
Tok tok tok
Suara pintu kamar Devan yang diketuk terdengar dari luar.
"Keras lagi!" suruh Deon yang kini asyik memegang sebaskom Ikan mentah.
"Marah nggak nanti?" tanya Haikal.
"Kok marah?"
"Yah mana tahu kan si Bos Ceo lagi tidur atau apa kek," jelas Haikal.
"Coba ketok lagi!" suruh Deon.
Haikal kembali mengetuk pintu dengan pelan menghasilkan suara ketukan di sana.
"Bos Ceo!" bisik Haikal.
"Woy!!!" teriak Tara yang kini menghampiri Haikal dan Deon yang kini terbelalak kaget. Jika ada Tara di sini maka suara teriakannya bisa menjadi marah bahaya bagi mereka berdua jika Devan mendengarnya.
"Ngapain lo berdua di sini?" tanya Tara dengan suara teriakannya.
"Hust! Jangan teriak-teriak nanti Bos Ceo marah," jelas Deon sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Iya nih, ngapain sih ke sini?" kesal Haikal.
"Tuh si kampret bawa ikannya ke sini!" Tunjuk Tara membuat Haikal dan Deon menoleh menatap ikan yang berada di dalam baskom yang Deon pegang.
"Aduh, ngapain lo bawa ikannya?" tanya Haikal.
"Nanti Mas Tara bakar ikannya, Mas," ujar Deon memberitahu.
"Enak aja, sini!!!" teriak Tara lalu menarik baskom dari tangan Deon.
"Jangan Mas Tara!!!" teriak Deon.
"Sini nggak? Gue jadiin bakso lo yah!" ancam Tara.
"Saya nggak suka makan durian, Mas!" jawab Deon membuat Tara dan Haikal melongo.
"Bikin emosi nih Anak!!! Emang siapa yang mau makan durian?!!" teriak Tara.
"Nggak apa-apa Mas Tara, saya juga nggak suka," jawab Deon.
"Iya gue juga nggak suka ama lu!!!" teriak Tara sementara Haikal yang berada di tengah-tengah hanya mampu melongo.
Devan mengkerutkan dahinya saat suara kebisingan terdengar membuat tidurnya terganggu. Devan bangkit dan mengusap kedua kelompok matanya lalu menguap.
Devan mendecapkan bibirnya setelah mendengar jelas suara keributan di luar sana. Dengan langkah malas ia segera melangkah dan membuka pintu membuat Tara, Haikal dan Deon kini tersentak kaget lalu mendadak diam.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Devan yang kini menatap satu persatu orang yang ada di depannya.
"Durian bos," jawab Deon sambil menjulurkan baskom berisi ikan ke arah Devan.
Plak
Kepala Deon tersentak ke depan setelah dipukul oleh Tara membuat Deon menoleh menatap tanpa dosa wajah Tara yang kini melotot.
"Maaf Bos Ceo, ini Anak-anak udah ngumpul di bengkel kan katanya kita mau nonton bola sambil bakar-"
"Durian," potong Deon membuat Tara, Haikal dan Devan menoleh menatap Deon yang kini tersenyum.
Tara tersenyum jahat lalu mengangkat tangan kananya seakan siap untuk menampar kepala Deon.
"Hm!" tegur Devan sambil menatap Tara tajam membuat Tara kini tersenyum dan kembali menurungkan tangannya.
"Maksudnya ikan, Bos," ujar Haikal.
"Yah udah tunggu gue di bengkel!" suruh Devan lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Haikal menghela nafas lalu terdiam sejenak, sepertinya ada yang aneh pada bosnya itu.
"Lo berdua kayak nggak ngerasa ada yang aneh gitu sama muka Bos Ceo?" tanya Haikal lalu menoleh menatap Tara dan Deon yang kini hanya terdiam.
"Lo liat nggak sih tadi? Bos Ceo kayak sedih gitu," ujar Haikal sementara Tara dan Deon hanya terdiam.
"Ah nggak asik lo di ajak gosip," kesal Haikal lalu melangkah meninggalkan Tara dan Deon yang kini saling bertatapan.
"Maksudnya apa?!!" teriak Tara.
"Katanya Duriannya udah habis," jawab Deon dengan polosnya.
"Ah gue banting juga lo!!!" teriak Tara sambil melayangkan telapak tangannya ke arah kepala Deon.
...____***____...
Suara keributan terdengar dari mulut-mulut para montir yang kini tengah sibuk mempersiapkan acara nonton bola malam ini. Kini para kumpulan geng motor exoplanet tengah asik duduk di atas sebuah karpet pajang yang telah di gelar oleh Jojon. Kini bengkel untuk malam ini tak menerima pelanggan, yah malam ini cukup spesial selain hari ini gajian para montir, hari ini juga merupakan acara nonton bola.
"Ah perih Bos!!!" teriak Tara yang mendapat giliran untuk membakar ikan yang telah Devan pesan tadi sore.
"Sabar Tar! Ini demi kebaikan perut kita semua, bukan begitu, Mat?" sahut Jojon.
"Betul," jawabnya.
"Ada di pasal mana Mat?"
"Pasal dua ayat satu dalam buku tri sakti perbengkelan," jelas Mamat begitu sangat lancar.
"Ah itu mah bukan lo yang ngerasain!!!" teriak Tara.
"Wahai Tara, jangan sedih! ingat masih ada obat tetes mata untuk mengobati mata Tara yang perih," jelas Jojon yang kini hanya terbaring di atas karpet.
"Ah bacot lo!!!" teriak Tara.
"Eh baru juga perih bukan keluar tuh biji mata," ujar Jojon.
"Deon! Deon!" panggil Tara membuat Deon yang tengah asik mengeluarkan piring dari kardus itu menoleh.
"Iya Mas?" sahut Deon.
"Sini lo anj*ng!!!" teriak Tara.
Deon kini melangkah menghampiri Tara yang menggosok matanya yang terasa perih karena asap.
"Nih lo bakar!" pintah Tara sambil menjulurkan sebuah kipas yang khusus untuk membakar.
Deon hanya mengangguk lalu segera meraih kipas yang Tara julurkan.
"Cuih si Tara, dia yang nyuruh dia yang manggil anj*ig, dosa tuh," ujar Jojon lagi.
"Diam lo!!!" teriak Tara.
"Noh si Baby yang lo suruh diem!" Tunjuk Jojon ke arah Baby yang tengah asik memoles wajahnya dengan bedak.
Baby yang mendengar namanya itu disebut langsung melirik tajam dan beralih membelakangi Jojon.
"Cieee marah nih yeh," goda Jojon lalu tertawa.
"Betul, lu malah melulu," sahut Yuang yang sedari tadi sibuk menghitung uang hasil pendapatan hari ini.
"Ah si Yuang pakai nyahut segala, noh uang itu bagus-bagus! Salah hitung kena banting lu ama Bos Ceo," jelas Jojon.
"Oe mah tetap bagus itungnya, tuh Baby lu bujuk!" suruh Yuang.
"Ah malas," jawab Jojon.
"Ih ekye juga malas sama you yah! Eh dasar kamseupay," cicit Baby dengan wajah marahnya.
"Jangan mala-mala! Baby tuh cantik," ujar Yuang.
"Aaaah maacih," gemas Baby sambil mencubit pipinya sendiri.
"Hem, jangan percaya! Agama kita beda!" ujar Jojon sambil melambaikan tangannya ke arah Baby.
"Ih kurus kering!!! Berisik bahanget swih lo, pusing ekye dengarnya," marah Baby dengan wajah cemberutnya.
"Ah, apa lo bilang?"
"Kurus kering!!!" teriak Baby sambil menopang pinggang.
"Weeee, ngatain gue kurus kering lo tuh bencong!!!" kesal Jojon yang kini bangkit dari karpet.
"Yeee dari pada you nggak punya lemak."
"Enak aja ngatain gue nggak punya lemak. Nih lemak gue!!!" teriak Jojon sambil memukul bokongnya membuat para montir tertawa.
"Dasar kurus!!!"
"Leher berkarat!!!"
"Bencong lo!!!"
"Yeee yang penting ekye nggak kurus."
"Ah lo nanti kalau mau masuk neraka nggak ngantri ambil tiket lo, langsung dibuang ama malaikat," cerocos Jojon.
Mamat yang sedari tadi sibuk mencuci ikan yang siap untuk di bakar langsung bangkit dari bangku kecil yang ia duduki dan terdiam menatap teman-temannya yang tengah adu mulut.
"Eh ini mau nonton bola atau mau berantem sih?"
"Noh tu sih Tara!!!" Tunjuk Jojon dengan ujung jari-jari kakinya yang tak beralas itu.