Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 224



Cia terdiam sambil meremas jari-jarinya yang gemetar. Cia sangat berharap semoga saja salah satu dari para montir ada yang memiliki golongan darah AB.


Adelio yang sedari tadi terdiam kini menoleh menatap Cia yang terlihat sangat gelisah. Adelio paham dengan apa yang Cia rasakan saat ini mengenai kondisi Devan yang masih ada di dalam sana.


"Cia," panggil Adelio dengan suaranya yang begitu lembut sembari menyentuh punggung tangan Cia yang gemetar.


Cia menoleh menatap Adelio yang menyentuh punggung tangannya sambil tersenyum penuh kedamaian membuat Cia ikut tersenyum walau ini sulit.


"In sya Allah Ayah kamu nggak apa-apa Cia, kita hanya perlu berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Tenang saja ini akan baik-baik saja!" ujar Adelio lalu tersenyum dan mengangguk berusaha untuk meyakinkan Cia.


Cia mengangguk walau raut wajahnya masih cemas. Cia sangat takut jika sesuatu terjadi pada Devan di dalam sana.


"Cia," panggil Julia membuat Cia kini menoleh menatap Julia yang menyentuh bahunya.


"Kamu yang sabar yah, Ci" ujar Julia lalu mengusap lembut pipi Cia.


"Iya ci, kamu harus sabar dan tenang! Ayah kamu baik-baik saja," tambah Fika.


Cia mengangguk lagi sambil tersenyum sejenak lalu kembali menghembuskan nafas panjang dan berat.


Tak lama pintu ruangan operasi terbuka hingga sebuah berangkar terlihat di dorong keluar oleh beberapa orang membuat Cia, Fika, Adelio, Julia, Firdha dan Kasya dengan cepat bangkit dari kursi dan melangkah mendekati berangkat itu.


"Dokter Ayah saya bagaimana?" tanya Cia sambil menatap Devan yang terlihat terbaring di atas berangkat dengan wajah pucat.


"Suster cepat bawa pasien ke ruangan ICU!" pintah dokter itu membuat salah satu dari mereka mengangguk lalu melangkah dengan cepat sambil mendorong brangkar.


Cia melangkah berniat untuk mengikuti suster yang mendorong brangkar di mana Devan terbaring di sana namun langkahnya tertahan dan kembali melangkah ke arah dokter yang kini melangkah pergi.


"Dokter! Dokter!" teriak Cia sambil berlari membuat dokter itu menghentikan langkahnya.


"Ayah saya, bagaimana dengan Ayah saya dok?" tanya Cia.


Dokter itu menghembuskan nafas berat dan panjang seakan berat untuk mengatakannya.


"Kenapa dok? Ayah saya baik-baik saja kan? Dia tidak apa-apa kan dok?" tanya Cia.


"Begini Nak, Yang seperti saya katakan tadi, Ayah kamu membutuhkan darah dengan cepat jika tidak nyawa Ayah kamu tidak bisa kami tolong."


Cia menutup mulutnya dengan air mata yang sudah tumpah membasahi pipinya membuat seluruh tubuhnya terasa lemas.


"Jadi bagaimana Dok?" tanya Julia.


"Saudara Devan sekarang memasuki kritis dan sedang di bawa ke ruangan ICU. Sekali lagi saya ingatkan untuk cepat mencari darah untuk Devan. Saya permisi dulu," jelas Dokter itu lalu melangkah pergi.


Cia terpatung di tempat nya berdiri. Rasanya tubuhnya lemas dan tak sanggup lagi untuk berdiri membuatnya kini tanpa sadar nyaris terjatuh ke lantai namun dengan cepat di pegang oleh Adelio.


...___***___...


"Kok lama banget sih orang di dalam?" ujar Mamat gelisah sambil melangkah mondar-mandir di depan pintu ruangan laboratorium dimana di dalam sana masih ada Jojon, Adam, Baby dan Tara.


"Emang kalau tes golongan dalah halus lama kayak gitu yah?" tanya Yuang yang kini menopang pinggang sambil menyadarkan tubuhnya ke dinding.


"Emang ini acara apa sih?" tanya Deon membuat para montir kini menoleh menatap Deon yang masih melongo tidak mengerti.


"Wah kambuh lagi nih si bego," ujar Haikal.


"Ini kalau ada si Tara udah di tembok lagi nih si bocah," sahut Mamat sambil menunjuk Deon dengan wajah kesalnya.


Tak lama Mamat, Haikal, Yuang dan Deon kini menoleh menatap Cia dan yang lainnya yang kini melangkah ke arah nya.


"Gimana bos Ceo?" tanya Mamat yang kini menghampiri Cia.


"Devan," ujar Haikal membenarkan.


"Em iya terserah. Bagaimana? Udah siuman?" tanya Mamat.


Haikal, Mamat dan Yuang mendengarnya kini menghembuskan nafas berat, ini berita buruk bagi mereka semua.


"Mat, jadi siapa yang darahnya AB?" tanya Cia.


"Belum ada hasil Ci, meleka semua olang masih ada di dalam," jawab Yuang.


Cia mengangguk lalu duduk di kursi panjang bersama dengan yang lain nya. Tak lama Firdha muncul sambil menuntun Kasya yang kini melangkah dan duduk di kursi panjang.


"Pelan-pelan!" ujar Firdha sambil membantu Kasya duduk.


Mamat mendecapkan bibirnya lalu menoleh menatap Haikal yang kini terlihat sangat serius menatap wanita berpakaian putih itu. Yah sejak tadi ia juga memperhatikan dan mempertanyakan tentang status wanita ini dan mengapa ia bisa ada di sini. Apa hubungan wanita ini dengan Devan dan Cia.


Mamat kini melangkah ke arah Haikal dan duduk di samping Haikal yang kini menoleh menatap Mamat.


"Kal, Lo tahu nggak apa yang gue pikirin sekarang?" tanya Mamat dengan nada yang berbisik yah ia tak mau jika wanita yang duduk berdekatan dengan wanita berpakaian putih itu mendegarnya.


"Apa?" tanya Haikal.


"Tentang wanita yang kayak hantu itu," ujar Mamat membuat Haikal kembali menoleh menatap wanita aneh itu.


"Em iya sih gue kayaknya enggak pernah ngeliat dia. Dia siapa yah?" tanya Haikal.


"Dia saudara Devan?" tanya Mamat membuat Haikal menggeleng tak tahu.


"Terus siapa dong?" tanya Mamat.


"Gue juga nggak tahu," jawabnya.


Kini suasana menjadi sunyi, tak ada lagi di antara mereka yang bicara. Mamat bangkit lalu mengintip di kaca pintu berusaha untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.


"Kok lama banget yah?" tanya Mamat.


"Tunggu aja Mat! Entar juga mereka teriak," ujar Haikal santai sambil membaringkan tubuhnya di kursi panjang dengan kepalanya yang di pangku oleh Deon yang sedari tadi tersenyum menatap Fika.


"Teriak?" Tatap Mamat dengan wajah herannya.


"Astagfirullah!!!" Suara teriakan terdengar dari dalam membuat semua orang yang berada di luar ruangan terbelalak. 


"Tuh!" Tunjuk Haikal dengan santai.


"Itu pasti si Adam," ujar Deon dengan tatapannya yang menatap para montir.


"Kalau si Adam yang terkenal pendiam aja teriak kayak gitu gimana kalau si Tara, Kal?" Tanya Mamat.


"Wah bisa hancur rumah sakit kalau si Tara yang teriak," ujar Mamat serius.


"Aaaaaaah!"  Suara des*han terdengar dari dalam, sudah jelas jika suara itu merupakan suara Baby. Siapa lagi jika bukan Baby yang mendes*h di dalam sana.


"Ih jijik banget gue," ujar Haikal sambil mengeliat geli.


"Aaaaaaaa!!!" suara teriakan terdengar cukup keras di dalam sana membuat semua orang terbelalak kaget.


Bruk


Pintu terhempas cukup keras memperlihatkan Tara yang berlari keluar dari ruangan. 


"Kenapa Tar?" Tatap Mamat heran.


"Anjing tu perempuan, masa jari gue mau di tusuk!!!" teriak Tara dengan tatapannya yang melotot.


Mamat menggeleng lalu segera menarik Tara dan mendudukkannya ke kursi panjang tepat di samping Adelio yang terbelalak kaget.


"Tarik nafas!" ujar Mamat berusaha menenangkan Tara.