Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 204



Devan menghela nafas panjang setelah sejak tadi menatap layar handphonenya. Sedari tadi ia terus mencari informasi mengenai lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya yakni dunia perbengkelan. Devan menghela nafas berat, tak ada satu pun pekerjaan yang cocok untuknya.


Devan bangkit dari kursi lalu melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Devan tak mungkin hanya diam di rumah dan mengandalkan sumber info pekerjaan dari handphonenya, Devan harus bergerak.


Devan meraih kaus hitam dari lemari dan celana jeans berwarna biru lalu memakainya sambil menatap tubuhnya di pantulan cermin. Setelahnya Devan kini menyisir rambutnya yang telah dioleskan minyak kemiri dan tak lupa juga ia menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya hingga tercium bau wangi di dalam ruangan kamarnya. Devan terdiam sejenak menatap wajahnya, yah dia tetap tampan walau tak mandi.


Devan melangkah keluar dari kamar lalu meraih kunci motor yang tergantung di sebuah paku. Langkah Devan kini terhenti, ia sangat lupa jika motor yang selalu ia gunakan kini telah lenyap setelah peristiwa kebakaran itu.


Devan menghela nafas panjang lalu kembali menggantung kunci motor itu di paku. Kini Devan bisa pergi dengan naik angkot dari beberapa uang yang ia ambil dari uang simpanannya. Sebenarnya Devan masih punya uang untuk menyambungkan hidup tapi Devan tak mungkin mengandalkan uang simpanannya. Devan yakin jika semakin hari maka uang itu akan menipis tanpa ada pemasukan.


Devan menarik nafas panjang lalu mengangguk begitu semangat. Ia sangat berharap jika ia bisa mendapatkan pekerjaan. Devan kini melangkah ke arah pintu utama namun langkah Devan tertahan menatap sebuah bayangan hitam dari jendela yang terlihat melintas dengan cukup cepat membuat Devan mengkerutkan dahinya keherangan.


"Bayangan apaan tuh?" batin Devan.


Devan terdiam sejenak seakan tak nyaman dengan bayangan hitam yang sempat ia lihat. Dengan langkah pelan ia mendekati jendela dan membukanya. Devan menghela nafas legah, tak ada apa pun di luar sana.Yah mungkin itu hanya bayangan biasa saja.


Devan kini kembali menutup jendela dan menguncinya dengan rapat lalu melangkah keluar dari rumah.


Devan terdiam di atas angkot biru yang kini sedang melaju dengan pelan. Devan menoleh menatap Ibu-ibu yang kini sedang tersenyum sambil tak henti-hentinya menatapnya membuat Devan yang sesekali tersenyum canggung membalas senyum mereka satu persatu. Devan tak mengerti mengapa semua penumpang di angkot ini malah sibuk menatapnya tanpa pernah berpaling.


Bukan hanya tatapan bahkan ada dari mereka yang saling berbisik lalu tertawa dan sejujurnya mereka sedang mengangumi ketampanan Devan.


"Dek, Dek!" panggil salah satu Ibu-ibu berdaster merah yang duduk di hadapan Devan membuat Devan dengan cepat menoleh.


"Ada apa yah Bu?" tanya Devan.


"Artis yah?"


"Artis?" tanya Devan tak mengerti.


"Iya yang di pelem-pelem itu," jelasnya sambil menunjuk ke atas.


"Ah bukan, Bu. Saya bukan artis," jawab Devan sambil tersenyum diiringi gelengan dari kepalanya.


"Yang bener Dek?" tanya salah satu dari mereka membuat Devan menoleh.


"Bener, Bu."


"Kok bukan artis? Tapi kok mukanya mirip artis luar negeri?"


"Iya yah, Ganteng banget."


"Putih lagi."


Suara kekaguman mereka terdengar membuat Devan hanya mampu tersenyum.


"Dek, mau kemana?"


"Mau cari kerja, Bu."


"Nggak punya pekerjaan yah?"


Devan hanya mengangguk lalu kembali fokus ke arah jalan. Ia tak mau harus selalu bertatapan mata dengan para penumpang angkot.


"Ih ganteng banget deh kamu," gemas Ibu-ibu yang duduk hadapan Devan sambil mencubit gemas kedua pipi Devan yang kini menjerit kesakitan.


"Kok dicubit sih Bu?" tanya Devan sambil mengusap kedua pipinya yang kini memerah.


"Ih saya juga mau dong," sahut salah satu wanita dengan perut buncit yang kini tengah ia usap-usap.


"Aaah mau apa?" syok Devan saat wanita itu mendekatkan jari-jari tangannya ke arah pipinya.


"Yah mau cubit juga, gemes deh. Mana tahu kan bayi yang ada di perut saya mirip sama kamu," jelasnya lalu kembali mendekatkan jari-jari tangannya.


"Jangan!!!" teriak Devan sambil menutup kedua pipinya.


Bukan hanya jari-jari tangan wanita hamil itu yang kini terasa menyentuh punggung tangannya yang memaksakan untuk mencubit pipi Devan tapi semua penumpang.


"Dek mau nggak nikah sama cucu saya?"


"Eh nggak usah cari kerja, mending nikah sama saya."


"Tinggal sama saya aja yuk!"


Angkot biru itu kini berhenti dengan tiba-tiba membuat para penumpang nampak sedikit terhempas ke depan. Dengan cepat Devan kini melompat keluar dari angkot lalu berlari meninggalkan para penumpang angkot biru itu yang kini masih berteriak seakan tak rela jika melihat Devan pergi.


Devan terus berlari dengan rambutnya yang awalnya rapi kini telah berantakan karena ulah mereka semua. Setelah merasa aman kini Devan menghentikan larinya sambil berusaha untuk menstabilkan nafasnya sesak itu setelah berlari.


Devan kini menoleh berusaha untuk memastikan jika para penumpang angkot itu tak mengejarnya.


"Sial," umpat Devan dengan kesal lalu melangkah.


Devan menunduk menatap telapak tangannya yang penuh dengan lipstik bercap bibir dimana-mana.


"Hah gila tuh orang, hampir aja gue dimakan," oceh Devan sambil membersihkan telapak tangannya ke kaus hitamnya.


Langkah Devan kini terhenti setelah menatap sebuah papan di luar toko yang bertuliskan jika mereka sedang mencari karyawan. Devan tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam toko yang Devan pun tak tahu apa yang dijual di dalam toko ini. Devan hanya butuh pekerjaan tanpa perlu dulu mengetahui apa pekerjaan


itu.


Devan terdiam di hadapan pria berkacamata yang nampak menatapnya cukup serius sejak tadi. Entah mengapa sejak tadi pria ini terus terdiam tanpa pernah bicara kepadanya setelah Devan memperkenalkan diri.


"Bos," ujar seorang wanita dengan pakaian seragam kerja ia ia gunakan lalu membisikkan sesuatu ke telinga pria itu.


Pria tua berkaca mata itu mengganggukkan kepalanya lalu kembali menatap Devan yang hanya mampu terdiam.


"Maaf, saya tidak menerima karyawan," ujar pria itu.


Devan terdiam, ia begitu terkejut dengan hal ini. Entah mengapa pria ini mengatakan jika dia tidak menerima karyawan sedangkan ada tulisan yang tertempel di pintu luar jika toko bangunan ini menerima karyawan.


"Tapi Pak tulisan yang di luar." Tunjuk Devan.


"Itu sudah lama," ujar pria tua itu lagi.


Devan semakin tidak mengerti, bagaimana bisa dia mengatakan kertas itu sudah lama, padahal jelas-jelas dengan kedua matanya ia melihat pria itu baru saja menempelnya.


"Sudah sana pergi!" pintah pria itu dengan nada yang tunggi.


"Tapi pak-"


"Sudah sana pergi!!!" Usir pria itu dengan nada suara yang ditinggikan, bahkan beberapa pekerja dan pembeli menatap ke arah Devan.


Devan menghembuskan nafas berat lalu segera melangkah pergi. Rasnya harapannya tak seperti apa yang terjadi sekarang.