Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 42



Gadis itu tersenyum manis lalu menatap burung-burung kecil yang berterbangan di langit biru tanpa memperdulikan teriakan orang-orang dari bawah sana yang memanggilnya. Bulumatanya nampak lentik dengan alis hitam yang mengikuti garis kelopak matanya yang indah. Bibir tipisnya itu nampak mengering berwarna agak kecoklatan dan paras wajahnya begitu cantik walau terdapat banyak goresan luka di pipinya yang sudah mengering. Rambut panjang sampai betis itu nampak berayun ditiup angin yang membelai rambutnya. Kulitnya terlihat putih serta kuku-kuku yang terlihat memanjang, karena tak ada yang berani memotongnya. 


Gadis berbaju putih yang biasa dipanggil Kasya itu melepas pegangan jari-jarinya dari jendela kamar lalu melambaikan jari-jarinya yang nampak mengeluarkan darah.


"Aaaaaaaa!!!" teriak Naini histeris melihat Kasya yang melepas pegangannya dari jendela.


"Non Kasya!!! jangan lepas tangannya Non, nanti Non jatuh!!!"


"Bagaimana ini, Bu Naini?" tanya Madi gelisah.


"Saya juga tidak tau."


"Saya takut jika, Kasya melompat dari jendela dan pasti tuan Abraham akan marah lalu menyalahkan kita," jelas Madi.


"Saya sudah telepon Tuan Abraham, tapi katanya punya banyak kerjaan."


"Lalu bagaimana?"


"Kasya!!!" Teriak Abraham sambil berlari menuju Naini serta puluhan pembantu lainnya.


"Tuan Abraham, Kasya ad-"


"Iya, saya tau." Abraham mengaguk lalu menatap Kasya yang masih duduk di jendela kamarnya.


"Kasya!!! jangan main di situ, Nak!!!" Teriak Abraham.


Gadis itu menoleh menatap tajam Abraham yang ada di bawah. kedua bola mata gadis itu nampak memerah seakan ingin menangis menatap kehadiran Abraham.


"Kasya, Papi mohon, Nak!!!" rayu Abraham.


"Pergi!!!" teriak Kasya sembari meneteskan air mata.


"Kamu pembunuh!!! kamu pembunuh!!!" teriak Kasya sambil menunjuk Abraham dengan air mata yang telah membanjiri pipinya.


"Naini!!!"


"Iya, Tuan?"


"Naik ke kamarnya lalu tarik dia, jangan sampai dia lompat!"


"Baik, Tuan."


Naini berlari masuk ke dalam rumah disusul Madi dan kedua satpam yang ikut berlari.


"Kasya!!! jangan main di situ, yah, Nak!" teriak Abraham dengan nada yang di rendahkan.


Abraham tak mau jika, putrinya marah dan malah membuat suasana menjadi kacau.


"Pembunuh!!! kamu pembunuh Abraham!!!" teriak Kasya.


Naini melangkah masuk ke dalam kamar Kasya bersama ketiga Satpam. Ruangan kamar Kasya nampak begitu berantakan, pecahan guci berwarna warni serta pecahan kaca bingkai foto berserakan di lantai bahkan terdapat bercakan jejak kaki di sana. Dari kejauhan sudah terlihat Kasya yang duduk di jendela menatap Abraham yang berada di bawah sana.


"Tarik, Non Kasya!" Ucapnya tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Madi mengangguk lalu menatap ke dua satpam yang berada di sebelahnya seakan telah siap untuk segera menarik Kasya sebelum kasya melompat dari jendela kamarnya.


Madi melangkah mendekati Kasya dengan langkah yang penuh hati-hati dan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


Madi dan kedua Satpam menarik tangan kanan Kasya cukup keras membuat Kasya terhempas ke lantai.


"Aaaaaaaaaaaa!!!" teriak Kasya menggeliat di lantai berusaha melepas pegangan Madi dan kedua pegangan Satpam itu yang sangat keras.


Kasya memberontak hebat di lantai kamarnya sambil menghentakkan kedua kakinya dengan kuat ketika Naini ikut memegan kakinya.


"Mau diapakan, Non Kasya?" tanya Madi sambil terus memegang kuat tangan Kasya yang berusaha untuk lepas.


"Lepaskan akuuuuuuu!!! Aaaaaaaa!!!" jerit Kasya memberontak.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Madi lagi.


"Tahan!" Ujar Abraham berlutut di samping Madi lalu mendekatkan suntik ke arah legan Kasya.


"Aaaaaaaaa!!!" jerit Kasya.


Sorot kedua mata Kasya melotot menatap Abraham.


"Pembunuh kamu!!! pembunuh Abraham!!!" teriaknya lagi.


Jarum suntik itu kini telah tertancap di lengannya mengeluarkan cairan bius yang dibalas dengan berontakan oleh Kasya.


"Aaaaaaaa!!! Kamu pembunuh Abraham!!!"


"Diam!!!" teriak Abraham tak tahan mendengar teriakan Kasya yang selalu Kasya ulang tanpa henti disetiap hari.


"Pembunuh!!!"


Plak!!!


Tamparan keras menghantam pipi Kasya membuat kepala Kasya menoleh ke sebelah kiri mendapati tamparan itu. Kasya terdiam lalu tertunduk lemas.


Abraham terkejut dengan tamparan yang baru saja ia lakukan kepada putrnya satu-satunya itu, jujur ia tak berniat memukul Kasya tetapi ucapan itu seakan memaksanya untuk menutup mulut Kasya dengan tamparan.


"Cabut suntiknya dan bawa Kasya ke kamar kosong di lantai bawah tanah!"


"Tapi, Tuan-"


"Bawa dia!!!" bentak Abraham sembari menatap tajam Naini.


Abraham tertunduk menatap telapak tangannya yang telah bodoh menampar pipi putrinya.


"Maafkan Papa, Nak. Papa sayang sekali sama Kasya." Abraham tertunduk lalu menangis tanpa bersuara.


"Jika pria itu terbukti adalah Devan si bocah itu, maka Papa tidak akan membiarkannya hidup bahagia di atas kondisi kamu yang sudah seperti ini, Nak." Abraham terisak lagi dengan sangat pilu.


Firdha menatap heran ke arah Naini dan ketiga Satpam yang mengangkat tubuh Kasya yang sudah tak sadarkan diri.


"Loh Kasya kenapa?" Hadang Firdha cepat.


"Mau di bawa ke kamar bawa tanah Bu" jawab naini.


"Loh, kenapa?"


"Itu Bu, Tuan Abraham yang minta non Kasya dibawa ke kamar bawah tanah," jelasnya lagi.


"Di mana Abraham?"


"Di kamar Non Kasya."


Firdha melangkah menuju kamar Kasya dengan cepat seakan tak terima jika, putrinya itu harus di bawa ke kamar ruang bawah tanah.


"Abraham!"


Langkah Firdha terhenti mendapati Abraham yang mulai bangkit dari lantai dengan mata yang memerah seperti habis menangis.


"Dari mana saja kamu?"


"Si Kasya kenapa mau di bawa ke kamar bawa tanah?"


"Apa pedulinya kamu?"


Abraham melangkah melintasi Firdha yang masih berdiri di pintu kamar.


"Abraham dia juga Anakku!" Teriak Firdha menatap punggung Abraham yang menjauh.


Langkah Abraham terhenti lalu menoleh menatap firdha yang masih berdiri pintu masuk kamar Kasya.


"Anak?" Abraham tersenyum sinis.


"Kamu bilang dia anak kamu? Di mana tanggung jawab kamu sebagai ibu, di mana?"


Firdha terdiam.


"Kamu tau tidak? Kasya hampir lompat dari  jendela kamar dan kamu sebut dia Anak kamu juga?"


"Di mana peran kamu sebagai Ibu?"


"Mas aku hanya keluar untuk menangkan pikiran itu saja."


"Pikiran apa? Hah?"


Firdha terdiam tak mungkin ia mengatakan jika, ia keluar untuk menangkan pikirannya, karena tak kuat melihat putrinya itu teriak-teriak tak jelas di dalam kamar.


"Bukannya kamu sendiri yang mengatakan jika, kamu tidak punya Anak yang gila?"


Abraham membalikkan tubuhnya membelakangi Firdha lalu melangkahkan kakinya pergi.


"Tapi kenapa Kasya harus tidur di kamar bawah tanah?"


Abraham kembali menghentikan langkahnya lalu kembali menoleh.


"Di kamar bawah tanah cocok untuk Kasya."


"Mas, kamar bawah tanah itu panas dan tidak ada jendela di sana, bagaimana bisa Kasya tinggal di sana?"


"Itu tak berlangsung lama."


"Sampai kapan?"


"Sampai dia tidak gila lagi, itukan maksud kamu?"


Abraham kembali melangkah pergi meninggalkan Firdha yang terpaku di pintu masuk.


Madi menggunci pintu kamar dengan pelan setelah berhasil membaringkan tubuh Kasya yang tak sadarkan diri itu di atas ranjang.


"Kasian, yah, Non Kasya," ujar Satpam itu dengan raut wajah sedih.


"Sebenarnya Non Kasya kenapa, Bu naini?" tanya Madi setelah menggantung kunci kamar disebuah paku.


Naini terdiam tak tau harus berkata apa, ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya kepada mereka. Mereka memang tak tau apa-apa, karena mereka adalah pembantu baru di Jakarta yang baru bekerja dua bulan yang lalu. Sebenarnya Abraham dulu tinggal di Bandung tetapi karena Abraham membuka mall besar di Jakarta yang baru dibuka seminggu yang lalu sehingga mereka semua pindah.


"Bu Naini!".


"Iya."


"Kok bengong? dari tadi saya panggil."


"Oh, maaf saya sedikit pusing."


"Itu loh, Bu. kok, Non Kasya bisa gila gitu?"


"Ah, saya nggak tau apa-apa." Naini mempercepat langkahnya meninggalkan Madi dan ketiga satpam yang masih menatap Naini dengan heran.


"Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih?" bisik Madi.


"Iya, dari raut muka bu Naini seperti ada yang disembunyikan."


"Eh, udah-udah nggak usah dibahas ingat kita ini cuman-"


"Satpam!" sambung mereka kompak lalu melangkah pergi.