Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 47



Perlahan Cia mengangkat pandangannya menatap kedua mata Devan yang menatapnya dengan begitu tulus.


Wajah Devan begitu tampan diterpa cahaya lampu kamar hingga membuat Cia kembali menundukkan pandangannya. Wajah itu, mengapa terlalu indah.


"Ci!"


Suara Devan itu terdengar membuat Cia kembali mengangkat pandangannya menatap Devan.


"Lo punya utang?" Tatap Devan serius.


"Aaaaaaaaaaaa!!!" Tiba-tiba tangis Cia pecah di hadapan Devan membuat Devan terkejut.


Devan melepas pegangannya yang hangat itu lalu menggaruk kepalanya seakan tak mengerti dengan Cia yang tiba-tiba menangis.


"Gue minta maaf, Van, aaaaaaa!!!"


"Husst! jangan nangis, Ci nanti didengar Mama!" ujarnya mengingatkan sambil meletakkan telunjuk di depan hidungnya sambil menatap Cia dengan serius.


Cia memonyongkan bibir bawahnya berusaha menahan tangisannya yang seakan ingin meledak lagi.


"Kenapa harus nangis sih?"


"Aaaaaaaa." Tangis Cia lagi mengecilkan volume suaranya.


"Cup, cup, cup, Anak Ayah." Devan mengusap rambut Cia dengan lembut.


"Gue bukan akan lo!" Cia menghempas tangan Devan pelan membuat Devan mendecapkan bibirnya.


"Terus anak siapa? Anak si Mamat?"


"Nggak lucu!" bantahnya sambil menghapus air matanya yang telah membasahi pipinya.


"Cia! Emang lo punya utang Berapa?"


Cia langsung terdiam mendengarkan pertanyaan itu. Apakah Devan akan marah jika, Cia mengatakan yang sebenarnya tapi, Cia belum siap.


"Ci!"


Cia menatap membuat sorot mata mereka bertemu.


"Aaaaaaaaaaaa!!!" Tangis Cia meledak lagi membuat Devan memejamkan kedua matanya.


"Kenapa nangis lagi sih, Ci?"


Cia masih menangis bahkan ia terisak membuat Devan pening.


"Hey! utang lo berapa? Gue nggak nyuruh lo nangis!"


"Utang gu... gu...gu-"


"Kenapa malah jadi, anjing sih?"


"Gue belum selesai ngomong goblok!"


"Ya udah cepetan dong, Ci!"


Cia mengusap ingus yang keluar dari lubang hidungnya itu dengan baju birunya lalu kembali tertunduk.


"Berapa?"


"lima juta!!!"


"Hah?!!!" teriak Devan kaget.


"Tuhkan marah."


"Siapa yang marah?"


"Lo!"


"Enggak! Lagian kok bisa sih, Ci punya utang sebanyak itu?"


Cia masih tertunduk tak berani menatap Devan.


"Ci setiap harikan gue selalu kasi lo uang jajan, kenapa harus ngutang sih? Utang apa tadi?"


"Bakso."


"Astaga, Cia!"


Cia cemberut memang ia pantas mendapat omelan dari Devan. Semua orang pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Devan sekarang.


"Udah berapa lama nggak bayar utang?"


"Nggak usah marah dong, Dev!"


"Gue nggak marah cuman nanya!"


"Tapi kok kayak marah?"


"Nggak!"


"Itu lo marah!"


"Nggak! Astaga, Cia! Cepetan jawab sejak kapan?"


"Semenjak kelas satu SMA."


"Hah?!!!"


Cia tersentak kaget mendengar teriakan Devan yang seakan mengguncang jantungnya.


"Selama itu, Ci?"


Cia mengangguk lagi membuat Devan mengeluh.


"Lo maukan kasih gue uang buat bayar utang bakso?"


Devan terdiam lalu menyandarkan tubuhnya.


"Gue kan anak lo, Van! Masa lo tega anak lo dikejar-kejar sama mang Adang cuman gara-gara nggak bayar utang."


"Devan, gue tau lo sayangkan sama Anak lo yang cantik ini jadi-"


"Ci!"


Cia menghentikan pijitannya lalu menatap Devan yang sama sekali tak menatapnya.


"Pergi tidur sana!"


Cia melongo, apa yang baru saja Devan katakan?. Bagaimana bisa dengan santainya Devan menyuruhnya tidur sementara ia belum memberikannya uang untuk membayar utang.


"Tapikan-"


"Tidur, Ci!"


"Ih nyebelin, yah, lo."


Dengan kesal Cia bangkit dari kasur lalu menghentakkan kakinya di lantai dengan keras lalu melangkah pergi tak lupa juga pintu yang di hempas cukup keras membuat Devan tersentak kaget.


"Itu dosa lo, Ci!!!" Teriak Devan sembari tersenyum jahil.


"Bodoh amat!!!" teriak Cia.


"Awas lo!!! Gue tanya si Mamat loh!!!" teriak Devan lagi lalu terdiam menanti jawaban Cia yang nampaknya sudah tak mendengar teriakannya.


Cia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, rasanya Cia tak mampu tidur malam ini. Pikirannya seakan terbayang-bayang wajah mang Adang.


"Gimana gue bisa tidur kalau kayak gini? Aaaaaaa ih sebel!!!" Cia memukul-mukul boneka beruang yang ada di pelukannya.


"Dan lo!" Cia menatap boneka beruang itu yang tak lain adalah boneka yang Devan beli untuknya disaat Cia ulang tahun yang ke lima belas tahun.


"Lo Ayah apaan yang mau dan tega ngeliat anaknya dililit utang ih, Aaaaa!!!" kesal Cia sambil memukul boneka itu lagi.


"Aaaaaaaaaaa!!!" teriak Cia.


...____****_____...


Suara ayam jantan terdengar merdu sambil mengepakkan sayapnya. Burung-burung terdengar berkicau saat berteger di ranting-ranting pohon seakan menyambut sang mentari yang malu-malu untuk terbit dan menampakkan sinarnya.


Cia menguap lebar lalu merentangkan tubuhnya dengan mengeliat di atas kasur. Perlahan Cia membuka matanya yang masih mengantuk itu lalu kembali menguap lebar.


Cia bangkit dari kasur lalu menggaruk kepalanya lalu lagi dan lagi Cia menguap lebar karena mengantuk.


Cia mengusap matanya yang masih mengantuk itu lalu menatap sekilas uang yang berada di meja belajar.


Apa uang?!!


Mata Cia berbinar menatap uang berwarna merah itu. Cia yang masih tak percaya itu kemudian berlari menuju meja belajar dan meraih uang yang lumayan tebal di pegangannya.


"Ini benerankan? Gue nggak mimpikan?" Tatap Cia tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.


Cia kini teringat oleh Devan, ini semua pasti pemberian Devan. Siapa lagi yang akan memberikannya uang jika, bukan Devan lagi pula yang mengetahui Cia punya utang hanya Devan.


Cia berlari keluar kamar dengan wajah yang gembira mencari sosok Devan di dalam kamar.


"Dev-" ucapan cia terhenti ketika ia tak melihat Devan di kasurnya.


"Ci!" Suara itu terdengar membuat Cia menoleh.


"Devan!" Cia memeluk tubuh Devan yang hangat seakan menyuarakan rasa bahagianya.


"Apa sih lo kenapa?"


"Lo udah sembuh?" Tatap Cia setelah melepas pelukannya.


"Iya."


"Ah, gue seneng banget." peluk Cia lagi.


"Ini seneng, karena gue sembuh atau ehem?"


Cia melepas pelukannya lalu menatap Devan yang tersenyum jahil. Cia tau maksud Devan adalah tentang uang itu.


"Ahaha dua-duanya," ujar Cia kegirangan.


...____***_____...


"Nih!" Cia meletakkan uang sebanyak lima juta itu di meja tepat di hadapan Mang Adang membuai ia tersenyum lebar lalu meraih uang tersebut dan menghitungnya.


"Halal nggak nih?"


"Ya halal lah. Seberandalnya gue, Mang Adang gue nggak nyuri tau!"


Mang Adang tersenyum.


"Pas."


"Hah?"


"Duitnya Pas, Juleha."


"Enak ajah, nama gue Cia bukan Juleha!"


Cia melangkah membalikkan tubuhnya membelakangi Mang Adang lalu melangkah pergi. Sengaja Cia datang pagi-pagi sekali agar tak ada yang melihatnya, yah walaupun sudah banyak murid-murid yang berlalu lalang di Kantin.


Cia melompat berniat untuk melompat masuk ke dalam jendela, namun tak disangka-sangka Adelio sudah ada di samping jendela.


"Aaaaa!!!" teriak Adelio begitu terkejut melihat kehadiran Cia yang begitu mengejutkannya.


"Diam lo!!!" Bentak cia yang juga sedikit terkejut dengan teriakan itu.


Degan cepat Adelio terdiam membungkam mulutnya itu lalu bangkit dari kursi membiarkan Cia melompat ke kursinya, yah walaupun kursi itu adalah milik Cia.


Cia melompat di kursi lalu kembali melompat ke lantai dan berputar bahagia.


"Syalalala," nyanyi Cia gembira.


Alis Adelio mengkerut menatap heran gadis pemarah ini, entah mengapa gadis ini begitu bahagian.


"Kamu kenapa?"