
"Saya malu kak Ceo." Tunduk Neng Maya sambil meremas jarinya yang kini basah karena gugup.
"Yah kan tinggal di jawab aja."
Neng Maya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Pembalut itu barang yang di gunakan wanita agar darahnya nggak-"
"Nggak tembus," jawab seseorang dari belakang.
Devan dan Neng Maya dengan cepat menoleh menatap Jojon dan Mamat yang kini berada di belakangnya.
"Pembalut itu ada dua macam bos," jelas Jojon.
"Ada yang biasa dan ada yang pake sayap," tambah Mamat semangat sambil menurunkan kursi yang telah Neng Maya letakkan ke atas meja.
Jojon meraih kresek putih dari tangan Devan lalu mengeluarkan pembalut itu dari kresek tersebut.
"Nah kalau yang ini yang ada sayapnya," jelas Jojon menunjuk.
"Kok lo tau?" tanya Devan.
"Nih ada sayapnya," tunjuk Jojon lagi ke arah gambar.
"Nah cara pakainya itu gampang bos, yang pertama ambil celana dalem terus ambil pembalut terus-"
"Terus tempel deh," potong Mamat.
Jojon mendecapkan bibirnya menatap tak suka dengan Mamat yang memotong penjelasanya.
"Sayapnya dilipet dulu ke bawah, bos, terus-"
"Dipake deh," potong Mamat lagi.
Bodohnya Devan mengangguk mengerti, sambil menatap kedua montirnya dengan tatapan serius.
"Kenapa sih lo motong melulu apa yang gue bilang?" Kesal Jojon.
"Yah kan saya cuman membantu begitu masa nggak boleh?" bela Mamat.
"Yah sih ngebantu tapi saat ini gue yang mau jelasin."
"Loh tapi kan saya juga sebagai montir yang baik menurut buku Trisakti pasal 7 ayat 10, kita sebagai montir harus saling membantu dalam situasi dan kondisi bagaimana pun itu," jelasnya.
"Ah!!! Banyak bacot lu!!!" teriak Jojon kesal.
"Tapi bacot itu ada perlunya, Jon," jelasnya lagi.
"Kok harus pake pembalut?" Tanya Devan membuat kedua montir yang sedang beradu mulut itu terdiam dan menoleh menatap Devan.
"Nah gini bos, perempuan itu ngeluarin darah setiap mingu dalam sebulan dari-"
"Ehem," ujar Neng Maya mengingatkan jika ada perempuan di sekitarnya.
Jojon kini terdiam.
"Dari mana?" tanya Devan serius.
"Sini bos biar Jojon bisikin!" ujar Jojon.
Jojon bangkit dari kursi lalu melangkah mendekati Devan. Jojon mulai membisikan sesuatu ke telinga Devan dengan jelas.
Devan terbelalak setelah mendengar bisikan Jojon yang sama sekali tak pernah ia duga jika...
"Ah gila lo!!!" Tatap Devan syok mendorong tubuh jojon ke tanah.
...___***___...
Nafas Devan ngos-ngosan sambil terus berlari menuju rumah. Pembalut yang ia tadi ayun-ayunkan kini telah berada di dalam bajunya. Rasanya ia sangat malu setelah mengetahui kegunaan pembalut ini dari bisikan Jojon tadi.
"Cia!!!" teriak Devan yang kini telah berdiri di depan pintu WC.
"Lo kok nggak bilang, kalau pembalut ini tuh khusus untuk perempuan?" Oceh Devan cepat.
Tak lama pintu WC terbuka disusul tangan Cia yang nampak merentangkan jari-jarinya keluar.
"Pembalut gue!" Minta Cia.
"Kok lo tega banget sih, Ci?"
"Apa sih? Ngajak berantem mulu deh. Cepetan sini!" Cia mengerakkan jari-jarinya meminta pembalut itu.
Devan dengan cepat meletakkan pembalut itu di telapak tangan Cia dengan wajah yang nampak jijik.
Plak!!!
"Lo tega banget sih, Ci sama gue?" ujar Devan lalu bersandar di pintu WC.
"Ahhh pantes ajah karyawan di supermarket tadi kayak..." Devan mengeleng pelan tak melanjutkan ucapannya.
"Ci, lo denger, yah! Gue nggak mau lagi beliin lo kayak gituan, ih," gelinya.
"Gila lo ,Ci!!!" teriak Devan menendang pintu WC lalu melangkah pergi.
Cia melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawa. Sebenarnya Ia tak berniat membuat Devan itu malu karena membeli pembalut untuknya tapi, harus bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.
Cia membaringkan tubuhnya ke kasur menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Hari ini cukup sangat melelahkan bagi Cia.
"Aaaaah!!! Semoga hari esok membahagiakan," teriak Cia lalu memeluk bantal guling nya yang terasa sejuk.
Malam ini begitu melelahkan di akhiri dengan tutupan kelopak matanya. Cia berharap agar hari esoknya penuh dengan keceriaan. Hari ini sungguh sangat melelahkan. Kakinya terasa pegal setelah merangkak dan berlari-larian seperti boronan polisi. Cia harap ia bisa bermimpi indah dan melupakan kejadian malam ini, di mana ia harus menahan malu dan menerima jika Ogi adalah pria yang tak layak untuk menjadi idolanya.
Tok Tok Tok!!!
Suara ketukan pintu dari luar terdengar jelas di telinga Cia membuatnya menggeliat di atas kasurnya.
"Ci, Cia!!!" teriak Devan sembari mengetuk permukaan pintu.
Cia yang masih terbaring itu kini merambah kasurnya hingga jari-jari tangannya berhasil merabah sebuah bantal yang ia gunakan untuk tidur lalu mengangkat dan menutup telinganya.
"Cia!!!" panggil Devan lagi sambil mengetuk pintu cukup keras.
"Gue tau, yah, lo udah bangun."
"Cia!!!" teriak Devan seperti orang kesurupan.
"Gila nih orang, Cia!" panggil Devan lagi sambil menggeleng.
Cia menghempas bantalnya ke kasur lalu bangkit dari kasurnya dengan rambut yang acak-acakan.
"Ihhhh." Kesal Cia memukul bantal lalu bangkit dari kasurnya.
Cia membuka pintu menatap Devan yang kini dengan cepat melempar pelan sebuah sapu. Cia tersentak menangkap sapu itu dengan cepat.
"Apa nih?".l
"Bunga," ujar Devan.
"Bunga?"
"Yah sapu lah, lo nggak liat?" jawab Devan lalu memutar tubuhnya membelakangi Cia sambil membawa sebuah kemoceng.
"Yah terus sapunya buat apa?" Ujar Cia cepat sebelum Devan semakin melangkah jauh darinya.
Devan menoleh memasang wajah datar di sana.
"Yah namanya sapu, yah, buat nyapu."
"Yang mau nyapu siapa sih?"
"Yah lo yang nyapu siapa lagi kalau bukan lo?"
"Ih kenapa harus gue sih?" Tatap Cia kesal menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Cia, Mama sakit jadi rumah udah lama nggak disapu." Nada suara Devan memelan membuat Cia terdiam. Sepertinya ini lumayan serius.
"Tuh lo liat! kotorkan?" Tunjuk Devan ke arah lantai yang nampak terlihat kotor.
Cia ikut menatap ke arah tunjuk Devan dengan raut wajah sedih. Perutnya masih sakit.
"Bersih kok gue liat," ujar Cia menatap Devan.
Devan mendecapkan bibirnya setelah mendengar jawaban dari Cia. Entah mengapa Cia tak mampu melihat kotoran yang ada di lantai itu.
"Yah udah gue mau lanjut tidur," ujar Cia memutar tubuhnya lalu melangkah.
"Heh!!!" teriak Devan lalu dengan cepat ia menarik kerah baju Cia dengan ujung kemoceng yang berbentuk seperti pengait.
"Ih apaan sih?!!!" jerit Cia kesal ketika langkahnya tertahan.
"Lo mau kemana? Hah?" tanya Devan.
"Yah mau masuk lah, terus apa lagi?"
"Hari ini kita bertempur," ujar Devan semangat.
"Apa? Maksud lo apa sih? Kita mau bertempur sama siapa?"