Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 86



"Aaaaaaaa!!!" jerit gadis itu ketika melihat pria berpeci yang wajahnya sudah mengenai dadanya. 


Haikal yang melihat Adam mendarat di wajah seorang gadis dengan wajah cantik nampak tak bergerak sama sekali membuat Haikal dengan cepat berlari, menarik Adam dengan keras menjauhi gadis itu.


"Kurang ajar lo yah!!!" teriak gadis itu kesal setelah bangkit dari kursi.


Gadis yang masih di penuhi amarah itu degan kesal meraih cupcake lalu melempar ke arah Adam dan Haikal.


"Tunduk, Dam!" Dorong Haikal ke kepala Adam yang berpeci membuatnya tertunduk mengindari cup cake itu.


Plak


Cup cake itu menghantam keras wajah seorang gadis yang nampak bergandengan dengan seorang pria. Gadis itu merabah wajahnya yang nampak di penuhi cup cake coklat.


"Kurang ajar lo," Kesal gadis itu.


Dengan penuh amarah, gadis itu melangkah lalu mengangkat sebuah cake besar lalu melemparnya ke arah gadis yang telah melemparnya tadi. Cup cake itu meleset menghantam pria yang berada di sampingnya.


Pria yang tak terima dengan lemparan itu kini ikut melempar cake ke arah gadis yang melemparnya. Namun sayang, cake itu salah sasaran dan mengenai tamu-tamu yang lain. Lemparan cake itu terlempar ke sembarang arah meghantam para tamu yang berada di tempat itu.


"Loh ini kenapa ini?" Tatap Pak Yanto syok.


Plak


Cake coklat mendarat menghantam kepala botak Pak Yanto dengan sangat keras. Pak Yanto nampak tersentak ketika cake itu menghantam kepalanya membuatnya terbelalak menatap ke seluruh penjuru para tamu yang kini saling melempar. Entah siapa yang berani melemparnya.   


Di sisi lain Zandi menutup mulutnya menahan tawa cepat lalu bersembunyi di balik kerumunan ketika berhasil melempar kepala guru yang amat sangat ia benci. Rasanya kesempatan ini tak mungkin ia sia-siakan kepada Pak Yanto. Sudah lama hal ini ia ingin lakukan tapi tak tahu bagaimana dan kesempatan kali ini tak akan ia sia-sia kan.


"Lempar Ndi!" bisik Revan sembari tertawa cekikikan. Sementara Devan dan Cia hanya mampu bersujud di lantai menghindari lemparan itu.


"Kok kayak gini sih?" tanya Devan.


"Mana gue tau," jawab Cia.


Gerombolan polisi berseragam berlari masuk ke dalam pesta, mereka tak mengerti mengapa tamu-tamu saling melempar. Kini mereka yakin jika kerusuhan ini adalah ulah ketua gang exoplanet susuai info yang mereka dengar dari seorang pria yang menelfon tadi.


Lemparan keras itu menghantam wajah salah satu polisi yang nampak berdiri kokoh.


"Aaaaaa!!!" teriak polisi itu berniat melempar cake ke arah siapa saja yang ada di sekiranya mungkin, salah satu yang melemparnya ada di sekitarnya


"Tahan!" ujar pria itu membuat polisi yang wajahnya telah kotor terdiam.


Dor!!!


Tembakan ke langit begitu mengelegar di acara ulang tahun membuat semua para tamu berteriak kaget lalu terdiam membuat suasana sunyi . Tak ada lagi yang saling melempar di sana.


Devan terbelalak menatap gerombolan polisi. Bagaimana bisa ada polisi di pesta ini.


"Di mana ketua geng exoplanet?!!!" teriak pria berkumis itu.


Devan tak mengerti mengapa pria ini mencarinya. Apakah ? Devan menoleh menatap Ogi yang kini masih terbaring di panggung. Senyum licik nampak membias di wajahnya. Ini semua pasti ulah ketua geng Torak yang memanggil polisi ke sini.


"Ci, kita ngerangkak sekarang!"


"Kenapa?"


"Udah lo ngerangkak ajah!" bisik Devan kesal terhadap Cia yang masih bertanya disaat situasi yang seperti ini.


Devan merangkak dengan pelan sambil memegang pergelangan tangan Cia sambil terus menatap ke arah polisi itu, memastikan gerombolan polisi itu tak melihatnya.


"Itu dia, Pak!" Tunjuk Ogi ke arah Devan.


Polisi yang mendengar teriakan Ogi serta jari yang menunjuk ke arah Devan membuatnya berhasil melihat Devan dan Cia yang tengah merangkak.


"Lari, Ci!" ujar Devan.


Devan bangkit dari lantai lalu berlari dengan cepat sambil menarik pergelangan tangan Cia.


"Ayo Ci!!!" teriak Devan.


"Gue nggak bisa!!!" teriak Cia.


"Cepetan Cia!" Kesal Devan sambil menatap ke arah gerombolan polisi yang kini berlari ke arahnya.


"Gue nggak bisa lari!!!" teriaknya.


"Buka sendal lo!!!"


"Ini bukan sendal."


"Yah terserah gue, gue nggak peduli. Cepetan buka!" Kesal Devan.


Cia melepas pengait high heels hitam yang di pinjamkan oleh Baby kepadanya tadi lalu, segera bangkit dari lantai menjinjing kedua high heels itu. Devan berlari lagi, menarik pergelangan tangan Cia dengan kuat.


Tak


Ssesuatu terjatuh ke lantai membuat Cia menoleh menatap high heels sebelah kanannya yang tergeletak di lantai membuat Cia menghentikan larinya


"Apa lagi sih, Ci?" Tatap Devan kesal .


"High heels si Baby."


"Yah udah biarin aja!" Tarik Devan lagi namun, Cia menahan kembali kuat.


"Itu punyanya si Baby," ujarnya lagi.


"Udah biarin aja! Lo mau ditangkap polisi?!!" bentak Devan membuat Cia tersentak.


Devan yang masih kesal itu degan cepat menarik Cia berlari keluar dari pesta itu. Semua orang ternganga melihat kejadian itu. Keduanya nampak seperti seorang pangeran dan putri yang kabur dari istana.


Rambut panjang dan hitam Cia terhempas-hempas indah ketika Cia berlari sambil mengangkat ujung rok hitamnya itu ke arah motor Devan.


Langkah Devan begitu cepat berlari hingga berhasil menggoyangkan rambutnya menghasilkan tetesan air di rambutnya yang basah. 


Devan yang masih berlari itu dengan cepat memegang pinggang langsing Cia dan mengangkatnya tinggi membuat Cia yang terbelalak itu langsung terduduk di atas jok motor.


Mulut Cia terbuka seakan tak menyangka dengan apa yang terjadi kepadanya.


"Hah! Gue tadi terbang?" ujarnya sendiri.


Devan yang sudah berada di atas motor dengan cepat menstarter motornya dengan sangat cepat. Namun, tak berhasil membuat motor itu menyala.


"Hah!!! Ayo dong lo nyala!!!" teriak Devan.


Devan kembali mengstarter motornya dengan kuat, namun tak berhasil membuat motornya menyala sementara gerombolan polisi semakin mendekat.


"Gue bakar lo yah!!!" teriak Devan.


Bruuuum


Devan tersenyum bahagia saat motornya telah berhasil menyala. Devan menoleh dan menatap dari kejauhan gerombolan polisi nampak berlari menuruni tangga, masih mengejar Devan dan Cia.


Cia memeluk tubuh Devan erat. Motor kini melaju dengan cepat ketika Devan menancapkan gas meninggalkan kediaman Loli.


"Bos!!!" teriak Adam ikut berlari mengejar kepergian Devan yang sudah menjauh.


Ban motor itu berputar cepat melintasi jalan beraspal yang masih ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.


Cia meringis kesakitan di bagian bawah perutnya sambil terus memeluk tubuh Devan, tak lupa juga ia masih memegang high heel hitam sebelah kiri di tangannya.


"Van berhenti!!!" teriak Cia sambil memukul punggung Devan dengan kuat.