Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 60



Cia memejamkan kedua matanya seakan tak kuasa menahan amarah atas kebodohan Fika yang berani mengatai Jef dengan kalimat yang termasuk penghinaan itu. Lagi pula mengapa Fika bisa beranggapan jika Jef adalah pacarnya. Walaupun Cia tak memiliki pacar dan tak ada yang mau menjadi pacarnya, Cia pun tak mau memiliki pacar seperti Jef.


"Jadi bener, Ci?" tunjuknya dengan wajah yang begitu sangat syok.


"Goblok lo yah," bisiknya kesal seakan siap untuk melahap kuping Fika yang tengah ia bisik.


"Jadi itu?" Tunjuk Fika lagi.


"Bukan!!!" bentaknya.


"Terus?"


"Dia Jef, yang gue ceritain kemarin, lo lupa?"


"Oh, dia yang punya mall Brahmana itu?"


"Bukan, jadi Jef itu sekertaris pak Brahmana yang punya mall itu. Paham lo?"


"Paham-paham. Nggak usah marah gitu dong!" Angguk Fika seperti burung beo sembari tersenyum menatap Cia.


"Makanya lo nggak boleh mikir gitu!"


"Jadi bagaimana?" tanya Jef membuat Cia dan Fika yang hampir melupakan jika sedari tadi ada Jef di hadapan mereka dan sedari tadi mereka mendengar percakapan mereka.


Cia kini terdiam sembari menatap Jef dengan sangat serius, jika Cia pergi dan ikut bersama Jef pasti Cia akan pulang lambat ke rumah, lalu bagaimana dengan Devan?


Cia sangat takut jika Devan menanyakan mengapa ia pulang terlambat dan ia akan marah besar jika tahu Cia kembali pergi ke rumah orang yang baru ia kenal.


"Bagaimana?" tanya Jef membuat Cia tersadar dari lamunannya.


"Kamu mau kan ikut sama saya?"


"Saya.... saya-"


"Pak Brahmana hanya ingin membicarakan tentang putrinya."


"Putrinya?"


"Iya putrinya tuan Brahmana."


"Putri yang mana?"


"Wanita yang dicambuk itu. Apa kamu lupa?" ujar Jef mengingatkan.


"Oooh, bidadari itu."


Wajah Cia berbinar setelah mengingat tentang wanita berparas cantik bak bidadari. Cia ingat betul dengan wanita itu, wanita yang Cia anggap sebagai bidadari, karena kecantikan wajahnya yang tiada tanding.


"Iya." Angguk Jef.


"Ci, hust Cia!" bisik Fika.


"Apa?"


"Itu maksudnya Bidadari yang si botak ini bilang maksudnya yang lo ceritain kemarin, yah, Ci?" bisik Fika.


"Iya, bidadari ini yang ang gue ceritain kemarin."


"Gue jadi penasaran deh sama bidadari, gue ikut, yah?"


Cia mengangguk dengan senyuman manis begitu semangatnya. Cia juga tak sabar ingin memperlihatkan seisi rumah tuan Brahmana yang begitu sangat megah. Yang lebih ingin Cia perlihatkan kepada Fika adalah pintu WC rumah itu.


"Pak Jef! Sahabat saya boleh ikut kan?" tanya Cia begitu semangat.


"Maaf non Cia, tapi pak Abra...eh maksud saya pak Brahmana, pak Brahmana hanya meminta saya menjemput non Cia," jelas Jef.


Senyum Cia sirna lalu menoleh menatap Fika yang nampak memonyongkan bibirnya.


"Yah kok gitu sih pak?" kesal Fika dengan wajah cemberutnya.


"Gimana dong, Fika?" bisik Cia.


"Yah, masa gue nggak ikut, Ci?"


"Em, pak boleh, yah teman saya ikut?"


"Iya pak, Fika janji deh nggak nyuri di sana! Serius!"


"Mohon maaf Dek, tetap tidak bisa," tolak Jef dengan tegas.


"Cih, manggil Adek!" bisik Fika kepada Cia.


"Ehem," tegur Jef membuat Fika dan Cia kembali menoleh.


"Pak, Fika ikut, yah?" harap Fika.


"Iya, pak kasian teman saya. Teman saya juga mau ikut!" ujar Cia.


"Iya pak, Fika nggak apa-apa kok, kalau nggak duduk di mobil. Beneran deh pak!" jelas Fika dengan wajah sangat serius.


"Gila lo? terus lo mau apa? ngegelantung di mobil kayak monyet?" oceh Cia.


"Begini saja Dek, Bagamana kalau teman kamu datang ke rumah dilain waktu," usul Jef.


"Gimana dong, Fik?" tanya Cia.


"Yah udah deh nggak apa-apa, gue balik duluan ajah deh."


"Beneran nggak apa-apa?"


"Iya nggak apa-apa. Eh botak!!!'" teriak Fika membuat Jef dan Cia terbelalak kaget.


"Botak?" tatap Jef kaget.


"Botak?" tanya Fika sok tak tahu.


"Iya, kamu tadi ngatain saya botak?"


"Nggak! siapa yang bilang?" sanggah Fika membuat Cia melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawanya.


"Tadi kamu ngomong kayak gitu!"


"Nggak! Tadi Fika bilang tolong jaga teman saya!" ujarnya berbohong.


Jef mengangguk setelah mendengar penjelasan tersebut.


"Yah, udah deh. Gue duluan, yah, Fik. Yuk botak!" ajak Cia membuat Jef terbelalak.


"Apa?" tanya Jef.


"Apa pak?" tanya Cia sok polos membuat Fika tertawa tipis.


"Oh tidak, mungkin saya yang salah dengar. Mari silahkan masuk!" ajak Jef.


Cia mengangguk diiringi senyuman dari bibirnya lalu melangkah ke arah mobil mewah itu. Semoga saja dia tidak lama di rumah pemilik mall itu, Cia sangat takut jika Devan marah, kerena Cia pulang lambat hari ini.


Sementara Fika kini tersenyum menatap Cia yang telah berada di dalam mobil.


"Dah, Fik!!!" teriak Cia sembari melambai


"Dah, Ciaaa!!! Dah juga pak botak!!?" teriak Fika sembari melambaikan tangannya.


Jef yang semula ingin menancapkan gas kini menghentikan gerakannya dan menatap ke arah Fika.


"Kenapa pak?" tanya Cia yang sebenarnya sudah ingin tertawa cekikikan.


"Apa yang dikatakan oleh teman non Cia?"


"Katanya hati-hati," ujar Cia.


Jef menghela nafas panjang. Sepertinya akhir-akhir ini pendengarannya terganggu.


...____****_____...


Bidadari itu bertelungkup di sudut ruangan kamar yang hanya disinari cahaya lampu yang berada di langit-langit kamar bawah tanah. Baju putih yang terpasang di tubuhnya masih sama dengan baju yang Cia lihat kemarin. Banyak noda di baju putihnya itu. Cia mampu melihat jelas noda yang sangat kotor itu ketika ia telah berdiri di bibir pintu masuk.


Wanita gila yang Cia anggap sebagai bidadari itu nampak menjerit sambil berusaha  menghempas tangan Naini yang berusaha menyuapi bubur ke dalam mulut wanita itu.


Mungkin belum ada bubur yang berhasil masuk ke dalam mulut wanita itu, karena banyak bubur yang berserakan di lantai putih. Lantai putih yang berbau kotoran manusia dan bau kencing itu kini telah bersih setelah belasan pembantu rumah mengepelnya sebersih mungkin dari subuh tadi. 


Cia masih terdiam di pintu masuk menatap wanita itu dengan tatapan sedih. Siapa pun pasti akan merasa sedih dan hatinya akan tersentuh jika melihat keadaan wanita berwajah cantik itu.


"Dia putri ku, satu-satunya." Suara pelan bernada tegas dan berat terdengar.


Cia menoleh menatap pria yang baru saja bicara yang ternyata adalah Abraham yang sudah dari tadi berada di sampingnya. Beberapa detik kemudian Cia kembali menatap wanita itu dari kejauhan


"Dia gila," ujar Abraham membuat Cia menoleh dengan kedua alisnya yang mengkerut.


"Dia gila," ujar Abraham lagi.


"Tidak!" tegas Cia cepat.