
"Cia," ujar Maya dengan wajahnya yang terlihat panik lalu dengan cepat Maya mengangkat kepala Cia dari tanah dan memangkunya.
Suara gemuruh air hujan yang menghantam atap rumah terus terdengar tanpa henti, sepertinya hujan akan lama membasahi bumi ini.
"Cia!"
"Cia!"
Suara lembut Maya yang terdengar sambil mengarahkan minyak kayu putih ke arah hidung Cia hingga berhasil membuat Cia tersadar.
"Mama." Suara serak Cia terlontar dari mulutnya sambil berusaha membuka kedua matanya yang terasa sangat perih.
Kepala Cia kini terasa pusing karena terlalu lelah untuk menangis hingga membuat Cia tak sanggup untuk mengangkat kepalanya.
"Mama, Cia... Ma...Mama," ujar Cia.
Cia membuka kedua matanya membuat wajah Maya terlihat jelas. Kedua mata Cia terbelalak, ia baru sadar dan ingat jika Fatima telah dibawah pergi.
"Maya, Ma...Ma ...Mama mana, Ya? Mama Cus mana?" tanya Cia yang kini berusaha bangkit dari atas karpet yang digelar.
Maya tak menjawab namun tangannya degan sigap membantu Cia untuk segera duduk di atas karpet yang kini telah basah kerena tubuh Cia yang terkena air hujan tadi.
"Mama Cia mana Maya?" tanya Cia menatap harap ke arah Maya.
Maya melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk tak menangis.
"Ya, kamu biarin Mama Cia dibawa pergi? Mama Cia belum meninggal, kenapa kamu biarin mereka bawa Mama Cia?" tanya Cia sambil memegang kedua bahu Maya dan sesekali ia mengguncangnya.
Maya menggeleng, seberapa kuat ia menahan tangisannya akhirnya ia melepaskan tangisannya.
"Kenapa? Kenapa kamu biarin mereka pergi?"
"Cia tapi-"
"Mama nggak boleh pergi!" ujar Cia lalu bangkit dari karpet dan melangkah dengan susah payah.
Langkah Cia yang sempoyongan itu terus ia paksa untuk menggapai pintu keluar rumah membuatnya beberapa kali terjatuh ke lantai dan terhempas ke dinding.
"Cia!" panggil Maya.
..._____***____...
Gerombolan orang-orang yang tengah sibuk menimbun sebuah liang berisi tubuh Fatima yang telah di balut dengan kain kafan. Liang itu kini sudah terlihat membumbung di lengkapi dengan kayu nisan berwarna biru serta nama Fatima yang tertera di sana.
"Ceo," ujar Pak Haji Sulaiman lalu menyentuh pundak Devan yang kini mendongak.
"Sabar!" ujarnya
Devan mengangguk diiringi senyum tipis yang begitu sangat berat untuk ia lakukan.
"Mamaaaaaaa!" teriak Cia yang kini sedang berlari ke arah kerumunan.
Semuanya menoleh menatap Cia yang kini semakin mendekat. Devan menoleh menatap Cia yang kini masih berlari. Tubuh Cia yang semakin dekat dengan makam Fatima itu berhasil membelah kerumunan. Devan bangkit lalu dengan cepat ia mendekap tubuh Cia cukup erat.
"Mamaaaaa!!!" teriak Cia yang kini sudah berada di dalam dekapan Devan.
"Van, Mama Cia, Van!" Tatap Cia menatap wajah Devan yang juga nampak menangis.
Devan memaksakan kepalanya mengangguk sambil mengusap pipi Cia yang basah itu dengan telapak tangannya.
"Kenapa Mama Cia dikubur? Vaaan!!!" Tunjuk Cia ke arah makam Fatima.
"Ma... Ma...Mama nggak bisa nafas Van kalau di kubur."
"Ayo, Van! Gali!" pintah Cia sambil mengguncang tubuh Devan.
Cia menghentikan tangisannya lalu ia mendorong tubuh Devan dan meraih cangkul dari tangan Jojon.
"Mama nggak boleh dikubur!" ujar Cia yang kini dengan cepat mengangkat cangkul di tangannya.
"Cia, jangan!" pintah Devan yang kini menarik cangkul itu.
"Tolong! Tolong kasih Cia cangkul itu!" harap Cia dengan tangannya yang memohong di hadapan Devan.
Devan menggeleng lalu melempar jauh-jauh cangkul itu. Kedua mata Cia terbelalak menatap cangkul itu yang kini telah jauh.
"Jangan!!!" teriak Cia lalu berlari, berniat untuk mengambil cangkul itu namun, dengan cepat Devan menarik tangan Cia dan membawa Cia pelukannya.
"Mamaaaaaa!!!" teriak Cia.
"Nggak Cia, Mama udah meninggal," ujar Devan membuat tangisan Cia kembali pecah.
...___***___...
Satu persatu kini para pelayat beranjak pergi meninggalkan pemakaman yang kini sudah mulai sunyi meniggalkan Cia dan Devan yang kini tengah meratapi makam Fatima dengan kayu nisan yang tertera nama Fatima di sana.
Para montir yang kini berbaris rapih di belakang Cia dan Devan itu kini melangkah mendekati keduanya.
"Bos Ceo, kita pamit duluan yah," ujar Jojon lalu menepuk bahu Devan yang kini hanya mengangguk dengan senyum paksanya.
"Saya juga, bos," sahut Mamat.
"Terimakasih semuanya," ujar Devan.
Para montir mengangguk lalu segera melangkah pergi sementara Deon kini terlihat berdiri dengan tatapannya yang terlihat kosong.
Haikal yang melihat Deon dengan cepat menarik Mamat yang kini menghentikan langkahnya.
"Apa?" tanya Mamat.
Haikal kini menunjuk ke arah Deon membuat para montir kini menoleh menatap Deon.
"Deon!" panggil Mamat.
Deon kini melangkah mendekati Cia dan Devan yang masih duduk di samping makam Fatima.
"Saya tahu, Cia dan bos Ceo pasti sedih karena telah kehilangan sosok Mama. Saya juga kehilangan Ibu dan Bapak saya tapi saya tidak menangis, karena saya tahu suatu saat nanti saya juga akan kembali ke tempat Ibu dan Bapak saya. Kini hanya waktu yang kita tunggu, semuanya juga akan kembali," jelas Deon lalu bangkit dan melangkah pergi.
Cia menghembuskan nafas panjang, yang Deon katakan juga ada benarnya. Semua orang juga akan meninggal hanya saja waktu yang berbeda.
...___***___...
Tetesan demi tetesan kecil menetes dari ujung daun hijau menghantam rerumputan pemakaman. Kini hujan telah redah meninggalkan genangan air yang tersebar di mana-mana.
Kini kepala Cia sudah bersandar di dada Devan sambil sorot mata yang perih itu terus menatap makam Fatima.
Genggaman jemari Devan yang berisi kelopak bunga mawar berwarna merah berjatuhan di atas makan Fatima.
"Van kenapa mama ninggalin kita?"
Devan tak menjawab lalu segera mengusap rambut Cia yang basah itu berusaha menenangkannya.
"Kenapa Van?"
Devan menghembuskan nafas berat. Devan menatap makam Fatima dan tersenyum. Rasanya kalimat Deon telah membuatnya sadar untuk bersabar.
"Semua yang memiliki pencipta akan kembali kepada penciptanya, Cia," ujar Devan lalu menoleh menatap Cia.
"Kita nggak bisa melarang pencipta itu untuk mengambil apa yang telah Dia ciptakan."
"Tapi-"
"Ini berat Ci, tapi ini semua harus kita hadapi bersama," potong Devan.
"Cia, sekarang di dunia ini cuman kamu yang Devan punya," ujar Devan lalu kembali mengusap rambut Cia.
...___****___...
Dedaunan yang berada di ranting pepohonan itu terlihat bergoyang ketika hembusan angin menerpa. Suara kicauan burung-burung bernyanyi merdu ketika burung-burung kecil itu berteger di pepohonan menyambut sang mentari yang perlahan terlihat dari awan hitam yang sedari tadi menghalangi sinarnya.
Cia terbaring di atas kasurnya sambil menatap dinding kamarnya itu dengan tatap penuh kesedihan membiarkan air matanya itu membasahi bantal yang mengalas kepalanya.