
2 tahun kemudian....
Devan terdiam menanti Yusuf yang sedang sibuk bekerja di dalam ruangannya membuat Devan terdiam sambil menunggu di sebuah kursi panjang rumah sakit.
Cia berlari kiri kanan melintasi tubuh Devan yang mematung di kursi panjang. Sebenarnya di rumah sakit anak kecil berusia 12 tahun ke bawah dilarang masuk ke rumah sakit tapi karena semua orang di rumah sakit tahu jika Cia adalah Anak Yusuf makanya dia diizinkan untuk masuk.
Cia kini telah diangkat menjadi Anak Yusuf bahkan di akte kelahiran Cia di sana tertulis jika Cia adalah anak dari Yusuf dan Istrinya yang telah lama meninggal. Bagi Devan itu semua tak apa, selagi Devan masih bisa bersama dengan Cia, itu tak jadi masalah bagi Devan.
Selama dua tahun ini Devan menyembunyikan identitas Cia jika sebenarnya Cia adalah Anaknya dan bukan Adiknya yang selama ini Yusuf tahu. Devan takut jika Yusuf marah dan mengusir dirinya dari rumah.
Kini umur Devan telah genap tujuh belas tahun dan umur Cia telah berusia lima tahun. Devan juga telah memiliki kartu tanda pengenal yang ia telah di urus oleh Yusuf.
"Ceo," ujar Yusuf lalu segera mendekati Devan membuat Devan dengan cepat bangkit dari kursi.
"Sudah dari tadi menunggu?"
"Tidak terlalu, Dokter Yusuf," jawab Devan.
"Ayo kita pulang! Ciaaaa!" panggil Yusuf sambil menggerakkan jari-jarinya ke arah Cia yang kini tersenyum lalu berlari ke arah Yusuf.
"Ayo kita pulang!" ajak Yusuf lalu menggenggam jari mungil Cia dan tak lupa juga ia menggenggam pergelangan tangan Devan dan segera melangkah bersama.
Mereka terlihat seperti keluarga yang begitu sangat bahagia. Hal ini terbukti. Selama Devan dan Cia tinggal di rumah Yusuf suasana rumah menjadi sangat seru dan Yusuf sering tertawa karena tingkah lucu Cia.
Sekarang tubuh Devan lebih tinggi dari Yusuf, Devan benar-benar telah besar sekarang. Kehidupan Yusuf kini lebih bahagia setelah keberadaan Devan dan Cia. Senyumnya yang dulu hilang karena kehilangan Istri tercintanya kini senyum itu kembali merekah indah.
Ketiganya kini telah tiba di dekat mobil putih milik Yusuf, membuat Yusuf segera membuka pintu mobil, membiarkan Cia masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Devan terdiam lalu menoleh ke belakang menatap seseorang yang kini tengah melangkah mendekatinya.
Mata Devan terbelalak dengan tubuhnya yang gemetar menatap sosok yang sangat ia takuti. Itu adalah Tuan Abraham dan Jef yang nampak menatapnya dengan tatapan penuh serius.
Tanpa sadar Devan melangkah mundur ke belakang dengan kakinya gemetar hebat. Apakah Tuan Abraham dan Jef mengingatnya? Pertanyaan itu seakan memenuhi pikiran Devan dikala keduanya menatap serius ke arahnya. Tetap dengan tubuh gemetarnya, Devan segera berlari masuk ke dalam mobil membuat Yusuf menatapnya dengan tatapan kebigungan.
"Dokter tolong jalankan mobilnya!" pintah Devan sambil sesekali menatap ke arah belakang.
"Ada apa?" tanya Yusuf keherangan.
"Cepat Dok!!!" teriak Devan membuat Yusuf segera masuk ke dalam mobil dan menyalakannya dengan cepat lalu menancapkan gas.
Mobil yang melaju itu berhasil membuat Tuan Abraham dan Jef dengan cepat masuk ke dalam mobil miliknya dan ikut mengejar mobil yang kini tengah dilajukan oleh Yusuf.
Wajah Yusuf nampak ikut panik dikala Devan menangis sambil memeluk tubuh Cia yang kini nampak keherangan. Cia tak tahu mengapa Devan menangis lagipula, Devan tak pernah menceritakan kisah yang sebenarnya pada Cia.
Dokter Yusuf mampu menatap mobil yang melaju cukup kencang, seakan mengejar mereka dari pantulan kaca mobil.
"Cepat Dokter Yusuf!!! Cepat!!!" teriak Devan.
"Kenapa Kak Ceo?" tanya Cia.
"Hust! Diam!" suruh Devan sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Mereka siapa?" tanya Yusuf lengkap dengan wajah paniknya yang kini menghiasi wajahnya yang pucat.
Devan masih menangis, Devan masih trauma dengan kejadian dimana mereka menembak Bapaknya lima tahun yang lalu. Suara tembakan itu seakan terngiang-ngian di pikirannya dan tubuh tak berdaya Bapaknya selalu terbayang-bayang di siang dan malam.
"Mereka siapa?" tanya Yusuf lagi dengan nada suaranya yang terdengar tertekan.
"Di...di...dia Ayah Kasya, mereka orang jahat," jawab Devan di sela-sela tangisannya yang sudah pecah membuat pipinya basah.
"Kasya?" Tatap dokter Yusuf heran.
Devan mendadak diam. Ia tak sengaja mengatakan hal itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Saya minta maaf Dokter."
"Kenapa kamu minta maaf? Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari saya, Ceo?" tanya Yusuf.
"Saya minta maaf Dokter Yusuf, sebenarnya...Sebenarnya-"
"Sebenarnya apa?" potong Yusuf.
"Sebenarnya Cia bukan Adik saya," jawab Devan.
Devan menganga saat mendengarnya.
"Lalu Cia siapa? Apakah dia Anak dari Bunda si penjaga panti asuhan itu?"
"Bu...bu...bukan Dokter, Cia bukan Anak Bunda ta...ta...tapi Cia adalah-"
"Siapa?"
"Cia Anak saya dan Kasya," jawab Devan sembari memejamkan kedua matanya seakan tak mau melihat wajah kaget Yusuf setelah mendengarnya
Mobil yang Yusuf lajukan kini terhenti secara tiba-tiba membuat tubuh Devan terhempas ke depan. Mata dokter Yusuf terbelalak setelah mendegarnya, ini sangat mustahil.
"Anak?" Tatap Yusuf dengan tatapan yang tak percaya ke arah Devan yang kini mengangguk ragu.
PIIIIIIP
Suara klakson mobil terdengar di belakang sana namun tak berhasil membuat Yusuf sadar dari tatapannya yang masih serius menatap Devan.
"Apa yang-"
"Mereka marah karena Devan telah menghamili Kasya," potong Devan berhasil membuat Yusuf berhasil tak melanjutkan ujarannya.
"Menghamili?" Tatap Yusuf tak percaya.
"Saya minta maaf Dokter, saya sangat minta maaf."
"Kamu berbohong kepada saya."
"Saya minta maaf, saya takut jika saya mengatakan yang sebenarnya kepada Dokter, Dokter akan marah kepada saya dan melaporkan saya kepada Tuan Abraham," jelas Devan.
"Abraham?"
"Tuan Abraham, mereka yang telah membunuh Bapak saya, Dokter dan mereka berniat untuk membunuh saya dan Cia juga," jelas Devan dengan tangisannya yang sesegukkan.
Yusuf masih terdiam tak percaya dengan hal ini.
"Tolong selamat kan saya Dokter!" Tatap Devan penuh harap sementara Yusuf masih terdiam.
"Tolong selamat kan saya dan Cia! Saya tidak mau mati Dokter," ujar Devan lagi dengan tubuhnya yang gemetar.
PIIIIIIP
Suara klakson yang terdengar dari belakang sana membuat dokter Yusuf tersadar dari lamunannya. Tak lama Jef berlari dengan tergesa-gesa ke arah mobil Yusuf membuat Devan memangis dan segera bertelungkup di bawah samping tempat duduk dengan tubuhnya yang gemetar di tempat, ia benar-benar sangat takut.
Yusuf terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu.
"Saya akan menolong kamu. Hari ini kita akan ke bandara dan kita akan tinggal di Jakarta," ujar Yusuf.