Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 70



Adelio tak tau harus menjawab apa kepada Fika yang masih menatapnya dengan serius. Perlahan Adelio melirik cepat ke arah Cia yang masih duduk di atas meja membelakangi mereka berdua.


"Adelio mau taukan pacar si Cia itu bagaimana? Iyakan?" tanya Fika lagi.


Adelio menunduk lalu mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Fika. Ini cara jitu agar Fika tak bicara banyak dengannya.


"Tuhkan si Adelio juga mau tau pacar Cia itu siapa!" ujar Fika sembari menatap Cia dengan penuh semangat.


"Ah kepo lo!" ujar Cia singkat sambil mengayung-ayungkan kedua kakinya yang menggantung.


"Kenapa sih, Ci? Guekan Sabahat lo!"


"Terus kenapa kalau lo sahabat gue?" tanya Cia lalu melompat dari meja dan menoleh menatap Fika dan Adelio dengan serius secara bergantian.


"Ya masa sih sama sahabat sendiri nggak mau kasi tau, iyakan Adelio?"


Adelio mengangguk lagi.


"Tuhkan Adelio juga setuju tuh, yah udah lah Ci kasi tau kita," bujuk Fika.


"Ehem!" Suara wanita terdengar dari belakang Cia.


Cia mengkerutkan alisnya mendengar suara wanita yang sangat familiar diperdengaran telinga Cia, yap Cia sangat kenal dengan suara itu. Loli, yap ini adalah suara Loli.


Cia menoleh menatap ke sumber suara dan benar saja Loli dan kedua sahabatnya itu kini berdiri di hadapan Cia sambil melipat kedua tangannya dengan sangat angkuh.


"Hay semua!" Sapa Loli tersenyum, lebih tepatnya senyum sinis yang ditujukan untuk Cia.


Cia membuang pandang tak mau menatap wajah Loli yang membuatnya sangat benci.


"Hay juga," balas Fika yang dengan cepat melambaikan jari-jari tangannya setelah menghentikan tulisnya.


Loli melirik Adelio yang nampak sibuk dengan pulpen di jarinya tanpa membalas sapaannya itu.


"Hay Adelio!" Loli melambai.


Adelio mampu mendengar suara Loli dan dengan pelan ia mengangguk lagi tanpa menatap Loli.


Senyum Loli menghilang dengan seketika, apakah anggukan itu adalah balasan Adelio kepada sapaannya itu? Ini semua tak mungkin, seumur-umur baru kali ini ada yang bersikap dingin seperti itu kepadanya.


"Lo-"


"Udah Lol nggak usah dipikirin!" bisik Marisa sementara Medika hanya terdiam.


Loli menarik nafas panjang lalu kembali tersenyum setelah mendengar bisikin Marisa.


"Hay Ci!" sapa Loli sembari menatap Cia dengan sinis. Tak ada jawaban dari Cia yang kini melangkah dan duduk di kursinya tepat disebelah Fika yang kini meringis karena tak dapat jahat duduk.


"Gue nggak sabar untuk sebentar malam. Ehem, gue nggak sabar ngeliat lo datang ke acara ulang tahun gue sebentar malam, oh, iya terutama sama pacar lo itu." Tatap Fika sinis.


"Gue yakin deh pasti pacar lo itu jelek, yah seperti apa yang gue duga selama ini."


"Lagian gue yakin sih, kalau lo itu nggak punya pacar dan yang lo omongin kemarin itu cuman bohong, iyakan?"


Cia masih terdiam tak memperdulikan ocehan Loli di sana. Tapi Cia mampu mendengar itu semua dengan jelas. Cia ingin menangis!


"Lagian siapa sih yang mau sama si Cia?" tambah Marisa lalu tertawa.


Fika menutup buku, selesai.


"Cia beneran kok punya pacar," ujar Fika lalu bangkit dari kursi menyentuh bahu Cia pelan.


"Lo udah liat?" tanya Loli dengan wajah sinisnya.


Fika terdiam setelah mendengar perkataan Loli yang kini berhasil membungkam mulutnya itu. Fika tak tau harus menjawab apa mengenai pertanyaan Loli, sementara Cia tak pernah memperkenalkan pacarnya itu kepada Fika, Fika juga tak mungin mengatakan tidak kepada Loli, sudan pasti mereka akan tertawa.


"Udah apa belum?"


"U...u...udah kok, em gue... gue udah liat!" jawab Fika gugup.


Cia menoleh menatap Fika, baru kali ini Cia melihat Fika si kutu buku itu berbohong. Ini sangat langkah.


"Oh ya?" Tatap Loli tak percaya.


Fika mengangguk mengiyakan.


"Loli!" Cia angkat bicara lalu melangkah pelan menuju ke arah Loli.


Loli terbelalak lalu dengan cepat melangkah mundur menjauhi Cia yang mendekatinya. Loli takut jika harus sedekat ini dengan Cia, apalagi loli tahu jika Cia itu adalah satu-satunya gadis berandal yang selalu berdiri dibarisan paling depan saat tauran antar sekolah.


"Lo terlalu berisik menurut gue!" ujar Cia santai namun berhasil membuat Loli menelan ludah karena takut.


"Lo tunggu ajah! Gue bakalan dateng ke acara ulang tahun lo dan ngebuat lo ternganga melihat pacar gue yang gantengnya di atas rata-rata!" jelas Cia.


"Ok, gue nggak sabar pengen liat pacar lo itu!" ujar Loli dengan kembali berlagak sok kuat.


"Yaah." Cia mengangguk.


"Ok, gue tunggu lo di acara ulang tahun gue dan lo bakalan jadi tamu yang paling gue tunggu-tunggu!"


Cia tak berujar sedikit pun tapi kedua sorot matanya menatap mereka tajam seakan bertujuan untuk mengusir mereka.


"Ok kita cabut!" ajak Loli.


Loli memutar tubuhnya membelakangi Cia dan yang lainnya lalu beranjak pergi bersama Marisa dan Medika yang mengikut dari belakang.


Fika menghembuskan nafas lega sambil menyentuh dadanya membuat Cia menoleh menatap Fika.


"Hah, sumpah ini itu bikin gue jantungan tau nggak!" Gemas Fika.


"Udahlah lo santai ajah!" ujar Cia.


"Ya ampun, mau santai bagaimana? Lo emangnya punya pacar?"


"Terus lo nggak percaya gitu kalau gue punya pacar?" tanya Cia.


Fika melipat bibir lalu menatap Cia dari atas sampai ujung kaki Cia.


"Nggak!" jawab Fika membuat Cia membuang nafasnya kasar.


"Ah lo sama ajah sama si bocah alay itu," oceh Cia.


Fika berlari kecil menghampiri Cia dan duduk berdesakan di dekatnya.


"Ci!" bisik Fika pelan membuat Cia menoleh.


"Apa?"


"Emang beneran lo punya pacar?"


Cia mendecapkan bibirnya setelah mendengar pertanyaan itu lagi. Bahkan Cia sudah hapal dengan kalimat perayaan itu.


"Ci! Ayo dong jujur sama gue!"


"Jujur apa sih?"


"Yah tentang pacar lo itu!"


Cia terdiam tak menjawab.


"Ci!" bisik Cia sembari merangkul bahu Cia dan tersenyum penuh harap.


"Pacar lo itu kayak gimana sih?" tanya Fika dengan nada berbisik.


"Gue penasaran banget, Ci! Beneran deh!" tambah Fika lagi.


"Lo mau tau?"


Fika mengangguk cepat, mengiyakan .


Cia melangkah lalu duduk kembali di atas meja sementara kedua sorot mata Fika mengikut dengan sangat antusias.


"Pacar cia itu..."




"Ganteng," ujar Cia sambil menatap Fika yang duduk di hadapannya sambil menyantap semangkuk bakso mang Adang.



"Waaaah!" Fika ternganga dengan mata yang berbinar seakan sedang terpesona.



Adelio yang duduk di samping Fika hanya sibuk mengunyah bakso di mulutnya itu, tak berniat mengomentari ujaran Cia yang sedang menceritakan tentang pacarnya.



"Terus! Terus!" Pintah Fika penasaran.



"Pacar Cia itu..."