Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 148



"Ekye nggak bosan lah liat muka ekye yang cwhantik ini."


"Cuih, Yuang ! Yuang !" panggil Jojon bersemangat menatap Yuang yang kini tengah menulis sesuatu.


Yuang menggerakkan kepalanya menatap ke sumber suara.


"Si Baby cantik nggak?" tanya Jojon.


Yuang tertawa geli, belum ia menjawab Yuang sudah tertawa bahkan terdengar terbahak.


"像猪 样 / Xiàng zhū yīyàng," ujar Yuang tertawa.


Semuanya kini terdiam menatap heran dengan apa yang baru saja diucapkan Yuang. Yuang yang masih tertawa itu kini memelangkan tawanya sambil menatap wajah datar para montir.


"Ngomong apa sih?" tanya Mamat kebigungan menatap Tara.


Tara menggeleng cepat.


"Kalau mau ngelawak nggak usah pake bahasa Cina! Kita nggak ngerti," tambah Haikal lagi.


"Iya tuh bener, kita juga pengen ketawa," tambah Jojon.


Yuang kini mendecapkan bibirnya.


"Maksud saya, seperti babi." Tunjuk Yuang ke arah Baby yang kini melotot.


"Ooooooo," ujar mereka semua kompak.


Kini mereka terdiam lalu menatap satu sama lain.


"Hahahaha!!!" Suara tawa mereka pecah begitu saja bahkan tara yang ke asikkan tertawa meneteskan air liurnya.


"Terserahhh deh ahhh!!!" jerit Baby.


"Kalau ada cermin yang bisa muntah mungkin cermin si Baby bakalan muntah tiap menit tuh, iya kan By?" tanya Jojon.


"Kuching khali ahhh mhuntah!!!" jerit Baby sinis sambil terus menatap wajahnya di cermin.


Semuanya tertawa lagi setelah mendengar ucapan Baby yang disertai tatapan yang dibuatnya sesinis mungkin.


Tiba-tiba suara tawa mereka terhenti ketika Devan melangkah dari kejauhan dan mulai mendekat. Yuang dengan cepat menghentikan tawanya lalu segera menyibukkan dirinya dengan menghitung peralatan bengkel yang dirasa kurang. Suasana terlihat sunyi.


"Udah kelar belum?" tanya Devan sesampainya ia di sana menatap satu persatu para montir.


"Udah bos!!!" jawab Jojon semangat.


"Saya tinggal dikit bos, mau ke masjid dulu. Nggak Ke masjid mas Mamat?" tanya Adam yang menghentikan langkahnya berniat untuk melangkah ke arah masjid.


"Yah Dam nanti gue nyusul," ujar Mamat mencuci tangannya di wastafel.


"Tuh dam si cucu Dajjal lo ajak juga." Tunjuk jojon mengarah ke arah Baby yang masih bercermin.


Baby melirik sinis lagi.


"Sorry yah ekye lagi pms," ujar Baby santai membuat semuanya bersorak.


"Dam tunggu!!!" teriak Deon berlari menghampiri Adam setelah membereskan peralatan bengkel yang telah ia gunakan.


"Saya pesan bakso juga yah satu porsi," ujar Deon mengajukan telunjuk jarinya.


"Lah?" Tatap Haikal bingung.


"Eh kampret! Si Adam mau ke masjid bukanya mau ke warung bakso," ujar Jojon memberi tahu.


"Gila nih anak, otaknya makin hari makin tolol." Tunjuk Tara emosi.


"Nggak pernah baca buku tri sakti nih makanya otaknya agak miring gitu," tambah Mamat lagi.


"Udah-udah sana cepetan dam ke masjid!" suruh Devan sambil mengerakkan tangannya.


Adam kini mengangguk lalu segera melangkah pergi ke arah masjid disusul Mamat dan Deon yang kini berlari mengikuti Adam sambil melambai-lambaikan beberapa lembaran uang.


Beberapa menit berlalu begitu saja membiarkan semua montir bersantai di atas karpet. Sedari tadi Devan hanya sibuk dengan motor bututnya sembari terus memperhatikan bagian-bagian motor merahnya itu.


Tak lama Adam beserta Mamat dan Deon kini melangkah ke arah gerombolan para montir yang terbaring tak berdaya, hari ini cukup melelahkan bagi mereka kecuali Haikal yang memang tak bekerja sebagai montir di sini.


"Ah si Adam bego, masa mau makan bakso di masjid!" ujar Deon memberi tahu lalu duduk di samping Haikal yang tengah memaingkan handphone di jarinya.


"Lo yang bego," ujar Jojon cepat.


"Bunuh orang dosa nggak sih?" Tatap Tara ke arah wajah datar Deon, geram.


"Tuh kan si Tara juga mau makan bakso," ujar Deon polos.


"Wih," ujar Haikal bangkit sambil menatap layar handphonenya.


"Kenapa, Kal?" tanya Jojon penasaran lalu bangkit dari karpet dengan cepat.


"Foto neng Mita yah ?" Tebak Jojon.


"Ah bukan!" jawab Haikal cepat.


"Ini ada orang di Facebook yang minta donor darah," jelas Haikal.


"Oh," jawab Jojon singkat lalu membaringkan tubuhnya lagi di atas karpet.


Rasanya menurut Jojon dihidup ini tak ada yang semenarik foto Mita si janda tanpa anak itu. Lebih bohay dan menyegarkan mata.


"Darah lo apa Jon?" tanya Haikal.


"Merah lah goblok masa warna biru, lo kira tinta pemilu," jawab Jojon dengan nada jengkel.


"Goblok!!!" ujar Tara memukul lutut Jojon dengan kasar mengunakan handuk putih yang juga ia gunakan untuk memukul haikal tadi.


"Maksudnya itu darah lu golongannya apa? setan!!!" lanjut Tara.


"Iya nih si tolol, otaknya bego," ujar Haikal menatap sinis.


"Enak aja, lo tuh yang bego udah daftar tentara sekali nggak lulus-lulus!" cerocos Jojon terpancing.


Haikal hanya mendecapkan bibirnya sambil merapikan posisi duduknya di atas karpet.


"Bos Ceo!!!" panggil Haikal membuat Devan menoleh.


"Golongan darah bos Ceo apa?" tanya Haikal menatap Devan penuh serius.


"Woy haram hukumnya yang bukan montir memangil bos Ceo dengan sebutan bos di sini, itu tertera dalam buku trisakti pasal delapan puluh ayat dua," jelas Mamat.


Haikal tak peduli ia tetap saja menatap harap ke arah Devan, berharap Devan menjawab.


"AB," ujar Devan singkat.


"Huu!!! Golongan darah yang langka tuh," seru Mamat.


"Lo apa, Mat?" tanya Haikal.


"Gue mah o," jawab Mamat.


"O? Biasanya golongan darah o kepalanya kebanyakan botak," ujar Jojon membuat Mamat merabah kepalanya itu dengan cepat.


"Lo Tar?" tanya Haikal kepada Tara yang tengah asik menstarter motor Devan.


"Nggak tau gue," jawabnya cepat.


"Lo Deon?" Tunjuk Haikal lagi.


"Kenapa? Bakso?" tanya Deon memasang wajah datar.


Haikal mendecapkan bibirnya setelah mendengar jawaban dari Deon. Semuanya mengeleng pelan seakan tak sanggup menghadapi otak Deon yang lalot.


"Tuh coba tanya si cucu Dajjal!" Tunjuk Jojon bercanda ke arah Baby.


Baby melirik sinis lagi membuat semuanya berseru lalu tertawa.


"Hahaha, darah hewan mah kalau si Baby," tawa Jojon pecah begitu saja semakin membuat Baby sinis.


"Ekye nggak thau!" ujar Baby dengan menekankan nada bicaranya sambil terus menatap wajahnya di cermin.


...___***___...


Kini jam terus berdetak menunjukkan pukul delapan malam. Suasana kini menjadi sunyi di dalam rumah setelah Devan berada di bengkel sekarang. Cia kini mendudukkan dirinya di sofa depan tv lalu segera memencet tombol of di remot kontrol membuat layar tv itu menyala menghasilkan suara di sana.


Sesekali jari Cia menekan tombol remot berusaha mencari siaran tv yang bagus di malam ini.


"Ku menangis ...... Membayangkan..."


Cia menghela nafas ketika suara nyanyian itu terdengar diiringi tangisan dari seorang wanita yang menangis di bawa guyuran hujan.


"Ah nangis mulu," ujar Cia dengan nada bosan lalu segera menekan tombol remot memindahkan siaran tv.


Kini layar tv itu menampilkan sebuah film karton yang tayang disalah satu stasiun televisi membuat Cia meletakan remot kontrol itu di samping tempat ia duduk.


Terkadang film khusus Anak-anak lebih menyenangkan dari pada harus menyaksikan film yang hanya menampilkan sebuah tangisan. Ini kenyataan.


"Cia!" Suara Fatima yang terdengar lemah itu terdengar dari dalam kamar membuat Cia menoleh.