
Cia memutar kursi ke arah depan cermin yang tengah diduduki oleh seorang pria yang nampak terheran menatap dirinya dipantulan cermin.
Cia menuangkan minyak kemiri di permukaan telapak tangannya lalu mengosokkan di kedua belah tangannya sambil menatap rambut pria itu.
Cia mengusap rambut belah tengah pria itu dengan minyak kemiri yang telah ia gosok di kedua tangannya.
"Nah ganteng kan?" tanya Cia sambil menatap wajah pria itu di cermin kamarnya.
Cia memutar kursi lagi membuatnya kini berhadapan dengan pria itu yang nampak pasrah diperlakukan seperti anak anjing yang tengah didandani oleh Cia.
"Good." Cia mengajukan jempolnya sambil tersenyum kegirangan memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih.
Pria itu menghela nafas seakan tak kuasa menahan kekesalannya.
"Gimana?" tanya Cia.
"Good apanya?" tanya Devan.
Devan tak tau mengapa Cia mengubah bentuk rambutnya menjadi belah tengah yang nampak membuatnya terlihat sangat culun. Ini bukanlah sosok Devan.
"Lo ganteng banget, beneran!" ujar Cia sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Iya gue percaya, tapi nggak kayak gini juga dong modelnya!" ujar Devan lalu bangkit dari kursi.
Devan merengtangkan tangannya memperlihatkan baju kotak-kotak berwarna biru serta dasi kupu-kupu berwarna ungu terang dan celana hitam yang kebesaran bahkan pinggang celana hitam itu sampai ke atas perut Devan.
"Ini ganteng, Van! Beneran." Tatap Cia berbinar.
"Ganteng dari mana?"
"Ini!" Tunjuk Cia dari atas kepala sama ujung kaki Devan membuat Devan menggaruk lehernya yang tak gatal.
"Besok Cia mau Devan datang ke acara ulang tahun Loli!"
"Apa?!!!" Kaget Devan dengan kedua matanya yang terbelalak dan dengan gerakan cepat menghentikan garukan nya.
"Lo budek atau gimana sih? Kan tadi udah jelas gue bilang apa! Kalau lo harus datang di acara ulang tahun Loli," jelasnya.
"Yah, tapi kan gue bukan pacar lo! Terus Bukanya di sana lo disuruhnya bawanya pacar bukannya Ayah kan?" oceh Devan.
"Yah masa lo nggak ngerti sih?"
"Yah gue mau ngerti gimana, Ci?"
"Van! Lo dengerin gue! Gue ngajak lo ke acara ulang tahun Loli yang berarti lo jadi pacar gue untuk satu malam," jelasnya.
"Hah?!!!" Kaget Devan tak menyangka.
"Iya, apa lagi?"
"Tapi kenapa harus gue, Ci?" tanya Devan.
"Yah, Cia maunya Devan, gimana dong?"
Devan masih tak mengerti dengan jalan pikiran Cia, bagaimana mungkin Devan datang ke acara ulang tahun Loli dengan menjadi pacar Cia, ditambah lagi dengan penampilannya yang begitu sangat culun.
"Ci, gue bukan pacar lo!" ujar Devan mengingatkan.
Cia menatap tajam.
"Terus kenapa kalau Devan bukan pacar cia?" tanya Cia membuat Devan terdiam dan langsung kebigungan sendiri. Harus jawab apa?
"Ya udah." Putus Cia.
Devan menatap heran masih tak mengerti dengan maksud Cia yang mengatakan ya udah, apa artinya dari kalimat singkat itu?
Cia melangkah mendekati Devan yang masih terdiam membelakangi cermin kamar Cia. Jarak Cia dan Devan kini semakin dekat, dengan cepat Devan melangkah mundur menjauhi Cia yang menatapnya dengan tatapan tajam. Devan tersentak ketika tubuhnya tertahan oleh meja rias milik Cia yang berada di belakang
Langkah Cia terhenti di depan Devan yang kini berdiri begitu dekat dengannya. Tatapan Cia sangat tajam seakan siap untuk menikam Devan.
Suasana macam apa ini?
"Van," bisik Cia membuat Devan menelan ludah karena takut.
"Devan mau nggak jadi pacar Cia?" tanya Cia.
Devan langsung terbelalak setelah mendengar perkataan anaknya itu yang kini menanyakan tentang apakah dia mau menjadi pacar Cia.
Pertanyaan ini sangat membuat Devan syok.
"Hah?" Tatap Devan tak menyangka.
"Ci, sadar! Gue ini Ayah lo!"
"Ya udah, Ayah maukan jadi pacar Cia?" tanya Cia lagi.
"Hah?!!!" Tatap Devan tak menyangka.
"Lo gila, yah?" Kaget Devan lagi, entah yang ke berapa kali.
Cia melangkah mundur sambil membuang nafas berat mendengar perkataan Devan.
"Gila apanya sih? Lo emang nggak bisa pura-pura jadi pacar Cia di depan Loli sama temen-temen Cia?"
"Devan! Ini itu nggak serius! Ini itu cuman pura-pura dan ini cuman semalam kok jadi pacar bohongan Cia setelah itu udah," jelas Cia lagi.
"Jadi cuman pura-pura?" tanya Devan.
Cia mengangguk mengiyakan.
"Pacar bohongan?" tanya Devan lagi.
Cia menarik nafas panjang dan membuangnya cukup panjang dari ujung bibirnya.
"Iya, Devaaaaaan!!!" teriak Cia.
Devan tersenyum lalu mengangguk paham dengan maksud Cia, jujur saja jantung Devan hampir copot tadi setelah mendengar perkataan Cia yang sangat mengejutkannya.
Cia melirik wajah tampan Devan itu, entah apa yang Devan pikirkan sampai terdiam seperti itu.
Cia tersenyum, jika Ayahnya terdiam seperti itu wajahnya terlihat sangat tampan. Cia sadar mengapa Neng Mita si janda centil itu sangat mengila-gilai Ayahnya.
"Emmm, kalau misalnya Cia bukan anak Devan, Devan mau jadi pacar Cia?"
Devan terbelalak dengan gerakan kepalanya yang langsung menghentak ke arah Cia. Pertanyaan macam apa lagi ini?
Cia tertunduk memaingkan jari-jari lentiknya sambil melirik Devan beberapa kali sementara Devan masih terdiam.
"Kenapa sih lo harus jadi Ayah Cia? Kenapa nggak jadi pacar Cia?" tanya Cia lagi.
Devan yang masih syok dengan perkataan Cia mulai memutar tubuhnya menatap wajahnya di cermin membelakangi Cia.
"Van!" panggil Cia.
"Lo terlalu ganteng buat jadi Ayah Cia."
"Kenapa lo nggak dilahirin di dunia ini sebagai pacar Cia? Kenapa? Kenapa harus jadi Ayah Cia?"
Devan masih terdiam sambil merapikan rambutnya yang berminyak itu.
"Van!" Panggil Cia lagi seakan meminta jawaban sementara Devan terdiam tetapi otaknya berfikir keras mencari jawaban dari pertanyaan Cia.
"Van!" panggil Cia lagi.
"Ci!" Devan menoleh menatap Cia yang kini menengadah menatap wajah Devan.
"Lo dengerin gue!" pintah Devan sambil menunjuk.
Devan menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.
"Tuhan mempertemukan kita sebagai Anak dan Ayah, bukan sebagai Cia dan Devan yang jadi pacar seperti apa yang Cia bilang sama Devan," jelas Devan membuat Cia terdiam.
"Takdir hubungan Ayah dan Anak sudah ditentukan oleh Tuhan yang berhak mengatur semuanya."
"Gue jadi Ayah lo itu udah diatur."
"Lo anak gue dan gue adalah Ayah lo, paham?"
Cia mengangguk dengan pelan sembari memaingkan bibir bawahnya layaknya anak-anak yang tak menerima penjelasan orang tuanya.
"Paham?" tanya Devan.
Cia terdiam.
"Ok, kalau misalnya gue bukan Ayah lo, gue berdoa biar nggak dipertemukan sama cewek manja, pemarah, yang punya bokap ganteng dan masih mudah, yah kayak gue ini," jelas Devan membanggakan dirinya sambil mengelus rambut berminyaknya dan melangkah ke arah pintu luar kamar.
Cia melongo di belakang sana setelah mendengar ujaran Devan.
"Oh iya." Devan menoleh.
"Gue nggak sabar ketemu sama temen-temen lo di acara ulang tahun Loli, yaaaah walaupun penampilan gue kayak gini, yah tetap ajah banyak yang naksir gue, yah gue kan ganteng," jelas Devan.