Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 166



Hari-hari berlalu begitu cepat menghampiri kehidupan Devan dan kasya yang kini semakin akrab. Devan dan kasya selalu bersama di sekolah tanpa menghiraukan peringatan dari Abraham untuk saling menjauhi. Menurut mereka cinta adalah sebuah ikatan yang tak akan dapat dipisahkan. Orang bilang cinta pertama di bangku SMP adalah cinta monyet tapi menurut Devan dan Kasya cinta ini adalah cinta yang sesungguhnya.


Setiap hari Devan akan selalu datang pagi-pagi sekali ke sekolah begitu pula dengan Kasya dan setelah itu mereka akan bertemu di belakang sekolah untuk sarapan pagi bersama. Betapa indah kehidupan mereka disetiap harinya yang selalu dipenuhi oleh cinta. Mereka akan saling tertawa saat bersuapan mesra dan saling tersenyum bersama.


Keduanya selalu bersama bahkan disetiap jam istirahat mereka pun tak pernah berjauhan. Dimana ada Devan di situ ada Kasya dan begitu juga dengan sebaliknya. Tak ada yang mereka sembunyikan mengenai hubungan mereka bahkan hampir semua siswa dan siswi SMP tahu jika Devan dan Kasya pacaran.


Kasya tak peduli jika banyak yang menertawainya jika ia berpacaran dengan Devan yang lebih mudah darinya. Kasya tak peduli, yang ia tahu ia cinta.


Setiap hari minggu keduanya selalu pergi jalan-jalan bersama dan sudah jelas jika Kasya selalu berbohong kepada Abraham jika ia pergi untuk kerja kelompok padahal ia tak kerja kelompok melainkan pergi bersama dengan Devan.


Tak apa berbohong, ini demi cintanya kepada Devan.


...___***___ ...


7 Minggu Kemudian ....


"Ueeeeeeee." Suara muntah kini memenuhi ruangan kamar mandi Kasya yang kini terasa sunyi.


Kasya kini membasuh mulutnya yang pucat itu dan kembali muntah setelah merasakan mual setelah mencium bau air keran. Kasya tak mengerti mengapa bisa ia tak suka dan malah merasa mual setelah mencium bau air keran. Kasya mengangkat pandangannya lalu menatap wajahnya yang pucat itu di pantulan cermin.


Rasanya ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Sudah sebulan ini Kasya tak kunjung datang bulan. Biasanya jika sudah tanggal tua muda ia selalu mendapatkan menstruasi tapi sekarang tidak lagi.


Kasya menghela nafas berat. Mungkin saja ia sedang tak enak badan hingga merasa mual seperti ini. Kasya tersenyum menatap wajahnya di pantulan cermin lalu melangkah keluar dari kamar mandi.


Kasya meraih tas sekolahnya yang ia simpan di atas tempat tidurnya lalu segera melangkah keluar kamar dan menuruni anakan tangga.


"Selamat pagi Non," sapa seorang wanita yang berpakaian hitam putih.


Kasya tersenyum lalu menjawab, "Pagi juga Bi."


"Non sudah ditunggu di ruang meja makan," ujar wanita itu yang tak lain adalah Naini.


Bagi Kasya Naini adalah wanita yang sudah seperti Ibunya sendiri. Kedua orang tuanya yang sibuk berkerja membuat Kasya lebih dekat dengan Naini.


Kasya mengangguk lalu segera melangkah ke arah meja makan dan duduk bergabung dengan mereka yang kini hanya saling terdiam sambil memaingkan handphone sementara tangan mereka masih sibuk mengaduk-aduk makanannya.


Kasya menarik kursi dan duduk dengan wajah lesuh. Tak ada kebahagiaan di meja ini. Mereka semua ada tapi rasanya mereka ada di tempat yang berbeda.


"Mau selai apa, Non?" tanya Naini yang kini sedang memegang roti dan beberapa kaleng selai dengan berbagai macam rasa di atas meja.


"Bungkus saja, Bi! Kasya mau makan di sekolah," ujar Kasya lalu bangkit dari kursi dan melangkah.


"Non, tidak pamit dulu sama Ayah dan Ibu?" tanya Kasya.


Kasya menghela nafas membuatnya menoleh menatap Ayah dan Ibunya yang masih tak sadar jika sudah ada Kasya di meja makan ini.


"Tapi,Bi-"


"Tidak apa, coba saja!"


Kasya menarik nafas panjang lalu ia melangkah ke arah Abraham yang tengah sibuk memaingkan handphonenya.


"Aku berangkat dulu Ayah," ujar Kasya sambil menjulurkan tangannya tapi Abraham malah bangkit dari kursi dan melangkah pergi sambil berbincang dengan orang yang menelfonnya.


Kasya menghela nafas lalu menoleh menatap Firdha yang kini sedang memaingkan handphonenya, sudah jelas jika dia sedang membalas satu persatu chat para anak buahnya.


Kasya mendecapkan bibirnya menatap Naini yang kini tersenyum tak enak. Mungkin ia sudah salah untuk menyuruh Kasya berpamitan, ujung-ujungnya Kasya seakan tak dianggap.


Kasya kini melangkah pergi meninggalkan meja makan serta Naini yang kini dengan tergesa-gesa meletakkan roti ke dalam kotak makan.


"bekalnya," ujar Naini.


Kasya meraih bekal itu lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Non Kasya sakit?" tanya Naini.


"Em?"


"Non Kasya sakit?" tanya Naini.


"Tidak," jawab Kasya.


"Tapi muka Non Kasya terlihat pucat."


"Tidak, Kasya tidak sakit hanya sedikit mual," jawab Kasya lalu melangkah masuk ke dalam mobil.


"Mual?" Tatap Naini heran.


...____***____...


Wanita dewasa itu terdiam dengan mulutnya yang nampak menganga setelah mendengar apa yang gadis berseragam Smp itu minta kepadanya.


"Apa tadi, Dek?" tanya wanita itu mencoba berfikir jernih, mungkin ia salah dengar.


"Test pack," jawab Kasya dengan sangat takut.


Jujur ia tak berani untuk membeli ini dan ia tak pernah berfikir jika pikirannya akan aneh seperti ini. Setelah pelajaran biologi tadi yang membahas tentang proses kehamilan membuatnya menduga ini seperti dirinya. Mual di pagi tadi membuatnya merasa ada yang aneh padanya.


"Test pack?" tanya wanita itu membuat Kasya mengangguk.


"Beneran Dek?" tanya wanita itu menatap dari atas sampai ujung kaki Kasya. Yah siapa yang tidak terkujut jika yang meminta test pack adalah seorang Anak yang masih SMP.


"Untuk Mama saya," ujar Kasya berbohong dengan tubuhnya yang gemetar.


"Oh untuk Mama kamu," Ujar wanita itu membuat Kasya mengangguk.


Wanita itu kini meraih test pack dari sebuah lemari kaca dan segera memberikannya kepada Kasya yang kini gemetar memegang test pack itu.


...____***____...


Kasya bersandar di sebuah dinding kamar mandinya sambil menunggu hasil setelah test pack itu didiamkan di dalam urinenya. Kasya sebenarnya tak tahu cara menggunakan alat ini tetapi berdasarkan petunjuk di sampul test pack itu berhasil membuat Kasya paham dan melakukan prosedurnya.


Jantung Kasya berdetak sangat cepat hingga ia sendiri mampu merasakan getaran di lututnya yang seakan taku kuat menopang tubuhnya.


Kasya dengan jari yang gemetaran mulai meraih test pack yang telah ia diamkan di dalam gelas berisi urinenya. Kasya kini memejamkan matanya, tak mau melihat hasil dari test pack itu.


Sesuai yang ia baca jika terdapat dua garis maka itu positif hamil dan kini Kasya berharap jika di test pack itu hanya terdapat satu garis.


"Negatif."


"Negatif."


"Negatif. Aku mohon Tuhan!"


Gumam Kasya sambil meletakkan test pack itu cukup dekat di arah wajahnya. Lalu dengan perlahan ia mulai membuka kedua matanya dengan sangat perlahan dan ia mampu melihat cahaya yang muncul perlahan.