lebah yah?" tanya Ogi.


"Lebay, lebay banget. Yang lo lakuin tadi itu sangat lebay tahu nggak," oceh Cia lagi lalu segera melangkah keluar dari kantin meninggalkan Ogi yang kini terdiam degan wajah datarnya.


Ogi menghela nafas berat. Rasanya sangat sukar untuk mendapatkan perhatian dan hati dari Cia. Kini Ogi tak tau lagi harus melakukan apa kepada Cia. Jika menjadi sahabat bagi Cia saja susah seperti ini bagaimana jika ingin menjadi pacar untuk Cia.


Ini semua tidak mudah.