
Suara jam pelajaran terdengar yang menandakan jam pelajaran berakhir membuat semua murid-murid SMA Garuda Bangsa memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas masing-masing.
Suasana yang sedari tadi membosankan kini menjadi lebih ceria. masa hening kini berubah menjadi riuh, di mana suara tawa dari murid yang hanya tertidur di bangku kini terlontar.
Bu Lia melangkah keluar dari kelas disusul beberapa murid-murid yang berlari keluar secara tergesah-gesah sambil tertawa dan bercanda ria. Sementara disatu sisi, Yuna si ketua kelas itu kini merapikan kursi-kursi yang berantakan dan tak ketinggalan juga Faririn yang menyembunyikan sapu kelas, penghapus papan tulis, kemoceng, cermin serta berbagai macam benda berharga yang di incar tetangga kelas di balik pintu. Ini bukan mencurigai teman tetangga kelas, tapi buktinya sapu di dalam kelas sering hilang entah kemana. Dan ini semua sudah pasti ulah tetangga kelas.
"Aduh pantat gue sakit!" keluh Fika sambil mengelus bokongnya yang terasa sakit.
"Yuna!!!" panggil Fika sambil melangkah menghampiri Yuna yang masih sibuk mengatur kursi dengan begitu sangat rapih.
"Yuna!!!" teriak Fika lagi.
"Apa sih, Fik? Dari tadi mangil-manggil terus!"
"Yun, kapan sih ada kursi? Pantat gue udah nggak kuat duduk bertiga kayak gini," Ujar Fika.
"Yun, gue capek duduk kayak gini, kayak di neraka tau nggak, Nyesek."
Yuna meletakkan kursi itu di atas meja lalu menatap Fika dengan wajah datar serta nafasnya yang ngos-ngosan.
"Belum ada kursi," jawab Yuna santai.
"Kok gitu sih?" ujarnya tak terima.
"Aaaaaa!!!" jerit Fika sembari menjambak rambutnya sendiri seperti orang yang telah kerasukan hantu
"Kok gitu sih, Yun?!!! Aaaaaa!!! Gue-"
Tiba-tiba Fika melangkah mundur hingga ocehannya terhenti ketika Cia dengan rasa malas menarik kerah baju Fika dan menyeretnya ke luar kelas.
"Ah, Ciaaaa!!!" teriak Fika.
Cia melepaskan sereta nya membuat Fika nyaris terjatuh ke lantai.
"Berisik banget sih lo?!!!" teriak Cia.
"Lo juga berisik kok. Nih, yah, bahkan lo yang paling berisik di sekolah ini!" oceh Fika.
"Yah udah, yuk Fika!" Cia melangkah sembari mengendong tas hitamnya meninggalkan Fika melongo ketika Cia pergi seakan tak peduli dengan ocehannya.
"Ci! Tunggu dulu!" pintah Fika lalu melangkah masuk ke dalam kelas membuat langkah Cia terhenti.
Fika melangkah kegirangan menghampiri Adelio yang masih berada di mejanya sendiri tanpa seorang satu pun di dalam ruangan kelas.
"Adelio!" panggil Fika membuat Adelio menoleh.
"Em," sahutnya membuat Fika melipat bibirnya ke dalam. Rasanya ada bunga-bunga dan kupu-kupu yang berterbangan di dalam dadanya saat mendengar suara 'Em' dari Adelio.
"Adeliooooo, em, Adelio nggak pulang?" tanya Fika malu-malu.
Adelio yang masih memasang jaketnya itu hanya mampu tersenyum menatap Fika yang berdiri tepat di hadapannya
Cia melangkah masuk ke dalam kelas dan berdiri sambil menopang pinggang di bibir pintu dengan tatapannya yang dengan serius mengarah ke arah Fika. Kini Cia sadar jika Fika ternyata masih mengincar Adelio, si pria yang irit ngomong.
"Fika!!!" Teriak Cia.
Fika menoleh lalu menatap Cia yang berdiri dengan tatapan tajam seakan siap untuk menerkamnya.
"Apa?" tanya Fika tanpa bersuara.
"Ayo pulang!!!" teriak Cia lagi.
Fika kembali menoleh menatap Adelio yang kini merapikan tas hitamnya sambil sesekali menatapnya dengan tatapan melirik membuat Fika kembali tersenyum malu.
"Adelio, Fika tuh-"
"Fika!!!" teriak Cia membuat Fika menghentikan ujarannya dan kembali menatap Cia yang kini melangkah ke arahnya.
"Ayo pulang!" tarik Cia sembari menegang pergelangan tangan Fika dan menariknya.
"Ci, bentar dulu!" tahan Fika dengan nada berbisik.
"Apa lagi sih?"
"Gue mau ngomong sama Adelio, bentar ajah!"
"Nggak usah!"
"Pulang!" tegas Cia membuat Fika cemberut.
"Adelio, aku pulang duluan, yah?" ujar Fika dan membiarkan dirinya diseret oleh Cia keluar dari ruangan kelas.
Adelio hanya menggeleng menatap kelakuan kedua gadis yang kini selalu berada bersamanya. Adelio tak menyangka bisa memiliki dua sahabat wanita di Jakarta.
"By..by...by Adelio!!!" teriak Fika sembari melambaikan tangannya dan dengan cepat Cia menarik tangan Fika.
...____****____...
... ...
Cia dan Fika kini melangkah perlahan melewati jejeran pintu-pintu kelas yang sudah terkunci rapat.
"Ci," bisik Fika.
"Cia!!!" teriak Fila dengan nada manja.
"Apa sih lo?!!!" bentak Cia.
"Si Adelio ganteng, yah, Ci?"
"Hah?!!?" Syok Cia dengan cepat menoleh menatap Fika yang kini masih tersenyum manis.
"Kenapa Ci?"
"Lo nggak salah?" tanya Cia.
"Yah, emang kenapa? Tapi menurut lo, Adelio nggak ganteng gitu?"
Cia terdiam tak menjawab pertanyaan Fika yang menurutnya tak penting. Sekarang yang membebani pikiran Cia adalah siapa yang akan Cia ajak ke acara ulang tahun Loli.
Apa ini sebuah awal dari bencana yang kelak akan terjadi.
"Kira-kira Adelio punya pacar nggak, yah?"
Fika yang menghayal itu kini melongo menatap Adelio yang melangkah melewati lapangan dengan gagahnya.
Jaket abu-abu, tubuh tinggi, sepatu hitam, jam tangan keren dan wajah yang tampan, huh bagaimana bisa Fika tak tergila-gila dengan Adelio dan bahkan kini Fika sampai lupa dengan oppa koreanya itu.
"Tuh, si Adelio." Tunjuk Fika.
Cia menoleh menatap ke arah lapangan di mana Fika masih menunjuk Adelio.
"Jangan di tunjuk, Fik!" Pukul Cia dengan keras mendarat di tangan Fika.
"Kenapa sih?" kesal Fika sembari mengusap lengannya yang telah dipukul.
"Nanti si Adelio ngeliat, takutnya dia kegeeran sama kita berdua. Dikira suka lagi!"
"Emang gue suka kok!" jawabnya terus terang.
"Lo suka?" tatap Cia dengan wajah aneh.
"Suka banget!!!" jerit Cia.
"Gila lo, yah?" Cia mempercepat langkahnya seakan tak tahan berlama-lama di samping Fika.
Langkah Cia terhenti menatap pria berseragam hitam serta berkepala botak dengan ekspresi datar yang kini berdiri di depan pagar sekolah. Cia ingat betul dengan pria itu, pria yang bernama Jef yang tak lain adalah sekretaris mall Brahmana.
Jef melangkah menghampiri Cia lalu tersenyum manis menyambut Cia yang ia tunggu sejak tadi.
"Selamat siang," sapa Jef.
"Si..si...siang, pa..pak," Jawab Cia gugup.
Fika melongo menatap Jef yang nampak begitu tinggi serta kepala botak yang nampak lebih mirip aktor Dady Corbuzier. Entah dari mana Cia bertemu dan kenal dengan pria berkepala botak ini atau apakah dia si kepala botak ini adalah pacar Cia?
"Saya minta maaf, kedatangan saya menggangu, non Cia. Saya telah diperintahkan oleh pak Brahmana untuk menjemput non Cia," jelas Jef.
"Jemput?" Tatap Fika heran dengan wajah yang begitu sangat syok.
"Cia dia siapa? Jadi ini pacar lo? Si botak ini?" Tunjuk Fika dengan kedua mata yang terbelalak.