Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 24



Cia duduk terpaku menatap layar handphonenya, ternyata Fika belum juga membalas chat nya. Entah apa yang terjadi dengan Fika, ditambah lagi dia tidak ke sekolah mungkinkah, si kutu buku itu sakit.


"Huh," keluh Cia.


Cia membaringkan tubuhnya ke kasur lalu melepas handphone dari genggamannya dan menatap langit-langit kamarnya.


Ceklek


suara ganggang pintu berbunyi ditambah suara pintu yang terdengar terdorong.


Cia bangkit dari kasur menatap ke sumber suara yang cukup membuatnya terkejut. Cia kembali membaringkan tubuhnya lalu meraih handphonenya dengan malas setelah menatap Devan yang kini melangkah ke arahnya.


Devan menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk milik Cia lalu menatap Cia yang masih sibuk dengan handphonenya.


"Ngapain Lo masuk kamar, gue ?"


"Nggak boleh ?" tanya Devan.


"Nggak boleh !" Jawab Cia cepat.


"Pelit amat, sih."


"Bodoh amat."


Devan terdiam menatap Cia yang masih memaingkan ibu jarinya di permukaan layar handphonenya.


"Ci !" panggil Devan.


"Emm," sahutnya malas.


"Menurut Cia, gue ganteng atau jelek ?"


"Jelek," Jawab Cia cepat tanpa menoleh menatap Devan.


"Kok jelek ?"


"Terus ?"


"Liat gue dulu dong, Ci ! Cia !"


Devan mencolek-colek siku Cia pelan seakan tak terima jika, Cia mengatakan jika dia jelek


"Nggak usah ganggu dong, Dev!" Tatap Cia membulatkan kedua matanya tajam.


Devan sedikit terkejut menatap tatapan cia yang cukup menyeramkan. Devan tak tau bagaimana bisa Cia yang punya wajah seimut itu bisa berubah menjadi menyeramkan seperti apa yang Devan lihat sekarang ini. Devan menghembuskan nafas berat degan cepat Devan meraih kedua pipi Cia lalu menjepitnya pelan membuat bibir cia nampak monyong ke depan. Devan mengarahkan wajah Cia ke hadapannya lalu tersenyum manis memperlihatkan lesung di pipinya.


"Emm !!!"jerit Cia tak mampu berkata-kata setelah kedua pipinya di jepit dengan jari Devan.


"Liat gue dulu ! gue ganteng apa jelek ?"


Cia terdiam menatap wajah Devan yang begitu tampan, lesung pipi yang menambah ketampanan Devan membuat Cia tambah terpaku menatap wajah Devan. Bagaimana bisa pria tampan ini menjadi ayah kandungnya ? Apakah tuhan salah menitipkan Cia menjadi anak kandung dari pria tampan yang kini masih menatapnya menanti jawaban darinya. Cia menghempas tangan Devan dengan kuat membuat tangan Devan terhempas jauh darinya .


"Jelek !!!" Teriak Cia cepat ketika jari Devan tak lagi menjepit kedua pipinya lalu kembali menatap handphonenya.


"Kok gitu sih ?"


Cia masih terdiam tak memperdulikan ucapan Devan yang masih tak terima dengan jawabannya. Sebenarnya wajah Devan tampan tapi, si pria yang kekanak-kanakan itu pasti akan besar kepala jika, Cia mengakui ketampanannya.


"Lo juga jelek?" Ujar Devan membaringkan kepalanya di kasur dan beralih menatap langit-langit kamar Cia.


Cia yang mendengar ujaran Devan langsung melirik tajam ke arah Devan yang masih berbaring di kasurnya.


"Gue cantik tuh," ujar Cia percaya diri.


"Jelek," ujar Devan.


Cia menghempas handphonenya ke kasur menatap tajam Devan yang masih terbaring di kasurnya.


"Loh kok gitu sih ?"


Devan terdiam.


"Oh jadi maksud Lo gue jelek ?"


Devan mengangguk.


"Jadi, si Mita itu cantik ?"


Devan terdiam tak mengerti dengan ujaran Cia yang membanding-bandingkan dirinya dengan mita si janda tanpa anak itu.


"Iya," jawab Devan singkat.


Mulut Cia nampak menganga tak percaya dengan jawaban Devan yang ia katakan tadi, bagaimana bisa Devan lebih mengakui kecantikan Mita dari pada dia.


"Oh, jadi si Mita cantik ?"


"Iya, Cia" ulang Devan.


kedua alis Cia mengkerut setelah mendengar ujaran Devan. Dengan penuh kesal Cia meraih bantal yang tak jauh darinya.


"Ih, kampret Lo yah !!!" Pukul Cia dengan bantalnya.


"Lo tuh nyebelin !"


"Nyebelin gimana ?"


"Keluar Lo dari kamar gue !!!" Teriak Cia.


"Nggak."


"Keluar nggak !"


"Nggak mau, Ci!" Ujar Devan lagi masih melindungi tubuhnya dari pukulan Cia dengan bantal di tangannya itu.


"Keluar ! gue benci sama Lo !!!"


"Gue nggak mau, Cia !"


"Heh !!!"


Suara wanita terdengar dari pintu membuat Cia dan Devan dengan serentak menatap ke arah pintu. Betul saja Fatima sudah berdiri menatap mereka sambil menopang pinggang.


"Berantem mulu kerjaannya kayak anak kecil tau nggak !"


"Si cia tuh, Ma!" Aduh Devan.


Plak


Pukulan keras mendarat di kepala Devan dengan bantal yang Cia pegang lalu bantal itu terhempas ke lantai cukup keras.


"Duh sakit, Ci !" Ringis Devan.


"Bodoh amat."


"Cia !!!" tegur Fatima dengan teriakannya lagi setelah melihat Cia yang melempar Devan dengan bantal.


"Dia yang cari gara-gara, Ma sama Cia."


"Apa sih, Cia ? orang gue nggak ngapa-ngapain !"


"Lo nyebelin."


"Nyebelin dari mana, Cia ?"


"Tuh kan Lo emang nyebelin, yah ? pura-pura nggak tau lagi."


"Emang gue nggak tau apa-apa."


"Hussst berisik banget, sih ?" tatap Fatima tak kuasa mendengar keributan itu.


"Kamu juga Devan, kamu tuh harus bisa bersikap dewasa, jangan kayak anak kecil !"


"Tiap hari nggak ada bosannya gangguin, Cia. Heh, ingat, Van ! si Cia itu anak kamu ! bukan saudara kamu !" Bentak Fatima membuat Devan terdiam.


Cia melirik Devan pelan, rasanya ia sangat bahagia menatap Ayahnya yang mendapat Omelan dari Mamanya. Tak lama Fatima melangkah pergi meninggalkan kamar Cia.


Devan terdiam menatap Cia yang kini terdiam menatap layar handphonenya dengan serius setelah meraihnya di atas kasur yang tak jauh darinya. Cia membaringkan tubuhnya di atas kasur lagi membuat suasana nampak sunyi tak ada diantara mereka yang kini bicara. Cia melirik Devan yang ternyata masih menatapnya namun, dengan cepat Cia menatap Devan sinis.


"Devan !" panggil Cia.


"Ada Mama loh di luar !"


Cia menghembuskan nafas berat setelah mendengar ujaran Devan. Cia tau betul apa maksud Devan yang secara tak langsung mengingatkan Cia untuk memanggilnya dengan sebutan Ayah.


Cia terdiam mengurungkan niatnya untuk mengatakan sesuatu kepada Devan yang masih menatapnya. Lagi-lagi Cia menghembuskan nafasnya lalu memberanikan dirinya untuk mengatakan sesuatu.


"Gue mau Lo jawab jujur !"


"Apa ?"


Cia bangkit dari kasur lalu duduk dan menatap serius Devan yang masih berbaring di sana.


"Gue tau pertanyaan gue pasti cukup buat Lo ngga nyaman dan gue-"


"Apa, Cia ?"


Cia terdiam di atas kasurnya menatap senyum Devan yang memperlihatkan lesung pipinya. Cia sangat mengharap pria ini tak marah kepadanya walaupun Cia tau betul jika, Ayahnya itu sangat menyayanginya dan tak pernah memarahinya bahkan sampai mengeretaknya.


"Tentang Mama."


"Mama kenapa?" Devan mengkerutkan alisnya menatap heran kepada Cia yang nampak tertunduk di sana.


"Bukan mamanya ayah tapi mamanya Cia, istri ayah !"


Senyum Devan menghilang dari bibirnya setelah mendengar perkataan Cia yang cukup membuatnya terkejut membuatnya kini mendadak diam. Devan bangkit dari kasur dengan tatapan kosong melangkah ke arah pintu keluar kamar Cia.


Cia mendongak menatap Devan yang melangkah pergi seakan menjauhi pertanyaan itu.


"Kenapa ?" Tanya Cia serius sembari menatap punggung Devan yang kini menghentikan langkahnya.