
Cia memejamkan kedua matanya membayangkan sosok Devan di sana, Cia masih ingat dengan wajah tampan Devan yang menatapnya di saat Devan membagungkannya kemarin pagi. Wajah tampan itu, Cia ingat itu.
"Dia seperti malaikat yang tak memiliki sayap."
"Senyumnya indah seperti sebuah bunga mawar putih yang tumbuh di dalam wadah emas," Jelas Cia lagi yang berdiri di samping Fika yang tengah mengacak-acak buku novel di rak perpustakaan.
"Gila, ini buku novel princes gajah yang gue selipin di sini mana? Kok nggak ada sih?" gerutuh Fika kesal sembari mengacak cepat buku-buku novel itu.
Adelio hanya terdiam sambil menatap buku yang terpanjang di rak buku. Perlahan tanpa disengaja Adelio menatap sekilas buku novel itu. Buku yang Fika cari.
"Nih!" ujar Adelio.
Adelio menjulurkan buku novel itu ke arah Fika. Fika terbelalak dan dengan cepat ia meraih buku novel itu dari tangan Adelio.
Adelio melangkah pergi dari jejeran rak buku meninggalkan Fika yang nampak tersenyum mempesona.
"Ih, Adelio romantis banget sama Fika, ah, gemwes!!!" jerit Fika dengan nada manja sembari memeluk erat buku novel.
Cia yang mendengar suara manja Fika hanya mampu mengangkat sebelah ujung bibirnya. Cia tak mengerti mengapa seseorang bisa menjadi gila seperti ini jika telah mengenal kata cinta.
"Ah Adelio," gemas Fika yang masih menatap Adelio.
"Ih jijik banget gue!" kesal Cia lalu melangkah meninggalkan Fika yang kini tersadar dari membuatnya menoleh menatap Cia dan mengejar kepergiaannya.
"Terus?...terus?" tanya Fika semangat.
"Apa sih?"
"Ih, ayo dong ceritain lagi! Pacar lo itu gimana, Ci?"
Fika serius menatap Cia yang nampak sudah menggila sambil menyandarkan kepalanya di rak buku dengan penjelasan mengenai pacarnya itu.
"Dia itu..."
"Suaranya indah seperti suara seruling yang di tiup dengan merdu," lanjut Cia lagi.
Fika ternganga, kagum.
"Matanya indah seperti-" Cia tersenyum dengan tatapan berbinar.
"Seperti?" pancing Fika tak sabaran.
"Seperti bulan yang diselimuti ribuan kerlap-Kerlip bintang," sambung Cia sambil menopang dagunya di atas meja perpustakaan khusus membaca.
"Waaah!!!" kagum Fika yang membuka mulutnya sambil menatap Cia dengan tatapan terpesona.
"Terus-terus!"
"Rambut hitamnya indaaaaaaaaah banget, terus Hidungnya, alisnya dan-"
"Dan?" pancing Fika dengan wajah serius.
"Dan bibirnya ituuuuu-"
"Kenapa?" tanya Fika penasaran.
"Ouuuuuh." Cia menggeleng pelan seakan tak sanggup lagi menjelaskan.
"Ouuuuuuuuuuuh!!!" jerit Fika seakan tak sanggup membayangkan wajah pacar Cia itu.
Adelio masih terdiam sambil sesekali membuka lembaran buku novel yang ada di tangannya. Perlahan Adelio menoleh menatap poster di dinding perpustakaan.
"Husst!" pintah Adelio masih tertunduk.
Fika dan Cia dengan kompak menoleh menatap Adelio yang kini menunjuk ke arah dinding tanpa melihatnya.
Di larang berisik di dalam perpustakaan ! Tulisan poster itu.
Fika dan Cia dengan serentak menghembuskan nafas berat. Mereka lupa jika sekarang mereka memiliki satu sahabat yang taat aturan.
"Ci! gue nggak sabar baget pengen ketemu sama pacar lo, Ci!" Bisik Fika.
"Ya udah, lo datang ajah entar malem!" bisik Cia yang nyaris tak mengeluarkan suaranya.
"Gue mau tapi sama siapa?"
"Yah sama pacar lo, lah!"
"si Jimin nggak sempet datang ke acara ulang tahun Loli, dia ada konser," ujarnya menyebut nama salah satu personil BTS asal Korea itu.
"Haaaah." Cia menyerah meletakkan dahinya ke pinggir meja.
"Yah, nggak bisa deh ngeliat pacar lo."
Cia membulatkan mata menemukan ide cemerlan dari otak yang nyaris tumpul itu.
Cia mengangkat kepalanya cepat
"Apa?"
...____****____...
"Lo setujukan?" tanya Cia sembari menatap Fika dan Adelio dengan sangat serius.
"Gue setuju," jawab Fika dengan semangat dengan wajah yang agak memerah karena malu.
Piiiiiiiiiiiiiip!!!!
Suara klakson motor metik itu berhasil membuat Fika terkejut sambil melompat menjauhi sebuah motor yang nyaris menabraknya.
"Heh!!! Apaan sih? Nggak punya mata, yah?" kesal Fika sambil memukul motor putih itu dengan nada manja.
"Heh!!! Lo tuh yang nggak punya mata!!!" Pria itu menatap Fika marah.
"Heh!!! Berani lo bentak sahabat gue?!!!" teriak Cia yang kini melangkah maju mendekati pria itu.
Piiiiiiiiiiip!!!
Suara kelakson motor kembali terdengar membuat Cia menoleh menatap pria dengan pengikat hitam di kepalnya yang nampak menunggangi motor berukuran besar bersama dengan jejeran motor yang mengikut di belakangnya.
Cia terbelalak. Dia adalah idola Cia, Ogi Yefano.
Cia tersenyum menatap idolanya itu, rasanya Cia tak sabar datang ke acara ulang tahun Loli dan melihat penampilan Ogi dengan band torak. Senyum Cia menghilang dari bibirnya menatap gadis seksi yang kini melingkarkan tangannya ke perut Ogi. Apakah gadis itu pacar baru Ogi lagi?
"Minggir!!!" teriak Ogi.
Fika tersentak kaget lalu dengan cepat menarik tangan Cia yang menghalangi jalan pria dengan motornya itu sekaligus jalan Ogi juga.
Motor itu kini berlalu melewati Cia, Fika dan Adelio yang menepi di pinggir parkiran.
"Huuuuu!!!" teriak Fika kesal.
"Tuh idola lo tuh, Ci!"
Cia terdiam menatap Ogi yang kini sudah menjauh bersama gerombolan motornya.
"Huuu fuckboy recehan!!!" teriak Fika kesal.
"Heh!!! Enak ajah, si Ogi nggak Fuckboy tau," bela Cia.
"Terus perempuan yang di boncengi si Fuckboy itu siapa?"
"Yang tadi Fuckboykan Lio?" tanya Fika sembari menatap Adelio yang kini berdiri di sampingnya.
Adelio menganggukan kepalanya perlahan.
"Tuh, si Adelio ajah setuju."
"Ah, udahlah terserah idola gue dong, orang ganteng mah bebas."
Fika membuang nafas lelah, lelah dengan segala pembelaan Cia kepada idolanya itu.
"Lo setujukan Adelio?"
Adelio menatap Cia dengan wajah kebingungan.
"Apa?" tanya Adelio.
"Yang tadi!" ujar Cia mengingatkan.
"Apa?"
Cia menghembuskan nafas berat lalu menggeleng cepat, bagaimana bisa pria si irit ngomong itu bisa lupa dengan apa yang Cia ucapkan tadi.
"Lo maukan datang ke acara ulang tahun Loli sebagai pacar bohongan Fika?" tanya Cia yang membuat Fika tersipu malu.
"Lo maukan?" tanya Cia lagi.
Adelio masih terdiam, bagaimana bisa ia ke acara ulang tahun Loli sebagai pacar Fika, jika pacar Adelio tau pasti dia akan marah akan tetapi, entahlah kini pacarnya itu seakan sudah menjauh. Jauh jarak dan jauh hati.
"Gimana?"
"Iya," jawab Adelio diiringi anggukan.
"Ahhh yang bener?" tanya Fika yang tak percaya.
Kini kedua pipi Fika memerah seakan tak menyangka jika Adelio, si pria yang wajahnya selalu terbayang disetiap malam-malamnya itu mau menjadi pacar bohongannya, yah walau hanya untuk malam ini, tapi Fika begitu sangat bahagia.
"Heh!!! Ingat ini cuman pura-pura!" ujar Cia lalu melangkah pergi.
"Ci!!! Lo mau kemana?!!!" teriak Fika.
"Ke rumah bidadari!!!" jawab Cia yang terus melangkah tanpa menoleh.