Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 28



Cuaca kota Jakarta cukup panas membuat Cia berkeringat di belakang Adelio. Rambutnya nampak melambai-lambai ditiup hembusan angin yang membelai wajah Cia dengan pelan. Kendaraan nampak berlalu lalang melintasi motor yang Adelio dan Cia tunggangi saat ini.


"Belok kiri !" Jari telunjuk kiri Cia menunjuk jalan persimpangan depan sana.


Tanpa penolakan Adelio mengarahkan motornya ke sebelah kiri sesuai perintah Cia kepada Adelio walaupun sebenarnya Adelio merasa sudah sangat mirip dengan tukang ojek.


Motor melaju melintasi toko-toko serta jejeran bangunan tinggi perusahaan yang menjulang tinggi seakan menyentuh langit biru yang membentang luas dia angkasa. sebenarnya saat ini jantung Adelio terasa tak tenang jika, harus membonceng gadis pemarah ini. Ini baru pertama kalinya bagi Adelio melihat kota Jakarta secara transparan tanpa bersama dengan ibunya. Semoga saja ibunya tak melihat dirinya bersama dengan seorang gadis di jam sekolah jika, ibunya tau pasti dia akan marah besar, yah, walaupun Adelio tak pernah mendapat marah oleh ibunya itu.


"Ya, stop-stop !" Pukulan keras itu mendarat lagi di bahu Adelio membuat Adelio mampu merasakan jika, bahunya ingin terbelah menjadi dua.


Adelio dengan cepat menghentikan motornya membuatnya tersentak ke depan bersama dengan cia yang ikut tersentak ke depan.


Plak


Pukulan keras mendarat di bahu Adelio lagi. Adelio yakin jika, tak lama lagi bahunya akan segera terbelah.


"Heh, modus Lo, yah ?!!!" Bentak Cia ketika dadanya hampir menyentuh punggung Adelio.


Adelio melepas helmnya sambil menggeliat kesakitan seperti cacing kepanasan yang disengat panas terik matahari berusaha menyentuh bahunya yang telah ditepuk oleh Cia. Cia Turung dari motor lalu melangkah ke arah rumah bercat putih dengan nomor 134. Pintu hitam dan jendela yang tertutup rapat dengan gorden putih itu juga nampak ikut tertutup rapat, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


Cia hanya mampu menatap dari depan pagar besi berwarna coklat yang nampak digembok. Cia mengerakkan kepalanya, celingak-celinguk berusaha melihat keadaan rumah Fika yang memang nampak sepi kali ini.


"Permisi !!!" teriak Cia.


Tak ada jawaban di sana.


"Permisi !!!" teriak Cia lagi.


Cia menghela nafas sembari menopang pinggang. Sementara Adelio yang berdiri di belakang sana tepat di samping motirnya hanya mampu memperhatikan gerak-gerik Cia yang seperti seorang pria.


"Heh, bantu gue ! Diem ajah Lo kayak tukan ojek," kesal Cia sembari menatap tajam Adelio.


Adelio meletakkan helmnya di atas Jok motornya lalu melangkah berdiri di samping Cia.


"Cepetan teriak !"


Adelio hanya mengangguk dan segera membunyikan tengerokanya bersiap untuk berteriak membuat Cia yakin jika, Adelio akan berteriak sangat keras.


"Assalamu Alaikum," ujar Adelio dengan nada berbisik.


Tak ada jawaban.


Senyum Cia sirna seperti garis yang sapu oleh ombak setelah mendengar suara Adelio. Apakah ini yang dinamakan berteriak ?


"Cari siapa dek ?" tanya wanita tua sambil menatap Cia dan Adelio bergantian.


Cia kenal wanita tua ini, wanita tua pemilik rumah 136 itu merupakan tetangga Fika. Cia ingat betul dengan nenek ini.


"Bu, kok rumah ini kosong, yah ?"


"Oh, itu si Fika sakit jadi, di bawa ke Sukabimi buat berobat. Katanya sih sekaligus berkunjung kerumah neneknya di sana," jelasnya membuat Cia mengangguk.


"Sakit apa, Bu, kalau boleh tahu ?"


"Katanya sih cuman demam terus rindu sama neneknya di kampung jadi, yah untuk sementara balik kampung.".l


"Nek !!!" Teriak bocah laki-laki membuat wanita tua itu menoleh lalu melangkah meninggalkan Cia dan adelio tanpa berpamitan.


"Hah," Cia menghembus nafas legah.


Cia akhirnya tau tentang keadaan Fika. Pantas saja chat darinya untuk Fika masih centang satu, itu semua kerena Fika yang pulang kampung. Fika pernah cerita jika, di desa neneknya tidak memiliki koneksi internet yang bagus.


Adelio tak mengerti mengapa gadis bernama Cia ini seperti menganggapnya tukang ojek.


Cia menghentikan langkahnya ketika ia tak mendengar suara langkah kaki pria itu. Cia menoleh menatap pria itu tajam.


"Heh, antar gue pulang !!!" Bentak Cia lagi.


Adelio menggosok bekas hidungnya yang berdarah itu kini mulai mengering. langkahnya terhenti di samping motornya, meraih helmnya pelan dan memakainya.


"Nih," sebuah sapu tangan biru terjulur di jari Cia.


Adelio menoleh menatap Cia yang terlihat santai memberikannya sapu tangan seakan jika, darah di hidungnya ini bukanlah atas kesalahannya. Apa gadis ini psikopat ?


"Lap idung, Lo !" pintah Cia lalu meletakkan sapu tangan itu di atas jok motor.


"Cepetan gue mau pulang !"


Dasar Psikopat.


Adelio meraih sapu tangan yang Cia baru saja letakkan. Ia mengira perasaan ibah gadis ini sudah hilang setelah membuat hidungnya berdarah. Apakah gadis ini tak punya hati ? Hah bahkan Adelio merasa jika, gadis pemarah ini tak punya jantung.


"Lurus !"


Adelio menoleh menatap Cia yang sudah duduk di atas jok motornya padahal Adelio belum naik. Adelio menggeleng pelan seakan tak menyangka jika, di Jakarta ia akan bertemu dengan gadis seaneh dan sejagat ini. Setelah membersihkan darah dari hidungnya dengan perlahan Adelio memasukkannya ke dalam saku celananya membuat gerakannya terhenti mendapati Cia yang menatapnya.


"Nanti ku kembalikan," ujar Adelio membuat Cia menaikkan kedua alisnya.


Motor melaju dengan kecepatan sedang melintasi kembali jalan beraspal yang nampak semakin panas.


15 menit kemudian...


"Ya, stop-stop !!!" Pukulan keras itu mendarat lagi di bahu Adelio.


Adelio menghentikan laju motornya dengan stabil, ia tak mau lagi dipukul oleh gadis itu atau bahkan dikatakan modus. Cia melangkah turung dari motor Adelio, tanpa menoleh dan tanpa memberikan ucapan terima kasih. Cia melangkah ke arah pagar rumahnya tanpa menoleh menatap Adelio yang kini melongo.


"Tunggu !" teriak Adelio cepat.


"Apa, sih ?!!!" Bentak Cia cepat sambil menoleh menatap Adelio yang nampak terkejut dengan bentakan itu.


"I...i...itu tas gue," Jawabnya ragu menunjuk tas yang ada di punggung Cia.


Cia menatap bahunya cepat, betul yang dikatakan Adelio, tas miliknya itu ada di punggungnya.


"Nih ambil !" pintah Cia lalu melempar tas hitam itu ke arah Adelio.


Adelio menangkap tasnya cepat membuat tas itu jatuh ke pelukannya. Adelio kembali menatap Cia yang kini melangkah masuk ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan kata terimakasih.


"Bos !" Panggil Mamat sambil menatap serius pria yang berada di depan rumah Devan.


"Apa ?" Tanya Devan.


"Itu bukannya Cia kan ?" Tunjuknya.


Devan menatap ke sebrang jalan menatap ke arah tunjuk Mamat. Alis Devan mengkerut menatap Cia yang berhasil diantar oleh seorang pria yang kini melajukan motornya meninggalkan Cia yang kini sudah berada di dalam pekarangan rumah.


"Si cia diantar sama siapa, tuh ?" tanya Mamat.


"Pacarnya mungkin ?" jawab Jojon menatap Mamat serius.


Devan kini terdiam. Entah siapa pria asing yang berani mengantar putrinya satu-satunya itu ke rumah.